Rencana pernikahan Amaia dengan putra kedua keluarga Tedjakusuma berakhir sangat jauh dari impian indahnya. Pembatalan pernikahan dan menghilangnya sang calon suami membuat Amaia merasa sangat kecewa. Sementara di sisi lain, Widitama si putra tertua mengajukan diri untuk menggantikan sang adik sebagai suami untuk Amaia.
Amaia yang selama ini hanya menganggap Widitama sebagai kakak, harus pura-pura menerima pernikahan untuk mencari tahu kebenaran tentang pembatalan pernikahannya. Satu rahasia besar yang Amaia lewatkan adalah Widitama sudah lama mencintainya. Bisakah Amaia mengungkap kebenaran dan menerima perasaan Widitama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yourladysan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gadis Penggoda
Selesai acara pesta, Amaia tak langsung diajak pulang. Widitama dipanggil menghadap Ferdian, jadi sementara menunggu mereka berbincang, Amaia diminta menunggu sang suami di salah satu kamar tamu. Meski begitu, sejujurnya Amaia sedikit pensaran dengan apa yang mereka bicarakan.
Namun, tak mungkin dirinya menyelinap untuk mencuri dengar obrolan mereka. Lagipula ruang kerja Ferdian di rumah utama, dijaga oleh dua pengawal berbadan besar. Amaia tak mau berurusan dengan orang-orang sepert itu.
Setelah sekian menit berdiam diri di kamar, ketukan dari arah luar pintu terdengar. Amaia terperanjat. Widitama, kah?
Dengan hati-hati, dia membuka pintu. Bukan Widitama, tapi wajah Sasti yang menyapa. Senyum ramah terlukis bibirnya. Tapi Amaia sudah lebih dulu mengetahui topeng wanita tua itu.
"M-Mama?" Amaia terbata. Aslinya ia tak sudi mengatur nada bicara agar terdengar sopan di telinga wanita itu.
Namun, Widitama akan marah besar kalau Amaia sampai membuat kekacauan. Waktu itu dia dan Widitama sudah sepakat untuk memulai permainan balas dendam dengan hati-hati, tapi pasti. Amaia setuju untuk memakai topeng juga sementara waktu.
Apalagi setelah melihat kedatangan Rakha, tapi situasi terlalu tenang. Tiba-tiba Amaia kepikiran. Apa mungkin Sasti tak tahu kalau anaknya datang?
"Ada apa, Ma?" tanya Amaia.
"Nggak apa-apa, Mama cuma pengen nyapa kamu. Boleh Mama masuk? Ada yang ingin Mama katakan."
Walaupun agak sedikit sangsi, Amaia mempersilakan. Sasti duduk di tepi kasur, Amaia segera menyusulnya. Wanita itu tanpa sungkan menggenggam tangan Amaia. Sehingga membuatnya terkejut.
"Mama tau ini nggak akan cukup, tapi Mama benar-benar minta maaf atas apa yang Rakha lakukan. Kamu pasti merasa kecewa, begitu juga Mama, Amaia. Mama nggak nyangka Rakha akan melalukan hal seperti ini," cetusnya.
Padahal dia tau tentang rencana Kak Rakha. Dia tau Kak Rakha nggak mencintaiku.
Tiba-tiba bulir air mata keluar dari sudut matanya. Amaia nyaris tertawa sinis. Namun, dia menahan diri. Sasti menatap lekat wajah Amaia dengan mata berkaca-kaca.
"Pasti berat buat kamu harus menikah dengan pria yang nggak kamu cintai." Dia lagi-lagi mengeratkan genggaman pada tangan Amaia. "Tapi percayalah, Widitama lebih bertanggung jawab. Dia lebih dewasa dari Rakha. Mama yakin, dia yang terbaik buat kamu. Meskipun akhirnya kamu nggak bersama Rakha, tapi kamu tetap menjadi menantu Mama karena menikahi putra sulung Mama."
Dulu Amaia mungkin akan bersimpati lebih atas ucapannya yang terdengar tulus. Namun, kebodohan itu sudah cukup sampai di sana. Justru sekarang Amaia muak melihatnya.
Sasti menyeka air mata palsunya. "Maafkan Mama, ya. Mama janji akan memastikan pernikahan kamu dan Widitama adalah yang terbaik. Biar bagaimanapun, Widitama adalah Mama. Dia sama seperti Rakha dan Denara."
Berhenti akting! Aku udah muak. Amaia ingin berteriak seperti itu. Tapi sekali lagi, dia mencoba menahan diri.
"Aku nggak apa-apa, Ma. Mama benar, aku memang kecewa. Tapi mau bagaimana lagi?" tanya Amaia.
