Sejak kecil, Ice Meng selalu menjadi orang yang berkorban untuk keluarganya. Membayar utang judi ayahnya, membantu biaya pernikahan kakaknya, hingga menanggung kuliah adiknya.
Di tengah hidup yang penuh tekanan, ia hanya memiliki sebuah kalung berinisial HW, hadiah dari pria asing yang pernah ia selamatkan beberapa bulan lalu.
Tidak lama kemudian Ice menyadari kalung itu bukan benda biasa.
Orang-orang yang ingin menyakitinya mendadak mundur saat melihatnya.
Dan seorang pria bernama Howard Wang perlahan kembali hadir dalam hidupnya.
Saat Ice mulai jatuh hati, ia menemukan fakta mengejutkan.
Kalung HW yang selama ini ia kenakan ternyata bukan sekadar hadiah ucapan terima kasih, melainkan simbol yang membuat banyak orang ketakutan.
Lalu... siapakah sebenarnya Howard Wang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Lulu yang menatap kalung di leher Ice tiba-tiba membelalakkan matanya. Tanpa ragu, ia langsung menarik kalung tersebut.
“Ma, lepaskan! Sakit!” jerit Ice sambil berusaha melepaskan tangan ibunya.
“Cepat serahkan! Kau mengaku tidak punya uang, lalu dari mana kalung semahal ini?” bentak Lulu.
“Kalung ini bukan punyaku, Ma. Ini milik orang lain. Aku harus mengembalikannya,” jawab Ice sambil mendorong tangan ibunya hingga wanita itu mundur beberapa langkah.
“Berani sekali kau melawan ibumu!” bentak Lulu.
Plak!
Tamparan keras mendarat di wajah Ice.
Ice terhuyung beberapa langkah. Pipi kirinya langsung memerah.
Keributan itu segera menarik perhatian para pejalan kaki yang melintas. Tak lama kemudian, beberapa orang mulai berhenti dan mengelilingi mereka.
“Dasar anak tidak berguna!” bentak Lulu sambil menunjuk putrinya. “Dia bilang tidak punya uang, tapi lihat kalung yang dipakainya! Pasti harganya sangat mahal!”
Lulu kemudian menoleh ke arah kerumunan.
“Kalian lihat anak yang sudah aku besarkan ini! Dia rela membeli barang mewah untuk dirinya sendiri, tapi tidak mau membantu orang tuanya. Adiknya masih sekolah dan membutuhkan biaya untuk mengejar cita-citanya. Kalau punya uang, dia malah menghamburkannya untuk dirinya sendiri!”
Beberapa orang mulai berbisik-bisik.
Ice mengepalkan tangannya erat.
“Ma, apa ini masih belum cukup?” tanyanya dengan suara bergetar. “Selama ini semua gajiku sudah kuberikan. Aku bahkan harus hidup hemat setiap hari. Berapa banyak lagi yang harus kubayar untuk utang judi papa?"
“Karena aku ibumu dan dia adalah papamu, jadi sudah wajar kau menanggung semua biayanya!” bentak Lulu tanpa merasa bersalah.
“Setiap kali Papa berutang, aku yang harus membayarnya. Setiap kali keluarga butuh uang, aku yang harus mencarinya. Kapan kalian pernah memikirkan keadaanku?”
Kerumunan yang semula memandang Ice dengan sinis perlahan mulai berubah.
Mereka tidak menyangka gadis muda itu selama ini menanggung beban sebesar itu seorang diri.
"Kau tidak berhak untuk menolak, kau bertanggung jawab pada keluarga ini," bentak Lulu.
“Termasuk biaya pernikahan Kakak? Kalau begitu, kenapa Mama tidak pernah menyuruhnya bekerja untuk membantu keluarga? Kenapa harus aku terus yang menanggung semuanya?” tanya Ice.
“Kakakmu harus mencari pekerjaan sebagai manajer yang sesuai dengan kualitasnya. Dia adalah anak kebanggaan keluarga!” jawab Lulu tanpa ragu.
“Kualitas apa?” Ice tertawa pahit. “Seumur hidup dia hanya menjadi pengangguran. Kualitas apa yang dia miliki?”
“Jangan menghina kakakmu!” bentak Lulu.
Wanita itu langsung mencubit lengan Ice dengan keras.
“Sakit!” jerit Ice sambil menepis tangan ibunya.
Melihat kejadian itu, seorang pejalan kaki tidak bisa lagi menahan diri.
“Bagaimana bisa seorang ibu terus meminta putrinya menanggung semua biaya keluarga?” ucapnya.
“Diam! Ini bukan urusan kalian!” bentak Lulu. “Anak perempuan yang sudah dewasa memang harus berbakti kepada orang tuanya. Kalau bukan dia yang membiayai kami, lalu siapa? Lagi pula, suatu hari nanti dia akan menikah dan menjadi milik keluarga orang lain!”
