NovelToon NovelToon
DUNIA X KEKACAUAN

DUNIA X KEKACAUAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi
Popularitas:326
Nilai: 5
Nama Author: YT FiksiChannel

Dien Moretz adalah sarjana pengangguran yang selalu gagal dalam wawancara kerja, karena memiliki kekurangan bibir sumbing yang menyebabkan komunikasinya tidak lancar dan dianggap sebuah beban. Suatu hari saat sedang mencari pekerjaan, tiba-tiba ada monster yang muncul dan memangsa orang-orang. Dien yang selamat akhirnya menyadari bahwa ada dunia lain, dunia yang berbeda dari yang dia jalankan selama ini. Dien yang tertarik dan tidak mendapatkan pekerjaan akhirnya memilih menjadi bagian dari dunia tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YT FiksiChannel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Operasi Plastik

Setelah melaporkan keberhasilan misi mereka di desa Sukahati, Dien, Aamon, dan Freya pulang ke rumah masing-masing. Mereka bertiga pulang tanpa bertegur sapa, mencoba mengakrabkan diri satu sama lain, atau hanya sekedar berbasa-basi. Mereka bertiga tampak seperti orang asing yang tidak saling kenal.

Dien tidak langsung pulang ke rumahnya. Pemuda itu memilih menemui nenek Rose demi mendapatkan beberapa pencerahan tentang ilmu ramalan. 

Setelah berjalan dan menelusuri pasar tradisional selama satu jam, Dien akhirnya melihat nenek Rose yang membuka lapak di pinggiran gang sempit. 

“Yo, kita bertemu lagi anak muda. Tampaknya kamu mendapatkan senjata sihir yang sangat unik dan berbahaya.” Nenek Rose menyapa Dien yang mendekat. 

Dien tidak terkejut nenek Rose mengenalinya yang sudah memiliki wajah sempurna tanpa cacat. Dien tersenyum dan memasukkan beberapa lembar uang ke mangkuk yang menampung uang di depan nenek Rose. 

“Guru, siapa yang menjaga rahasia ilahi?” Tanya Dien penasaran. 

Nenek Rose tersenyum kecut menatap wajah Dien yang tanpa cacat. 

“Tidak tahu! Kita saja begitu sulit dan harus mempertaruhkan nyawa demi mengintip rahasia ilahi, apalagi mengintip penjaganya. Jangan bercanda, haha.” Balas nenek Rose apa adanya dan tertawa kecil. 

Dien menyipitkan mata melihat jauh ke dalam hati nenek Rose.

“Guru tidak berbohong, kan?” Tanya Dien menyelidik. 

“Haha.” Nenek Rose tertawa semakin kencang.

“Dien, aku benar-benar tidak tahu siapa penjaga rahasia ilahi ini. Keberadaannya sama misteriusnya dengan keberadaan Tuhan yang menciptakan alam semesta. Kamu hanya akan tahu, jika kamu mati dan dunia sudah kiamat. Itupun jika kamu cukup beruntung menjadi salah satu penghuni surga.” Ucap nenek Rose dengan serius, lalu menyatukan kedua tangannya.

“Semoga Tuhan mengampuni dosa-dosa kita semua.” Ucap nenek Rose berdoa dengan sangat saleh. 

Dien mengerti dan tidak bertanya lebih jauh. Pemuda itu menundukkan kepala dalam, melihat tanah dan berdoa dengan saleh. “Semoga Tuhan mengampuni dosa-dosa kita.”

Nenek Rose tersenyum dingin, lalu mengangguk dan tersenyum ramah melihat Dien yang tampak saleh.

“Aku tidak menyangka kamu juga mempercayai keberadaan Tuhan. Aku sangat terkejut, karena biasanya seorang praktisi spiritual tidak mempercayai keberadaan Tuhan, bahkan menganggap dirinya sendiri sebagai Tuhan. Kita berdua memang cocok ya.” Ucap nenek Rose tersenyum ramah. 

Dien tersenyum tipis.

“Aku bukan umat yang bodoh! Aku tidak akan pernah meragukan keberadaan Tuhan pencipta alam semesta, apalagi mengaku sebagai Tuhan hanya karena mendapatkan beberapa kekuatan super. Jangan menyeret ku ke dalam kesesatan guru. Semoga Tuhan mengampunimu!” Balas Dien tampak begitu saleh. 

“Bagus! Bagus! Begitulah seharusnya. Kita tidak boleh mengaku sebagai Tuhan dan melupakan jati diri kita sebagai manusia biasa hanya karena memiliki kekuatan super. Kekuatan kita tidak ada apa-apanya dihadapan Tuhan. Semoga Tuhan mengampuni kita semua.” Ucap nenek Rose bersemangat.

Dien mengangguk dan percakapan mereka mengalir bagai air yang tenang.

Dua orang beda generasi itu tampak sangat akrab seakan-akan mereka teman lama yang bertemu dan berbincang-bincang. Dalam perbincangan itu Nenek Rose bertanya pengalaman Dien selama hidup, sementara Dien bertanya beberapa hal tentang media dan cara meramal. Mereka dengan cepat akrab, layaknya cucu dan nenek yang sedang mengobrol. 

Dien melihat jam handphone, lalu berdiri siap untuk pamit pergi. 

