NovelToon NovelToon
Cinta Yang Tersembunyi Di Balik Cadar

Cinta Yang Tersembunyi Di Balik Cadar

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Aiza-ra

Berikut deskripsi novel singkatnya.

Jennaira Hanania Mecca Nirankara tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah setelah menerima perjodohan dengan Arshaka Zayd Kalandra, pria dingin pewaris keluarga Kalandra yang sulit percaya pada cinta.

Pernikahan mereka dimulai tanpa kehangatan. Setelah akad, Shaka menetapkan batas yang jelas antara dirinya dan Jenna. Baginya, Jenna hanyalah tanggung jawab, bukan seseorang yang boleh masuk terlalu jauh ke dalam hidupnya.

Namun Jenna, dengan kelembutan, kesabaran, dan ketulusan hatinya, perlahan membuat pertahanan Shaka runtuh. Dari rasa penasaran, cemburu, hingga perhatian yang tak lagi mampu ia sembunyikan, Shaka mulai menyadari bahwa Jenna bukan sekadar istri yang dijodohkan dengannya.

Ia adalah perempuan yang diam-diam mengubah rumahnya menjadi tempat pulang, dan hatinya menjadi sesuatu yang kembali ingin percaya pada cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aiza-ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 — Luka Setelah Akad

Setelah prosesi akad selesai, suasana ballroom masih dipenuhi haru.

Ucapan selamat terus berdatangan dari keluarga besar dan tamu-tamu terdekat. Aruna memeluk Zahra dengan mata berkaca-kaca. Reza berusaha terlihat tegar, meski beberapa kali ia menunduk untuk menyembunyikan haru. Aditya menepuk bahu putranya dengan bangga, sementara Abizar berdiri tidak jauh dari Jenna, memastikan adiknya baik-baik saja.

Di tengah semua kebahagiaan itu, Jenna duduk di samping Shaka.

Statusnya telah berubah.

Kini ia bukan lagi hanya putri bungsu keluarga Nirankara. Ia bukan lagi pemilik Jenna’s Bloom Café yang hidup tenang di antara bunga dan aroma kopi.

Ia adalah istri.

Istri dari Arshaka Zayd Kalandra.

Namun kata itu masih terasa asing di hati Jenna. Terlalu baru. Terlalu besar. Terlalu cepat.

Setelah sesi akad dan beberapa foto keluarga selesai, panitia mengarahkan Shaka dan Jenna untuk beristirahat sebentar di salah satu kamar hotel. Mereka perlu berganti pakaian dan menyiapkan diri sebelum acara resepsi dimulai.

Kamar hotel itu luas dan mewah. Jendela besar memperlihatkan pemandangan kota dari ketinggian. Di salah satu sisi ruangan, gaun resepsi Jenna berwarna hijau emerald sudah digantung rapi. Busana Shaka pun telah disiapkan oleh tim keluarga.

Begitu pintu kamar tertutup, keheningan langsung menyelimuti mereka.

Jenna berdiri di dekat sofa, masih mengenakan gaun akad putihnya. Tangannya saling menggenggam di depan tubuhnya. Ia tidak tahu harus berkata apa. Shaka berdiri beberapa langkah darinya, melepas jas akadnya dengan gerakan tenang.

Mereka baru saja menjadi suami istri.

Tetapi di ruangan itu, mereka terasa seperti dua orang asing yang dipaksa berdiri terlalu dekat.

Jenna menundukkan pandangan.

Shaka menarik napas pelan, lalu menoleh kepadanya.

“Jenna.”

Jenna mengangkat wajah. “Iya, Mas?”

Panggilan itu terdengar lembut. Terlalu lembut untuk suasana yang kaku.

Shaka diam sebentar sebelum akhirnya duduk di kursi seberang sofa.

“Ada beberapa hal yang harus saya sampaikan dari awal.”

Jenna merasakan dadanya berdebar lebih cepat. Ia perlahan duduk di sofa, menjaga jarak dengan sopan.

“Apa, Mas?”

Tatapan Shaka datar. Wajahnya tetap tenang, tetapi tidak ada kelembutan di sana.

“Saya menikah karena keinginan Mama.”

Kalimat itu membuat Jenna terdiam.

Tidak ada suara keras. Tidak ada bentakan. Namun kata-kata itu terasa seperti sesuatu yang dingin jatuh tepat di atas hatinya.

