NovelToon NovelToon
Di Balik Cadar Zoya

Di Balik Cadar Zoya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

​"Aku menikahimu karena terpaksa, jadi jangan pernah berharap ada cinta di rumah ini."

​Bagi Arvin Dewangga, Zoya Alana Clarissa hanyalah orang asing yang dipaksakan masuk ke hidupnya. CEO dingin itu membangun dinding es yang tinggi, namun Zoya tetap bertahan dengan ketenangan dan keteguhan di balik cadarnya.

​Di antara penolakan yang menyakitkan dan rahasia masa lalu yang membayangi, mampukah kesabaran Zoya meluluhkan keangkuhan Arvin? Ataukah perpisahan menjadi satu-satunya cara untuk menemukan kebahagiaan masing-masing?

​Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Novel => Di Balik Cadar Zoya.
By - Miss Ra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 4

Suasana di kediaman utama keluarga Dewangga malam itu tampak begitu megah. Lampu gantung kristal memantulkan cahaya ke lantai marmer yang mengilap, sementara aroma bunga lili segar memenuhi ruangan.

Ini adalah acara makan malam rutin keluarga besar, sebuah tradisi yang paling dibenci Arvin, namun tak bisa ia hindari demi menjaga stabilitas saham perusahaan di mata para paman dan bibinya.

Zoya berdiri di depan cermin kamar tamu sebelum masuk ke ruang utama. Ia mengenakan gamis sutra berwarna biru dongker tua dengan aksen bordir perak yang halus di bagian manset.

Cadarnya, dengan warna senada, terpasang rapi, hanya menyisakan sorot matanya yang tenang namun menyimpan sedikit kecemasan.

"Zoya, kau sudah siap?" Suara Arvin terdengar dari balik pintu.

Pria itu masuk dengan setelan tuksedo hitam yang membuatnya tampak seperti pangeran dari negeri dongeng, namun pangeran yang memiliki hati sekeras berlian.

Zoya berbalik. "Sudah, Tuan Arvin."

Arvin menatap istrinya sejenak. Ada keraguan di matanya saat melihat penampilan Zoya. "Dengar, keluargaku adalah orang-orang yang sangat memperhatikan penampilan dan status. Jika mereka mulai bertanya hal-hal yang aneh soal cadarmu, biarkan aku yang bicara. Jangan memperkeruh suasana."

"Saya hanya akan bicara jika ditanya, Tuan," jawab Zoya lembut.

Saat mereka memasuki ruang makan, keheningan sempat tercipta sejenak. Mata belasan anggota keluarga Dewangga tertuju pada sosok Zoya. Namun, yang paling mengejutkan adalah kehadiran seseorang yang seharusnya tidak ada di sana.

Valerie Maheswari. Ia duduk dengan anggun di samping Mama Rosa - ibu Arvin, mengenakan gaun merah terbuka yang sangat kontras dengan kesantunan Zoya.

"Ah, Arvin! Akhirnya datang juga," seru Mama Rosa sambil bangkit berdiri. Ia mengecup pipi Arvin, namun hanya memberikan anggukan kaku pada Zoya. "Zoya, silakan duduk. Oh, maaf, Tante sengaja mengundang Valerie. Dia kan sudah seperti keluarga sendiri."

Arvin menarik kursi untuk Zoya, tindakan yang ia lakukan hanya demi formalitas di depan ayahnya, Papa Dewangga.

Makan malam dimulai dengan percakapan ringan soal bisnis, hingga akhirnya Valerie mulai melancarkan aksinya. Ia meletakkan garpunya dengan denting yang sengaja dikeraskan.

"Tante Rosa, aku tadi sempat berpikir," ucap Valerie dengan nada manja yang dibuat-buat, namun matanya melirik tajam ke arah Zoya. "Di acara keluarga yang sekelas ini, bukankah sopan santun adalah hal utama? Aku sedikit bingung... bagaimana Zoya bisa makan dengan kain yang menutupi wajahnya? Bukankah itu akan terlihat sedikit... berantakan?"

Beberapa bibi Arvin mulai berbisik-bisik, menatap Zoya dengan pandangan skeptis.

"Betul juga," sahut salah satu bibi Arvin, Tante Widya. "Zoya, apa kamu tidak merasa itu membatasi gerakmu? Di keluarga kami, keterbukaan adalah hal yang penting. Rasanya agak aneh berbicara dengan seseorang yang wajahnya tidak terlihat."

Arvin baru saja hendak membuka suara untuk mengalihkan pembicaraan, namun Zoya lebih dulu bergerak. Dengan gerakan yang sangat tenang dan anggun, ia meletakkan serbet di pangkuannya.

