Zakia tak pernah membayangkan hidupnya bisa berubah total karena fitnah yang ia dapatkan. Di usia yang masih muda yakni 22 tahun, Zakia terpaksa melewati jalan hidupnya dengan cara bekerja tanpa kenal lelah, semua itu ia lakukan demi membantu keluarganya. Bahkan, keinginannya untuk melanjutkan kuliah terpaksa ia urungkan demi membantu keluarga untuk mencicil motor.
Zakia selalu menatap langit dan berharap bisa mendapatkan setitik kebahagiaan di sela-sela kesengsaraan yang ia Terima. Namun siapa sangka, harapan kecil itu terpaksa runtuh dalam satu hari. Sebuah fitnah yang tidak pernah ia bayangkan menghancurkan nama baiknya, mulut manusia lebih cepat menyebarkan fitnah dari pada fakta, hal itu membuat hidup penuh dengan penenakan.
Akhirnya, demi menyelamatkan kehormatan kedua mempelai keluarga, Zakia dan pria itu terpaksa menjalan pernikahan. Akankah mereka akan menjadi pasangan yang penuh cinta? Atau hanya menjadi pasangan suami istri di atas kertas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oceanluv_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
"AAAAA!"
Belum sempat selesai berteriak, kancing baju Zakia dibuka paksa oleh pelaku yang nampaknya berniat untuk memperkosanya. Wajah pria itu kacau, matanya terlihat merah, seperti pemakai narkoba.
Bodohnya Zakia, dia baru ingat jika berteriak sekuat mungkin tidak ada gunanya, penghuni kanan kiri rumah ini sedang tidak ada, alias rumah kosong dan depannya juga tanah kosong, orang lewat juga jarang.
"Siapa lo! Jangan sentuh gue!"
Zakia mengambil satu botol sirup dan melemparkannya ke arah pria itu, namun sialnya pria itu mengelak, ia menatap pecahan kaca itu, mengambilnya dan menarik Zakia dengan kuat lalu menggores wajahnya menggunakan pecahan kaca tadi.
"Sana lo brengsek!" Zakia tak tinggal diam, biarpun tangannya dipegang kuat oleh lelaki itu, kakinya masih bisa berfungsi untuk menendang, namun seolah tahu apa yang akan dilakukan Zakia, pria itu mengambil balok kayu yang ada disampingnya dan memukul kaki Zakia sebanyak tiga kali menggunakan balok kayu tersebut.
Begitu ingin berteriak, mulutnya didekap kuat agar Zakia tak bisa bersuara.
Pria yang ingin melecehkan Zakia tertawa pelan. "Udah, orang lagi sepi sini seneng-seneng sama gue," bisiknya di telinga Zakia.
Zakia menggeleng kuat, tangannya dipegang, mulutnya dibekam dan kakinya sudah terasa lemah, rambutnya berantakan dan jangan tanya kondisi bajunya yang sudah terletak di lantai, hanya menyisakan tanktop dan bahkan tangan pria itu sudah membuka kancing celana jeansnya.
"Jauhin gue brengsek," makinya. Pria itu tertawa pelan, bukannya menurut ia malah menjelajahi leher Zakia dan membuat rasa takut wanita itu semakin memuncak.
Saat tangan pria itu ingin menurunkan celana Zakia sebuah tangan menonjok kepala pria itu dan membuat mereka terpisah.
Zakia terkejut dan langsung terjatuh di lantai, tubuhnya langsung tergeletak akibat kaki yang sudah terasa lemah. Itu Daren, anak pak Jamrud yang sudah memisahkan mereka berdua, demi apapun Zakia bersyukur karena pria itu datang di waktu yang tepat.
"Jangan bikin usaha bapak gue hancur bangsat!"
Kaki panjang Daren menendang kepala pria itu, ia terlihat pusing dan menggeram kesal, sadar bahwa lawannya tak sebanding, ia pun beranjak pergi dari sana.
Begitu pria itu ke luar, Daren langsung menghampiri Zakia yang sudah terbaring lemah. "Lo gapapa?" tanya Daren. Daren memegang wajah Zakia yang sudah terlihat sendu membengkak.
"AAAAAA! KALIAN NGAPAIN?"
Kepala Daren sontak menoleh ke belakang, seorang ibu-ibu sudah berdiri di depan pintu gudang dan berteriak melihat Daren yang posisinya berada di atas tubuh Zakia.
"Berarti betul apa kata cowok itu? Kamu memperkosa dia?" tubuhnya.
Daren terkejut bukan main, apa maksudnya ini? Dia yang ingin menyelamatkan malah dia yang tertuduh ingin menyentuh Zakia?
"Ibu jangan sembarangan ngomong, saya tidak berniat memperkosa dia!" bentak Daren. Bisa-bisa habis dia dipukuli ayahnya kalau fitnah keji ini tersebar.
"Jadi? Kalian ingin apa? Berbuat mesum?"
Berbuat mesum? Di gudang tempat usaha ayahnya? Heol, jika Daren ingin dia bisa menyewa hotel ngapain dia berbuat mesum di gudang penuh debu seperti ini?