Sasti mengangguk. "Iya, Sayang. Kamu benar. Nggak ada yang bisa kita perbuat. Rakha ... anak itu benar-benar mengecewakan kita semua. Kalau suatu saat dia menghubungi kamu, tolong kasih tau Mama, ya."
Bukannya dia akan hubungi Tante? Alih-alih aku? Meski begitu, Amaia mengangguk. "Semoga saja dia menghubungi aku, Tante."
"Terima kasih." Sasti beranjak, diikuti oleh Amaia. Lantas dipeluknya gadis itu. "Kamu memang perempuan yang sangat baik, Amaia. Rakha benar-benar rugi telah mengecewakan kamu."
Tak ada tanggapan dari Amaia. Karena dia sudah muak berlama-lama dan berbincang dengan mertuanya. Untung saja Sasti segera keluar dari kamar.
Amaia menjatuhkan tubuh lagi ke tepi kasur. Tiba-tiba napasnya terasa sesak berada di tempat penuh kepalsuan. Ia ingin segera pergi, tapi Widitama lama sekali. Amaia sudah muak berada di sana.
Pintu kamar kembali terbuka. Amaia berpikir itu Widitama. Tapi harapannya berceceran ketika melihat siapa yang muncul dari sana. Denara.
Wanita itu melenggang sembari berkacak pinggang. Amaia bangkit dari tempat, tapi Denara langsung mendorong kedua bahunya. Tentu saja Amaia terkejut bukan main. Apa Denara ingin mengajaknya baku hantam?
"Apa-apaan kamu?" sergah Amaia setelah berdiri lagi.
"Ya ampun! Apanya yang apa-apa? Ternyata kamu betul-betul menikmati pernikahan dengan Mas Widi. Berarti aku nggak salah, kan? Kamu menggoda Mas Widi selama ini di belakang Kak Rakha." Dia menuding wajah Amaia dengan telunjuk berhias kuteks. "Dasar gadis sialan! Penggoda sialan! Kamu berselingkuh di belakang kakakku, lalu menikah dengan Mas Widi?! Sialan kamu."
Amaia tergelak sumbang. Bukannya ketakutan atau emosi mendengar ucapan Denara, Amaia malah santai. Hal itu membuat Denara terlihat murka.
"Kalian ini sama saja ternyata. Buah jatuh nggak jauh dari pohonnya? Iya, itu kalian banget. Suka sekali melempar kesalahan pada orang lain. Suka sekali playing victim," cetus Amaia.
"Bangs*t! Apa maksud kamu?!"
Amaia tak ragu memangkas jarak mereka. Lalu dengan gerakan agak kasar, ia mendorong tubuh Denara hingga terjerembab ke kasur. Wanita itu memekik tak terima. Ketika hendak beranjak, Amaia menekan kuat bahunya sehingga dia meringis kesakitan.
"Terima saja fakta, kalau sekarang aku dan Mas Widi adalah suami-istri. Obsesi gilamu itu tak akan pernah terwujud. Tuduh aku sepuas hati kamu, tapi kalau Mas Widi tau ...." Amaia menunduk dan berbisik. "Habislah kamu karena berani mengangguku. Akuilah, Dena, kamu sudah kalah."
"Brengsek! Sialan!"
Meskipun Denara berteriak murka, Amaia tak peduli. Ia melenggang hendak dari hadapan iparnya. Tapi ia berhenti di ambang pintu. Amaia menoleh ke belakang, ke tempat Denara masih duduk mengepalkan kedua tangan.
"Kamu benar-benar mirip dengan Rakha. Setelah melihatnya malam ini, aku benar-benar yakin kalian adalah saudara," kata Amaia.
"Melihatnya? Jangan-jangan kamu ...." Kalimat Denara tertahan sebentar. Amaia benar-benar melangkah keluar dari kamar. "AMAIA SIALAN! SINI KAMU, AKU BELUM SELESAI BICARA!"
*****
"Bicara apa kamu dengan Om Ferdian?" tanya Amaia. Kalau sedang bersama Widitama, dia enggan menyebut papa.
"Dia akan mengajak kamu ke kantornya. Pasti dia ingin 'memamerkan' kamu senagai menantu."
Amaia berhenti di depan lift yang sudah tertutup. Mereka telah tiba di unit apartemen Widitama.
Gerakan Amaia cukup cepat saat menahan lengan Widitama. Pegangan pada lengan itu membuat Widitama mengarahkan tatapan ke sana. Amaia buru-buru melepasnya.