Jenna menatap Shaka, mencoba mencerna kalimat yang baru saja ia dengar.

Shaka melanjutkan dengan nada yang sama.

“Saya menghargai keluarga kamu. Saya juga menghargai keputusan kamu menerima lamaran ini. Dan karena sekarang kamu sudah menjadi istri saya, kamu tetap akan menjadi tanggung jawab saya.”

Jenna menunduk pelan.

Tanggung jawab.

Kata itu seharusnya menenangkan. Namun dari mulut Shaka, kata itu terasa seperti kewajiban yang ia terima dengan terpaksa.

“Saya akan memenuhi kebutuhan kamu,” lanjut Shaka. “Tempat tinggal, perlindungan, dan segala hal yang memang menjadi kewajiban saya sebagai suami. Saya tidak akan mempermalukan kamu di depan keluarga atau orang lain.”

Jenna menggenggam jemarinya lebih erat.

“Tapi,” kata Shaka, “ada batas yang harus kamu pahami.”

Jenna mengangkat wajah lagi. “Batas?”

“Iya.” Shaka menatapnya lurus. “Kamu tidak berhak mengatur hidup saya. Jangan mencampuri pekerjaan saya, keputusan saya, atau urusan pribadi saya.”

Napas Jenna tertahan.

Ia tahu Shaka dingin. Ia tahu laki-laki itu tidak mudah membuka diri. Ia tahu pernikahan mereka bukan pernikahan yang lahir dari cinta.

Tapi ia tidak menyangka kalimat itu akan keluar hanya beberapa saat setelah akad.

Di hari yang seharusnya menjadi awal yang indah, Shaka justru membangun tembok di antara mereka.

“Saya tidak suka diatur,” ucap Shaka lagi. “Dan saya tidak ingin pernikahan ini membuat kamu merasa punya hak atas semua hal dalam hidup saya.”

Jenna menatapnya dengan mata yang mulai terasa panas.

“Mas Shaka berpikir Jenna akan melakukan itu?”

Shaka diam sesaat.

“Saya hanya membuat semuanya jelas dari awal.”

Jenna menelan perih yang naik ke tenggorokannya.

“Jenna belum pernah meminta apa pun dari Mas.”

“Saya tahu.”

“Tapi Mas sudah membuat batas seolah-olah Jenna akan menjadi beban.”

Kalimat itu keluar pelan. Tidak marah, tetapi terdengar terluka.

Shaka mengencangkan rahangnya.

“Saya tidak bilang kamu beban.”

“Tapi cara Mas bicara seperti itu.”

Hening memenuhi ruangan.

Jenna menunduk lagi. Air matanya sudah hampir jatuh, tetapi ia menahannya sekuat mungkin. Ia tidak ingin menangis di depan Shaka. Tidak sekarang.

Shaka menatapnya. Ada sesuatu yang sempat bergerak di matanya, tetapi ia segera menyembunyikannya.

“Saya tidak percaya cinta,” katanya dingin.

Kalimat itu menjadi pukulan berikutnya.

Jenna memejamkan mata sebentar.

Ia pernah mendengar bahwa Shaka pernah dikhianati. Ia tahu luka masa lalu bisa membuat seseorang berubah. Tetapi mengetahui dan merasakan langsung akibatnya adalah dua hal yang berbeda.

“Saya tidak bisa menjadi suami yang romantis,” lanjut Shaka. “Saya tidak pandai memberi kata-kata manis. Jadi kalau kamu berharap pernikahan ini akan langsung menjadi seperti kisah bahagia, kamu akan kecewa.”

Jenna menarik napas perlahan.

Dadanya terasa sesak.

Hari ini, beberapa menit lalu, ia menangis karena mendengar kata sah.

Sekarang, ia hampir menangis karena sadar bahwa suaminya sendiri tidak menginginkan pernikahan ini dengan hati yang lapang.

“Jenna tidak pernah meminta cinta hari ini,” ucap Jenna lirih.

Shaka terdiam.

Jenna mengangkat wajahnya. Matanya berkaca-kaca, tetapi ia tetap berusaha bicara dengan tenang.

“Jenna tahu pernikahan ini cepat. Jenna tahu Mas Shaka belum mengenal Jenna. Jenna juga belum mengenal Mas sepenuhnya. Tapi Jenna pikir, setelah akad, setidaknya kita bisa saling menghormati dan belajar pelan-pelan.”