“Terima kasih atas ajarannya, guru! Aku mohon undur diri!” Ujar Dien dengan senyuman ramah, lalu melangkah pergi meninggalkan nenek Rose yang terlihat melakukan sesuatu dengan bola ramalannya.

Nenek Rose yang terlihat sedang meramal itu hanya mengangguk.

"Apa?" Pekik nenek Rose kaget setengah mati. 

Wajah nenek Rose yang keriput berubah lebih pucat dan begitu ketakutan, seakan-akan melihat sesuatu yang sangat mengerikan. Bola ramalannya terlihat menampilkan awan gelap yang disertai petir.

“Dien!” Panggil nenek Rose dengan nada serak dan mengatur nafasnya. 

Dien yang sudah berbalik arah karena mendengar teriakan kaget nenek Rose hanya bisa kebingungan melihat nenek Rose yang begitu ketakutan, seakan-akan baru saja melihat hantu.  

Belum sempat Dien bertanya, nenek Rose berkata dengan suara serak. 

“Aku mendapatkan ramalan salah satu keluargamu akan menjadi wadah entitas yang sangat agung dan kuat. Dalam ramalanku wadah itu akan terbunuh ketika entitas itu berhasil bangkit di dalam tubuhnya, dan saat itu kamu terbunuh saat berusaha menyelamatkannya. Diakhir ramalan, aku menyaksikan kehancuran dunia.” Ucap nenek Rose dengan sangat serius, dan nafas yang tidak beraturan.

“Aku melihat kehancuran dunia!" Ucap nenek Rose sangat ketakutan.

Dien terdiam mendengar ramalan tersebut. 

“Dien jadilah kuat, hingga cukup kuat untuk menyelamatkan keluargamu itu. Aku percaya kehancuran dunia tidak akan terjadi jika keluargamu itu gagal menjadi wadah entitas itu. Kamu tidak boleh mati! Kamu tidak boleh mati!!!” Ucap nenek Rose terdengar meminta dan berharap kepada Dien. 

Dien tersenyum ramah dan tidak terlalu memikirkannya. 

“Terima kasih, guru! Aku akan mengingatnya.” Balas Dien tersenyum dan memeluk nenek Rose yang tampak sangat ketakutan.

Dien mencoba menenangkan nenek Rose yang tampak sangat ketakutan.

Setelah menenangkan nenek Rose yang sangat ketakutan, Dien segera pamit pulang. 

Saat Dien sampai dirumah dan bertemu dengan keluarganya, tidak ada satupun dari mereka yang mengenali Dien yang memiliki wajah sempurna tanpa kecacatan berkat topeng raja tanpa wajah. Dien dengan panik menjelaskan siapa dirinya, namun semua keluarganya tidak ada yang percaya, mereka bahkan curiga Dien adalah seorang penipu dan hampir menelpon polisi.

Mereka akhirnya percaya ketika Dien menjelaskan bahwa dia baru saja menjalani operasi plastik untuk memperbaiki wajahnya.

Ibu dan ayah benar-benar senang karena Dien tampak sempurna, namun kedua adiknya tidak percaya karena menurut mereka operasi plastik tidak dapat dilakukan hanya dalam satu hari saja. Andaikan bisa, masa pemulihan pasca operasi pasti membutuhkan waktu yang cukup lama. 

Mereka curiga dan masih menganggap Dien sebagai penipu. Hal itu membuat malam Dien penuh dengan pengawasan Helena dan Leon. 

Markas tersembunyi pasukan malam, Kantor Kepolisian.

Dien dengan mata panda sekali lagi bertemu dengan kapten Medi untuk menerima misi, namun sayangnya tidak ada misi untuknya, begitu juga Aamon dan Freya. Mereka bertiga hanya bisa menunggu dan berkeliaran di sekitar markas pasukan malam. 

Ruang santai, Markas Tersembunyi. 

Every tiba-tiba mendekati Dien yang duduk sambil membaca buku dasar-dasar dunia spiritual. Wanita itu tersenyum dan duduk di samping Dien yang tidak terganggu dengan kehadirannya. 

Benar juga, Dien saat ini memakai penutup mata di sebelah kiri, hal itu dilakukan untuk menekan pengaruh topeng raja tanpa wajah. Dan itu berhasil membuatnya lepas dari orang-orang random yang tiba-tiba berlutut dan menyembahnya.

Dien tidak berpikir Every datang karena terpengaruh topeng raja tanpa wajah.

“Halo, boleh kenalan?” Tanya Every dengan lembut dan pipi yang merah merona. 

Every yang memakai jubah putih khas peneliti dan berkacamata itu terlihat cantik, anggun, dan menawan. Wanita berkacamata itu semakin terlihat cantik saat malu-malu. Dien sendiri hanya bisa tercengang dan terkesima melihat betapa cantiknya Every Kingston.

Every tersenyum menawan dan semakin malu ditatap Dien.

“Every Kingston, asisten kepala divisi alkimia. Siapa namamu ganteng?” Tanya Every menyadarkan Dien dari lamunannya.

“Dien Moretz. Anggota baru pasukan malam.” Balas Dien apa adanya dan tidak menyambut uluran tangan Every yang melayang di udara.

Bersambung.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!