NovelToon NovelToon
Mantan Pemilik Sistem

Mantan Pemilik Sistem

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Fantasi
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Kairon04

"Aku sudah menaklukkan ribuan dunia, menghancurkan dewa-dewa kuno, dan memimpin pasukan bintang. Sekarang? Aku hanya ingin memastikan sawiku tidak dimakan ulat."

Zhou Ji Ran adalah legenda yang terlupakan—secara harfiah. Setelah menyelesaikan misi terakhir dari "Sistem Penguasa Multisemesta" yang mahakuasa, sistem tersebut hancur dan menghapus setiap jejak keberadaan Zhou Ji Ran dari memori seluruh makhluk di multisemesta. Dia bebas. Tanpa beban, tanpa misi, dan tanpa musuh yang mengejarnya.

Kini, ia hanya seorang pemuda 25 tahun yang hidup santai sebagai petani di pinggiran Desa Jinan yang terpencil. Baginya, kebahagiaan adalah melihat matahari terbit dan menyeruput teh pahit di teras rumah kayu sederhananya.

Namun, kedamaian "pensiunnya" hancur saat seorang murid jenius dari sekte besar, yang bersimbah darah dan ketakutan, mendobrak pintunya dan memohon perlindungan.

apakah sang penguasa akan kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kairon04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Delapan

Embusan angin pagi di Desa Jinan kali ini terasa sedikit lebih kencang, membawa suara kepakan sayap yang ritmis dan kuat. Di halaman belakang gubuk Zhou Ji Ran, sebuah pemandangan yang akan membuat para sejarawan kultivasi pingsan secara massal sedang berlangsung dengan begitu tenangnya. Rajawali Emas, tunggangan legendaris yang biasanya hanya terlihat membelah awan di Kerajaan Langit Selatan, kini berdiri kaku dengan sayap terbentang lebar. Di antara kedua ujung sayapnya, terbentang tali jemuran panjang yang dipenuhi oleh pakaian-pakaian basah—mulai dari jubah kain rami milik Zhou Ji Ran hingga apron kotor milik Ye Hua.

Xin Yan, sang Panglima Pasukan Pemanah Matahari yang biasanya memimpin ribuan prajurit, kini berdiri di samping rajawalinya dengan wajah yang merah padam. Tangannya memegang ujung tali jemuran agar tetap stabil, sementara ia diperintahkan untuk memastikan rajawalinya mengepakkan sayap dengan frekuensi tertentu agar pakaian cepat kering tanpa merusak serat kain.

"Lebih lambat kepakannya, Xin Yan. Jika terlalu kencang, kancing bajuku bisa lepas. Kau tahu betapa sulitnya mencari kancing kayu yang pas di desa ini?" suara Zhou Ji Ran terdengar dari arah teras, diiringi suara seruput teh yang nikmat.

Xin Yan menggigit bibirnya, mencoba menahan amarah yang hampir meledak. "Tuan... rajawali ini adalah Binatang Suci tingkat enam. Menggunakannya untuk mengeringkan pakaian adalah... adalah penistaan terhadap martabat surgawi!"

"Martabat tidak akan membuat pakaianmu kering saat musim hujan tiba, Xin Yan. Sekarang, fokuslah. Dan pastikan rajawalimu tidak buang kotoran di dekat tanaman cabaiku, atau dia akan berakhir menjadi hidangan sup rajawali malam ini," balas Zhou Ji Ran tanpa sedikit pun rasa bersalah.

Di meja kayu teras, Gu Lao sedang asyik mengunyah roti gandum yang teksturnya mulai membaik. Ia melirik ke arah Xin Yan, lalu kembali menatap Zhou Ji Ran. "Kau benar-benar tidak mengenal kata ampun, Ji Ran. Panglima perang itu tampak seperti ingin menembakkan panah ke kepalamu setiap kali kau berbalik badan."

