NovelToon NovelToon
Stempel Tua Penyelamat Duda Ganteng

Stempel Tua Penyelamat Duda Ganteng

Status: tamat
Genre:Duda / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu / Tamat
Popularitas:574
Nilai: 5
Nama Author: DeeSCe

Cuti untuk menjual rumah warisan berubah menjadi awal kisah yang tak pernah dibayangkan Honami Yukari. Setelah menemukan kembali koleksi stempel peninggalan kakeknya, ia justru dipertemukan dengan seorang pria misterius yang nyaris kehilangan nyawa. Anehnya, pria itu tidak ingin diselamatkan. Sejak hari itu, setiap stempel mulai menjadi saksi perjalanan mereka menyembuhkan luka, membuka masa lalu, dan menemukan arti pulang yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BERTEMU DAIKI

Motor tua mendiang ayah Yukari kembali membelah jalanan perbukitan yang menghubungkan Kota Aoyama dan Desa Oku-Niko. Angin sore bertiup cukup kencang, menyelisik di antara pepohonan tebing. Namun, tidak seperti saat berangkat siang tadi di mana atmosfer di antara mereka terasa tegang, kali ini perjalanan terasa jauh lebih tenang.

Namun, ketenangan itu perlahan terasa agak aneh bagi Akira. Di sepanjang jalur lurus, dia menyadari Yukari mendadak menjadi sangat diam.

Tak...

Akira sedikit tersentak saat merasakan bagian depan helm Yukari membentur pelan bagian belakang helmnya. Pria itu mengabaikannya, mengira itu hanya karena guncangan motor akibat jalanan yang tidak rata. Namun, beberapa meter kemudian...

Tak... Tak...

Benturan itu kembali terjadi, kali ini lebih lama seolah kepala di belakangnya kehilangan tumpuan. Lewat kaca spion, Akira mencoba mengintip. Siluet tubuh Yukari tampak bergoyang tidak stabil ke kiri dan ke kanan, dengan kelopak mata yang sudah kuyu dan layu—berada di fase "lima watt".

Kombinasi antara kelelahan emosional setelah ketakutan setengah mati siang tadi, ditambah perut yang kekenyangan setelah menghabiskan semangkuk mi instan kuah hangat, rupanya sukses menjadi obat tidur paling ampuh bagi gadis itu.

Khawatir Yukari akan kehilangan keseimbangan dan terjatuh dari motor, Akira perlahan menurunkan kecepatan. Dia menepikan motor tuanya di bahu jalan perbukitan yang agak luas, tepat di bawah rindangnya pohon pinus.

Begitu motor berhenti sempurna, Akira membalikkan tubuhnya ke belakang. Benar saja, Yukari tersentak kecil, mengerjapkan matanya yang memerah menahan kantuk dengan ekspresi linglung yang menggemaskan.

"Akira-san...? Kenapa berhenti? Apa motornya mogok?" tanya Yukari dengan suara parau khas orang mengantuk.

Akira tidak langsung menjawab. Dia mengembuskan napas pendek, lalu mengulurkan tangan kanannya. Tanpa diduga oleh Yukari, jemari tegap Akira meraih pergelangan tangan gadis itu, lalu menariknya perlahan namun pasti ke arah depan, memaksa kedua tangan mungil Yukari melingkar sempurna di pinggangnya.

Yukari seketika mematung. Rasa kantuk yang tadi menggelayuti matanya mendadak menguap, digantikan oleh debaran jantung yang tiba-tiba berpacu liar.

"Pegang yang erat," ujar Akira, suaranya terdengar berat dari balik helm, namun ada nada khawatir yang tulus di sana. "Kau bisa jatuh kalau tertidur dengan posisi seperti tadi. Taruh saja kepalamu di punggungku, bersandarlah sampai kita tiba di desa."

Yukari tidak bisa melihat wajah Akira karena terhalang helm, namun di balik kaca helmnya sendiri, wajah Yukari sudah merona merah pekat hingga ke ujung telinga. Dia tidak membantah. Dengan perlahan, Yukari memajukan tubuhnya, menyandarkan kening helmnya di punggung lebar Akira, meremas pelan jaket kulit pria itu sebagai pegangan.

Apa yang tidak diketahui oleh Yukari adalah... Akira pun tidak berbeda jauh. Di balik helm hitamnya, sepasang pipi Akira ikut merona merah. Dadanya berdesir hangat saat merasakan pelukan kecil di pinggangnya.