"Terima kasih atas perhatiannya, Kak Valerie dan Tante Widya," suara Zoya terdengar jernih dan stabil, tidak menunjukkan sedikit pun rasa tersinggung. "Islam mengajarkan kami untuk selalu menjaga adab, termasuk saat makan. Di balik cadar ini, saya memiliki teknik yang tetap menjaga kesopanan saya tanpa mengganggu kenyamanan orang di sekitar."

Zoya kemudian mengambil sesendok kecil sup jamur. Dengan tangan kirinya, ia sedikit mengangkat bagian bawah cadarnya hanya sebatas mulut secara sangat cepat dan sopan, sementara tangan kanannya menyuapkan makanan.

Semuanya dilakukan dengan gerakan yang sangat halus, bahkan hampir tidak terlihat jika orang tidak memperhatikannya dengan saksama. Tidak ada tumpahan, tidak ada kecanggungan.

"Sama halnya dengan hati," lanjut Zoya setelah menelan makanannya dengan tenang. "Terkadang, keindahan tidak harus selalu dipamerkan untuk diakui. Sesuatu yang terjaga seringkali memiliki nilai yang lebih tinggi karena ia hanya diperuntukkan bagi mereka yang berhak."

Jawaban itu membuat meja makan hening. Papa Dewangga tampak tersenyum tipis, merasa bangga dengan kecerdasan menantunya dalam memilih kata.

Namun Valerie belum menyerah. "Nilai yang tinggi? Atau hanya cara untuk menutupi kekurangan? Maaf ya, Zoya, di zaman modern seperti sekarang, kepercayaan diri biasanya diukur dari keberanian kita menunjukkan diri, bukan bersembunyi. Arvin adalah publik figur, dia butuh pendamping yang bisa bersinar di sisinya, bukan yang tampak seperti bayangan gelap."

Valerie tertawa kecil, memancing reaksi dari yang lain. Arvin mengeraskan rahangnya. Ia benci bagaimana Valerie menyerang istrinya di depan keluarganya sendiri.

"Valerie," tegur Arvin rendah.

Zoya menyentuh lengan Arvin sekilas, sebuah isyarat agar suaminya tetap tenang. Zoya kemudian menatap Valerie dengan binar mata yang cerdas.

"Kak Valerie benar, kepercayaan diri memang penting," ucap Zoya. "Namun bagi saya, keberanian sejati adalah tetap menjadi diri sendiri di tengah dunia yang selalu menuntut kita menjadi orang lain. Matahari bersinar untuk semua orang, namun bulan tetap cantik meski ia hanya muncul di waktu tertentu. Dan cahaya bulan... tidak pernah menyilaukan mata bagi siapa pun yang memandangnya."

Zoya menatap Mama Rosa dengan hormat. "Tante Rosa, supnya luar biasa nikmat. Terima kasih sudah mengizinkan saya mencicipi masakan dengan cita rasa kelas atas seperti ini. Adab makan yang saya pelajari bukan untuk membatasi saya, tapi untuk memastikan bahwa di mana pun saya berada, saya tidak akan memalukan orang yang membimbing saya."

Mama Rosa, yang tadinya berniat mendukung Valerie, tiba-tiba merasa sungkan. Sikap Zoya yang begitu tenang dan tidak membalas hinaan dengan hinaan justru membuatnya terlihat jauh lebih berkelas daripada Valerie yang terlihat agresif.

"Ah... ya, syukurlah kalau kamu suka, Zoya," jawab Mama Rosa kikuk.

Setelah makan malam selesai, Papa Dewangga memanggil Arvin ke ruang kerja. "Arvin, istrimu punya martabat yang kuat. Jaga dia baik-baik. Jangan biarkan teman-temanmu seperti Valerie merusak apa yang sudah Papa bangun."

Arvin hanya mengangguk tanpa kata.

Dalam perjalanan pulang, suasana di dalam mobil terasa berbeda. Arvin berkali-kali melirik Zoya dari sudut matanya. Ia terbayang bagaimana Zoya menghadapi serangan Valerie tadi. Tidak ada tangisan, tidak ada keluhan. Hanya ketenangan yang mematikan.

"Kenapa kau tidak membalasnya dengan lebih keras tadi?" tanya Arvin tiba-tiba saat mobil mereka membelah jalanan malam.

Zoya menoleh. "Untuk apa, Tuan? Api tidak bisa dipadamkan dengan api. Jika saya marah, maka saya membuktikan bahwa perkataannya benar, bahwa saya tidak memiliki kepercayaan diri."

Arvin terdiam. Untuk pertama kalinya, ia merasa kalah telak secara argumen dari wanita ini.

