Li Yunru tiba-tiba bertransmigrasi ke zaman kuno setelah memakai cincin naga perak berisi ruang spiritual misterius. Bukan itu saja, dia juga menjadi koki spiritual yang mampu menyembuhkan segala jenis penyakit dan keracunan.
Berkat cincin naga perak juga, Li Yunru ditakdirkan menjadi pasangan sang raja naga putih penguasa wilayah utara—Bai Muzhi. Pria berwajah dingin yang jiwanya terluka akibat pedang antar benua ratusan tahun lalu itu, akhirnya menemukan satu-satunya penyembuh yang mampu mengobatinya. Perlahan, perasaan cinta tanpa sadar tumbuh di antara keduanya.
Rupanya kemunculan Li Yunru bukan hanya mengungkap banyak rahasia masa lalu, tapi juga membuat musuh di kegelapan mulai mengincar kekuatan tersembunyi dalam dirinya. Menghadapi misteri ribuan tahun lalu yang mulai tersingkap, mampukah Li Yunru melewati cobaan tersebut sampai akhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Risa Jey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keracunan
Beberapa hari berlalu sejak Li Yunru tinggal di Istana Shing. Udara dingin wilayah Baiyun perlahan mulai terasa biasa baginya. Ia juga sudah hafal beberapa jalan di dalam istana, bahkan mengenali para pelayan yang sering ditemuinya.
Meski para pelayan dan penjaga penasaran pada Li Yunru, tak seorang pun berani bersikap lancang. Semua orang memperlakukannya dengan hormat. Bagaimanapun, seluruh istana sudah mengetahui bahwa Li Yunru memiliki hubungan khusus dengan Bai Muzhi.
Sedangkan Bai Muzhi sendiri sempat menjelaskan sistem kekaisaran di dunia ini, termasuk fakta bahwa ia sudah mengetahui Li Yunru berasal dari dunia lain.
Dan hari ini, Li Yunru memutuskan berjalan-jalan ke hutan tak jauh dari Istana Shing. Di tangannya tergantung seekor ayam utuh yang sudah dibersihkan—lalu memasukkannya ke dalam ruang spiritual. Sementara sebuah keranjang anyaman bambu menggantung di lengannya.
Ruu yang mengikutinya menatap ayam itu dengan penasaran. "Tuan, mengapa kamu membawa ayam? Apakah kamu akan memasak sesuatu di hutan?"
Li Yunru mengangguk. "Cuacanya bagus hari ini. Mungkin aku bisa menemukan bahan makanan liar di hutan yang masih asri. Aku penasaran seperti apa bahan makanan di dunia ini," jawabnya santai.
Seekor kelinci dan seorang gadis manusia akhirnya memasuki hutan yang tidak terlalu lebat. Bai Muzhi sebelumnya mengatakan tidak ada binatang buas di sekitar istana, sehingga tempat itu aman dijelajahi.
"Ngomong-ngomong, apa kamu tidak terkejut melihat zaman modern?" tanyanya penasaran. Akhirnya ia punya kesempatan membahas hal itu.
"Tidak. Pria tua it—maksudku leluhur suku naga putih, sudah membawaku ke berbagai dunia aneh. Katanya dia ingin mencarikan pasangan untuk naga putih itu. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Kabur pun tidak ada gunanya."
Ruu hanya khawatir akan berakhir di perut naga tua itu. Telinganya yang panjang pun sempat terkulai, seolah mengingat pengalaman yang tidak menyenangkan.
"Lalu mengapa kamu menatapku hari itu? Bisa saja aku tidak jadi membelimu."
"Aku hanya melihat energi spiritual yang menenangkan dari tubuhmu. Aku yakin kamu memang ditakdirkan dengan dunia ini. Lagi pula, kamu tampaknya memiliki darah keturunan ras peri hutan," jelas Ruu sambil melompat-lompat mengikuti langkah Li Yunru.
"Rasanya tidak mungkin. Aku hanya manusia biasa. Tapi memang aneh masakanku bisa menjadi makanan spiritual."
Meski Bai Shenzhen mengatakan ia bisa menjadi koki spiritual, Li Yunru sendiri tidak tahu bagaimana masakannya bisa memiliki efek seperti itu. Mungkinkah ruang spiritual berperan besar?
Selama beberapa hari terakhir, Li Yunru sudah berkali-kali memasak di istana. Anehnya, semua masakannya memancarkan aroma lebih harum dari biasanya. Bahkan para pelayan, terutama yang bertugas di dapur, diam-diam menelan ludah.
Bai Muzhi mengatakan masakannya mengandung aura khas ras peri hutan yang mampu menyembuhkan luka dan menetralisir racun.
"Seperti apa kehidupan ras peri hutan?" tanyanya.
"Entahlah, Tuan. Aku masih kecil saat itu dan belum ingat apa pun saat mereka mengasingkan diri dari benua ini."
"Kapan mereka meninggalkan Benua Changyu?"
Kelinci gemuk itu berpikir sejenak. "Mungkin sudah lebih dari empat ratus tahun?"
"Ini memang sudah sangat lama ...," gumam Li Yunru.
Keduanya tidak masuk hutan terlalu jauh. Setelah menemukan sungai terdekat, Li Yunru memutuskan menjadikannya titik awal. Airnya jernih hingga bebatuan di dasar terlihat jelas, sementara ikan-ikan kecil berenang di arus yang tenang.