Motor kembali melaju membelah jalanan perbukitan. Di sepanjang sisa perjalanan, fokus Akira terbagi. Tangan kirinya yang bebas sesekali bergerak turun, menyentuh lembut pergelangan tangan Yukari yang melingkar di pinggangnya, memastikan cengkeraman gadis itu tidak terlepas. Sentuhan-sentuhan kecil yang hangat itu justru membuat batin Yukari bergejolak manis. Niatnya ingin tidur, dia malah berakhir terjaga sepanjang jalan, mendengarkan detak ritme lambat dari punggung Akira yang terasa begitu menenangkan.

***

Saat motor mereka mulai memasuki area perbatasan luar Desa Oku-Niko, langit sore yang tadinya benderang perlahan mulai berubah warna. Semburat jingga keemasan bercampur dengan warna ungu indigo mulai melukis kaki langit. Udara perbukitan pun perlahan turun, membawa hawa dingin yang menusuk kulit.

Melihat sebuah vending machine (mesin penjual otomatis) di pinggir jalan dekat area pandang tebing, Akira kembali menepikan motornya.

"Kita istirahat sebentar," ucap Akira sembari turun dari motor.Pria itu memasukkan beberapa koin, lalu menekan tombol merah.

Gedebuk.

Dua kaleng teh hijau hangat jatuh ke lubang pengambilan. "Ini, minumlah untuk menghangatkan tanganmu," Akira menyerahkan satu kaleng hangat itu kepada Yukari.

"Ah, terima kasih, Akira-san," Yukari menerimanya dengan senang hati, langsung menempelkan kaleng logam panas itu ke kedua telapak tangannya yang mulai membeku.

Mereka berdua berdiri dalam keheningan, bersandar pada pagar pembatas besi. Sore ini Oku-Niko menyajikan pemandangan magis; matahari yang perlahan tenggelam di balik siluet gunung, mengubah seluruh warna langit menjadi lukisan alam yang indah.

"Pemandangannya bagus... " Sambil menyesap teh hangatnya, Akira melirik gadis di sampingnya yang masih asyik menatap langit dengan binar kagum di matanya. "Dulu aku sering melihat langit sore saat pulang bermain dengan Daiki."

Namun, tepat saat keheningan yang manis itu kembali menyelimuti mereka berdua di tepi tebing...

Teeet! Teettt!

Suara klakson nyaring yang sengaja dibunyikan panjang mendadak memekakkan telinga dari arah belakang. Akira dan Yukari kompak tersentak kaget, hampir saja menjatuhkan kaleng teh hijau di tangan mereka.

"Kejutan daiki, aku baru saja membicarakan mu!! "

Sebuah mobil pickup tua bermuatan tumpukan keranjang kosong tampak mengerem mendadak tepat di samping motor mereka. Pintu mobil terbuka, dan sosok Daiki turun dengan langkah santai menghampiri Yukari, lalu melirik ke arah Akira dengan cengiran khasnya.

"Sudah diambil paketnya?" tanya Daiki memecah suasana.

"Sudah..." jawab Yukari, masih sedikit terkejut.

"Kalau begitu lekas pulang, sebentar lagi malam. Nasib baik aku lewat sini, kalau tidak, kalian berdua mungkin akan lupa jalan pulang karena asyik menatap langit!" ledek Daiki jahil sembari mengulurkan tangan untuk mengacak rambut Yukari dengan gemas.

Yukari merapikan kembali rambutnya yang berantakan sambil mengerucutkan bibir. "Iya, ini juga mau pulang..." sahutnya, lalu balik bertanya, "Lagipula, kau dari mana, Daiki? Bukannya aku menyuruh istirahat!"

"Oh, Ibu menyuruhku membeli beberapa bahan," jawab Daiki santai. Dia kemudian menoleh ke arah jalanan perbukitan yang mulai temaram, lalu beralih menatap Yukari kembali. "Oh, Yukari, sebaiknya kau masuk ke mobil sekarang."

"Tapi aku..." Yukari menggantung kalimatnya, melirik motor tua yang mereka bawa.

"Biar motor ditaruh di bak belakang," potong Daiki cepat. "Akira-san, mungkin perjalanan dengan motor masih tiga puluh menit lagi sampai desa. Ini sudah mau malam, sebentar lagi kabut akan tebal."

Mengingat keselamatan Yukari, Akira pun setuju dengan usulan iti Dia mengangguk pelan ke arah Daiki.

"Kau benar, ayo kita angkat motornya," ujar Akira.

Gadis itu mengawasi dari dalam kabin, dua pria itu yang kini sedang bekerja sama, saling memberi aba-aba untuk mengangkat dan mengamankan motor tua mendiang ayahnya ke atas bak belakang.

