Menjalin hubungan serius dan hari pernikahan pun telah ditetapkan, tentunya membuat gadis manapun akan berpikir bahwa pria itulah yang akan menjadi imam dalam rumah tangganya, tak terkecuali gadis cantik bernama Azira putri. Namun semua mimpi dan harapan indah itu hancur seketika, dengan kedatangan seseorang dari masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22.
Setelahnya, mommy pun menyusul Leon yang berjalan menuju garasi mobil.
"Kamu tidak boleh bersikap seperti ini, Leon! Mommy tahu hati kamu terluka atas semua ini, tapi mommy mohon bersikaplah lebih dewasa, nak! Benar kata mas Lexi, kamu pasti tidak akan sanggup menerima Zira jika kenyataannya mas mu lah pria dari masa lalu Zira." Langkah Leon terhenti seketika mendengar kata-kata mommy-nya.
"Semua itu memang benar, tapi faktanya hati Leon tetap saja berat menerima kenyataan bahwa wanita yang hingga detik ini masih Leon cintai harus menikah dengan kakak Leon sendiri, mom." Leon mengutarakan isi hatinya kepada mommy.
Mommy kembali melangkah dan berhenti tepat dihadapan sang putra.
"Mommy mengerti dengan perasaan kamu, dan mommy juga mengerti bagaimana terlukanya hati kamu, nak. Namun, mommy minta padamu untuk lebih berlapang dada menerima takdir! Mommy yakin, mas Lexi pun pasti merasa berat karena keputusannya telah melukai hati adiknya sendiri. Ingatlah pada pepatah bahwa cinta tak harus memiliki, anakku!. Jika kamu benar-benar mencintai Zira, maka biarkan dia memulai hidup baru bersama dengan pria yang seharusnya bertanggung jawab atas dirinya, nak!."
"Leon perlu waktu, mom. Please....!." Setelahnya, Leon kembali melanjutkan langkah memasuki mobilnya dan berlalu entah kemana.
Lexi yang dari kejauhan menyaksikan dan mendengar secara langsung nasehat mommy pada Leon akhirnya sadar bahwa selama ini ia telah salah menilai mommy sambungnya itu. Bagaimana tidak, selama ini Lexi selalu berpikir kalau mommy membeda-bedakan antara dirinya dan Leon yang notabenenya adalah anak kandung sedangkan dirinya hanyalah anak sambung.
"Lexi....." Seruan mommy yang mendapati dirinya berdiri tak jauh dari pintu utama sontak menyadarkan Lexi dari lamunannya.
Tanpa berkata-kata, Lexi langsung memeluk mommy.
Mommy tersenyum tipis.
"Mommy tidak pernah membeda-bedakan antara kamu dan Leon, nak. Bagi mommy, kamu dan Leon sama-sama anak mommy." Tutur mommy, seolah bisa menebak isi hati Lexi saat ini.
"Maafkan Lexi, mom."
"Tidak perlu minta maaf, nak!." Mommy mengurai pelukannya untuk memberi jarak agar dapat menatap wajah putra sambungnya itu.
"Ada hati yang terkorbankan atas pernikahan kamu dengan Zira. Dengan itu mommy minta padamu untuk menjaga dan mencintai Zira dengan sepenuh hati kamu! Jangan pernah berpikir menikahinya hanya karena sebuah tanggung jawab, tapi berpikirlah untuk mencintainya sepenuh hati, Lexi!." Mommy berharap Lexi mencintai Zira bukan hanya menikahinya karena sebuah tanggung jawab.
"Lexi janji akan mencintai dan menyayangi Zira dengan sepenuh hati, mom." Dari mimik wajah Lexi, mommy yakin bahwa putra sambungnya tersebut benar-benar mencintai Zira.
Rupa-rupanya bukan hanya Lexi yang tadinya menjadi tim pengamat ditengah interaksi Mommy dan Leon, Ternyata Daddy pun diam-diam mengamati interaksi antara istrinya dan putra sulungnya. Daddy terharu dengan sikap bijak istrinya terhadap permasalahan yang menimpa kedua putra mereka. Jika kebanyakan ibu diluar sana lebih mengutamakan perasaan putra kandungnya, istrinya justru netral dan bahkan berusaha memberi pengertian pada putra kandungnya sendiri.
Malam harinya.
Di sebuah club malam, di sinilah Leon berada sekarang, meluapkan semua rasa kecewa serta luka dihatinya dengan menenggak minuman beralk-ohol. Entah sudah berapa banyak minuman yang ditenggak oleh Leon, yang jelas saat ini pria itu bahkan tidak dapat berdiri dengan benar hingga kembali terjatuh di tempat duduknya. Bartender sampai menolak untuk kembali menyediakan minuman pesanan Leon.
