NovelToon NovelToon
Cinta Yang Tidak Memaksa: Di Balik Wajah Yang Kupilih

Cinta Yang Tidak Memaksa: Di Balik Wajah Yang Kupilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: NisfiDA

Ada nama yang tak pernah disebut.
Ada kebenaran yang selalu disembunyikan di balik senyuman.
Dan ada cinta yang tumbuh… tanpa benar-benar tahu siapa yang dicintai.

Dhea hanya ingin mencintai dengan sederhana.
Namun semakin dekat, ia justru menyadari—
tidak semua yang terlihat, adalah yang sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sedikit Paham

“Mbak, terima kasih ya sudah mengantar saya sampai di rumah,” ucap Dhea dengan nada sopan.

Arelia menatap ke arah rumah di depannya. Ia sedikit terkejut karena bangunan itu lebih terlihat seperti gubuk sederhana daripada sebuah rumah.

“Ini rumahmu?” tanya Arelia dengan nada terkejut.

“I-iya, Mbak. Ini rumah saya. Maaf ya jelek…” ucap

Dhea sambil tersenyum kecil, meski rasa malunya terlihat jelas.

Arelia langsung menoleh ke arah Dhea. Entah kenapa, dadanya terasa tidak nyaman mendengar gadis itu meminta maaf seperti itu.

“Kenapa minta maaf?” tanyanya pelan.

Dhea tampak sedikit gugup. Jemarinya saling bertaut di depan tubuhnya.

“Karena… biasanya orang-orang kaget lihat rumah saya.”

Arelia kembali memandang rumah sederhana itu. Dinding kayunya sudah mulai memudar, halaman kecilnya dipenuhi pot bunga seadanya, dan lampu terasnya terlihat redup. Namun, anehnya, tempat itu terasa hangat.

Sangat berbeda dengan tempat tinggalnya sendiri yang besar, mewah, tetapi terasa asing dan dingin.

“Rumah ini nyaman,” ucap Arelia pelan.

Dhea tampak sedikit terkejut.

“Masa?”

“Iya.”

Jawaban singkat itu membuat Dhea tersenyum kecil.

Diam-diam, Arelia memperhatikan senyuman itu. Hangat. Tulus. Tidak dibuat-buat.

Sudah lama rasanya tidak ada seseorang yang tersenyum padanya setulus itu.

“Kalau Mbak tidak keberatan… lain kali mampir saja. Saya bisa membuatkan teh hangat,” ucap Dhea pelan.

Arelia langsung menoleh kepadanya. Tatapannya tampak sedikit goyah.

Karena biasanya, orang-orang hanya menyukai Arelia penampilan cantik yang ia tunjukkan kepada dunia. Bukan dirinya yang sebenarnya.

Sedangkan Dhea, gadis itu bahkan mengundangnya masuk ke kehidupannya yang sederhana tanpa ragu sedikit pun.

“Boleh,” jawab Arelia lirih.

Dan tanpa disadari, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, hatinya terasa sedikit lebih tenang.

“Kalau begitu, saya pamit ya,” ucap Arelia kepada Dhea.

“Iya, Mbak. Terima kasih banyak sudah mengantar saya. Mbak pulangnya hati-hati, ya,” jawab Dhea dengan lembut.

Nada bicaranya terdengar begitu hangat dan penuh perhatian hingga membuat Arelia terdiam sejenak.

Arelia menatap Dhea beberapa detik lebih lama dari biasanya.

Perhatian kecil seperti itu seharusnya terdengar biasa saja. Namun entah kenapa, saat keluar dari mulut Dhea, semuanya terasa berbeda.

Hangat. Tulus. Dan anehnya menenangkan.

“Kenapa?” tanya Dhea pelan saat menyadari Arelia terus menatapnya.

Arelia segera mengalihkan pandangannya.

“Tidak apa-apa.”

Dhea tersenyum kecil, meski masih terlihat bingung.

Arelia akhirnya melangkah mundur pelan sebelum berbalik menuju mobilnya.

Namun, entah kenapa langkahnya terasa sedikit berat.

Seolah ada sesuatu yang membuatnya enggan pergi terlalu cepat dari tempat itu. Sedangkan Dhea masih berdiri di depan rumahnya sambil memperhatikan Arelia dengan senyum kecil yang hangat.

Dan tanpa disadari, untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Arelia merasa ada seseorang yang memperlakukannya dengan tulus tanpa melihat apa pun darinya.

Saat Arelia sudah sedikit jauh dari rumah Dhea, perasaannya terasa begitu aneh sekaligus menyakitkan.

Untuk pertama kalinya, ada seseorang yang memperlakukannya setulus itu.

Tanpa tatapan jijik.Tanpa bisikan merendahkan. Tanpa kata-kata yang menusuk seperti biasanya.

Bahkan di rumahnya sendiri, tak pernah ada yang benar-benar mencoba memahami perasaannya. Semua orang hanya melihatnya sebagai sesuatu yang salah.

Tanpa sadar, langkah Arelia melambat. Ucapan-ucapan yang selama ini berusaha ia lupakan kembali terlintas di kepalanya.

“Kamu itu laki-laki, Aren. Bagaimana bisa kamu mengubah dirimu menjadi seorang wanita?”

Napasnya terasa sesak.

Tangannya perlahan mencengkeram bagian dadanya sendiri yang mulai terasa nyeri.

Namun, suara itu kembali terdengar.

