Arsen Laurent Wijaya, dosen killer yang dingin dan tak tersentuh, hidup dalam bayang-bayang pengkhianatan masa lalu. Sejak itu, ia membenci perempuan—bahkan tubuhnya sendiri menolak setiap sentuhan mereka.
Di rumah, ia hanya sosok ayah tanpa kehangatan.
Hingga hadir Alana Kirana Putri.
Mahasiswi ceroboh, ceria, dan penuh kekacauan kecil di hidupnya. Berbeda dari semua perempuan yang pernah Arsen temui, Alana justru tidak membuatnya mual… tidak ditolak oleh tubuhnya.
Sejak saat itu, dunia Arsen yang dingin mulai retak.
Di antara luka lama, perbedaan yang jauh, dan masa lalu yang kembali menghantui—perlahan muncul sesuatu yang tak pernah ia izinkan lagi:
perasaan.
Namun… apakah hati yang sudah membeku bisa benar-benar kembali hidup?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon keipouloe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Aroma ayam goreng bercampur sambal perlahan memenuhi udara sempit di depan kontrakan Alana. Asap tipis mengepul dari wajan besar yang sejak tadi tidak berhenti berbunyi.
Cesss.
Minyak panas memercik kecil saat Alana kembali memasukkan ayam tepung ke dalam penggorengan.
Keringat mulai muncul di pelipis gadis itu,
membuat poni depannya sedikit lengket karena hawa panas dari uap minyak didepannya.
Namun mulutnya masih tetap aktif seperti biasa.
“Kak, punyaku sambalnya dipisah ya!” seru salah satu pembeli dari depan meja.
“Iya, sebentar!” sahut Alana tanpa menoleh.
“Kak, nasi dua!”
“Sabar ya, Kak,” balas Alana cepat sambil membalik ayam. “Tangan aku cuma dua. Belum upgrade jadi gurita.”
Beberapa pelanggan langsung tertawa kecil.
Suasana depan kontrakannya memang selalu ramai.
Mahasiswa.
Ojol.
Pegawai kantor.
Sampai anak sekolah pun kadang mampir beli sebelum berangkat.
Alana bergerak cepat dari satu sisi ke sisi lain, kadang membungkus pesanan, kadang menuang es teh, kadang ngulek sambal dadakan karena stok habis.
“Ya Allah… semoga aku kaya sebelum pinggangku copot.”
Naira yang sedang sibuk melipat kertas nasi langsung tertawa keras.
“Kalau kaya nanti jangan sombong ya, Na.”
“Gue bakal sombong banget,” jawab Alana datar sambil mengambil ayam goreng. “Gue mau beli kulkas yang ada dispenser es batunya.”
Damar yang berdiri dekat meja saus langsung terkekeh kecil.
“Cita-cita lo sederhana banget.”
“Karena hidup gue udah ribet.”
Lagi-lagi pelanggan di depan meja ikut tertawa kecil mendengar jawaban spontan itu.
Sementara tangan Naira terus bergerak membantu membungkus pesanan.
“Na, ini level tiga yang mana?”
Alana melirik sekilas.
“Yang sambalnya bikin dosa.”
“Semua sambal lo bikin dosa.”
“Itu namanya berbakat.”
Damar menggeleng pelan sambil menahan senyum.
Pagi seperti ini sudah jadi kebiasaan mereka. Naira dan Damar hampir selalu datang sebelum kelas dimulai.
Awalnya cuma membantu sesekali.
Namun lama-lama...
mereka ikut hafal letak sendok, posisi sambal, sampai cara Alana menghitung uang sambil panik.
Karena mereka sama-sama tahu, kalau dibiarkan sendirian, Alana bisa lupa makan demi jualan.
“Kak, es tehnya satu!” ujar pelanggan lain.
“Naira tolong es!”
“Siap bos.”
Naira langsung bergerak ke arah termos besar sambil tetap sibuk mengunyah gorengan entah milik siapa.
Alana langsung melotot.
“Eh itu punya pelanggan!”
Naira melirik santai.
