NovelToon NovelToon
Rahasia Di Balik Cincin Pernikahan

Rahasia Di Balik Cincin Pernikahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: VeLynme

Pada hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia dalam hidupnya, Aruna justru dipaksa menikah dengan pria yang paling ia benci.

Pria itu adalah Adrian Mahesa, pewaris keluarga Mahesa Group yang dingin, arogan, dan terkenal tidak memiliki hati.

Pernikahan mereka bukanlah tentang cinta.

Melainkan kesepakatan.

Ayah Aruna terlilit utang besar yang mengancam keluarganya. Satu-satunya jalan keluar adalah menerima tawaran Adrian: menikah dengannya selama dua tahun.

Aruna mengira dirinya hanya akan menjadi istri pajangan.

Namun setelah menikah, ia menemukan banyak hal yang tidak masuk akal.

Mengapa Adrian diam-diam selalu melindunginya?
Mengapa pria itu menyimpan foto masa kecilnya?
Dan mengapa keluarga Mahesa tampak begitu takut jika Aruna mengetahui kebenaran tentang kematian ibunya?

Ketika rahasia masa lalu mulai terungkap, Aruna harus memilih.
Meninggalkan Adrian dan membalas dendam.
Atau tetap bersama pria yang perlahan berhasil merebut hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VeLynme, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Musuh yang Seharusnya Telah Mati

"...berarti dia benar-benar masih hidup."

Ucapan Surya membuat udara di dalam pabrik terasa membeku.

Tidak ada yang berbicara.

Tidak ada yang bergerak.

Aruna memandangi wajah kakeknya yang mendadak kehilangan ketenangan.

Sejak pertama kali pria itu muncul, Surya selalu terlihat mampu mengendalikan keadaan.

Namun sekarang...

Sorot matanya dipenuhi kegelisahan.

"Kakek..."

Suara Aruna terdengar lirih.

"Siapa yang masih hidup?"

Surya tidak langsung menjawab.

Ia hanya menutup mata sejenak, seolah sedang mengumpulkan keberanian untuk mengucapkan sebuah nama yang selama puluhan tahun tidak ingin ia dengar lagi.

---

Jonathan justru tersenyum.

Namun senyum itu bukan lagi senyum penuh kemenangan.

Melainkan senyum seseorang yang akhirnya memahami bahwa ia hanyalah bidak dalam permainan yang jauh lebih besar.

"Jadi benar..."

gumamnya.

"Aku juga dibohongi."

Mahendra menoleh cepat.

"Dibohongi siapa?"

Jonathan tertawa pelan.

"Semua orang mengira permainan ini hanya tentang Atlas."

"Ternyata bukan."

Ia memandang Surya.

"Masih ada pemain terakhir."

Surya membuka matanya perlahan.

"Aku berharap dia sudah mati."

"Tapi harapan itu ternyata salah."

---

"Siapa dia?"

Adrian bertanya tegas.

Surya menatap Adrian beberapa saat.

Kemudian berkata,

"Namanya..."

Ia berhenti.

"...Elias."

Ruangan kembali sunyi.

Nama itu asing bagi hampir semua orang.

Kecuali Jonathan.

Wajah pria itu langsung mengeras.

"Elias Wardana."

bisiknya.

"Tidak mungkin."

Ratih mengernyit.

"Aku tidak pernah mendengar nama itu."

"Tentu saja."

jawab Surya.

"Karena memang tidak ada yang boleh tahu."

---

"Tiga puluh tahun lalu..."

Surya mulai bercerita.

"...kami bertiga membangun organisasi."

"Aku."

"Jonathan."

"Dan Elias."

Mahendra membelalak.

"Jadi..."

Surya mengangguk.

"Dia adalah sahabat terbaikku."

"Dan juga guru pertama Jonathan."

Jonathan tertawa pahit.

"Guru..."

"Ya."

"Aku belajar banyak darinya."

Tatapannya berubah dingin.

"Termasuk bagaimana memanipulasi manusia."

---

"Kalau begitu kenapa dia menghilang?"

tanya Aruna.

Surya menarik napas panjang.

"Karena kami menganggap dia mati."

"Dalam sebuah ledakan."

"Dua puluh lima tahun lalu."

Semua orang saling berpandangan.

"Dua puluh lima tahun?"

ulang Dimas.

"Itu sebelum Aruna lahir."

"Benar."

jawab Surya.

"Dan sejak hari itu..."

"Kami percaya hanya aku dan Jonathan yang tersisa."

Jonathan menggeleng pelan.

"Ternyata dia mempermainkan kita semua."

---

"Apa hubungannya dengan aku?"

tanya Aruna.

Itulah pertanyaan yang paling mengganggunya.

Kenapa semua jalan selalu kembali kepadanya?

Surya menatap cucunya dengan wajah penuh penyesalan.

"Karena..."

"Elias adalah ayah baptis ibumu."

Aruna membeku.

"Ibu mengenalnya?"

"Bukan hanya mengenal."

Surya mengangguk.

"Alya sangat menyayanginya."

"Dia memanggilnya Paman Eli."

Potongan ingatan kembali berkelebat di kepala Aruna.

Seorang pria sedang mengangkatnya tinggi-tinggi.

Suara tawa.

Taman bunga.

Lalu sebuah suara hangat berkata,

"Kalau suatu hari Paman tidak ada, kamu harus jadi anak pemberani."

Aruna memegangi kepalanya.

"Aku..."

bisiknya.