Kerumunan langsung gempar.
“Logika macam apa itu?”
“Jadi karena dia perempuan, semua beban keluarga harus ditanggung olehnya?”
“Bukankah anak laki-lakimu yang seharusnya ikut bertanggung jawab?”
Mendengar bisikan-bisikan itu, wajah Lulu langsung menggelap.
“Mengenai pernikahan Kakak, suruh saja dia mencari uang sendiri. Dan biaya sekolah Adik, suruh Papa bekerja. Mama juga masih muda, kenapa tidak ikut membantu keluarga? Seharian hanya tahu ikut campur urusan tetangga,” kata Ice dengan kesal.
“Kau berani sekali bicara seperti itu kepadaku!” bentak Lulu.
Ice tidak ingin melanjutkan pertengkaran itu. Ia berbalik dan hendak masuk ke dalam toko.
“Ice!” seru seseorang.
Ice menoleh dan melihat Paman Lu, pemilik toko, berdiri di depan pintu.
“Paman!” sapa Ice.
Lulu segera memanfaatkan kesempatan itu.
“Tuan, lihatlah anak ini. Dia tidak tahu diri dan selalu melawanku. Sebaiknya pecat saja dia. Semua uang yang dia hasilkan digunakan untuk bersenang-senang dan makan enak. Karena itulah keluarga kami sampai kesulitan makan,” ujar Lulu dengan sengaja.
Mata Ice langsung membelalak.
“Bagaimana bisa Mama mengatakan hal seperti itu?” tanyanya tidak percaya.
“Bukankah itu memang kenyataannya?” balas Lulu.
“Kenyataan?” Ice tertawa pahit. “Uang yang kudapat berasal dari pekerjaanku di sini. Apa yang Mama maksud dengan makan enak?”
Suara Ice mulai bergetar karena menahan emosi.
“Aku hampir pingsan karena kelaparan beberapa kali. Apa Mama pernah peduli?”
Kerumunan di sekitar mereka mulai terdiam.
“Setiap bulan aku mengirim uang. Aku bekerja dari pagi sampai malam. Tapi uang itu tidak pernah digunakan untukku.”
Air mata mulai menggenang di mata Ice.
“Semua uang yang kuberikan habis untuk keluarga. Untuk Papa, untuk Kakak, untuk Adik. Sedangkan aku hanya hidup seadanya.”
Wajah Lulu sedikit berubah, tetapi Ice tidak berhenti.
“Kalau Mama benar-benar peduli padaku, Mama pasti tahu bagaimana aku hidup selama ini.”
“Kau berbohong! Dasar anak durhaka!” bentak Lulu.
Tanpa peringatan, ia mendorong Ice dengan kuat.
Ice yang kehilangan keseimbangan hampir terjatuh. Namun sebelum tubuhnya menyentuh lantai, seseorang menahan pinggangnya dari belakang.
Ice tertegun.
Ia mendongak dan mendapati seorang pria berdiri tepat di belakangnya.
Keduanya saling menatap sesaat.
“Tuan Howard?” tanya Ice terkejut.
Howard melepaskan tangannya perlahan setelah memastikan gadis itu sudah berdiri tegak.
“Kau tidak apa-apa?” tanyanya dengan nada tenang.
“Aku baik-baik saja,” jawab Ice pelan.
Howard lalu mengalihkan pandangannya ke arah Lulu.
Tatapannya yang semula tenang berubah dingin.
“Seorang ibu menindas anaknya sendiri. Nona Meng berhak melaporkan perlakuan Anda,” ucap Howard.
Wajah Lulu langsung berubah.
“Kau siapa? Berani ikut campur urusan keluargaku?” bentaknya. “Aku ibunya! Mendidiknya adalah tanggung jawabku!”
“Mendidik?” Howard tersenyum tipis.
Ia melirik ke arah kerumunan di sekitar mereka.
“Begitu banyak orang menyaksikan apa yang terjadi hari ini. Selain itu, banyak yang merekamnya.”
Mendengar itu, Lulu langsung pucat.
Howard melanjutkan dengan tenang.
“Semua orang bisa melihat bagaimana Anda memaksa putri Anda menanggung seluruh beban keluarga, mempermalukannya di depan umum, dan memperlakukannya dengan tidak pantas."
Lulu tanpa sadar mundur selangkah.
“Kau... jangan asal bicara!”
“Aku hanya menyampaikan fakta.” Nada suara Howard tetap tenang, tetapi tekanan dalam setiap katanya membuat Lulu semakin gelisah.
“Sekarang ada dua pilihan. Mengakhiri keributan ini dan pergi, atau membiarkan masalah ini dibawa ke pihak yang berwenang.”
dan kenapa ice yg jadi tulang punggung. apa ice bukan anak kandung nya