Tujuh tahun lalu, Prasetyo— seorang idola kampus—meninggalkan Indah Naraya Prameswari, gadis bertubuh 80 kilogram yang diam-diam menjadi kekasihnya. Dengan ucapan menyakitkan, ia bilang hubungan itu cuma main-main, lalu pergi ke luar negeri tanpa pamit seolah tak pernah ada apa-apa.
Kini takdir mempertemukan mereka lagi.
Indah sudah berubah total. Kini ia dikenal sebagai Nayara, wanita cantik nan langsing, ibu dari Clara prameswari, panggilan Lala, anak perempuan yang mengidap penyakit jantung bawaan. Ironisnya, dokter yang menangani putrinya ternyata adalah Dr. Prasetyo, dokter spesialis bedah jantung pindahan dari Amerika.
Prasetyo sama sekali tidak mengenali wanita di hadapannya. Sementara Nayara, terpaksa menahan luka lama dan berpura-pura tak kenal, demi keselamatan dan masa depan anaknya.
Sampai kapan rahasia ini bisa disembunyikan? Yuk ikutin kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Annisa Chairil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAMENG
...🌻HAPPY READING🌻...
...***...
"KALIAN!! Apa yang kalian lakukan?!"
Suara teriakan yang tertahan itu memenuhi seluruh ruangan, memecah keheningan seketika. Wajah Dr. Risa memerah padam, matanya melotot tajam seolah hendak melumat dua orang yang tampak sedang berciuman di hadapannya.
Nayara yang baru saja tersadar dari keterkejutannya langsung berusaha sekuat tenaga mendorong tubuh tegap di depannya, ingin melepaskan diri dari cengkeraman yang membuat napasnya sesak dan hatinya kacau balau.
Namun alih-alih melepaskannya, Prasetyo malah semakin erat memeluk pinggang Nayara, menarik tubuh wanita itu semakin mendekat hingga tak ada jarak sedikit pun di antara mereka.
Prasetyo menoleh menatap Dr. Risa dengan wajah datar namun dingin, nada bicaranya terdengar tenang tapi penuh penolakan yang tak bisa diganggu gugat.
"Dr. Risa, ini adalah jam istirahat saya. Dan saat ini saya butuh privasi. Boleh?"
Kata-kata itu bagaikan tamparan keras bagi wanita yang berdiri di ambang pintu. Rasa malu dan marah bercampur jadi satu, membuat bibirnya gemetar menahan tangis.
"Tapi Pras... apa maksudmu? Apa kamu menolak ku cuma karena wanita ini? Siapa dia? Apa yang dia punya sampai bisa mengalahkan aku?"
"Bukan urusanmu, Dr. Risa." Jawab Prasetyo singkat, tegas, dan tanpa belas kasihan.
"Kenapa harus dia? Keluarga kita sudah saling mengenal bertahun-tahun, orang tua kita bersahabat baik. Aku lebih pantas, aku setara denganmu, aku bisa mendampingimu di mana saja, apa saja yang kamu butuhkan aku siap membantu! Apa kurangnya aku di matamu?" teriak Risa lagi, air matanya mulai menetes tanpa bisa ditahan.
"Cukup. Keluarlah. Dan tutup pintunya."
Dengan langkah berat namun penuh kemarahan, Dr. Risa akhirnya berbalik badan. Kakinya menghentak keras ke lantai setiap melangkah, lalu membanting pintu ruangan itu sekuat tenaga hingga dinding seolah ikut bergetar.
Ya, dia adalah Dr. Risa. Seorang dokter spesialis kulit, anak dari sahabat lama orang tua Prasetyo, yang juga pemilik rumah sakit Sentra Medica.
Di rumah sakit ini, selain Suster Sinta yang dikenal menyukainya, Risa juga menyimpan rasa sejak lama, sejak mereka masih sama-sama mengambil spesialisasi di Amerika.
Namun nasib mereka sama— ditolak dengan alasan yang sama.
Kini ruangan kembali sunyi, hanya menyisakan detak jantung Nayara yang masih berpacu liar. Ia baru menyadari posisinya. Masih di dalam pelukan laki-laki itu.
Pikirannya berputar cepat, rasa sakit dan kecewa perlahan menyelimuti hatinya.
Ternyata aku cuma dipakai sebagai tameng. Dia menggunakan aku supaya wanita itu pergi. Cuma untuk menyingkirkan pengagumnya? Dasar dokter mes—
Belum sempat Nayara meluapkan kemarahannya, suara rendah dan berat terdengar tepat di telinganya, disertai hembusan napas yang hangat menyentuh kulit lehernya.
"Naya... apa kamu berencana berlama-lama di dalam pelukanku? Kalau begitu aku tidak keberatan."
Bibir Prasetyo tersungging membentuk senyum mengejek yang tak bisa dilihat Nayara, namun terdengar jelas dari nada bicaranya.
Seketika itu juga, Nayara mengerahkan seluruh tenaganya mendorong dada bidang itu sekuat tenaga. Kali ini Prasetyo melepaskannya, membuat Nayara mundur beberapa langkah dengan napas memburu dan wajah yang memerah padam—entah karena marah atau karena rasa malu yang luar biasa.