"Buat apa aku pergi ke sana? Aku nggak mau," cetus Amaia sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
Sebenarnya dia ingin cepat-cepat ganti baju. Dia sudah tak tahan dengan gaun yang dipakainya malam ini. Widitama melangkah sembari melepas jas dan menaruhnya di sandaran sofa. Dalam hitungan detik, dia sudah duduk di sana untuk mengistirahatkan diri.
Amaia menyusul duduk di dekatnya. Karena dia masih penasaran dengan jawaban sang suami.
"Saya nggak tau," jawab Widitama. Pendek dan bikin Amaia tak puas dengan jawaban itu.
"Tapi kalian bicara berdua. Lama sekali. Sampai bosen aku nunggu di kamar tamu."
Seringai tipis Widitama terlukis. Ia mencondongkan tubuh ke arah Amaia. Refleks membuat gadis itu memundurkan tubuhnya sendiri.
"Kamu mau berlama-lama dengan saya? Mau ditemani terus?" Widitama terkekeh melihat Amaia sedikit panik. "Gawat sekali kalau kamu jatuh cinta sekarang. Misi kita akan berantakan."
"Siapa juga yang jatuh cinta?!" Amia menyergah.
"Astaga, berapa kali saya ingatkan! Jaga bicaramu. Sekali lagi kamu berteriak, saya bikin kamu kesulitan bernapas." Widitama mengamati bibir tipis Amaia.
Tentu saja Amaia tahu ke mana arah maksud suaminya. Ia melengos karena fokusnya terganggu oleh bibir pria itu.
"Kalau gitu, bisa nggak kamu jawab yang benar? Katakan yang sejujurnya. Jangan bikin orang emosi," ujar Amaia. Suaranya terdengar lebih pelan.
Widitama terkekeh. "Dia hanya bicara tentang rencana berikutnya, agar saya lebih bisa mendapat kepercayaan kamu dan Bu Atika. Saya benar-benar harus mulai mendekati kamu, katanya," tukas Widitama, "dia nggak bisa menunggu lagi. Dia benar-benar harus segera mendapatkan warisan dari mendiang papa kamu."
"Kenapa dia ngotot sekali? Kamu nggak tau alasannya?"
"Selain alasan ingin memperluas perusahaan dan membangunnya menjadi lebih besar, saya yakin ada alasan lain. Edgar dan orang-orangnya sedang menyelidiki itu," jawab Widitama.
Amaia mengangguk setuju. Pasti ada alasan lain yang belum mereka ketahui. "Oh ya, tadi Tante Sasti ngajak aku bicara." Ia lantas menceritakan semua obrolannya dengan wanita itu. "Aneh, kenapa dia nggak tau di mana lokasi Kak Rakha? Dan dia ingin dikabari kalau aku mengetahuinya. Dia bahkan nggak tau kalau Kak Rakha datang malam ini. Itu berarti Kak Rakha nggak sempat ketemu dia tadi."
Senyum tipis terlihat di bibir Widitama saat menyandarkan punggung ke sofa. "Itu karena dia ingin meninggalkan anaknya dan melipahkan semua kesalahan itu hanya pada Rakha. Saya yakin, dia pasti menyebut-nyebut nama saya tadi."
"Dari mana kamu tau?"
"Sudah saya bilang, situasi ini terlalu tenang. Dia membiarkan orang-orang papa mengejar dan mencari Rakha. Bukan nggak mungkin, pada akhirnya dia mengkhianati anaknya sendiri." Tatapan Widitama lekat pada kedua mata Amaia. "Bagi Sasti, dia bisa berpihak kepada siapa yang bisa menyelamatkan hidupnya. Sekalipun harus mengkhianati orang terdekat."
"Siapa orang itu?"
"Menurut kamu? Jangan bodoh begitu."
Amaia berdecak. Lagi-lagi dia dicap bodoh. "Om Ferdian?"
Suaminya mengangguk. "Pintar!" Widitama beranjak dan berdiri membelakangi Amaia sambil menatap gorden balkon. "Dia akan selalu berada di pihak Ferdian Tedjakusuma dan mengkhianati siapa pun demi pria itu. Dari dulu, dia sudah pintar melakukannya."
"Dari dulu?" Amaia mendekat dan mendongak pada Widitama.
"Ah, saya ngantuk dan lelah. Saya cicil informasinya, besok saja." Senyum usil terlukis di bibir Widitama saat menepuk puncak kepala Amaia. "Semoga kamu bisa tidur nyenyak dengan rasa penasaranmu. Kalau nggak bisa tidur nyenyak, panggil saya, biar saya temani kamu tidur." Ia melenggang setelah menggoda sang istri.