Suara Jenna mulai bergetar.

“Bukan langsung membuat Jenna merasa seperti orang asing yang tidak boleh mendekat.”

Shaka tidak menjawab.

Dan bagi Jenna, diamnya terasa seperti persetujuan.

Ia mengangguk pelan, seolah menerima kenyataan yang baru saja diletakkan di hadapannya.

“Baik, Mas.”

Shaka menatapnya.

Jenna menunduk, menyembunyikan air mata yang akhirnya jatuh satu tetes di balik cadarnya.

“Jenna mengerti. Jenna tidak akan mencampuri urusan Mas Shaka. Jenna tidak akan mengatur hidup Mas. Jenna juga tidak akan menuntut cinta dari Mas.”

Ada jeda sebentar sebelum ia melanjutkan.

“Tapi Jenna mohon, jangan membuat Jenna merasa sendirian di pernikahan ini.”

Kalimat itu membuat Shaka diam lebih lama.

Untuk sesaat, wajah dinginnya retak. Namun hanya sekejap.

Sebelum ia sempat mengatakan sesuatu, pintu kamar diketuk dari luar.

“Bu Jenna, sudah waktunya bersiap untuk resepsi,” suara salah satu staf terdengar pelan.

Jenna segera mengusap sudut matanya dengan hati-hati. Ia berdiri, menjaga tubuhnya tetap tegak meski hatinya terasa runtuh.

“Jenna akan bersiap.”

“Jenna,” panggil Shaka.

Jenna berhenti, tetapi tidak menoleh sepenuhnya.

“Iya, Mas?”

Shaka diam.

Ada banyak hal yang sebenarnya ingin ia katakan, tetapi tak satu pun berhasil keluar.

Akhirnya Jenna menunduk sopan.

“Permisi.”

Ia membuka pintu dan keluar dari kamar.

Di luar, beberapa staf rias sudah menunggu. Syana juga berada di sana dengan wajah cerah, membawa beberapa perlengkapan untuk membantu Jenna berganti gaun resepsi.

“Jen, ayo. Kita harus cepat. Gaun emerald kamu sudah—”

Syana berhenti bicara ketika melihat mata Jenna.

Meski Jenna berusaha tersenyum, Syana terlalu mengenal sahabatnya. Ada kesedihan yang tidak bisa sepenuhnya disembunyikan dari mata cokelat terang itu.

“Jen?” panggil Syana pelan.

Jenna segera menggeleng kecil.

“Tidak apa-apa, Sya. Ayo bersiap.”

Syana menatapnya curiga, tetapi tidak bertanya di depan banyak orang. Ia menggandeng Jenna masuk ke ruang rias khusus.

Begitu pintu tertutup, Syana langsung mendekat.

“Kamu kenapa?”

Jenna menunduk, lalu memaksakan senyum kecil.

“Tidak apa-apa. Mungkin hanya lelah.”

“Jenna.”

Suara Syana melembut, tetapi tegas.

“Kamu menangis?”

Jenna diam.

Ia ingin bercerita. Ingin mengatakan bahwa beberapa menit setelah menjadi istri, ia sudah diberi batas oleh suaminya sendiri. Ingin mengatakan bahwa Shaka menikah karena keinginan ibunya. Ingin mengatakan bahwa hatinya sakit.

Namun ia menahan semuanya.

Ini bukan lagi sekadar masalah dirinya sebagai anak atau sahabat.

Ini masalah rumah tangganya.

Dan bagi Jenna, rumah tangga adalah ruang yang tidak boleh mudah dibuka kepada orang lain, bahkan kepada sahabat terdekatnya sekalipun.

Ia tidak ingin Syana membenci Shaka.

Ia tidak ingin ibunya menangis di hari pernikahannya.

Ia tidak ingin ayahnya merasa telah menyerahkan putrinya kepada laki-laki yang salah.

Ia tidak ingin Abizar marah dan merusak acara.

Maka Jenna memilih diam.

“Jenna hanya gugup,” jawabnya pelan. “Hari ini terlalu banyak hal terjadi.”

Syana masih menatapnya tidak percaya.

“Yakin?”

Jenna mengangguk.

“Yakin.”