"Dia bebas mencobanya, Gu Lao. Tapi dia tahu bahwa busurnya sekarang hanya berguna untuk menjemur kaos kaki jika dia berani macam-macam," sahut Zhou Ji Ran. Ia meletakkan cangkirnya dan menatap ke arah ladang padi yang baru saja ia buka di lereng bukit kecil di belakang rumahnya. "Hari ini adalah hari yang penting. Aku akan menanam benih padi surgawi yang sudah lama kusimpan. Padi ini membutuhkan pengairan yang sangat presisi."

"Padi Surgawi? Bukankah itu benih yang kau dapatkan setelah meruntuhkan 'Gerbang Abadi' sepuluh ribu tahun yang lalu?" tanya Gu Lao dengan nada terkejut.

Zhou Ji Ran mengangguk pelan. "Benar. Benih ini adalah satu-satunya yang tersisa di seluruh multisemesta. Ia tidak membutuhkan pupuk kimia atau energi spiritual biasa. Ia hanya membutuhkan ketulusan dan air yang mengalir secara alami dari gunung. Itulah sebabnya aku butuh naga-naga perak itu untuk memutar kincir air tanpa henti."

Tiba-tiba, Lin Xiaoqi berlari keluar dari rumah dengan wajah ceria, membawa sebuah keranjang berisi buah pir yang baru saja dikupas. "Tuan, sarapan kedua sudah siap! Ye Hua sedang mencoba membuat selai pir dengan teknik pedangnya, dan sepertinya hasilnya sangat halus!"

Di dapur, Ye Hua memang sedang berdiri dengan konsentrasi penuh. Di depannya terdapat setumpuk pir yang melayang di udara karena kendali energinya. Dengan gerakan tangan yang sangat cepat, ia menebaskan energi pedang tipis yang tidak memotong, melainkan menghancurkan molekul buah tersebut hingga menjadi bubur halus tanpa merusak rasanya. Ini adalah penggunaan "Niat Pedang" tingkat tinggi yang seharusnya digunakan untuk membelah jiwa musuh, namun kini digunakan untuk membuat selai.

"Teksturnya harus sempurna... tidak boleh ada serat yang kasar... Tuan tidak suka selai yang berbiji..." gumam Ye Hua, dahinya berkeringat karena fokus yang luar biasa.

Zhou Ji Ran masuk ke dapur, mengambil sesendok selai pir itu dan mencicipinya. "Lumayan. Tapi masih sedikit terlalu dingin. Kurangi energi es dalam pedangmu, Ye Hua. Selai harus memiliki kehangatan hidup, bukan kedinginan makam."

"Baik, Tuan. Saya akan memperbaikinya," jawab Ye Hua dengan patuh. Ia merasa bahwa instruksi sederhana Zhou Ji Ran tentang memasak sebenarnya adalah petunjuk tersembunyi tentang bagaimana menyeimbangkan energi *Yin* dan *Yang* dalam kultivasinya.

Namun, kedamaian di dapur itu terganggu oleh suara gemuruh yang datang dari arah pintu masuk Desa Jinan. Bukan suara naga atau burung besar, melainkan suara roda-roda kereta yang berat dan suara terompet kuno yang nyaring.

"Sepertinya ada rombongan besar yang datang. Wanginya... bau uang yang sangat tajam," gumam Gu Lao sambil berdiri di teras.

Sebuah iring-iringan kereta kencana yang sangat mewah, dihiasi dengan permata dan emas murni, berhenti di depan pagar kayu Zhou Ji Ran. Di setiap sisi kereta terdapat pengawal yang mengenakan baju zirah emas berkilau. Di kereta paling depan, berkibar bendera besar dengan lambang koin emas bersayap—simbol dari "Asosiasi Wan Jin", serikat pedagang paling kaya dan berpengaruh yang melintasi tujuh kerajaan.

Seorang pria gemuk dengan jubah sutra berwarna ungu turun dari kereta. Jari-jarinya dipenuhi cincin permata, dan ia membawa sebuah kipas yang terbuat dari bulu burung merak abadi. Namanya adalah Feng Mian, Ketua Cabang Selatan dari Asosiasi Wan Jin. Ia dikenal sebagai pria yang bisa membeli sebuah sekte hanya dengan jentikan jari.

