NovelToon NovelToon
Chef Kirana Dan Jendral Berhati Dingin

Chef Kirana Dan Jendral Berhati Dingin

Status: tamat
Genre:Transmigrasi / Fantasi / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Kirana, Executive Chef bintang lima di Jakarta, mati konyol karena ledakan gas. Sialnya, dia malah terbangun di tubuh Putri Tantri—tokoh antagonis dalam novel sejarah yang baru saja meracuni adik angkat suaminya!
​Di hadapannya, Jenderal Arga sang "Iblis Perang Utara" sudah menghunus pedang, siap memenggal kepalanya.
​Tak mau mati dua kali, Kirana mengajukan penawaran gila: "Jangan bunuh aku dulu! Izinkan aku masak makanan terakhir!"
​Bermodalkan bawang merah, kecap manis buatan sendiri, dan teknik masak modern, Kirana bertekad mengubah takdir kematiannya. Siapa sangka, masakan lezatnya tak hanya menyelamatkan lehernya, tapi juga menyembuhkan maag kronis sang Jenderal dan mengguncang lidah satu kerajaan?
​Tapi hati-hati, Kirana! Musuhmu bukan cuma panci gosong, tapi juga pelakor bermuka dua dan intrik politik yang mematikan. Sanggupkah Kirana bertahan hidup di zaman kuno tanpa rice cooker dan kulkas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22: Lantai Licin, Hujan Tepung, dan Neraka Bubuk Cabai

​Malam yang sunyi di kediaman Jenderal.

Arga sudah "pergi" sejak sore tadi dengan iring-iringan pasukan yang mencolok (umpan).

Kini, rumah besar ini terasa kosong. Lampu-lampu dipadamkan, menyisakan kegelapan yang mencekam.

​Tapi di balik kegelapan itu, lantai licin karena minyak, tali pemicu terbentang, dan kantong-kantong "senjata kimia" tergantung di langit-langit.

Selamat datang di wahana Rumah Hantu Kirana. Tiket masuk: Nyawa.

​[Pukul 01.00 Dini Hari - Ruang Tengah]

​Aku duduk di kursi goyang di tengah kegelapan dapur yang terhubung ke ruang tengah. Di pangkuanku, ada mangkuk berisi Bubuk Cabai Setan (campuran cabai rawit kering, lada hitam, dan jahe bubuk).

Di tanganku, ada kipas sate yang siap kukibaskan.

​Jantungku berdegup kencang. Meskipun aku tahu Arga dan pasukan bayangan bersembunyi di balik lemari, di atas langit-langit, dan di bawah meja, tetap saja rasanya ngeri. Aku jadi umpan hidup.

​Krek.

​Suara genteng diinjak. Sangat pelan.

Lalu suara jendela dicongkel.

Mereka datang. Cakar Malam. Pembunuh bayaran elit yang konon tak pernah gagal.

​Tiga bayangan hitam meluncur masuk lewat jendela koridor utama. Gerakan mereka cepat, sunyi, seperti kucing.

Mereka melihat sekeliling. Sepi.

Target (aku) terlihat duduk sendirian di ujung ruangan, memunggungi mereka.

​Pemimpin mereka memberi isyarat tangan: Maju. Bungkam dia. Bawa pergi.

​Mereka melangkah maju dengan percaya diri.

Langkah pertama. Aman.

Langkah kedua. Aman.

Langkah ketiga...

​Mereka menginjak Zona 1: Area Dansa Minyak Jelantah.

​Aku sudah menuangkan 5 liter minyak bekas gorengan (yang sudah hitam dan kental) di lantai marmer koridor itu. Dalam kegelapan, minyak itu tidak terlihat.

​Sreeeet!

"Wuaaa!"

​Pembunuh pertama terpeleset hebat. Kakinya melayang ke udara, punggungnya menghantam lantai keras. BUKK!

Pembunuh kedua yang mencoba menolongnya ikut kehilangan keseimbangan karena licin. Dia jatuh tertelungkup, dagunya menghantam lantai. TAK!

Pembunuh ketiga (Pemimpin) berhasil menyeimbangkan diri dengan menancapkan pedangnya ke lantai kayu sebagai tongkat. Refleksnya bagus.

​"Sialan! Lantainya licin! Hati-hati!" desis Pemimpin.

​Mereka mencoba bangkit. Tapi minyak jelantah itu jahat. Setiap kali mereka mencoba berdiri, kaki mereka tergelincir lagi. Mereka seperti badut yang sedang main seluncuran.

