NovelToon NovelToon
25 VS 50 Mertua Sang Don Juan

25 VS 50 Mertua Sang Don Juan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Beda Usia
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

"Tapi, aku tidak mencintai Papa," ucap Luna bergetar di depan pria yang seharusnya menjadi ayah mertuanya.
"Tidak masalah Luna, Papa yakin lambat laun kamu akan mencintai Papa."
Dikhianati Fauzan di hari pernikahan demi wanita lain membuat Luna hancur di hadapan semua tamu. Namun, saat dunianya runtuh, sang calon ayah mertua Mahendra justru mengulurkan tangan dan mengambil alih posisi mempelai pria. Mampukah pernikahan beda usia 25 vs 50 tahun ini menyembuhkan luka Luna, atau justru menjadi awal dari konflik baru yang lebih rumit?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Sementara ketegangan melanda kantor Pratama Group, atmosfer di dalam kediaman mewah Dirgantara justru diselimuti oleh kabut konspirasi yang pekat.

Mila melangkah mengendap-endap di sepanjang koridor lantai dua yang dilapisi karpet bulu tebal.

Setelah memastikan situasi aman dan tidak ada pelayan yang memperhatikan, ia berhenti di depan sebuah pintu kayu jati berukir megah.

Dengan senyuman licik yang menghiasi bibirnya, Mila mengangkat tangan dan mengetuk pintu kamar Emma dengan ritme yang konstan.

Tok! Tok! Tok!

Tak butuh waktu lama, pintu terbuka setengah. Emma berdiri di sana dengan gaun rumah sutranya, menatap Mila dengan sebelah alis terangkat.

"Mila? Ada apa siang-siang begini mengetuk kamarku?"

"Tante Emma, boleh aku masuk sebentar? Ada hal sangat penting yang ingin kubicarakan tentang alang kecil itu," bisik Mila dengan nada suara yang sengaja dibuat dramatis, memancing rasa ingin tahu Emma.

Mendengar kata kunci tersebut, mata Emma seketika berbinar ketus.

Ia membuka pintunya lebih lebar, membiarkan Mila melangkah masuk ke dalam kamarnya yang beraroma parfum mawar menyengat, lalu menutup pintu itu rapat-rapat.

Mila langsung mengambil tempat di sofa beludru, memasang wajah sedih yang dibuat-buat demi melancarkan hasutannya agar Emma semakin membenci Luna.

"Tante, aku benar-benar tidak tahan melihat tingkah Luna. Tante lihat sendiri kan tadi pagi di meja makan? Dia sengaja membuat Tante diskakmat di depan para pelayan! Dia merasa sejak memegang Black Card dari Papa Mahendra, dia sudah sah menjadi ratu di rumah ini dan bisa menginjak-injak harga diri Tante sebagai adik kandung."

Rahang Emma seketika mengeras. Kalimat Mila tepat sasaran menghantam ego tingginya yang terluka akibat kejadian sarapan pagi tadi.

"Gadis kampung itu memang kurang ajar! Baru dua hari mencicipi harta Dirgantara, kepalanya sudah mendongak ke langit!"

Melihat hasutannya bekerja dengan sempurna, Mila tersenyum puas di dalam hati.

Ia memajukan tubuhnya, memprovokasi Emma lebih dalam.

"Kalau terus dibiarkan, posisi Tante di rumah ini bisa digeser olehnya. Kita harus memberi dia pelajaran, Tante. Sesuatu yang bisa menjatuhkan harga dirinya ke titik terendah di depan semua orang, sampai Papa Mahendra malu memiliki istri sepertinya."

Emma berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya, melipat tangan di dada sembari memutar otak.

Kilat licik mendadak terpancar dari sepasang matanya yang dipenuhi kerutan halus.

Ia menghentikan langkahnya tepat di depan Mila dengan senyuman kemenangan yang mengerikan.

"Bagaimana kalau Minggu besok, di mana Mahendra sedang ada turnamen golf tahunan bersama rekan bisnisnya ke luar kota, kita adakan arisan sosialita di rumah utama ini, dan kita permalukan Luna?" ucap Emma dengan nada suara yang bersemangat, membayangkan kehancuran keponakan tirinya itu.

Mata Mila seketika berbinar sempurna mendengar rencana brilian tersebut.

Tanpa Mahendra di rumah, Luna tidak akan memiliki tameng pelindung sama sekali.

Lingkaran sosialita Emma yang terkenal kejam, sombong, dan gemar merendahkan orang pasti akan menguliti Luna hidup-hidup.

"Aku setuju sekali, Tante! Dan aku akan menyiapkan semuanya. Aku akan pastikan seluruh dekorasi dan undangan VIP tersampaikan, termasuk menyiapkan 'panggung' khusus untuk menyambut Nyonya Besar baru kita," sahut Mila penuh semangat.