“Belum dibayar berarti belum punya siapa-siapa.”
“Dasar maling cantik.”
“Makasih.”
Alana cuma bisa menggeleng pasrah.
Sedangkan Damar diam-diam tersenyum kecil melihat mereka.
Suasana kecil itu sederhana.
Berisik.
Panas.
Namun hangat.
Dan entah sejak kapan, tempat sempit di depan kontrakan itu terasa seperti rumah kecil bagi mereka bertiga.
Tak lama kemudian...
seorang ibu-ibu datang sambil menggandeng anak laki-laki kecil.
“Neng, ayamnya satu ya.”
“Iya, Bu,” jawab Alana ramah sambil buru-buru mengambil nasi.
Anak kecil di samping ibunya menatap ayam goreng di etalase dengan mata berbinar.
Tatapannya tidak lepas dari nugget yang berada di pojok wadah.
Alana langsung tersenyum kecil.
“Mau bonus nugget nggak?” tanyanya pelan.
Anak kecil itu langsung mengangguk cepat.
Ibunya terlihat tidak enak.
“Eh nggak usah, Neng.”
“Gapapa, Bu,” balas Alana santai sambil memasukkan dua nugget kecil ke kotak makan. “Biar adeknya semangat sekolah.”
Anak kecil itu langsung tersenyum lebar, senyum polos yang sederhana.
Namun cukup membuat dada Alana terasa sedikit hangat.
Mungkin karena dulu... ia juga pernah sekecil itu.
Pernah berdiri diam melihat makanan sambil takut meminta.
Alana buru-buru mengalihkan pikirannya sendiri, tangannya kembali sibuk menutup kotak nasi.
“Ini ya, Bu.”
“Makasih banyak, Neng.”
“Iya hati-hati di jalan.”
Begitu pelanggan itu pergi, Alana kembali bergerak cepat. Namun beberapa detik kemudian ia berhenti sebentar sambil memegang pinggangnya.
“Aduh…”
Damar langsung menoleh.
“Kenapa?”
“Pinggang gue udah bunyi.”
Naira langsung tertawa.
“Umur dua puluh rasa empat puluh.”
“Diam lo,” gerutu Alana. “Kalau nanti gue kaya gue mau rebahan sepuasnya.”
“Lo tiap hari ngomong kaya.”
“Karena miskin capek.”
Damar terkekeh kecil lagi.
Tatapannya diam-diam memperhatikan Alana yang kembali sibuk mengangkat ayam goreng.
Rambutnya mulai berantakan, pipinya sedikit merah karena panas, bahkan celemeknya sudah terkena sambal di mana-mana.
Namun anehnya, gadis itu tetap terlihat hidup.
Seolah capek tidak pernah benar-benar bisa mengalahkannya.
Jam perlahan menunjukkan pukul delapan kurang sedikit.
Suasana mulai tidak seramai tadi, beberapa kursi plastik kosong, piring kotor mulai menumpuk di sudut meja.
Sedangkan Alana buru-buru mengecek jam di layar ponselnya.
Dan tepat detik itu... matanya langsung membulat.
“ASTAGA.”
Naira refleks menoleh.
“Kenapa?”
“Kita ada kelas pagi!”
Damar mendelik.
“Lah emang biasanya nggak?”
“Gue lupa waktu!”
Alana langsung panik, ia buru-buru mematikan kompor, tangannya bergerak cepat membereskan wadah sambal.
“Nai, tolong tutupin sausnya!”
“Damar tolong angkat kursinya!”
“Kak pesanan aku belum dibungkus!” protes pelanggan.
“IYA BENTAR AKU CUMA SATU ORANG!”
Naira sampai ngakak melihat Alana mulai muter-muter sendiri seperti setrika rusak.
“Kalau ada lomba hidup paling chaos dia juara nasional,” gumamnya.
Belum sempat dijawab, Alana sudah lari masuk ke dalam kontrakan.
Brak.
Pintu tertutup cepat.
Damar menggeleng kecil sambil mulai membantu membereskan meja, ia mengangkat wajan besar ke dapur kecil dengan hati-hati.