Feng Mian menatap gubuk kayu Zhou Ji Ran dengan tatapan menilai yang tajam. Namun, saat matanya mendarat pada naga-naga perak yang memutar kincir dan rajawali emas yang sedang menjemur pakaian, kipas di tangannya hampir jatuh.

"Ini... ini mustahil! Sembilan Naga Perak? Rajawali Emas Pemanah Matahari? Apa yang dilakukan harta karun dunia ini di tempat seperti ini?!" seru Feng Mian dengan suara yang melengking.

Zhou Ji Ran berjalan keluar ke halaman, masih memegang sendok bekas selai pir. "Tuan dengan banyak cincin, kau menghalangi jalan masuk untuk gerobak pupukku. Jika kau tidak punya urusan penting, silakan parkir keretamu di tempat lain."

Feng Mian segera mengatur kembali ekspresinya, meskipun jantungnya berdegup kencang. Ia menyadari bahwa pria di depannya ini bukanlah petani biasa. "Maafkan ketidaksopanan saya, Senior. Saya Feng Mian dari Asosiasi Wan Jin. Kami mendengar kabar tentang adanya 'fenomena surgawi' di Desa Jinan. Namun, saya tidak menyangka akan menemukan koleksi makhluk suci yang begitu luar biasa."

Ia mendekat ke pagar, matanya berbinar penuh keserakahan yang tertutup oleh keramahan palsu. "Senior, saya datang dengan penawaran yang tidak mungkin Anda tolak. Asosiasi kami bersedia membeli naga-naga itu dengan harga sepuluh gunung batu roh tingkat tinggi per ekor. Dan untuk rajawali itu... kami akan memberikan Anda posisi sebagai tetua kehormatan di asosiasi kami dengan tunjangan seumur hidup."

Xin Yan, yang mendengar dirinya ingin dibeli, seketika mengarahkan tatapan tajamnya pada Feng Mian. "Kau ingin membeli Panglima Kerajaan Langit Selatan? Kau benar-benar ingin mati, ya?"

Feng Mian terkejut melihat Xin Yan. "Panglima Xin Yan? Kenapa Anda... kenapa Anda memegang tali jemuran?"

"Dia sedang menjalani pelatihan intensif tentang kesabaran dan aerodinamika, Tuan Pedagang," potong Zhou Ji Ran. "Dan jawaban atas tawaranmu adalah tidak. Naga-naga itu adalah mesin pompa airku, dan rajawali itu adalah pengering pakaian paling efisien yang pernah kupunya. Uangmu tidak bisa menggantikan kenyamanan pakaian kering di pagi hari."

Feng Mian merasa wajahnya panas. Ia tidak pernah ditolak secara mentah-mentah seperti ini. "Senior, tolong pertimbangkan kembali. Dengan uang sebanyak itu, Anda bisa membeli sepuluh ribu pengering pakaian paling canggih dan membangun istana di atas awan! Kenapa Anda memilih tetap di gubuk kumuh ini?"

Zhou Ji Ran menatap gubuknya dengan kasih sayang. "Karena di istana awan, aku tidak bisa mendengar suara jangkrik di malam hari atau merasakan tekstur tanah di bawah kakiku. Sekarang, pergilah sebelum aku kehilangan kesabaran. Aku punya jadwal menanam padi satu jam lagi."

Feng Mian menyipitkan matanya. Isyarat diberikan, dan selusin pengawal berbaju zirah emas segera maju mengepung pagar. Mereka adalah para ahli tahap Golden Core yang disewa khusus untuk melindungi harta asosiasi.

"Senior, saya lebih suka melakukan bisnis dengan cara damai. Namun, jika Anda menolak kerja sama, Asosiasi Wan Jin memiliki hak untuk 'mengamankan' aset-aset dunia yang terbengkalai demi kestabilan ekonomi benua," ucap Feng Mian dengan nada mengancam.