"Dan terima kasih, Tuan Arvin," lanjut Zoya.

"Untuk apa?"

"Tadi... Anda sempat ingin membela saya, bukan? Meskipun tidak jadi karena saya bicara duluan, saya menghargai niat itu."

Arvin memalingkan wajahnya ke jendela, menyembunyikan semburat aneh di pipinya. "Jangan terlalu percaya diri. Aku hanya tidak ingin acaraku kacau karena mulut Valerie."

Zoya hanya tersenyum di balik cadarnya. Ia tahu Arvin sedang berbohong.

Sesampainya di apartemen, Arvin berjalan lebih dulu. Namun sebelum masuk ke kamarnya, ia berhenti dan berbalik ke arah Zoya yang masih di lantai bawah.

"Zoya," panggilnya.

"Iya, Tuan?"

"Besok... minta sopir untuk mengantarmu ke butik di pusat kota. Aku sudah memesankan beberapa gaun baru untukmu. Gaun yang... tetap cocok dengan cadarmu. Aku tidak ingin kau memakai baju yang itu-itu saja kalau ada acara lagi."

Zoya tertegun. "Tuan Arvin, baju saya masih banyak yang..."

"Anggap saja itu upah karena kau tidak memalukanku malam ini," potong Arvin cepat, lalu masuk ke kamarnya dan menutup pintu dengan sedikit keras.

Zoya berdiri terpaku. Upah? Baginya, itu lebih terasa seperti sebuah perhatian tersembunyi. Di balik dinding es yang Arvin bangun, rupanya ada celah kecil yang mulai retak.

Zoya masuk ke kamarnya, melepaskan cadarnya, dan menatap pantulan dirinya di cermin. Pipinya memerah.

"Satu langkah lagi, Zoya. Satu langkah lagi," bisiknya dengan binar mata yang kini penuh dengan harapan.

...----------------...

To Be Continue ....

1
ρυтяσ kang'typo✨
aaaaccchhhhhh 😭😭😭😭😭nyesek q Zo... g tahan u di perlakukan sekeras itu sama Arvin
ρυтяσ kang'typo✨
mau sampe kapan kau bertahan Zoya🥺😤😭🤧ikut kesel dengan tingkah Arvin
zhelfa_alfira
bagus
ρυтяσ kang'typo✨
cara mu salah Vin, u justru memenjarakan Zoya terlalu ketat n mencekik'y, cinta kata mu🤦‍♀️😌
ρυтяσ kang'typo✨
ya Zoya... q pun merasakan'y apa yang kau rasakan saat ini 🥺🥺
Mei 71
Aku tahu rasanya jadi Zoya😢
ρυтяσ kang'typo✨
sadar beneran g nie???? g kumat tah??? 😌😌😌q ragu dengan tempramental mu itu Vin, u mudah terprovokasi oleh seseorang padahal kan kau itu pemimpin tapi... ya syudahlah
ρυтяσ kang'typo✨
apa kau masih isa terprovokasi oleh Nadia agi Vin🥺🥺Zoya... kau memang berhati lembut semoga kau selalu di lapang kan da" agar selalu sabar dengan tingkah Arvin yang seperti kadal😌😌kadang lembut kadang kek monster
YuWie
yakinnnn nanti labil lagi... karakter tokoh di novel ini gak kuat semua.
YuWie
labil banget arvin kie..lagian kok muter2 wae sih konfliknya..percaya ragu..percaya lagi ragi lagi..kapannn majunyq
YuWie
jgn buat zoya lembek donk..kenapa baru di intimadi nadia aja sdh dibuat aku mau pulang...elahhh
Mei 71
Syukurlah Arvin sadar..
ρυтяσ kang'typo✨
Ingat kalian semua...ingat baik" air mata Zoya g akan pernah bisa dilupakan, sakit hati seorang wanita yang kecewa atas suami'y🥺🥺
Mei 71
Lebih menyakitkan daripada dimarahi dengan kata kata . 😢
Mei 71
Wooow...Dengarkan Nadia ? Kamu tuh sampah yang harus dibuang 🤑
ρυтяσ kang'typo✨
pasti sangat menyakitkan buat Zoya, di hina depan mantan dan ibu'y Arvin🥺🥺🥺lalu Arvin sendiri hanya diam
ρυтяσ kang'typo✨
jangan bilang itu pesan dari Nadia👀duh Arvin mudah sekali kena asap
Buku Matcha
Alur Novel yang aku suka, semangat ya thor
ρυтяσ kang'typo✨
uhuk.... hantu cantik bercadar g tuh🤣🤣🤣🤣🤣
mauza SEB
lanjut ka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!