"Anda sudah terlalu mabuk, tuan." Mendengar penolakan dari bartender berhasil memancing tatapan mematikan dari Leon.
"Sepertinya kau sudah bosan bekerja di sini."
"Bukan seperti itu, tuan....Saya hanya _." Bartender tak menuntaskan kalimatnya saat Leon tiba-tiba menggebrak meja bar.
"Prak....."
Untungnya ada seseorang yang datang menghampiri.
"Ada apa denganmu? Kenapa kau bisa segila ini, hm?." Kata-kata wanita itu terdengar pelan namun menusuk hingga ke jantung Leon.
"Bukan urusanmu." Ketusnya.
"Ini memang bukan urusanku, tapi aku ikut merasa malu melihat orang yang kukenal melakukan tindakan memalukan seperti ini di tempat umum." Wanita yang tak lain adalah Reka tersebut, kembali melontarkan kalimat yang mampu membuat Leon merasa dirinya begitu menyedihkan.
Dengan tatapan sayu, Leon menatap pada Reka yang kini duduk di sampingnya sambil menikmati segelas wi-ne.
"Mas Lexi akan segera menikah."
Tak ada reaksi berlebihan dari Reka hingga Leon menyipitkan mata dibuatnya. Wanita itu tetap santai dan sesekali nampak meneguk wine di genggamannya
"Apa kau tidak sakit hati mendengarnya?." Leon tidak habis pikir dengan reaksi Reka, wanita itu kelewat santai menurut Leon.
"Menurutmu aku harus bagaimana? Haruskah aku mendatangi kediaman Fernandez, lalu menangis histeris di sana?." Reka masih berujar dengan nada tenang.
"Aku sudah lelah. Aku lelah mengharapkan cinta yang tidak pernah ada untukku. Aku lelah mengemis cinta kepada pria yang tidak pernah menganggap keberadaanku. Andaikan waktu bisa diulang kembali, mungkin aku tidak akan menyia-nyiakan waktu selama tiga tahun hanya untuk mengharapkan cintanya mas Lexi."
"Mungkin benar, mas Lexi bukan ditakdirkan untukku." Sudah segala cara dilakukan Reka untuk menaklukkan hati seorang Lexiano Fernandez namun usaha tersebut tidak membuahkan hasil apapun, Lexi tetap tidak bisa mencintai dan menerimanya. Kini Reka pasrah pada takdir, Lexi tidak terlahir untuknya.
Di sisa kesadarannya, Leon dibuat tertegun dengan jawaban Reka.
"Btw, bukankah seharusnya kamu turut bahagia atas pernikahan kakak kamu?." Reka baru menyadari sikap aneh Leon. Tadi, pria itu mengatakan bahwa kakaknya akan segera menikah, lalu mengapa Leon malah terlihat seperti sedang frustasi seperti ini. Reka jadi bingung sendiri.
"Mas Lexi akan menikah dengan mantan tunanganku, Azira putri Andrean."
Deg
Nama itu, nama yang barusan diucapkan oleh Leon sepertinya tak asing ditelinga Reka.
"Azira putri Andrean?." Cicit wanita itu sambil berusaha mengingat-ingat.
"Tunggu, apa mantan tunanganmu itu berprofesi sebagai seorang dokter?."
"Bagaimana kau bisa tahu?."
"Jawab saja!." Desak Reka.
"Hm...."
Deg
Reka baru menyadari bahwa mantan tunangan Leon ternyata adalah teman sekampusnya semasa di Amerika dulu. Dan wanita itulah yang akan dinikahi oleh Lexi.
Mungkin karena sudah terlanjur ma-buk, tanpa sadar Leon menceritakan alasan mengapa sampai Lexi menikahi mantan tunangannya tersebut.
Reka jadi teringat pada saat ia tengah dirawat di RS. Saat itu Lexi dan Zira bersikap seolah-olah tidak saling mengenal satu sama lain. Wanita itu sontak saja tersenyum miris. Rupanya ia terlalu bodoh hingga tidak menaruh curiga sedikitpun, padahal ketika itu cara Lexi menatap Zira sudah terlihat jelas jika ada sesuatu diantara mereka.
"Ternyata benar kata orang tuaku, aku ini bodoh dan tidak berguna." Gumam Reka. Hampir setiap hari Reka mendengar kata-kata itu dari mulut ayah dan ibunya, setiap kali usahanya menaklukkan hati Lexi berakhir sia-sia.
kamu benci banget ma Lexi,tanpa kamu sadari suami mu banyak pengagumnya
dan aku begitu juga 😆😆😆
kesian dia karena ambisi gila orang tuanya yang ingin berbesan dengan orang tua mu
Mimi aja Lex 🤣