Kedua wanita oportunis itu kemudian saling melempar tawa renyah yang licik di dalam kamar, mulai menyusun rangkaian jebakan beracun yang akan mereka hidangkan untuk Luna di hari Minggu nanti.

Sementara konspirasi busuk mulai merayap di sudut-sudut rumah utama Dirgantara, atmosfer di gedung pencakar langit Dirgantara Holdings terasa begitu menekan bagi Fauzan.

Di dalam ruang kerja barunya—yang kini jauh lebih kecil dan tidak lagi strategis akibat sanksi pemotongan jabatan dari ayahnya—lelaki muda itu hanya bisa duduk bersandar pada kursi kerjanya.

Layar komputer di hadapannya menampilkan deretan grafik laporan bulanan yang harus ia periksa, namun fokus Fauzan telah menguap entah ke mana.

Tatapan matanya kosong, menerawang menembus kaca jendela besar yang menampilkan riuh rendah jalanan ibu kota.

Pikiran Fauzan mendadak terlempar kembali pada kejadian di meja makan tadi pagi.

Bayangan Luna yang berdiri dengan anggun mengenakan pakaian kerja yang sangat rapi, profesional, dan memancarkan aura kecantikan alami yang begitu berkelas, terus berputar-putar di kepalanya seperti kaset rusak.

Selama bertahun-tahun menjalin hubungan dengan Luna, Fauzan selalu menganggap gadis itu biasa saja.

Di matanya kala itu, Luna hanyalah wanita penurut yang membosankan, terlalu polos, dan tidak semenarik Mila yang agresif serta pandai bersolek.

Karena alasan itulah, Fauzan dengan teganya kabur di hari pernikahan mereka, membiarkan Luna menanggung malu sendirian demi mengejar Mila.

Namun kini, setelah Luna resmi diambil alih oleh ayahnya dan menyandang status sebagai Nyonya Besar Dirgantara, segalanya berubah total.

Luna menjelma menjadi sosok yang begitu berkilau, terhormat, dan seolah berada di kasta yang tak tergapai olehnya.

"Kenapa dia menjadi wanita secantik itu...?" gumam Fauzan lirih.

Fauzan meremas rambutnya dengan frustrasi. Ada rasa tidak rela, cemburu, dan gairah lama yang mendadak bangkit kembali dengan egois.

Ia tersiksa melihat wanita yang tempo hari ia buang dengan mudah, kini justru diratukan oleh ayahnya sendiri, bahkan dimanjakan dengan Black Card tanpa batas.

"Seharusnya posisi di sampingnya itu adalah milikku, bukan milik Papa," bisik Fauzan lagi, menggeram pelan dengan rahang yang mengetat rapat.

Ketidakberdayaan finansial dan hilangnya hak kepemilikan atas Luna perlahan-lahan mengubah rasa bersalah Fauzan menjadi sebuah obsesi baru yang berbahaya.

Tanpa ia sadari, egonya yang terluka mulai menolak kenyataan bahwa Luna kini telah menjadi ibu tirinya, memicu benih-benih nekat di dalam kepalanya untuk merebut kembali apa yang pernah ia sia-siakan.

Jarum jam dinding tepat menunjuk ke angka lima sore.

Sesuai dengan titah mutlak yang diucapkannya siang tadi, sebuah klakson berat dan nyaring khas mobil premium bergema memecah ketenangan pelataran Pratama Group.

Suara itu begitu dominan, seolah memberi tahu seluruh isi kantor bahwa sang penguasa Dirgantara Holdings telah tiba.

Luna yang masih berada di lantai atas seketika menoleh ke arah jendela kaca besar.

Dari ketinggian itu, ia bisa melihat sedan Rolls-Royce Phantom hitam milik suaminya sudah terparkir gagah tepat di depan lobi.

Luna menghela napas panjang, buru-buru merapikan tas kerjanya dan mematikan layar komputer.

Ia melangkah menuju ruangan CEO yang pintunya sedikit terbuka, mengetuknya pelan untuk berpamitan.

"Pak Dika, saya pulang dulu," ucap Luna dengan nada seprofesional mungkin.

Dika yang sedang menatap tumpukan berkas hanya mendongak sekilas.

Wajah tampannya masih tampak mendung, sisa dari konfrontasi dan luapan emosinya siang tadi.

Dika hanya mengangguk kecil tanpa menjawab sepatah kata pun, membiarkan keheningan dingin menggantung di antara mereka.

Luna segera berbalik dan melangkah cepat menuju ke arah lift eksekutif.

Namun, perjalanannya sore itu tidak semulus biasanya.

Di dekat lorong kubikel, beberapa teman kerjanya sengaja berkumpul dan melontarkan sindiran dengan suara yang sengaja dikeraskan.