​Aku menahan tawa mati-matian di kursiku.

​Mereka akhirnya memutuskan merangkak agar tidak jatuh. Harga diri pembunuh elit hancur sudah.

Mereka merangkak mendekati pintu penghubung ruang tengah.

​Saat mereka menyentuh ambang pintu, tangan Pemimpin menyenggol seutas benang halus yang kubentangkan setinggi lutut.

​Zona 2: Hujan Salju Tropis.

​Pufff!

Di atas pintu, kantong kertas yang sudah kusiapkan pecah.

Isinya: Tepung Terigu campur Tepung Kanji.

​Tepung putih itu jatuh mengguyur mereka bertiga.

Dalam sekejap, tiga pembunuh berbaju hitam itu berubah jadi putih seperti hantu pocong. Tepung masuk ke mata, hidung, dan mulut mereka.

Visibilitas: Nol.

​"Uhuk! Uhuk! Apa ini?! Mataku!"

​"Sekarang!" teriakku.

​Aku menyalakan api kecil di tungku. Cahaya api menerangi ruangan.

Mereka melihatku. Aku memakai masker kain basah.

Di tanganku, aku memegang mangkuk bubuk cabai.

​"Selamat datang di Dapur Tantri! Menu hari ini: Oseng-Oseng Mata Pembunuh!"

​Aku melempar segenggam bubuk cabai itu ke arah mereka yang masih sibuk mengucek mata kelilipan tepung.

Lalu, aku mengibaskan kipas sate sekuat tenaga.

​Wussssh!

​Angin membawa partikel bubuk cabai super pedas itu langsung ke wajah-wajah mereka.

Resep bencana: Mata iritasi kena tepung + Bubuk Cabai \= Neraka.

​"ARGHHHH! PANAS! MATAKU TERBAKAR!"

​Mereka menjerit histeris. Mereka berguling-guling di lantai berminyak, mencoba menghapus rasa pedas, tapi tangan mereka yang penuh tepung malah membuat adonan gorengan di wajah mereka sendiri.

Bersin-bersin, batuk, dan air mata bercucuran. Mereka lumpuh total.

​"Arga! Habiskan!" seruku.

​Dari balik bayang-bayang, Jenderal Arga melompat keluar.

Dia tidak pakai senjata tajam. Dia pakai balok kayu.

(Arga sedang mode "Suami Marah", dia ingin memukul orang, bukan cuma menusuk).

​BUK! BUK! BUK!

​Tiga kali pukulan, tiga pembunuh pingsan.

Arga berdiri di atas tubuh mereka yang berlumuran minyak, tepung, dan bubuk cabai.

"Kalian beruntung pingsan. Kalau sadar, aku akan menguliti kalian."

​Arga menendang senjata mereka jauh-jauh, lalu berlari ke arahku.

"Kau tidak apa-apa?"

​"Aku baik-baik saja," aku membuka maskerku, tersenyum puas. "Cuma agak sesak napas nahan ketawa."

​Wira dan pasukan bayangan muncul, menyalakan lampu. Mereka melongo melihat kondisi tiga pembunuh elit "Cakar Malam" yang legendaris itu.

Mereka tampak seperti adonan mendoan siap goreng.

​"Ikat mereka," perintah Arga dingin. "Seret ke ruang bawah tanah. Siapkan air garam dan jeruk nipis. Aku ingin mereka bernyanyi sebelum fajar."

​[Ruang Bawah Tanah - 1 Jam Kemudian]

​Tiga pembunuh itu sudah sadar (karena disiram air). Mereka terikat di kursi. Wajah mereka bengkak merah, mata mereka bengkak sebesar telur ayam karena iritasi cabai.

​Arga duduk di hadapan mereka, memainkan pisau Damaskus milikku.

"Siapa yang menyuruh kalian?"

​Pemimpin Cakar Malam meludah. "Kami profesional. Kami tidak jual nama klien."

​"Profesional?" Arga tertawa menghina. "Profesional yang dikalahkan oleh tepung terigu dan bumbu dapur? Kalian adalah lelucon."

​Arga menempelkan pisau dingin ke leher si Pemimpin.

"Istriku sedang hamil. Kalian mencoba menculiknya. Kalian membuat anakku kaget. Itu dosa yang tak termaafkan."

