NovelToon NovelToon
Oops! Teman Kontrakanku Dosen Paling Hot Di Kampus

Oops! Teman Kontrakanku Dosen Paling Hot Di Kampus

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Beda Usia / Cinta Seiring Waktu / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Aliska Rosemary

Paris seharusnya menjadi mimpi indah bagi Kiandra Zanitha. Namun, karena kecerobohan agen properti dan aturan Clause de Solidarité yang menjerat, mimpi itu berubah menjadi jerat yang menyesakkan. Kiandra terpaksa berbagi apartemen sempit di Rue de Rivoli dengan seorang pria asing yang langsung mengacaukan kewarasannya sejak hari pertama.


Pertemuan pertama mereka adalah bencana yang memalukan: sebuah handuk yang melorot, tubuh atletis yang basah, dan tatapan hazel yang seolah mampu menelanjangi rahasia terdalam Kiandra. Namun, kejutan sebenarnya baru dimulai saat fajar tiba. Pria provokatif yang melihatnya tersipu malu di dapur itu ternyata adalah Enzo Romano—dosen senior di Le Cordon Bleu sekaligus pakar kuliner yang memegang kendali atas masa depan studinya.


Di kampus, Enzo adalah otoritas yang dingin dan disiplin. Di apartemen, dia adalah pria yang gemar menguji batas kesabaran—dan iman—Kiandra. Di antara uap mentega di dapur dan denting gelas wine, garis antara dosen dan teman s

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliska Rosemary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Sang Otoritas di Balik Meja

Bayangan itu masih di sana. Menempel di retina Kiandra seperti tato permanen yang menolak dihapus meski ia sudah memejamkan mata rapat-rapat. Otot punggung yang kokoh, kulit olive yang basah terkena uap air, dan... sesuatu yang menggantung angkuh saat handuk itu merosot ke lantai.

"Aduh, Ki! Kenapa memorimu harus punya kualitas 4K di saat-saat begini, sih?" gumamnya tertahan.

Kiandra langsung membenamkan wajahnya ke bantal, mengerang pelan karena rasa malu yang membakar pipinya hingga terasa perih. Kejadian semalam di dapur apartemen Rue de Rivoli benar-benar sebuah bencana nasional bagi kewarasan mentalnya.

Ia belum pernah melihat laki-laki dalam kondisi senyata itu, dan fakta bahwa pria itu adalah teman satu kontrakannya membuat Kiandra ingin menghilang dari muka bumi.

Ia terdiam selama lima detik, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih liar. Di luar, suasana apartemen terasa sunyi. Ia melirik jam di atas nakas. Pukul 05:30 pagi.

Dengan gerakan sangat hati-hati, Kiandra mengintip dari balik pintu kamar. Lorong apartemen masih gelap, hanya diterangi cahaya remang dari lampu jalanan yang menembus jendela besar di ruang tengah. Namun, aroma masculin yang hangat bercampur kesegaran zest lemon masih tertinggal tipis di udara—sisa-sisa eksistensi Enzo semalam yang entah kenapa terasa begitu dominan.

Kiandra segera berjinjit menuju kamar mandi sambil memeluk handuknya erat-erat, seolah benda itu adalah tameng pelindung dari segala bentuk insiden lainnya yang mungkin terjadi. Ia mandi dengan kecepatan kilat, bahkan tidak sempat menikmati kucuran air hangat yang sebenarnya sangat menggoda di tengah suhu Paris yang menggigit. Pikirannya hanya terfokus pada satu hal: kabur sebelum pria di kamar 1 bangun.

Kembali ke kamar, ia memilih pakaian yang paling aman. Sebuah turtleneck krem yang membungkus lehernya dengan sopan dan celana bahan hitam yang rapi. Ia menguncir rambut hitam sebahunya menjadi ponytail rendah yang anggun, memastikan tidak ada helai yang berantakan. Ia harus terlihat seperti mahasiswi kuliner yang serius, bukan gadis yang baru saja mengalami trauma visual.

