Antara mencintai atau obsesi itu beda tipis nggak sih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My. dark, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tungguin Gue
“Ahhkkk…Awww” ringis Arina saat Jagat meminjat lembut pergelangan kaki Arina.
“Masih sakit?”
Arina mulia mengerakan perlahan kakinya, lalu mengeleng pelan, “ udah enakan kok, makasih.”
“Mau makan apa?” kali ini Jagat duduk di samping Arina.
“Apa aja terserah.”
“Makan gue mau?”
Arina mengernyit dahinya, “mulai nggak jelas.”
“Ya udah pilih yang kamu suka,” Jagat memberikan buku menu ke Arah arina.
“Lu mau makan apa?”
“Pengen makan kamu.”
“Gat, bisa serius nggak sih.”
“Ini serius Ar.”
“Gue mau makan ini dan minum ini,” ucap Arina sambil menunjuk gambar makanan dan minuman di daftar buku menu.
“Ya udah samain aja deh,” Jagat mulai scan dan membayar langsung pesanan nya.
Saat ini mereka sama-sama diam dan suasana jadi sedikit hening, hanya suara gemricik air mancur di depan saung mereka.
“Ar…”
“Apa?”
“Jangan deket cowok lain,”
“Kenapa?”
“Gue nggak suka.”
Entah mengapa hati Arina langsung meleleh saat itu juga, pipinya langsung merah merona.
“Kita kan nggak ada hubungan apapun Gat, kita hanya teman.”
Jagat terdiam sebentar, “Gue mohon,” kali ini tatapannya sangat dalam dan terlihat memohon.
Entah mengapa kepala Arina refleks mengangguk pelan, senyuman yang penuh pesona dari bibir Jagat kini kembali meluluhkan pikiran Arina.
“Thanks Ar,” Jagat meraih tangan Arina dan mengecupnya lembut.
Arina kembali di buat melayang layang ke awan, Jagat mengelus puncak rambut Arina dengan senyuman lembutnya.
“Tungguin gue ya,” mohonnya lagi.
Lagi dan lagi Arina kembali mengangguk, gerakan alami yang tak mampu dia kontrol.
Jagat kembali mengikis jarak diantara mereka, tapi dengan sigap Arina menahannya. “Jagat ini tempat umum,” tolaknya.
“Nggak ada yang ngelihat Ar.”
“Nggak mau.”
“Oke,” raut kecewa terlihat jelas di wajah Jagat. Dia kembali duduk tenang di samping Arina, suasana kembali hening dan kikuk, mereka kembali sibuk dengan pikirannya masing-masing.
“Permisi pesanan nya.”
“Makasih,” ucap Jagat kepada seorang pelayan yang menaruh makanannya di meja depannya.
“Sama-sama, selamat menikmati.”
Jagat mengeser satu piring ke hadapan Arina, “mau makan sendiri atau di suapin?”
“Makan sendiri,” jawab Arina dengan cepat dan salah tingkah, entah mengapa setiap dekat dengan Jagat sangat membahayakan kesehatan jantungnya.
Jagat tersenyum puas melihat reaksi Arina, dia kembali makan sesekali melirik Arina yang sejak tadi enggan menoleh ke arah Jagat.
“Pelan-pelan sayang makannya, nggak usah buru-buru.”
“Uhuk-uhukkkss,” wajah Arina memerah sempurna, Jagat langsung langsung memberikan minum untuk Arina, sambil menepuk lembut punggung Arina.
“Di bilang pelan-pelan.”
“Lu yang bikin gue jantungan, Jagat.” Batin Arina.
“Udah enakan belum, makan pelan-pelan.”
“Iya.” Jawab Arina.
Jagat kembali fokus makan, hingga fokusnya teralih saat ponsel Arina berdering. “Kenapa di matikan?” tanya Jagat yang penasaran saat Arina menekan tombol merah.
“Nanti aja, kata ibu gue nggak boleh main hp sambil makan,” jelas Arina.
Tetapi lagi lagi ponselnya kembali berdering.
“Angkat dulu Ar, siapa tau penting, di sini nggak ada nyokap Lu, nggak bakalan di omelin.”
“Hallo..”
“Lagi makan,”
“Kayaknya nggak bisa deh Bas,”
Jagat langsung menghentikan kunyahan makanannya, dia menelan dengan susah payah, dia langsung menoleh ke arah Arina yang masih sibuk mengobrol. Jagat mengabil ponsel Arina tanpa permisi, matanya semakin membola saat dia melihat nama Baskara terpampang nyata di layar ponsel Arina.
“Lu udah di ingetin juga, Arina milik gue,” maki Jagat saat itu juga, dan langsung mematikannya secara sepihak, Jagat langsung mengembalikan ponsel Arina dengan wajah kesalnya.
“Gue udah bilang, jangan ladeni Baskara, kenapa masih telfonan sama dia sih?” Protesnya kali ini terlihat serius.
“Kan tadi…”
“Gue nggak suka Ar.”
“Tapi tadi.”
“Bisa nggak sih, nurut.”
Arina menghela nafasnya dengan berat, “Iya.”
...----------------...
...“Hai, semoga suka ya, bantu Like, koment dan Vote.”...