Dan apa itu tadi? Aku-kamu? Naya? Dimana sikap formalnya selama ini?
Kapan kita menjadi dekat?
"Dr. Prasetyo! Tolong jaga sikap dan batasan Anda! Apa yang Anda lakukan tadi itu tidak pantas! Permisi!"
Tanpa menunggu jawaban atau melihat reaksi laki-laki itu, Nayara langsung membalikkan badan dan berlari kecil keluar dari ruangan itu. Hatinya berdebar kencang, campuran rasa marah, sakit, dan bingung membuatnya ingin segera pergi sejauh mungkin dari tempat itu.
Prasetyo berdiri diam di tempat, menatap pintu yang baru saja ditutup rapat. Keningnya berkerut, tangannya perlahan menyentuh bibirnya sendiri seolah masih bisa merasakan sentuhan tadi.
Kenapa setiap kali aku dekat dengan wanita ini, selalu ada perasaan aneh yang muncul?
Rasanya begitu familiar, begitu dekat, seolah aku sudah mengenalnya. Padahal jelas-jelas aku tidak mengingat pernah mengenalnya sebelumnya.
Pikiran itu terus berputar di kepalanya. Dengan gerakan lemas, Prasetyo melepas jas putihnya, menyampirkannya sembarangan di sandaran kursi, lalu berjalan keluar ruangan dengan langkah yang sedikit tergesa, seolah ada dorongan yang menyuruhnya mengejar wanita itu.
Di luar gedung rumah sakit, udara siang hari terasa panas namun sejuk karena angin yang berhembus pelan.
Nayara berjalan santai namun pikirannya melayang entah ke mana. Ia sudah mengirim pesan ke kepala divisinya, mengatakan bahwa ia merasa sedikit kurang enak badan, ia izin pulang lebih awal.
Permohonannya langsung disetujui tanpa banyak tanya, mungkin karena tahu ia baru saja menyelesaikan tugas khusus dari Direktur Linda.
Nayara berencana berjalan kaki ke halte bus terdekat, lalu pulang naik angkutan umum seperti biasa. Ia tidak mau membebani diri, juga tidak mau bertemu lagi dengan orang di dalam sana.
Namun baru beberapa langkah berjalan, terdengar suara klakson mobil yang berbunyi tepat di sampingnya.
Tin... tin...
Nayara menoleh. Sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti tepat di sebelahnya, kaca jendela sisi pengemudi diturunkan, menampakkan wajah Prasetyo yang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Masuk mobil."
Nayara langsung menggeleng tegas, wajahnya kembali dingin.
"Tidak usah, Dokter Prasetyo. Tidak perlu repot-repot, saya bisa pulang sendiri."
Prasetyo tidak berubah ekspresinya, malah berkata dengan nada tenang namun ada sedikit unsur memaksa.
"Kamu yakin? Sudah tidak mau sama kucingnya lagi? Atau teleponan kemarin itu cuma alasanmu saja supaya bisa menghubungiku? Kalau memang sudah tidak mau, tidak butuh, ya sudah. Aku buang saja kucing kecil itu ke jalanan, atau kasih ke orang lain saja. Tidak masalah."
Mendengar itu, hati Nayara seakan dicubit. Ia teringat wajah polos Lala yang terus bertanya setiap hari, yang tidak mau diganti dengan kucing lain, yang menangis pelan sambil bilang hanya mau 'Pusyi' saja. Sebagai seorang ibu, ia tidak tega membuat anaknya kecewa.
Dengan perasaan bimbang dan berat hati, akhirnya Nayara mengangguk pelan.
Namun alih-alih membuka pintu sebelah pengemudi, ia berjalan memutar, membuka pintu di bagian belakang, lalu duduk di bangku kursi penumpang belakang dengan wajah datar dan terkesan cuek.
Prasetyo yang melihat itu hanya tersenyum tipis, senyum yang tidak bisa dilihat oleh Nayara. Ia tidak marah, tidak juga memaksa wanita itu duduk di sebelahnya.
Baginya, setidaknya usahanya tidak sia-sia. Ia bahkan sengaja mengambil cuti setengah hari, membiarkan jadwal prakteknya diatur ulang, semata-mata hanya untuk bisa mengantar wanita ini—meski alasannya cuma karena ingin mengambil kucing itu.
Mobil pun melaju pelan meninggalkan halaman rumah sakit, menyusuri jalanan kota yang mulai padat oleh kendaraan pulang kerja.
Di dalam mobil suasana hening, tidak ada yang berbicara, namun ada sesuatu yang mengambang di udara—sesuatu yang sepertinya mulai tumbuh di antara keduanya.
Atau, sebenarnya memang sesuatu itu telah lama tumbuh dan tak pernah padam?
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...BERSAMBUNG ...
** Ya ya. Udah aku-kamu, udah manggil Naya, udah mulai sok akrab.
Nggak semudah itu kan Nay?
Ayo Like dan spam komentar dulu, ah! sama itu—apasi... Vote gratisan kamu kasihin ke aku boleh?
Maaciwww🥰🥰