"Wah, enak ya jadi Nyonya Besar. Jam lima teng langsung dijemput konglomerat. Kerja cuma buat pengisi waktu luang sepertinya."

"Iya, ya. Hebat banget strateginya, dari anak sampai bapaknya bisa dapet semua. Benar-benar piala bergilir keluarga Dirgantara."

Bisikan-bisikan beracun itu terasa menusuk telinga, namun Luna memilih untuk mengunci rapat bibirnya.

Ia hanya diam, mempercepat langkah kakinya masuk ke dalam lift tanpa menoleh sedikit pun.

Ia tahu, meladeni mereka hanya akan membuang energinya secara sia-sia.

Begitu pintu lift terbuka di lantai lobi, Luna langsung berjalan setengah berlari menuju pelataran parkir dan membuka pintu penumpang Rolls-Royce tersebut.

Begitu tubuhnya mendarat di atas jok kulit yang empuk, aroma parfum maskulin Mahendra langsung menyambutnya.

"Mas, tidak usah membunyikan klakson seperti itu," protes Luna pelan sembari menutup pintu mobil.

"Semua orang di kantor jadi memperhatikan aku, Mas. Ditambah lagi, mereka mulai membicarakan hal yang tidak-tidak."

Mahendra yang duduk tegap di sampingnya hanya menoleh dengan senyuman miring yang penuh pesona matang.

Alih-alih merasa bersalah, pria berusia setengah abad itu justru meraih jemari lentik Luna, menggenggamnya dengan begitu erat dan protektif.

"Biarkan saja mereka bicara, Sayang. Itu adalah caraku memberi tahu dunia bahwa kamu adalah milikku, dan tidak ada satu pun pria di kantor itu yang boleh menahanmu sedetik pun setelah jam lima," sahut Mahendra dengan suara baritonnya yang berat, terdengar begitu mutlak tak terbantahkan.

Sebelum Luna sempat membalas, Mahendra memberi isyarat pada sopir pribadinya untuk melajukan mobil membelah jalanan ibu kota.

Pria paruh baya itu menatap wajah lelah istri kecilnya dengan tatapan yang seketika melembut.

"Ayo lekas masuk, aku akan mengajakmu belanja dan makan malam di luar. Anggap saja ini hadiah karena kamu sudah bekerja keras di hari pertamamu," ucap Mahendra sembari mengusap lembut punggung tangan Luna, bersiap memanjakan sang istri dengan segala kemewahan miliknya, sekaligus menjauhkan sejenak pikiran Luna dari intrik busuk yang kini diam-diam tengah dipersiapkan oleh Emma dan Mila di rumah utama.

1
tiara
semoga tuan Mahendra dapat diselamatkan,
Mundri Astuti
tendang sekalian duo ular itu Mahendra
Mundri Astuti
tuh kannn mang dah ada rasa si Mahendra..tapi gpp lun, daripada dpt cere, mending yg ini y lun kakap sekalian 😄
my name is pho: 🤭🤭heheh iya kak
total 1 replies
Mundri Astuti
modus aki" 😄

terimakasih thor dah double up 🙏❤️
my name is pho: 🤭🤭 hehehe
total 1 replies
Mundri Astuti
lah si Mahendra...itu yg dikirim ke tim IT kau video asli istrimu loh, kamu ga risih...napa bukan byr perempuan lain aja si yg mirip gitu lantas di edit
Mundri Astuti
coba kaya apa y pembalasan mahendra🤔
Mundri Astuti
Alhamdulillah....
tiara
Semoga Mahendra selamat,dan cepat mencari yang menyebabkan dirinya pingsan
Mundri Astuti
mudah"an selamat Mahendra...
bener" y si Kunti mil", beuh gertakkan doang ga kena, liat aja ntar klo Mahendra sehat ....abis kau.
Fitra Sari
lanjut KK
Mundri Astuti
wayolohhh lunaa
Ita Putri
dih....amnesia anda ya
kan sudah buang Azura anda faizan
Mundri Astuti
ayo Luna tunjukkan klo kamu tuh bisa Badas...
biar duo Kunti, satu kuyang tdk meremehkan mu lagi
Mundri Astuti
ya ampun Mahendra ...tua" keladi ni mah 😄, bucin abis romannya😛
tiara
terlambat pa Dika,kalah cepat sama ayahnya Fauzan
tiara
Luna sudah mulai merasa nyaman tuh dengan pa suami
Mundri Astuti
Luna dah mulai da rasa ni
Ros 🍂
lanjut Thor 💪🏼
Ros 🍂
pengen getok Mila Thor 🤭
Ros 🍂
Hadirrr Thor, Semangat 💪🏻💪🏻
Ros 🍂: sama-sama kak
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!