BLURB👇
Lian dan Yumna, adalah sepasang anak manusia yang berteman sejak kecil, harus berpisah ketika orang tua Lian memutuskan untuk memindahkan anaknya belajar ke luar negeri. Selama lima belas tahun mereka berpisah dan bertemu kembali saat mereka remaja. Mereka pun menjalin hubungan asmara. Namun, perjalanan cinta mereka tidak semulus yang mereka harapkan. Penuh permasalahan dan rintangan. Terlebih hadirnya orang ketiga di antara mereka. Suatu hari, Lian dan Yumna tak sengaja menghabiskan waktu bersama. Hingga hubungan mereka melampaui batas, dan menyebabkan Yumna hamil!! Hal itu membuat Yumna frustasi berkepanjangan. Apalagi orang tua mereka tidak merestui hubungan mereka. Yumna semakin terpuruk. Setiap hari hanya ada penyesalan yang tak berarti dalam dirinya.
Bagaimana kisah mereka selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rayana Lovely, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecurigaan Bu Sofie
"Gimana hari pertama kamu masuk kerja, Yumna??" tanya Bu Afni sambil menghidangi makan malam di meja makan.
"Lho, kok Ibu tau sih, hari ini hari pertama Yumna masuk kerja!! Yumna kan belum ada cerita ke ibu???!" tanya Yumna menghentikan makannya.
"Heehee.." Bu Afni tertawa kecil. Dia duduk di depan Yumna. " Sebenarnya kemarin saat Lian datang ke acara wisuda kamu, dia sudah mengatakannya pada ibu. Awalnya ibu merasa tidak enak,,, yahh.. karna kan kamu baru saja lulus, masa sih Lian mau langsung menjadikan kamu sebagai sekretaris pribadinya. Gimana kata orang nanti. Tapi dia terus meyakinkan ibu, ya sudah, ibu serahkan saja apa maunya. Trus dia bilang tolong jangan bilang dulu sama kamu, dia mau ngasih suprise sama kamu hari ini." Bu Afni menjelaskan dengan nada santai.
"Benarkah Bu?? dasar anak itu!!" gumam Yumna pelan.
"Emang ada apa, Nak?? kok kamu kelihatan tidak senang gitu!!" Bu Afni heran melihat raut wajah anaknya yang berkerut dan memonyongkan bibirnya.
"Ah, enggak kok Bu, gak pa pa!! Yumna kaget aja, masa Lian langsung nyuruh Yumna untuk menyelesaikan laporan laporan perusahaan, padahal Yumna kan gak ada persiapan buat langsung bekerja di perusahaan! Apa gak canggung Yumna jadinya. Untung aja Yumna bisa menyelesaikan semuanya tadi." ujar Yumna.
"Ini karna kamu baru pertama kalinya masuk kerja, Nak. Ntar juga lama lama kamu bakalan terbiasa. Yang penting ilmu yang kamu dapatkan selama ini jadi gak sia sia.." Bu Afni membelai mesra rambut anak perempuannya.
"Iya, Bu," balas Yumna.
"Bekerja lah di perusahaan itu dengan baik, tunjukkan kalo kamu itu anak ibu yang cerdas, dan jangan lupa selalu menghormati orang orang disekitar kamu. Agar kamu disenangi banyak orang," pesan Bu Afni.
"Baik, Bu. Yumna akan selalu ingat akan pesan ibu," janji Yumna.
"Heehee, anak ibu.." Bu Afni mencubit pelan pipi Yumna. "Udah ya, ibu mau bantui Bu Dewi dulu melayani pembeli. Kamu makan yang banyak, terus istirahat. Besok kan harus ngantor lagi."
"Iya, Bu. Makasih udah masaki ini semua buat Yumna. Yumna jadi lebih bersemangat makannya, pasti bakalan Yumna habiskan." kemudian Yumna makan dengan lahapnya.
"Haahaa.. Baguslah, Nak. Ibu senang mendengarnya. Makan yang banyak ya..." Bu Afni bangkit dari tempat duduknya, lalu pergi meninggalkan Yumna yang sedang menikmati makan malamnya.
****
Keesokan harinya, seperti biasa Lian bersiap siap ke kantornya dan ingin menjemput Yumna. Lian turun dari kamarnya yang berada di lantai atas, dan ikut bergabung bersama kedua orang tuanya yang sudah menunggunya di meja makan.
"Pagi, Pa, Ma!!" sapa Lian sembari membetulkan dasinya yang belum rapi.