Setelah memastikan motor terikat dengan kokoh, Pintu kabin dibuka, dan keduanya langsung masuk, mengambil posisi duduk dengan Yukari yang berada tepat di tengah-tengah mereka.

Kehangatan dari pemanas mobil langsung mengusir sisa-sisa hawa dingin tebing yang sempat membekukan jemari.

Daiki mencengkeram kemudi, melirik kedua penumpangnya sekilas dengan senyum lebar, lalu mengoper gigi mobilnya. "Baiklah, kita berangkat!"

Mobil pickup itu mulai bergerak maju, membelah jalanan menanjak yang perlahan mulai berkabUt. Di dalam kabin yang temaram, Daiki melirik Yukari dengan senyum jahil di wajahnya.

"Jadi... ada yang menarik di Aoyama?" tanya Daiki memancing, berniat menggoda perjalanan berdua mereka.

Mendengar pertanyaan itu, jantung Yukari rasanya hampir copot. Ingatan tentang konflik emosional antara Akira dan Haruka di dapur perpustakaan siang tadi langsung berputar di kepalanya. Takut Akira kembali teringat traumanya dan merasa tidak nyaman, Yukari secara refleks mendaratkan cubitan super keras di paha Daiki.

"Awwwww! Sakit, tahu!" pekik Daiki spontan, mobilnya bahkan sampai agak tersendat karena dia refleks mengangkat kaki dari pedal gas. "Kenapa kau mencubitku, Yukari?!"

Yukari dengan cepat mendekatkan wajahnya ke arah Daiki, berbisik dengan penuh penekanan, "Tutup mulutmu dulu!"

Lalu, seolah sadar Akira berada tepat di sisi kirinya, Yukari buru-buru memundurkan tubuhnya kembali. Dengan volume suara yang sengaja dibesarkan agar terdengar meyakinkan "Haa?! Tidak ada kok! Tidak ada yang menarik! Benar-benar perjalanan biasa!"

Akira mendengus pelan dari sudut kabin. Dia mendengar seluruh bisikan dan kepanikan Yukari dengan sangat jelas. Pria itu menyandarkan punggungnya ke jok mobil, menatap lurus ke arah jalanan berkabut di depan mereka. Alih-alih murung, ekspresi wajahnya tampak begitu tenang dan rileks.

"Aku bertemu mantan istriku," ucap Akira datar namun lugas.

Suasana di dalam kabin seketika menjadi hening. Mendengar frasa 'mantan istri'—bukan mantan pacar—sepasang mata Daiki seketika membelalak lebar. Mulutnya sedikit terbuka, menginjak rem perlahan agar laju mobil melambat demi mencerna informasi mengejutkan yang baru saja dia dengar.

"Kau... sudah pernah menikah?!" tanya Daiki, menoleh sekilas memastikan pendengarannya tidak salah.

"Ya," Akira menyahut pendek, melirik sekilas ke arah Yukari yang kini menunduk dalam sembari meremas jemarinya sendiri—gadis itu tampak merasa bersalah karena rahasia Akira terbuka akibat kecerobohan pertanyaannya tadi. "Semuanya sudah berakhir."

Daiki terdiam selama beberapa detik, mengetuk-ngetuk setir kemudi dengan jemarinya sembari mencerna situasi, sebelum akhirnya mengangguk paham.

"Baiklah, bungkus masa lalumu dan jangan biarkan dia ikut ke Oku-Niko, sobat," ujar Daiki, suaranya mengalun berat namun penuh penekanan.

"Daiki!" tegur Yukari, wajahnya memerah karena malu sekaligus tersentuh oleh cara Daiki melindunginya.

Akira tidak tersinggung. Pria itu justru mengulas senyum tipis—sebuah senyuman yang tampak sangat mantap dan tanpa keraguan sedikit pun. Tatapannya lurus ke depan, menembus kabut malam perbukitan yang mulai tebal.

"Aku pastikan... aku sudah membuangnya, Daiki-san," ucap Akira tegas, memberikan janjinya.

Daiki melirik Akira lewat kaca spion tengah, melihat kesungguhan di mata pria itu, lalu kembali mengulas senyum lebarnya yang khas. "Baguslah kalau begitu!"

...--------🛻🛻🛻--------...

1
Putri Ayu/PqxxyZ
Halo kak... mari kita saling dukung dalam berkarya 😊😊
Putri Ayu/PqxxyZ: sama aja kak 😄 baru coba coba di sini
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!