NovelToon NovelToon
Pesona Mas Brewok

Pesona Mas Brewok

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Idola sekolah / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: septia19

saat sekolah dulu , Zahra hanya sekedar mengenal nama Rendra saja, tak pernah bertegur sapa sama sekali. setelah lulus, mereka tidak bertemu bertahun tahun , hingga akhirnya di pertemukan kembali.rendra yang mulai duluan menghubungi duluan. padahal awalnya Zahra sama sekali tak memiliki perasaan apapun begitupun rendra.bahkan Zahra ada berniatan menjodohkan Rendra dengan sahabat karibnya yaitu rana. namun anehnya malah zahra yang merasa cemburu melihat kedekatan mereka. padahal tak di sangka, hati rendra tertuju pada Zahra bukan rana. ini lah kisah cinta halal mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septia19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32. pertanyaan keseriusan

Hari itu suasana di rumah orang tua Zahra terasa lebih tenang namun penuh makna. Setelah semua perkenalan selesai, setelah keraguan perlahan hilang, dan setelah restu keluarga besar Rendra menyatu, kini tibalah saat yang paling dinanti sekaligus paling menegangkan saat kedua orang tua Zahra ingin berbicara empat mata dengan Rendra. Zahra sendiri diminta menunggu di ruang tengah, sementara ketiga orang itu masuk ke ruang tamu yang lebih sepi tempat di mana segala sesuatu akan ditanyakan dengan jujur dan terbuka.

Ayah Zahra duduk tegak di kursi kayu yang biasa ia tempati, wajahnya masih serius namun tidak lagi setajam dulu. Ibu Zahra duduk di sebelahnya, menatap Rendra dengan pandangan penuh harap sekaligus ingin memastikan. Rendra duduk dengan sopan, kedua tangannya bertumpu di lutut, sikapnya rendah hati namun tidak tampak gemetar atau takut. Ia siap menjawab apa pun yang ditanyakan, karena ia tahu ini adalah hak orang tua yang akan menyerahkan putri kesayangannya.

“Ren,” buka Ayah Zahra perlahan, suaranya berat namun tenang. “Selama ini kami melihat kau memperlakukan Zahra dengan baik. Kami melihat kesopananmu, kerajinanmu, dan bagaimana kau selalu berusaha menjaga batas. Tapi hari ini... kami tidak bertanya tentang bagaimana kau memperlakukannya hari ini atau besok. Kami ingin bertanya tentang hatimu dan rencanamu untuk masa depan.”

Rendra mengangguk pelan, lalu menatap Ayah dan Ibu Zahra secara bergantian dengan pandangan yang jernih. “Silakan tanyakan apa saja, Bapak, Ibu. Saya akan menjawab sejujur-jujurnya, tanpa menyembunyikan apa pun.”

Ayah Zahra menarik napas panjang, lalu menatap lekat-lekat mata Rendra seolah ingin membaca isi hati pemuda itu.

“Apakah kau benar-benar serius dengan Zahra? Apakah perasaanmu ini hanya sekadar rasa suka yang akan hilang seiring waktu, atau memang sudah menjadi niat yang bulat untuk menjadikannya pendamping hidup?” tanyanya dengan tegas. “Kami bertanya begini bukan karena meragukan karaktermu. Tapi kami tahu betul bagaimana awal mula hubungan kalian. Kami tahu ada luka yang pernah tergores, ada persahabatan yang sempat terganggu, dan ada banyak hal yang sempat disembunyikan. Apakah kau yakin kau tidak hanya sekadar merasa kasihan, atau merasa bersalah, sehingga kau memilih untuk bersamanya?”

Pertanyaan itu begitu dalam dan menyentuh inti masalah. Rendra terdiam sejenak, menyusun kata-kata yang paling tepat, lalu menjawab dengan suara yang mantap namun lembut.

“Bapak, Ibu... saya mengerti sepenuhnya keraguan Bapak dan Ibu. Saya pun pernah meragukan diri saya sendiri. Saya sempat berperang dengan hati nurani saya karena takut melukai sahabat saya, takut dianggap pengkhianat, dan takut perasaan ini hanyalah kesalahan sesaat. Tapi semakin waktu berjalan, semakin saya yakin bahwa apa yang saya rasakan pada Zahra bukanlah rasa kasihan, bukan pula rasa bersalah.”

Rendra berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan tatapan yang semakin dalam:

“Saya mencintai Zahra karena dia adalah Zahra. Karena ketulusannya, karena kesabarannya, karena cara dia melihat dunia dengan hati yang lembut namun teguh. Dia bukan pelarian, bukan pula pengganti. Dia adalah satu-satunya wanita yang membuat saya merasa ingin pulang setiap kali saya pergi. Dan niat saya bulat saya ingin menjadikannya istri saya, ibu dari anak-anak saya, dan teman hidup saya sampai akhir hayat.”

Ibu Zahra yang sedari tadi menyimak dengan seksama akhirnya ikut bertanya, suaranya lebih lembut namun tetap tajam maknanya.

“Ren, kami percaya pada kata-katamu. Tapi sebagai orang tua, kami ingin memastikan satu hal lagi. Dulu... ada Raka yang sudah begitu dekat dengan kami. Dia sudah kami anggap seperti anak sendiri. Apakah kau yakin bisa melewati bayang-bayang masa lalu itu? Apakah kau yakin suatu saat nanti kau tidak akan merasa ragu, atau Zahra tidak akan merasa terbebani?”