Jemari Kiandra sedikit gemetar saat ia menekan kontak Mei Ling di ponselnya.

Nada sambung terdengar tiga kali sebelum suara serak khas orang baru bangun tidur menyahut. "Halo... Ki? Tumben banget telepon jam segini? Kamu nggak tersesat, kan?"

"Mei, aku boleh sarapan di tempat kamu? Aku... aku sudah siap berangkat sekarang," ucap Kiandra cepat, nyaris berbisik.

"Hah? Pagi amat? Ya sudah, ke sini saja. Aku juga baru mau mandi."

***

Keluar dari apartemen membutuhkan keahlian setingkat ninja. Kiandra memastikan pintu kamar Enzo masih tertutup rapat sebelum ia meluncur ke pintu depan. Tanpa suara klik yang keras, ia berhasil menutup pintu dan mengembuskan napas lega yang sangat panjang saat kakinya menginjak lantai koridor gedung.

Paris di pagi hari masih diselimuti kabut tipis. Jalanan Rue de Rivoli mulai menggeliat, dihiasi aroma roti panggang segar dari boulangerie di sudut jalan. Kiandra berjalan cepat menuju stasiun Metro, namun sialnya, setiap langkah kakinya justru memicu memori tentang otot punggung Enzo yang bergerak seksi saat memungut handuk.

Kiandra menggelengkan kepala dengan keras hingga kuncirannya bergoyang. "Fokus, Ki! Kamu di Paris buat belajar, bukan buat jadi pengamat anatomi cowok!"

Ia merasa kesal. Sangat kesal. Kenapa hanya dia yang merasa seperti akan meledak? Sementara semalam, Enzo terlihat begitu tenang. Pria itu bahkan tidak repot-repot meminta maaf dengan nada panik. Seolah-olah telanjang bulat di depan wanita asing adalah agenda harian yang membosankan baginya.

***

"Ki, kamu oke? Matamu kayak kurang tidur."

Mei Ling memperhatikan wajah Kiandra dengan teliti saat mereka duduk di Kafe Le Quartier, tak jauh dari kampus Le Cordon Bleu. Di samping Mei, ada Diya Kapoor, gadis pewaris jaringan hotel di India yang tampil glamor dengan syal kasmir berwarna cerah.

"Ah, nggak. Cuma... penyesuaian tempat baru saja. Paris agak dingin, ya?" Kiandra mencoba mencari alasan sambil menyesap Café au Lait-nya. Rasa manis dari sepotong Pain au Chocolat di piringnya sedikit membantu menenangkan sarafnya.

"Apartemennya gimana? Teman sekamarmu nggak aneh-aneh, kan? Dia nggak coba macam-macam?" tanya Mei Ling lagi, kali ini dengan nada menyelidik yang akhirnya tahu, teman satu kontrakan Kiandra adalah seorang pria.

Wajah Kiandra mendadak merah padam hingga ke telinga. Bayangan handuk jatuh itu kembali muncul tanpa diundang. "Nggak... dia... cuma agak unik."

"Unik gimana? Kalau dia berani ganggu kamu, laporin aku saja. Aku punya koneksi di KBRI!"

Kiandra tertawa canggung. "Nggak perlu, Mei. Dia cuma... sangat percaya diri dengan dirinya sendiri. Sangat, sangat percaya diri."

"Eh, tahu nggak?" Mei Ling mendadak mencondongkan tubuh, matanya berbinar penuh semangat. "Hari ini kelas pertama kita bakal diajar dosen paling hot di Le Cordon Bleu."

Kiandra mengernyitkan dahi. "Dosen 'hot'? Maksudnya?"

"Iya! Incaran semua mahasiswi, dari tingkat dasar sampai senior. Dia wine expert yang legendaris," timpal Diya dengan nada serius.