​"Bicara, atau aku akan menyuruh istriku memasak 'sup' dari jari-jari kalian."

​Pemimpin itu gemetar. Dia ingat rasa pedas bubuk cabai tadi. Dia lebih takut pada "Istri Koki Gila" itu daripada pada Jenderal Arga.

​"S... Sengkuni!" teriaknya menyerah. "Perdana Menteri Sengkuni! Dia membayar kami 5000 koin emas! Dia ingin Nyonya Tantri diculik untuk memeras Jenderal agar mundur dari jabatan!"

​"Ada buktinya?"

​"Surat perintah! Di saku baju saya! Ada stempel cincin Sengkuni!"

​Wira merogoh saku si pembunuh (yang penuh adonan tepung). Dia menemukan gulungan kecil.

Dibuka.

Benar. Ada perintah penculikan dan stempel lilin merah berlambang Teratai Hitam—lambang pribadi Sengkuni.

​Arga mengambil surat itu. Matanya berkilat.

"Akhirnya. Bukti fisik yang tidak bisa disangkal."

​[Pagi Hari - Balairung Istana Kerajaan]

​Raja sedang duduk di singgasana, mendengarkan laporan rutin menteri. Sengkuni berdiri di barisan depan, wajahnya tenang seolah tak berdosa. Dia yakin saat ini Tantri sudah diculik dan Arga sedang panik mencarinya.

​Tiba-tiba, pintu utama Balairung terbuka lebar.

BRAK!

​Jenderal Arga masuk dengan langkah tegap, zirah perangnya berkilauan. Di belakangnya, pasukan menyeret tiga "adonan hidup" (para pembunuh yang masih belepotan tepung).

Dan di samping Arga, aku berjalan dengan kepala tegak, memegang perut buncitku.

​"Jenderal Arga?" Raja kaget. "Bukankah kau sedang inspeksi?"

​"Itu hanya tipuan, Yang Mulia," suara Arga menggelegar. "Untuk menangkap tikus besar yang ada di ruangan ini."

​Arga melempar tiga pembunuh itu ke hadapan Raja.

"Tiga orang ini mencoba menculik istri saya semalam. Mereka adalah pembunuh bayaran Cakar Malam."

​Sengkuni pucat pasi. Kakinya lemas. Bagaimana mungkin mereka gagal?!

​"Dan ini," Arga mengangkat surat perintah dengan stempel Sengkuni. "Adalah bukti siapa dalangnya."

​"Yang Mulia Raja!" teriak Arga, menunjuk wajah Sengkuni. "Perdana Menteri Sengkuni telah melakukan percobaan penculikan terhadap keluarga Jenderal, dan pengkhianatan terhadap negara! Saya menuntut keadilan!"

​Raja membaca surat itu. Wajahnya merah padam karena murka. Stempel itu asli.

​"Sengkuni..." suara Raja rendah tapi mematikan. "Apa pembelaanmu?"

​Sengkuni gemetar. Dia melihat sekeliling. Tidak ada yang membelanya. Panji tersenyum sinis di pojokan.

"I-itu palsu! Saya dijebak! Arga memalsukan stempel saya!"

​"Cukup!" potong Raja. "Stempel Teratai Hitam tidak bisa dipalsukan. Hanya kau yang memegangnya."

​"PENGAWAL! TANGKAP SENGKUNI!"

​Dua pengawal kerajaan langsung meringkus Sengkuni. Jubah kebesarannya dilucuti. Mahkota menterinya ditarik.

Pria yang paling ditakuti di pemerintahan itu kini diseret seperti maling ayam.

​Saat melewati kami, Sengkuni menatapku dengan mata penuh kebencian.

"Ini belum berakhir, Tantri! Kau... kau wanita iblis!"

​Aku tersenyum manis, memegang perutku.

"Hati-hati di penjara, Paman. Kudengar makanannya hambar. Sayang sekali kau tidak bisa pesan martabakku di sana."

​Sengkuni diseret keluar.

Sorak sorai membahana di istana. Tirani Sengkuni berakhir.

​Raja turun dari singgasana, menghampiri kami.

"Arga, Tantri. Maafkan kebutaanku selama ini. Kalian telah menyelamatkan kerajaan dari parasit."

​"Sebagai ganti rugi..." Raja tersenyum. "Arga, kau kuangkat menjadi Maha Patih (Perdana Menteri) menggantikan Sengkuni. Dan Tantri... kau bebas meminta satu permintaan apapun dariku."