Zhou Ji Ran menatap para pengawal itu, lalu menatap cangkul tuanya yang tersandar di dinding. "Mengamankan aset? Istilah yang sangat bagus untuk pencurian yang dilegalkan. Baiklah, sepertinya aku butuh beberapa orang untuk membantu memindahkan batu-batu besar di lereng bukit. Tubuh kalian tampak kuat karena sering makan enak."

"Serang!" teriak Feng Mian.

Para pengawal emas itu melompat secara bersamaan, senjata mereka memancarkan cahaya kekayaan yang menyilaukan. Namun, Zhou Ji Ran hanya mengambil ember berisi air bekas cucian piring yang dibawa Lin Xiaoqi. Dengan satu gerakan santai, ia menyiramkan air tersebut ke arah para pengawal.

Air yang seharusnya jatuh ke tanah tiba-tiba berhenti di udara, membentuk ribuan jarum air transparan yang bergetar dengan frekuensi yang sangat tinggi. Jarum-jarum itu melesat secepat kilat, menghantam setiap titik akupunktur dan meridian utama para pengawal tersebut.

*Plak! Plak! Plak!*

Dalam sekejap, selusin ahli Golden Core itu jatuh tersungkur di tanah, lumpuh total. Tidak ada luka berdarah, namun seluruh aliran energi mereka terkunci rapat oleh hukum air yang diterapkan Zhou Ji Ran.

"Air cucian piring ini mengandung lemak dan sisa makanan, sangat sulit untuk dibersihkan dari meridian jika kau tidak tahu caranya," ucap Zhou Ji Ran sambil meletakkan ember kosongnya.

Feng Mian mundur beberapa langkah, keringat sebesar biji jagung mengalir di dahinya. "Kau... kau bukan manusia... teknik macam apa itu?!"

"Itu disebut teknik 'Kebersihan adalah Sebagian dari Iman'," jawab Zhou Ji Ran. Ia kemudian mendekati Feng Mian dan memegang bahu pria gemuk itu.

Feng Mian merasa seolah-olah sebuah gunung raksasa sedang menekan bahunya. Ia jatuh berlutut, napasnya terasa sesak.

"Tuan Pedagang, kau punya banyak emas, kan? Bagus. Aku sedang berencana membangun gudang penyimpanan padi surgawi yang tahan terhadap serangan hama dan perubahan cuaca. Kau akan menjadi manajer logistik sekaligus donatur utama proyek ini. Dan pengawal-pengawalmu... mereka akan menjadi buruh angkut batu," Zhou Ji Ran menatap mata Feng Mian dengan dingin.

"Saya... saya akan melakukannya! Tolong jangan bunuh saya!" teriak Feng Mian dengan wajah pucat pasi.

"Membunuhmu adalah pemborosan sumber daya. Sekarang, suruh anak buahmu memindahkan semua emas di keretamu ke gudang belakang. Kita butuh emas itu untuk melapisi fondasi gudang agar energi spiritual padi tidak bocor," perintah Zhou Ji Ran.

Sore harinya, pemandangan di Desa Jinan kembali berubah. Kereta kencana yang mewah kini dibongkar, dan emas-emasnya dilelehkan oleh napas naga-naga perak untuk melapisi dinding gudang baru. Feng Mian, dengan jubah ungu yang kini penuh debu, terlihat sibuk mencatat inventaris batu dan kayu menggunakan kuas yang gemetar. Para pengawal emasnya kini bertelanjang dada, memindahkan batu-batu raksasa dari bukit menuju lokasi konstruksi di bawah pengawasan ketat Jenderal Han.

Jenderal Han mendekati Feng Mian sambil membawa segelas air. "Selamat bergabung di tim konstruksi, Tuan Bendahara. Jangan khawatir, setelah tiga hari bekerja di sini, kau akan menyadari bahwa lemak di perutmu akan hilang dan kau akan merasa jauh lebih sehat."

Feng Mian hanya bisa meratapi nasibnya dalam diam. Ia datang untuk membeli naga, namun malah berakhir menjadi akuntan konstruksi seorang petani.