"Pagi.." jawab Papa dan Mamanya bersamaan.
Lian duduk di bangku meja makan dan mengambil sepotong roti tawar, lalu mengoleskan selai coklat diatasnya.
"Apa ada meeting pagi ini??" tanya Pak Mirwan heran.
"Gak ada, Pa!! Emang kenapa, Pa??!" tanya Lian balik.
"Kenapa kamu mau berangkat sepagi ini??!" tanya Pak Mirwan lagi.
"Ohh,, itu.. iya, Pa. Lian harus menjemput Yumna dulu," jawab Lian sambil memakan roti tawarnya.
Pak Mirwan dan Bu Sofie saling menatap heran.
"Kamu mau jemput Yumna pagi pagi begini??" ucap Pak Mirwan bertanya tanya.
"Iya, Pa!! Oh, iya. Aku belum cerita ya, kalo Yumna aku angkat jadi sekretaris pribadi aku. Jadi tuh, mulai kemarin Yumna sudah bekerja di perusahaan kita." Lian menjelaskan maksudnya.
"Apa?? Ka.. kamu.. menjadikan Yumna sekretaris pribadimu??" tanya Bu Sofie tak percaya.
"Iya, Ma," jawab Lian singkat.
"Tapi, Yumna itu baru lulus kaan..??!! Lian, bukannya Mama gak setuju, tapi apa mungkin Yumna bisa melakukan tugas perusahaan dengan benar??!!" Bu Sofie ragu akan kemampuan Yumna.
"Tenang aja, Ma. Yumna itu anak yang pintar. Dia lulus dengan nilai terbaik di kampusnya. Aku yakin dia bisa ikut memajukan perusahaan kita, buktinya kemarin saat aku memberinya tugas, dia langsung dapat menyelesaikannya dengan baik," jelas Lian.
Bu Sofie menghempuskan nafas panjangnya. Dia pasrah dengan keputusan anaknya.
"Gimana, Pa. Yumna bolehkan jadi sekretaris pribadiku??" Lian meminta izin Papanya.
"Terserah kamu saja. Papa serahkan semuanya pada kamu. Papa yakin keputusan kamu itu yang terbaik," jawab Pak Mirwan santai.
"Makasih, Pa." Lian lega.
Pak Mirwan hanya manggut manggut.
"Ya, udah. Aku permisi dulu ya, Ma, Pa." Lian bangkit dari tempat duduknya, kemudian menyium punggung tangan Papa dan Mamanya.
"Iya, kamu hati hati, ya. Jangan ngebut ngebut bawa mobilnya," pesan Bu Sofie.
"Siap, Ma!!" balas Lian. Lantas dia pun pergi meninggalkan kedua orang tuanya yang sedang menikmati sarapan.
"Pa.." ucap Bu Sofie pelan.
"Hem??" balas Pak Mirwan.
"Papa ngerasa gak, kalo Lian itu kayaknya jatuh hati pada Yumna. Liat saja, sepertinya dia tidak mau jauh jauh dari Yumna. Sampai sampai Yumna yang baru lulus kuliah pun dia jadikan sekretaris pribadinya." Bu Sofie mulai mencurigai peragai Lian.
"Hahaha.." Pak Mirwan malah tertawa geli mendengar celotehan istrinya.
"Kok Papa ketawa,sih??" tanya Bu Sofie kesal.
"Gak mungkinlah Ma, Lian jatuh hati kepada Yumna. Kita kan tau, Lian itu sudah menganggap Yumna sebagai saudara perempuannya sendiri. Dia anggap Yumna itu sebagai adik. Makanya dia sangat perhatiaan kepada Yumna. Terlebih mereka sudah berteman belasan tahun, masa iya sih, mereka jatuh cinta," ucap Pak Mirwan.
"Yeee, bisa aja kali Pa. Malah kebanyakan orang begitu. Berteman lama, dan ujung ujungnya saling menyintai. Papa ini gimana sih, masa gitu aja gak ngerti!!" Bu Afni tidak menyangka akan kepolosan suaminya yang begitu dalam.
"Hahaha, tapi Papa yakin Lian itu hanya menganggap Yumna sebagai teman terbaiknya, gak lebih dari itu.." tambah Pak Mirwan lagi.
Bu Afni tidak menjawab ucapan suaminya. Dia hanya memikirkan kalau Lian seperti mempunyai rasa kepada Yumna. Dia mulai mencurigai kedekatan mereka.
****
( Bersambung...😊 )
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu, searchnya pakek tanda kurung biar gak melenceng yaa