NovelToon NovelToon
Pernikahan Ke2

Pernikahan Ke2

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ratika

"Luka terdalam seorang wanita bukanlah saat dia harus melepaskan, melainkan saat dia menyadari bahwa selama ini dia telah mempertaruhkan seluruh hidupnya untuk seorang pria yang bahkan tidak sudi melangkah satu senti pun untuk mempertahankannya."
Menikah dengan Arman membuat Aini Lidya paham rasanya terlantar secara mental. Nafkah pas-pasan, suami yang gemar pulang larut malam, hingga mertua dan ipar yang toxic, semuanya Aini telan bulat-bulat selama satu tahun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: PENJELASAN YANG TEPAT

Setibanya di rumah setelah badai pertengkaran di kafe tengah sawah itu, dinding kamar Aini kembali menjadi saksi bisu atas gemuruh di dalam dadanya. Jantungnya masih berdebar hebat, meninggalkan sisa-sisa ketegangan yang membuat jemarinya terasa dingin.

Ada rasa sesak yang merayap di benaknya, bukan karena dia merindukan Arman, melainkan karena rasa tidak enak dan bersalah yang teramat sangat kepada Egi. Pertemuan profesional yang seharusnya berjalan hangat dan penuh inspirasi itu harus dinodai oleh drama masa lalunya yang kelam.

Aini duduk di tepi tempat tidur dengan pikiran yang kusut bagai benang yang kehilangan ujungnya. Dia dilingkupi kebimbangan yang mendalam.

Haruskah aku mengirimkan pesan penjelasan? Apakah Mas Egi akan menganggapku sebagai wanita yang dipenuhi masalah? Di dalam keheningan kamar yang sunyi, egonya bergulat dengan ketakutan akan penilaian orang lain.

Namun, sebelum jemari Aini sempat mengetik satu patah kata pun di atas layar, sebuah notifikasi WhatsApp masuk lebih dulu. Layar ponselnya menyala, menampilkan nama Egi.

Aini menarik napas dalam, dan seulas senyuman lega perlahan terbit di bibirnya saat membaca baris pesan yang teramat dewasa itu.

Egi: Ai, kamu tidak apa-apa? Maafkan aku jika tadi tidak sempat melindungimu dari situasi itu, karena jujur aku sangat bingung dengan apa yang terjadi. Aku hanya berharap kamu sudah sampai di rumah dengan aman dan selamat.

Sebuah batu besar seolah terangkat dari dada Aini. Dia mengembuskan napas perlahan, lalu membalas pesan tersebut dengan kejujuran yang elegan tanpa perlu membuka seluruh aib rumah tangganya yang lama.

Aini: Maafkan aku, Mas Egi. Pertemuan kita harus terganggu oleh hal yang tidak nyaman. Pria tadi adalah mantan suami saya yang belum bisa menerima kenyataan bahwa hubungan kami sudah berakhir secara agama.

Jawaban Egi di seberang sana justru semakin menaikkan derajat pria itu di mata Aini.

Egi: Aku paham, Ai. Kamu sama sekali tidak perlu meminta maaf. Justru dari kejadian tadi, aku semakin kagum dengan ketenanganmu dalam menghadapi badai. Kamu adalah wanita yang sangat kuat.

Pesan singkat itu menjadi jembatan emosional yang tak kasat mata, menarik kedekatan mereka satu langkah lebih maju ke frekuensi yang lebih dalam. Rasa kagum Egi yang bertambah membuat malam itu berlalu dengan sisa kehangatan yang manis di hati Aini.

Keesokan harinya, matahari pagi belum sepenuhnya meninggi saat deru sepeda motor yang teramat dikenal berhenti di pekarangan rumah. Itu Arman. Pria itu datang kembali dengan gurat wajah yang berantakan, membawa sisa-sisa harga diri yang telah compang-camping.

Di teras rumah, Bapak Farhan dan Ibu Naya sedang duduk. Meskipun mereka sudah mendengar selentingan tentang keributan di kafe kemarin dari gunjingan kecil orang-orang, mereka memilih diam, mengunci rapat mulut mereka selagi melihat anak perempuan mereka masih baik-baik saja.

Namun, kedatangan Arman kali ini memaksa mereka untuk bersuara. Pria itu melangkah maju, lalu dengan suara yang bergetar penuh keputusasaan, dia menatap mantan mertuanya.

"Pak, Bu... kesalahan yang sudah pernah saya buat dan ibu saya lakukan pada Aini, saya benar-benar minta maaf dari lubuk hati yang terdalam," rintih Arman, matanya berkaca-kaca menahan malu.

"Tapi tolong, Bu, Pak... kami masih bisa rujuk. Aku dan Aini baru menjatuhkan talak satu, belum talak tiga, Pak, Bu. Tolong beri kami kesempatan."Ibu Naya menghela napas panjang, menatap menantunya dengan tatapan wanita tua yang sarat akan pengalaman hidup.

"Maaf, Nak Arman. Masalah kalian masih talak satu atau talak tiga, Ibu tentu tahu kalian masih bisa kembali. Tapi tolong, Nak Arman mengerti posisi Ibu bagaimana sebagai seorang ibu kandung. Kalaupun Ibu dan Bapak mengizinkan kamu untuk rujuk dengan Aini, tetapi Aini sendiri sudah tidak mau lagi rujuk dengan Nak Arman, kami orang tua tidak tahu harus berkata apa lagi, Nak. Sekarang Nak Arman bisa lihat sendiri, Aini ada di dalam kamar. Semenjak Nak Arman datang ke pekarangan ini, dia sama sekali tidak ingin keluar untuk menemuimu."Arman seketika membeku, lidahnya kelu tak tahu harus membalas apa lagi.