Syana menghela napas kecil. Ia tahu Jenna sedang menyembunyikan sesuatu. Tetapi ia juga tahu, memaksa Jenna bicara saat ia belum siap hanya akan membuatnya semakin menutup diri.

“Baik,” ucap Syana akhirnya. “Tapi kalau kamu butuh cerita, aku ada.”

Mata Jenna kembali berkaca-kaca, tetapi ia segera menahannya.

“Iya, Sya. Terima kasih.”

Syana lalu membantu Jenna mengganti gaun resepsi berwarna hijau emerald. Gaun itu jatuh indah di tubuh Jenna, membuatnya terlihat anggun dan dewasa. Cadar senada dipasang dengan hati-hati, sementara detail bordir di gaun itu tampak berkilau lembut di bawah cahaya lampu ruang rias.

Namun secantik apa pun gaun itu, hati Jenna tetap terasa berat.

Ia menatap pantulan dirinya di cermin.

Beberapa jam lalu, ia membayangkan hari pernikahannya akan dipenuhi rasa haru dan doa. Ia tidak berharap Shaka langsung mencintainya. Ia tidak mengharapkan kata-kata romantis. Ia hanya berharap ada awal yang baik.

Namun ternyata, awal itu terasa dingin.

Sangat dingin.

Syana berdiri di belakangnya, merapikan ujung khimar Jenna.

“Kamu cantik sekali, Jen.”

Jenna tersenyum tipis melalui matanya.

“Terima kasih.”

Di dalam hatinya, ia berbisik pelan.

Ya Allah, kuatkan Jenna.

Sementara itu, di kamar pengantin, Shaka masih berdiri di tempat yang sama.

Pintu sudah tertutup sejak Jenna pergi, tetapi kalimat terakhir perempuan itu masih tertinggal di ruangan.

Jangan membuat Jenna merasa sendirian di pernikahan ini.

Shaka mengusap wajahnya kasar.

Ia seharusnya merasa lega. Ia sudah mengatakan batasnya. Ia sudah jujur. Ia sudah memastikan Jenna tidak berharap terlalu banyak darinya.

Namun yang ia rasakan justru sesak.

Bayangan mata Jenna yang basah terus muncul di pikirannya. Mata cokelat terang yang biasanya terlihat tenang itu tadi tampak terluka. Dan luka itu muncul karena kata-katanya.

Shaka menatap pantulan dirinya di cermin.

“Kamu sudah benar,” gumamnya pelan, seolah mencoba meyakinkan diri sendiri.

Namun hatinya tidak sepenuhnya percaya.

Beberapa saat kemudian, staf mengetuk pintu untuk mengingatkannya bersiap menuju ballroom resepsi. Shaka mengenakan jas resepsinya dengan wajah datar. Dari luar, ia tetap terlihat seperti Arshaka Zayd Kalandra yang tenang dan tak tersentuh.

Tetapi di dalam dirinya, ada sesuatu yang mulai mengganggu.

Rasa bersalah.

Rasa tidak nyaman.

Dan satu kesadaran kecil yang tidak bisa ia bantah.

Ia baru saja membuat istrinya menangis di hari pertama pernikahan mereka.

Ketika akhirnya Shaka keluar dari kamar dan berjalan menuju ballroom, ia melihat Jenna sudah berdiri di ujung lorong bersama Syana.

Gaun hijau emerald itu membuat Jenna terlihat sangat anggun. Matanya tetap indah, tetapi Shaka bisa melihat sisa kesedihan yang disembunyikan di balik ketenangannya.

Jenna tidak mengatakan apa pun kepada siapa pun.

Ia tetap tersenyum kepada keluarga.

Tetap menjawab sapaan dengan lembut.

Tetap menjaga nama baik suaminya di hadapan semua orang.

Dan justru itulah yang membuat dada Shaka terasa semakin berat.

Karena dalam diamnya, Jenna tidak hanya menjaga dirinya sendiri.

Ia juga menjaga Shaka.

Menjaga rumah tangga mereka yang bahkan baru saja dimulai.

Shaka berjalan mendekat. Jenna menoleh kepadanya, lalu menunduk sopan.

Tidak ada kemarahan di matanya.

Hanya jarak baru yang sebelumnya tidak ada.

Dan Shaka sadar, tembok yang ia bangun untuk melindungi dirinya sendiri mungkin sudah melukai orang yang seharusnya ia jaga.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!