“Kamu terlalu berlebihan. Hanya karena ditinggal menikah saja, kamu malah berubah jadi wanita.”

Arelia langsung memejamkan matanya kuat-kuat.

Tubuhnya sedikit gemetar. Seolah semua luka yang selama ini ia pendam kembali dipaksa terbuka.

Padahal, tidak ada yang pernah tahu bagaimana hancurnya dirinya waktu itu. Tidak ada yang tahu kalau ia hanya sedang berusaha bertahan hidup dengan caranya sendiri.

“Rumah itu hangat… walaupun terlihat seperti gubuk. Aku ingin merasakan suasana seperti itu.”

Arelia bergumam pelan di dalam hatinya.

Matanya menatap lurus ke depan, tetapi bayangan rumah sederhana milik Dhea terus terlintas di pikirannya.

Rumah kecil dengan lampu redup, pot-pot bunga sederhana, dan seorang gadis yang menyambutnya dengan senyuman tulus.

Hal sesederhana itu saja, terasa sangat jauh dari kehidupannya.

Tanpa sadar, sudut bibir Arelia terangkat kecil.

Namun senyuman itu perlahan menghilang saat mengingat kenyataan bahwa dirinya tidak benar-benar memiliki tempat untuk pulang

**

Saat hari berganti.

Pukul 10 pagi. Dhea yang biasanya membuka toko lebih awal, kali ini justru terlambat.

Ia tampak sibuk membersihkan dan menata ulang bunga-bunga di tokonya. Karena terlalu fokus bekerja, Dhea sampai tidak menyadari kedatangan seseorang.

“Selamat pagi, Dhea,” ucap seseorang membuat Dhea langsung mengangkat wajahnya.

Dhea tampak sangat terkejut saat melihat siapa yang datang.

Ternyata Arelia.

“Eh, Mbak… selamat pagi juga,” jawab Dhea dengan senyum hangatnya.

“Kamu baru buka, ya?” tanya Arelia pelan.

“Iya, Mbak. Saya kesiangan. Soalnya tadi sempat ambil obat buat ibu dulu.”

Arelia mengangguk pelan, tanda mengerti.

“Mau saya bantu?” tawarnya tiba-tiba.

Ucapan itu membuat Dhea langsung terkejut.

“E-eh, Mbak, nggak usah saja. Nanti Mbaknya kotor, loh. Mbak kan sudah cantik banget itu.”

Arelia sedikit terdiam mendengar ucapan itu.

Entah kenapa, setiap kali Dhea memujinya, perasaannya selalu terasa rumit.

Karena semua yang dilihat gadis itu hanyalah “Arelia”. Bukan dirinya yang sebenarnya.

Namun, Arelia tetap mempertahankan senyum kecil di wajahnya.

“Memangnya kalau kotor kenapa?” tanyanya pelan.

Dhea langsung menggeleng cepat.

“Bukan begitu maksud saya. Saya cuma nggak enak saja kalau Mbak bantu-bantu beginian.”

Arelia justru berjalan mendekat tanpa memedulikan ucapan Dhea. Matanya memperhatikan beberapa pot bunga yang masih berantakan di lantai.

“Yang ini dipindahkan ke mana?” tanyanya sambil menunjuk bunga-bunga kecil di dekat kakinya.

Dhea tampak panik kecil.

“Mbak, nanti saya saja—”

“Dhea.”

“I-iya?”

“Tidak apa-apa.”

Nada suara Arelia terdengar lembut, tetapi berhasil membuat Dhea diam. Akhirnya gadis itu tersenyum kecil lalu menunjuk salah satu rak bunga di dekat jendela.

“Yang itu ditaruh di sana, Mbak.”

Arelia mengangguk pelan sebelum mulai membantu memindahkan pot-pot bunga itu dengan hati-hati. Melihat itu, Dhea tanpa sadar tersenyum tipis.

Entah kenapa, melihat seseorang seperti Arelia berdiri di tengah toko bunganya yang sederhana terasa begitu tidak biasa, tetapi juga anehnya cocok.

“Kalau dilihat dari dekat, bunganya terlihat sangat cantik, ya. Apalagi saat sedang mekar begini,” ucap Arelia membuat Dhea langsung menoleh ke arahnya.

“Iya benar, Mbak. Cantik banget… sama seperti Mbak juga,” jawab Dhea dengan senyum hangatnya.

Arelia sedikit terdiam.

Tangannya yang sedang merapikan pot bunga perlahan berhenti bergerak.

Sudah terbiasa dipuji karena penampilannya, tetapi entah kenapa pujian dari Dhea terasa berbeda.

Tidak terdengar berlebihan. Tidak terdengar palsu.

Dan yang paling membuatnya bingung, tatapan Dhea terlihat begitu tulus saat mengatakannya.

“Dhea,” panggil Arelia pelan.

“Iya, Mbak?”

“Kamu gampang sekali memuji orang, ya?”

Dhea terkekeh kecil sebelum menggeleng pelan.

“Bukan memuji, Mbak. Saya cuma ngomong jujur.”

Jawaban sederhana itu justru membuat dada Arelia terasa sesak kecil.

Karena semakin lama bersama Dhea, semakin besar rasa takutnya jika suatu hari gadis itu mengetahui siapa dirinya sebenarnya.

1
Dinda Putri
lanjut semangat thooorrr love sekebon deh
Dinda Putri
lanjut thoor 💪💪💪
Dinda Putri
nexs
Dinda Putri
up lagi thoorr jangan lama
Dinda Putri
up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!