Sedangkan Naira mulai menutup etalase sambil masih ngoceh sendiri.
“Cantik-cantik jadi babu pagi-pagi.”
“Siapa suruh datang,” sahut Damar santai.
“Ya kasian lah masa dia sendirian.”
Damar diam sebentar, tatapannya sempat mengarah ke dalam kontrakan.
“Dia emang nggak pernah mau nyusahin orang,” ujarnya pelan.
Naira ikut diam beberapa detik.
Karena mereka sama-sama tahu, Alana terlalu terbiasa mengurus semuanya sendiri.
Capek sendiri.
Panik sendiri.
Nangis sendiri.
Bahkan saat hidupnya lagi berantakan pun, gadis itu masih sempat bercanda supaya orang lain nggak ikut khawatir.
Tak lama kemudian... pintu kontrakan terbuka cepat.
Alana keluar sambil setengah berlari, rambutnya masih sedikit basah, kemeja putih sudah rapi dipakai, tas selempang menggantung asal di pundaknya.
Sedangkan mulutnya sibuk menggigit roti tawar.
“Ayo ayo ayo telat!” ujarnya panik.
Naira langsung melotot.
“Itu rok lo belum rapi!”
“Hah?”
“Ya Allah sini!”
Naira buru-buru menarik Alana mendekat lalu membenarkan lipatan rok krem milik gadis itu yang terbalik sedikit.
Sedangkan Alana cuma nyengir bersalah.
“Hehe.”
“Malah ketawa,” omel Naira. “Besok kalau jadi orang sukses jangan lupa hidup lo pernah miring.”
Alana terkekeh kecil.
“Kalau sukses gue nggak mau pakai baju lusuh gini lagi pokoknya.”
“Cita-cita lo receh banget,” komentar Damar sambil mengunci etalase.
“Karena hidup gue udah terlalu realistis.”
Mereka akhirnya mulai berjalan meninggalkan kontrakan kecil itu bersama-sama, motor milik Damar tetap diparkir di depan kontrakan seperti biasa.
Karena jarak kampus memang tidak terlalu jauh untuk ditempuh jalan kaki.
Udara pagi terasa cukup sejuk.
Jalanan mulai dipenuhi mahasiswa dan pekerja kantor, beberapa kendaraan berlalu-lalang sambil membunyikan klakson.
Sedangkan Alana berjalan paling depan sambil masih menggigit roti.
Langkahnya cepat seperti biasa, seolah hidupnya selalu dikejar sesuatu.
“Eh tugas kemarin udah dikerjain belum?” tanya Naira tiba-tiba.
Langkah Alana langsung melambat.
“Tugas apa?”
Naira berhenti total.
“JANGAN BILANG LO LUPA.”
Alana diam beberapa detik, tatapannya kosong lurus ke depan.
Lalu perlahan ia memegang dada sendiri dramatis.
“Ya Allah…”
Damar langsung menahan tawa.
“Belum ngerjain?”
“Belum…” jawab Alana lemas. “Gue kira dikumpulin minggu depan.”
Naira langsung tepuk jidat.
“Alana sumpah hidup lo tuh kayak sinetron jam tujuh.”
“Gue juga nggak mau aslinya.”
“Tugas Pak Dedi itu!”
Wajah Alana langsung makin pucat.
“Yang suka nyuruh presentasi mendadak itu?”
“IYA.”
Alana langsung berhenti jalan sambil menatap langit.
“Kalau gue menghilang hari ini… tolong bilang aku orang baik.”
Damar akhirnya tertawa kecil.
Sedangkan Naira sudah hampir menyeret Alana supaya jalan lagi.
Mereka kembali melangkah di bawah matahari pagi yang mulai naik perlahan.
Cahayanya jatuh hangat di sepanjang jalan menuju kampus, dan di tengah langkah kaki sederhana itu, Alana diam-diam merasa sedikit bersyukur.
Karena meski hidupnya sering terasa berat,
setidaknya sekarang ia punya orang-orang yang tetap tinggal bahkan saat dirinya sedang berantakan.