"Aku pernah mendengar suara itu."

---

Jonathan memperhatikan Aruna dengan saksama.

"Ingatannya mulai terbuka."

gumamnya.

Surya langsung menggeleng.

"Tidak."

"Jangan dipaksa."

Namun sudah terlambat.

Semakin banyak kepingan memori bermunculan.

Wajah.

Suara.

Aroma kayu tua.

Jam saku berwarna perak.

Dan seorang pria yang selalu tersenyum.

"Paman Eli..."

ucap Aruna tanpa sadar.

Ruangan langsung sunyi.

Surya memejamkan mata.

"Benar."

"Itulah dia."

---

"Apa yang dia inginkan?"

tanya Adrian.

Surya menggeleng pelan.

"Itulah yang paling kutakutkan."

"Elias tidak pernah melakukan sesuatu tanpa alasan."

"Tapi jika dia akhirnya muncul..."

Tatapannya berubah serius.

"...berarti waktunya sudah habis."

"Habis?"

ulang Mahendra.

Surya mengangguk.

"Permainan sembunyi-sembunyi selesai."

"Mulai sekarang..."

"...dia akan mengambil semua bidaknya kembali."

---

Tiba-tiba suara tembakan kembali terdengar dari luar.

Dor!

Dor!

Dor!

Salah seorang pasukan gagak berlari masuk.

"Tuan!"

"Ada penyusup!"

Surya langsung berdiri.

"Berapa orang?"

"Hanya satu."

Semua orang mengernyit.

Satu orang?

Melawan puluhan pasukan?

"Itu mustahil."

kata Ratih.

Namun prajurit itu justru tampak semakin pucat.

"Dalam dua menit..."

"...delapan orang kita sudah tumbang."

Ruangan membeku.

Bahkan Jonathan ikut mengernyit.

Delapan orang?

Oleh satu orang?

---

"Siapa dia?"

tanya Surya.

Prajurit itu menelan ludah.

"Aku tidak melihat wajahnya."

"Tapi..."

"Ia memakai mantel hitam."

"Membawa tongkat."

"Dan..."

Suara prajurit itu bergetar.

"...dia tidak membunuh siapa pun."

Semua orang bingung.

"Tidak membunuh?"

"Dia hanya membuat mereka tidak bisa bergerak."

Jonathan langsung memucat.

"Itu..."

bisiknya.

"Mustahil."

---

Tok.

Tok.

Tok.

Suara tongkat perlahan terdengar dari lorong menuju pabrik.

Semua orang otomatis mengarahkan pandangan ke pintu.

Tok.

Tok.

Tok.

Langkahnya tenang.

Tidak terburu-buru.

Seolah tidak ada puluhan senjata yang sedang menunggunya.

Lalu muncul seorang pria tua.

Usianya mungkin sekitar tujuh puluh tahun.

Rambutnya memutih seluruhnya.

Ia mengenakan mantel hitam panjang.

Di tangan kanannya terdapat tongkat kayu berukir.

Wajahnya dipenuhi keriput.

Namun matanya...

Sangat hidup.

Dan ketika matanya bertemu dengan Aruna...

Ia tersenyum hangat.

Senyum yang sama seperti dalam ingatan Aruna.

---

"Paman..."

Air mata Aruna langsung mengalir.

Pria tua itu tertawa kecil.

"Sudah sebesar ini rupanya."

katanya lembut.

Surya mengepalkan tangannya.

"Elias."

Pria tua itu menoleh.

"Lama tidak bertemu."

"Sahabatku."

Tidak ada kebencian dalam suaranya.

Tidak ada kemarahan.

Seolah mereka hanya bertemu kembali setelah perjalanan panjang.

Namun justru itulah yang membuat suasana semakin mencekam.

---

Jonathan perlahan mundur.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya...

Ia ingin pergi dari tempat itu.

Karena ia tahu siapa Elias sebenarnya.

Dan ia tahu...

Tidak ada seorang pun di ruangan ini yang mampu mengalahkannya jika pria tua itu benar-benar datang untuk bertarung.

Namun Elias sama sekali tidak melihat Jonathan.

Tatapannya hanya tertuju pada Aruna.

Kemudian ia berkata dengan suara lembut,

"Maaf."

"Aku terlambat menjemputmu."

Aruna menangis semakin keras.

Entah mengapa.

Ia merasa sangat merindukan pria ini.

Padahal ingatannya masih samar.

Masih terpotong-potong.

---

Elias melangkah mendekat.

Tidak ada satu pun pasukan gagak yang berani menghalanginya.

Bahkan Surya tetap diam.

Hingga pria tua itu berdiri tepat di depan Aruna.

Lalu mengeluarkan sebuah liontin perak dari dalam sakunya.

Liontin itu berbentuk setengah lingkaran.

"Ini milik ibumu."

katanya.

Aruna menerimanya dengan tangan gemetar.

Begitu liontin itu terbuka...

Sebuah foto kecil terjatuh ke lantai.

Foto itu memperlihatkan tiga orang muda yang sedang tersenyum.

Surya.

Jonathan.

Dan Elias.

Di belakang foto itu terdapat tulisan tangan Alya.

"Jika Aruna membaca ini, berarti semuanya telah gagal. Percayalah hanya pada orang keempat."

Semua orang langsung membeku.

Karena dalam foto itu...

Hanya ada tiga orang.

Lalu...

Siapa orang keempat yang dimaksud Alya?

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!