Dia hanya bisa berdiri terpaku, berharap mendapatkan secercah rasa kasihan dari mantan mertuanya untuk menyembuhkan luka egonya.

"Tapi, Bu... Ibu bisa, kan, beri nasihat pada Aini? Tolong bantu Arman, Bu," pinta Arman lagi, suaranya parau memohon.

"Kalau kelak Arman bisa kembali dengan Aini, Arman berjanji akan berusaha sekuat tenaga memenuhi seluruh kebutuhannya. Arman janji tidak akan membiarkan dia sakit hati lagi gara-gara ibuku, Bu. Tolonglah bu." Mendengar janji manis yang sudah terlambat itu, Bapak Farhan yang sejak tadi diam akhirnya membuka suara. Wibawanya sebagai kepala keluarga yang kokoh seketika mengunci atmosfer teras rumah tersebut.

"Nak Arman," panggil Bapak Farhan, suaranya tenang namun setiap katanya menghunjam sedalam belati ke dada Arman. "Kalian memang baru jatuh talak satu kali, dan secara agama memang bisa kembali sampai batas tiga kali. Secara hukum pun kalian belum terdaftar sah berpisah di pengadilan Agama."

Bapak Farhan menatap lurus ke dalam manik mata Arman.

"Bapak rasa... wajar jika hari ini Bapak berdiri berpihak sepenuhnya di samping Aini. Karena dia adalah anak perempuan yang Bapak besarkan dengan penuh kasih sayang tanpa kekerasan, yang dulu Bapak serahkan kepadamu dengan harapan kamu menjaganya. Tetapi apa yang kamu lakukan? Kamu menyiksa mental anak perempuan satu-satunya yang Bapak miliki."

Arman menunduk dalam, rona merah penyesalan membakar wajahnya.

"Satu lagi," lanjut Bapak Farhan, suaranya kian menuntut ketegasan. "Bapak sudah tahu kejadian di kafe kemarin sore. Perlakuanmu di depan umum itu sungguh keterlaluan dan sangat merusak nama baik Aini, Nak Arman. Pria yang bersamanya kemarin itu bukan siapa-siapa, dia adalah rekan kerja Aini untuk saat ini. Tetapi untuk selanjutnya... Bapak tidak tahu apakah dia akan tetap menjadi rekan kerja, atau berubah menjadi lebih dari itu."

Duaarrr!

Kalimat terakhir dari Bapak Farhan bagaikan hantaman badai yang memutus beribu-ribu helai benang harapan di dalam dada Arman. Kenyataan bahwa Aini mungkin akan dimiliki oleh pria lain yang jauh lebih baik membuat ulu hati Arman remuk redam seketika.

"Soal itu... Arman benar-benar minta maaf, Pak. Arman mengaku salah, Arman terlalu naif waktu itu," ucap Arman dengan suara yang nyaris habis, mengakui kekalahan mutlaknya.

Bapak Farhan hanya mengangguk pelan tanpa niat untuk memperpanjang kalimat.

Pintu maaf mungkin ada, tetapi pintu untuk kembali telah terkunci rapat dan kuncinya telah dibuang ke dasar samudra.

Merasa tidak ada lagi celah untuk mengemis, Arman akhirnya membalikkan badannya dengan langkah yang teramat gontai. Dia berjalan menuju sepeda motornya, memutar kemudi dengan sisa tenaga yang dia miliki, lalu pergi meninggalkan pekarangan rumah itu membawa jubah penyesalan yang akan selamanya membakar batinnya sepanjang sisa hidup.

Setelah deru motor Arman berlalu dan menghilang di telan jarak, daun pintu rumah perlahan terbuka. Aini melangkah keluar dari kamarnya dengan mata yang sedikit berkaca-kaca. Tanpa sepatah kata pun, Aini langsung merosot dan memeluk erat tubuh kedua orang tuanya. Keheningan sore itu berubah menjadi momen yang teramat mengharukan. Aini menumpahkan seluruh rasa syukur dan harunya karena memiliki benteng pelindung yang begitu kokoh dan menghargai harga dirinya sebagai seorang wanita.

Di dalam dekapan hangat ayah dan ibunya, Aini memejamkan mata perlahan, merasakan mendung di pikirannya kini telah sepenuhnya berganti menjadi langit yang cerah. Di bawah atap rumah yang penuh cinta itu, Aini mengambil ponselnya, menatap ruang obrolannya bersama Egi dengan senyuman yang teramat lepas.

Sebab, ketika sebuah masa lalu dipaksa mengetuk pintu rumahmu kembali, kemenangan tertinggi bukanlah saat kamu membalasnya dengan caci maki, melainkan saat kamu membiarkannya pergi dalam kehampaan; membuktikan bahwa jiwamu kini telah melangkah terlalu jauh ke depan untuk bisa dijangkau oleh penyesalan yang sia-sia.

1
falea sezi
🤣🤣 arka arka lu sendiri ketus ehh masak. minta di baikin🤣 ngelunjak lu
Ratika duri: tau nih si arka 😅
total 1 replies
falea sezi
bner g usa ngurus orang g jelas sini 🤭 fokus krja aja biar aja ulet bulu dan si ceo g jelas itu bkin perkarw
falea sezi
lanjut
Ratika duri: oke kak😁
total 1 replies
falea sezi
wanita oon ngapain. g ngajuin cerai sendiri😒 stts gantung emank. enak bloon ya
Ratika duri: sabar kakak ku 😅😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!