Di lereng bukit, Zhou Ji Ran akhirnya mulai menanam benih padi surgawi. Setiap butir benih ia letakkan dengan tangan sendiri ke dalam lubang yang telah disiapkan. Lin Xiaoqi mengikuti di belakangnya, menutup lubang dengan tanah yang sudah dicampur dengan esensi kehidupan murni.

"Tuan, apakah padi ini benar-benar akan tumbuh dalam satu malam?" tanya Lin Xiaoqi dengan rasa ingin tahu.

"Jika air dari naga-naga itu mengalir dengan benar, dan jika matahari menyinari mereka tanpa gangguan... ya, besok pagi kita akan melihat ladang padi emas yang belum pernah dilihat oleh siapa pun di dunia ini selama puluhan ribu tahun," jawab Zhou Ji Ran.

Ye Hua berdiri di puncak bukit, memegang pedangnya sambil mengawasi sekeliling. Ia merasakan adanya getaran di bawah tanah, sesuatu yang sedang mencoba mendekati desa dari arah bawah. "Tuan, ada sesuatu di bawah tanah. Bukan manusia, bukan binatang... getarannya sangat mekanis dan dingin."

Zhou Ji Ran berhenti menanam. Ia menempelkan telapak tangannya ke tanah, menutup mata sejenak. "Program Kegagalan... mereka mengirimkan 'Penyadap Akar'. Mereka ingin mencuri esensi dari padi surgawiku sebelum ia sempat tumbuh."

"Apa yang harus kami lakukan, Tuan?" tanya Ye Hua, auranya seketika berubah menjadi tajam.

"Kalian tetaplah di sini dan selesaikan penanaman. Urusan bawah tanah adalah keahlianku," Zhou Ji Ran mengambil cangkulnya. Ia tidak menggali, ia hanya menusukkan ujung cangkulnya ke tanah dengan kekuatan yang sangat terkontrol.

Sebuah gelombang kejut merambat melalui lapisan bumi, jauh ke kedalaman ratusan meter. Di bawah tanah, sebuah mesin berbentuk cacing raksasa yang terbuat dari logam hitam kuno dan memancarkan cahaya merah jahat seketika hancur berkeping-keping karena getaran tersebut. Itu adalah salah satu ciptaan dari sisa-sisa Sistem yang mencoba mencari jalannya kembali ke realitas.

"Tikus-tikus logam itu selalu saja tidak belajar dari kesalahan," gumam Zhou Ji Ran.

Malam mulai turun menyelimuti Jinan. Pengerjaan gudang emas hampir selesai berkat tenaga kerja paksa dari Asosiasi Wan Jin. Pangeran Long Wei tampak mulai akrab dengan naga-naganya, bahkan ia mulai bercerita tentang masa lalunya di istana kepada naga-naga yang kini menjadi rekan kerjanya. Xin Yan telah menyelesaikan tugas jemurannya dan kini sedang membantu Xiaoqi menyiapkan makan malam besar untuk merayakan penanaman padi surgawi.

Gu Lao duduk di teras, menatap bintang-bintang yang tampak lebih terang di atas Desa Jinan. "Ji Ran, kau baru saja menanam benih yang akan memancing seluruh dewa di multisemesta ini untuk turun. Padi Surgawi adalah simbol otoritas tertinggi. Siapa pun yang memakannya akan memiliki kesempatan untuk melampaui hukum dunia sepenuhnya."

"Biarkan mereka datang, Gu Lao. Jika mereka lapar, aku akan memberi mereka nasi. Tapi jika mereka datang untuk merebut ladangku... mereka akan tahu mengapa aku dulu menghancurkan gerbang abadi dengan satu tangan," jawab Zhou Ji Ran sambil duduk di samping pria tua itu.

Suasana makan malam berlangsung sangat unik. Seorang mantan penguasa multisemesta, seorang pengamat kuno, dua dewi sekte, seorang jenderal agung, seorang pangeran naga, seorang panglima pemanah, dan seorang ketua pedagang kaya duduk melingkar di atas tikar bambu. Mereka menikmati sup sayuran, roti gandum, dan selai pir buatan Ye Hua.