"Tapi dia terkenal sangat dingin dan tegas. Namanya saja sudah bikin mahasiswi gemetar ketakutan," sambung Mei.

Kiandra hanya mengangkat bahu cuek. "Aku ke sini buat belajar, Mei. Nggak tertarik sama dosen, seganteng apa pun dia. Lagipula, seleraku nggak muluk-muluk."

"Halah, nanti juga kamu melongo pas lihat orangnya. Dia itu definisi pria Mediterania yang sempurna," goda Mei Ling sambil terkekeh.

***

Ruang teater kampus Le Cordon Bleu terasa sangat profesional dengan meja-meja stainless steel yang berkilau tajam di bawah lampu neon. Mei Ling menarik tangan Kiandra dengan paksa menuju barisan paling depan.

"Sini, Ki! Biar cuci matanya lebih jelas, jangan di belakang!"

Kiandra hanya bisa pasrah. Ia mengeluarkan buku catatan dan pulpen barunya, mencoba membangun dinding pertahanan mental untuk memulai hari pertamanya sebagai mahasiswi kuliner.

Tepat pukul sembilan, kelas yang tadinya bising oleh obrolan mahasiswa dari berbagai belahan dunia mendadak hening total. Suasana berubah drastis, seolah-olah oksigen di dalam ruangan itu baru saja disedot keluar.

Ceklek.

Pintu kayu besar di depan kelas terbuka dengan satu hentakan yang berwibawa.

Duk... Duk... Duk...

Suara sepatu pantofel kulit yang menghentak lantai terdengar dengan irama yang tenang, namun sangat mendominasi. Kiandra masih menunduk, merapikan letak pulpennya yang sedikit miring.

Lalu, sosok itu melangkah masuk. Ia mengenakan seragam Chef putih bersih yang sangat pas di bahunya yang lebar. Di dada kiri, terdapat bordir nama yang membuat napas Kiandra seolah terhenti di kerongkongan.

E. Romano.

Kiandra mendongak perlahan, dan dunianya serasa runtuh dalam sekejap.

Rahang tegas yang kini dicukur rapi itu, rambut cokelat yang tertata messy-chic, dan mata hazel tajam yang semalam menatapnya dengan penuh provokasi di dapur... kini ada di depannya. Dalam balutan seragam resmi institusi paling prestisius di dunia.

"Enzo?" bisik Kiandra sangat pelan. Tangannya mendadak lemas hingga pulpennya terlepas dan jatuh ke lantai dengan suara denting yang nyaring di tengah keheningan kelas.

Enzo meletakkan tas kulitnya di meja dengan gerakan elegan. Ia berdiri tegap, lalu memutar tubuhnya untuk menatap seluruh isi kelas dengan tatapan predator yang tenang. Pandangannya menyapu barisan depan, bergerak perlahan, seolah sedang mencari sesuatu.

Dan kemudian, mata hazel itu berhenti tepat di mata Kiandra yang sedang syok berat.

Tidak ada tanda-tanda terkejut di wajah Enzo. Sebaliknya, sudut bibirnya menyunggingkan senyum jahil yang sangat tipis—sebuah ekspresi yang hanya bisa ditangkap oleh Kiandra.

Detik berikutnya, di depan puluhan mahasiswa yang menatapnya penuh kagum, Enzo mengedipkan satu matanya dengan gerakan cepat dan sangat provokatif ke arah Kiandra sebelum ia membuka buku absen.

Mei Ling menoleh ke arah Kiandra dengan mulut terbuka lebar. "Ki... barusan dia... ngedipin kamu? Kamu... kamu kenal dia?!"

Kiandra tidak menjawab. Ia hanya bisa menatap meja dengan tatapan kosong, menyadari bahwa pelariannya pagi ini hanyalah sia-sia. Sang "penampakan" semalam kini adalah otoritas mutlak yang akan menentukan nasibnya di kampus ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!