Ia membawa keranjang anyaman bambu lalu menyusuri hutan. Sesekali ia berjongkok mengamati tumbuhan liar yang tampak asing, kemudian menggeleng karena tidak yakin apakah tumbuhan itu bisa dimakan.
Namun setelah berkeliling cukup lama, ia tetap tidak menemukan bahan yang bisa dimasak. Mungkin karena kawasan utara yang lebih dingin, beberapa sayuran dan buah tidak tumbuh di sana. Hanya semak hijau dan tanaman liar yang mendominasi.
"Setidaknya aku masih bisa menanam sesuatu di ruang spiritual," gumamnya. Ia lalu menatap Ruu yang terus mengekor. "Gendut, daripada mengikutiku, lebih baik bantu cari bahan makanan."
"Aku bahkan tidak bisa membedakan daun lobak dan wortel. Tugasku hanya melindungimu, Tuan."
Li Yunru memutar bola mata dan menggertakkan gigi. "Yang benar saja! Kalau begitu kamu cuma jadi beban! Kerjalah sedikit untukku, atau tidak ada wortel untukmu di masa depan!"
"Bukankah sejak dulu hewan peliharaan memang harus dilayani? Oh, aku pernah dengar orang-orang zaman itu menyebut kalian babu." Ruu sama sekali tidak takut padanya. "... Lagi pula, aku suka daging."
"Katakan sekali lagi aku babu, kurebus dagingmu!" Ekor mata kanan Li Yunru berkedut kesal.
Hewan peliharaan spiritual para pemeran utama wanita di novel lain biasanya berguna dan berpengetahuan luas. Mengapa miliknya hanya tahu makan daging?
Di antara dedaunan hijau, matanya menangkap beberapa buah merah cerah yang menggantung rendah. Permukaannya mengilap diterpa sinar matahari.
"Buah apa itu? Bisakah dimakan?"
Ruu menoleh ke arah pohon yang tidak terlalu tinggi. Kedua telinganya terangkat. "Aku pernah makan satu. Rasanya lumayan."
"Bisakah aku memakannya?"
"Coba saja."
Li Yunru akhirnya penasaran dan memetik satu buah. Buah-buah merah mirip apel itu menggantung rendah sehingga mudah dijangkau.
Warnanya merah cerah, sedikit mengilap dan aromanya harum. Ia membayangkan rasanya pasti manis. Namun baru satu gigitan, keningnya langsung berkerut. Rasanya sepat, pahit dan aneh. Tidak manis sama sekali. Tak lama kemudian kepalanya terasa sangat pusing hingga ia jatuh terduduk.
"Kelinci gendut, buah ini tidak beracun, 'kan?"
"Hah? Harusnya tidak ...?"
Ruu tiba-tiba membeku. Kedua telinganya tegak. Ia menatap Li Yunru lalu berteriak panik, "Tung—tunggu! Tuan! Jangan dimakan! Beracun! Buah itu beracun! Kamu bisa keracunan!"
Ekspresi Li Yunru langsung berubah. Ia melotot ke arah kelinci yang memegangi kedua telinganya, seolah baru melakukan dosa besar.
"Telat memberi tahu! Aku sudah keracunan! Dasar kelinci gendut!"
Ruu langsung panik melihat wajah Li Yunru yang pucat. "Bagaimana ini? Kalau kamu mati, naga putih itu akan marah besar dan menjadi duda yang patah hati!"
"Kelinci gendut! Yang harusnya kamu khawatirkan itu aku. Mengapa malah mengkhawatirkannya?" Ia benar-benar bisa mati konyol gara-gara kelinci itu.
"Ah, aku lupa. Tuan, apa kamu baik-baik saja? Sesak napas? Ingin muntah darah? Kaki mati rasa? Sakit perut?" Rentetan pertanyaan itu justru membuat Li Yunru terdiam.
Gadis itu memejamkan mata sejenak. Anehnya, rasa pusing yang tadi menyerang perlahan menghilang. "Kurasa ... aku mulai membaik."
Awalnya Li Yunru memang sangat pusing hingga tubuhnya lemas. Namun tak lama kemudian, semua efek dari buah itu lenyap. Tubuhnya tak lagi lemas, bahkan terasa hangat, seolah ada aliran energi lembut yang mengalir di dalamnya.
"Aku baik-baik saja," katanya sambil menghela napas lega. "Syukurlah, aku tidak jadi mati."
"Bagaimana mungkin? Manusia biasa seharusnya kehilangan nyawa setelah memakan buah merah ini."
"Apa? Kamu ingin aku mati?"
"Bukan begitu!"
Ruu segera menggeleng keras hingga telinganya ikut bergoyang. Ia melihat racun di tubuh Li Yunru perlahan memudar oleh energi spiritual hijau di dalam tubuhnya. Mungkinkah gadis manusia ini benar-benar keturunan peri hutan? Hanya ras peri hutan yang kebal terhadap berbagai racun.
Setelah beberapa saat, Li Yunru bangkit dan menepuk debu di pakaiannya. Ia memetik beberapa buah merah lagi lalu memasukkannya ke dalam keranjang bambu. Sudut bibirnya perlahan terangkat.
Melihat tingkah gadis itu, Ruu langsung curiga. "Mengapa kamu memetiknya lagi?"
mungkin kita juga bisa mencoba resepnyaa 😂