Rendra mengangguk mantap.

“Saya tidak bisa memungkiri bahwa masa lalu itu ada. Saya tahu betul betapa besarnya pengorbanan Raka, dan betapa beratnya keputusan yang harus diambil Zahra. Itulah sebabnya saya berjanji pada diri sendiri: saya akan berusaha dua kali lebih keras untuk membahagiakan Zahra, agar dia tidak pernah menyesali pilihannya meninggalkan masa lalunya. Saya tidak akan membandingkan diri dengan siapa pun. Saya hanya akan menjadi diri saya sendiri, yang berjanji akan menjaga, menghormati, dan mencintai putri Bapak dan Ibu dengan segala kemampuan yang saya miliki.”

Ia menatap Ayah Zahra kembali...

“Dan soal Raka... saya berharap suatu saat nanti persahabatan kami bisa pulih kembali. Tapi saya tidak akan pernah mundur demi perasaan saya pada Zahra. Karena jika saya mundur sekarang, saya justru akan menyakiti dua orang sekaligus sahabat saya karena saya tidak jujur pada perasaan saya sendiri, dan Zahra karena saya tidak berani bertanggung jawab atas apa yang sudah kami pilih bersama.”

Ayah Zahra kembali bersuara, kali ini lebih ke arah kesiapan hidup.

“Keseriusan tidak hanya bicara soal perasaan, Ren. Keseriusan juga bicara soal kemampuan kau membimbing dia, memberi nafkah, menjadi pemimpin yang baik, dan menjaga kehormatannya. Apa yang bisa kau janjikan soal itu?”

“Saya tidak kaya raya, Pak. Saya hanya pemuda yang bekerja keras mengandalkan usaha dan keringat sendiri,” jawab Rendra rendah hati namun penuh keyakinan. “Tapi saya berjanji apa pun hasil kerja keras saya nanti, Zahra akan menikmatinya paling dulu. Saya akan berusaha menjadi pemimpin yang bijaksana, yang mendengar pendapatnya, yang tidak memaksakan kehendak, dan yang selalu mengutamakan kenyamanan serta keselamatan dia. Saya akan belajar dari kesalahan orang lain, dan saya akan berusaha menjadi laki-laki yang pantas dihormati oleh Zahra dan oleh seluruh keluarga Bapak dan Ibu.”

Mendengar penjelasan yang begitu tulus, lugas, dan matang, perlahan namun pasti keraguan yang tersisa di hati Ayah Zahra runtuh. Ia melihat keberanian Rendra menghadapi pertanyaan sulit, kejujurannya mengakui masa lalu, dan keteguhannya dalam memegang janji.

Ayah Zahra menghela napas panjang, lalu perlahan sudut bibirnya terangkat sedikit senyum yang tulus dan lega.

“Cukup, Ren. Kami sudah mendengar apa yang ingin kami dengar. Kau menjawab bukan dengan kata-kata manis yang berlebihan, tapi dengan hati yang terbuka dan pikiran yang matang. Itulah yang kami cari. Kami tidak meminta harta yang melimpah, kami hanya meminta kesungguhan hati dan tanggung jawab yang besar.”

Ayah Zahra lalu menepuk bahu Rendra dengan lembut namun penuh makna.

“Kami serahkan Zahra kepadamu. Perlakukan dia sebagaimana kau ingin anak perempuanmu nanti diperlakukan oleh suaminya. Dan ingatlah satu hal jika kau menyakiti hatinya, kau bukan hanya kehilangan seorang istri, tapi juga kehilangan restu kami. Tapi jika kau menjaganya dengan baik, kau akan mendapatkan kami sebagai orang tua yang akan selalu mendukung kalian berdua.”

Ibu Zahra tersenyum haru, matanya berkaca-kaca. “Terima kasih sudah berani jujur pada kami, Nak. Sekarang kami tenang. Kami yakin kau adalah orang yang tepat untuk dia.”

Keluar dengan Hati yang Lega

Saat pertemuan itu selesai dan pintu ruang tamu terbuka, Zahra yang sedari tadi menunggu dengan gelisah langsung menatap mereka. Ia melihat perubahan wajah Ayahnya yang dulu kaku kini tampak jauh lebih tenang dan damai.

Rendra berjalan mendekat ke arah Zahra, lalu menggenggam tangannya erat.

“Semua sudah jelas, sayang. Bapak dan Ibu sudah tahu segalanya, dan mereka sudah memberikan izin penuh atas niat kita,” bisik Rendra lembut.

Zahra menatap Ayah dan Ibunya bergantian. Ayah mengangguk pelan, seolah memberi isyarat bahwa perjuangan meluluhkan hatinya telah usai dan kini ia merestui sepenuhnya.

“Jaga dia baik-baik, Ren,” pesan Ayah terakhir kali sebelum masuk ke dalam kamar.

Malam itu, beban berat yang selama ini tergantung di hati mereka semua akhirnya terangkat. Keseriusan yang diuji, kejujuran yang dipertanyakan, dan masa depan yang sempat samar kini mulai terlihat jalannya dengan terang. Rendra telah membuktikan bahwa ia bukan sekadar lelaki yang mencintai Zahra, melainkan lelaki yang siap bertanggung jawab atas seluruh hidup wanita itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!