Feng Mian, setelah mencicipi masakan itu, matanya berkaca-kaca. "Ini... ini adalah rasa yang tidak bisa dibeli dengan seluruh emas di gudang asosiasi saya. Rasa kedamaian..."

"Makanlah yang banyak, Feng Mian. Besok pagi kau harus mulai menghitung distribusi air untuk seluruh desa. Aku ingin setiap penduduk di Desa Jinan juga bisa merasakan air dari kincir naga kita," ucap Zhou Ji Ran.

Kehidupan di Desa Jinan bukan lagi sekadar pelarian bagi Zhou Ji Ran. Ia secara perlahan sedang membangun sebuah ekosistem di mana kekuatan, kekayaan, dan martabat tidak lagi diukur dari posisi sosial, melainkan dari kontribusi terhadap tanah dan kehidupan.

Namun, di kegelapan malam, di luar batas desa yang dilindungi, sosok-sosok berjubah hitam dengan mata bercahaya merah mulai berkumpul. Mereka bukan dari sekte mana pun, mereka adalah manifestasi dari kegagalan sistem yang merasa terancam oleh kembalinya harmoni yang diciptakan Zhou Ji Ran. Mereka tidak memiliki emosi, hanya satu instruksi yang tertanam dalam inti mereka: *Hancurkan anomali bernama Zhou Ji Ran.*

Zhou Ji Ran merasakan kehadiran mereka di kejauhan. Ia menatap ke arah kegelapan hutan dengan senyum tipis. "Sepertinya besok aku akan membutuhkan lebih banyak orang untuk membantu memanen padi. Pasukan tanpa jiwa biasanya memiliki stamina yang sangat bagus untuk memotong batang padi sepanjang hari."

Ia kemudian berdiri dan menguap. "Selamat malam semuanya. Tidurlah yang nyenyak. Besok adalah hari yang sibuk. Jangan lupa, Long Wei, naga-naga itu butuh pijatan di bagian sayap mereka sebelum subuh."

"Baik, Tuan..." jawab Long Wei dengan pasrah.

Dunia mungkin sedang bersiap untuk kiamat, namun di pinggiran Desa Jinan, masalah yang paling penting adalah memastikan padi surgawi tumbuh dengan sempurna. Dan bagi sang mantan pemilik sistem, itulah satu-satunya pertarungan yang layak dimenangkan. Kehidupan santainya kini dipenuhi dengan tanggung jawab baru, namun ia tidak pernah merasa sehidup ini sebelumnya. Tanpa instruksi mekanis, tanpa poin pengalaman, hanya dia dan alam semesta yang menanti untuk dipanen.

Perjalanan ini terus berlanjut, selapis demi selapis, seperti tanah yang terus digarap hingga menjadi subur. Dan di setiap butir tanah itu, tertanam kekuatan yang sanggup mengubah takdir seluruh makhluk hidup. Zhou Ji Ran memejamkan matanya, mendengarkan suara napas naga dan gemericik air, merasa benar-benar bebas untuk pertama kalinya.

"Aku akan memastikan dunia ini belajar satu hal... seorang petani adalah penguasa yang sesungguhnya," gumamnya sebelum terlelap dalam kedamaian malam yang murni.

Di luar, padi surgawi mulai mengeluarkan tunas emas pertamanya, memancarkan cahaya lembut yang menerangi seluruh desa, menandakan dimulainya era baru yang tidak akan pernah bisa dihapus oleh sistem mana pun.

1
anggita
pernah baca novel terjemahan yg ceritanya mirip ini di platform lain. tapi lupa judulnya🤭. dukung like👍, 2iklan☝☝.
anggita: oke👌Thor.
total 2 replies
anggita
Zhou Ji Ran.... joss 💪😊. moga lancar novelnya.
anggita
cerita yg cukup menarik..👍☝👌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!