"Terus tangan kamu kenapa megang kancing celana dia!" Daren melihat tangannya, ia berniat untuk mengancingkan celana Zakia supaya wanita itu tidak malu, malah ibu-ibu cerewet satu ini fitnah yang tidak-tidak.
"Saya sudah video kelakuan kalian berdua dan akan saya kasi tau ke pak Jamrud, saya tau kamu anak pak Jamrud dan wanita itu karyawan ayahmu, saya ga mau kampung ini kena sial karena kelakuan kalian berdua!" tegasnya.
Wajah Daren memerah, tangannya mengepal kuat, jika tidak ingat bahwa ini adalah ibu-ibu sudah dia tonjok atau bahkan dia tendang sampai pingsan. Bisa-bisanya ia difitnah tak berdasar hanya karena satu penggal kejadian.
Wanita penggosip itu sudah pergi, kini tinggallah Zakia yang pingsan dengan baju berserakan dan dengan Daren yang pusing karena keadaan semakin rumit, jika ia tinggalkan Zakia di sini dia takut wanita itu akan jadi korban betulan oleh pria birahi itu tadi.
Dia sekarang bingung dan kepalanya begitu penuh, jika hal itu sampai kepada ayahnya hukuman apa yang akan diberikan oleh mereka.
Ah sial, memikirkan itu membuat kepala Daren pusing bukan main.
***
"Pak Jamrud, bu Lili anak kalian berbuat mesum di gudang sama karyawan cewek kalian itu!"
Teriakan seorang ibu-ibu menghentikan kegiatan Dinda dan Reza yang sedang mengunci pintu. Anak Pak Jamrud? Di gudang? Sama Cewek?
Dinda menatap Reza, "Kak Zakia di mana?"
"Gudang."
"Bang Daren?"
"Gudang."
"Itu berarti?" Dinda menutup mulutnya, ia terkejut bukan main, Zakia dan Daren? Tidak, Zakia tidak mungkin melakukan hal itu dan Daren juga tidak mungkin seperti itu.
"Ini liat fotonya, tangan Daren megang kancing celana Zakia yang udah kebuka!" kata wanita itu sambil memberikan ponselnya kepada pak Jamrud.
"Ya Allah Pak," kata bu Lili. Ia sampai memegang dadanya saking terkejutnya dengan foto itu. Memang terlihat Daren berada di atas tubuh Zakia dengan kondisi tangan memegang kancing celana wanita itu dan jangan lupakan baju luarnya yang sudah terlepas.
"Bapak? Daren? Anak kita?" Bu Lili menunduk tak kuasa menahan tangis, di satu sisi ia tidak yakin anaknya akan seperti itu tapi di sisi lain foto itu terlihat begitu jelas untuk menjadi sebuah bukti.
"Ibu tenang dulu, jangan langsung berspekulasi, bisa jadi ada salah paham di sini," kata pak Jamrud menenangkan istri kesayangannya.
"Salah paham apanya? Udah jelas-jelas kayak gitu, saya bakal bilang ke pak RT biar mereka dinikahkan aja sekalian, saya ga mau daerah ini terkena sial karena menanggung dosa yang bukan kami perbuat, kalau tidak dinikahkan kita akan demo!" ancam wanita itu.
Usai mengatakan hal itu ia pergi membawa motornya yang pak Jamrud yakin pasti ke rumah pak RT, sedangkan bu Lili sudah menangis tersedu-sedu di pelukan suaminya.
Dinda dan Reza saling pandang, bingung tidak tau ingin bersikap seperti apa.
"Kayaknya ada yang salah deh," celetuk Reza.
Dinda mengangguk setuju "Gue yakin juga gitu, ayo kita ke gudang samperin mereka," ajak Dinda. Reza mengangguk, mereka berdua menutup pintu toko dan berbalik ingin ke gudang, namun belum sempat melangkah, Dinda melihat Daren yang menggendong Zakia di punggungnya. Zakia terlihat pingsan.
"Kak Zakia!" pekik Dinda. Pak Jamrud mendengar itu langsung bangkit, ia berjalan ke depan, membuka pintu dan melihat anaknya yang terlihat tertekan.
Begitu sampai di depan hadapan ayahnya, Daren berbicara pelan tapi tegas, "Daren ga ada memperkosa atau berbuat mesum di gudang, dia hampir diperkosa sama orang lain sampai pingsan," tutur Daren.
Jamrud tak bersuara, ia diam memperhatikan anaknya. Daren menghela nafas, ia yakin ayahnya tak mungkin segampang itu percaya dengan apa yang ia ucapkan, apalagi situasinya udah serumit ini.
"Daren masuk dulu, bawa Zakia ke dalam, Dinda ambilin kotak P3K, biar Zakia kita obati."
Lili tau suaminya pasti sedang marah, tapi membiarkan mereka berdua di luar juga tidak bagus, apalagi dalam kondisi sulit seperti ini, lebih baik masuk ke dalam dan membicarakan semuanya dengan kepala dingin.