​Aku berpikir sejenak. Permintaan apapun?

Emas? Tanah? Gelar?

​Aku menatap Arga, lalu menatap perutku.

Aku punya satu ide gila untuk masa depan anakku dan masa depan kuliner negeri ini.

​"Yang Mulia," kataku. "Hamba minta izin dan modal untuk mendirikan Sekolah Kuliner Kerajaan pertama. Hamba ingin mendidik generasi baru yang tidak hanya pandai perang, tapi pandai mengolah pangan. Karena pangan adalah ketahanan negara."

​Raja tertawa senang. "Permintaan yang mulia! Dikabulkan!"

​[Epilog ]

​Sengkuni dipenjara seumur hidup. Harta bendanya disita (termasuk kebun teh yang sudah jadi milik Arga).

Laras? Tanpa pelindung, dia diusir dari kediaman Jenderal dan dikirim ke biara terpencil untuk "bertobat".

Diah Pitaloka? Dia memilih pulang kembali ke luar negeri karena malu kalah saing.

​Dan aku?

Aku bukan lagi sekadar Tantri si Istri Jahat.

Aku adalah Nyonya Maha Patih.

Pemilik jaringan bisnis Cafe Nusantara.

Kepala Sekolah Kuliner.

Dan calon ibu dari anak Jenderal yang paling tampan se-kerajaan.

​Hidup Kirana di tubuh Tantri berjalan sempurna.

Kecuali satu hal...

​Saat malam tiba, aku sering bermimpi.

Mimpi tentang dunia asliku.

Mimpi tentang kompor gas, internet, dan AC.

Dan dalam mimpi itu, aku mendengar suara samar-samar...

"Dokter! Pasien di kamar 302... detak jantungnya meningkat! Dia mulai sadar dari koma!"

​Aku terbangun dengan keringat dingin.

Apakah... tubuh asliku di masa depan sedang bangun?

Jika aku bangun di sana... apa yang terjadi denganku di sini?

Apa aku akan meninggalkan Arga dan anak dalam kandunganku?

...****************...

...Bersambung.......

...Terima kasih telah membaca📖...

...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...

...****************...

1
ms. S
novel dgn bab sedikit tapi cerita ga kaleng2. tuntas dan jelas. cerita jendral dan chef dan masa lalu. good job Thor.
Nunung Elasari
recommended, ceritanya bagus.......
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR🪡
Ada kelegaan yang menyumbat rongga dada,
Kasih di mana tak dapat bersatu di masa itu ,kembali bereinkarnasi menemui cinta abadi nya.
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
cinta Arga membawa nya ke masa depan
tak berjodoh di masa lalu
berjodoh di masa depan
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
tdk bisa kah takdir di rubah kembali
Tantri akan bahagia bersma jenderal dan putra nya
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
seluruh istana pasti berduka atas hilangnya Tantri yang istimewa
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
waduhh , kisah masa lalu bisa kacau kembali ini
kalau Tantri kembali ke masa depan
apa tantrii sebenarnya yg telah meninggal
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
huhuhu.. /Sob/ bagaimana kelanjutannya ini thor? semoga happy ending..
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
taktik gerilyaa apalagi tantri
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR🪡
pengorbanan seorang ibu tidak akan pernah sia2, ....
siapa tahu "SUARA" itu akan tersentuh oleh ketulusan cinta kalian.
Hingga nanti semua akan berakhir bahagia
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
udah ngaku aja daripada disuruh makan ceker mercon yg isinya potongan jari2 sendiri 🙈🙀
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
tambahin irisan kol dan daun bawang 😆😆
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
gak main main, 5 liter minyak jelantah 🤣🤣
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR🪡
kAlau kirana bangun ,tantri kembali kesetelan awal donk🤣,kecuali tersisa memori dan sedikit keahlian kirana agar tantri hidupnya tak sengsara dengan kehilangan keahliannya.
Ahh ...kirana jangan kau kacaukan dulu perjalanan mereka, biar berdiri dulu sekolah tata boga tantri dan sukses mencetak lulusan terbaik baru kau kembali ke asalmu😄
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
refresh tenaga dlu ya tantrii
musuh baru akan segera datang
🤣
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR🪡
Bebek timbung = bebek betutu, hhmmm yummy....
besok masakin bebek bengil yaa kirana, dengan lawar sayuran pedas🤤
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
yoo jadikan si cakar ayam bulan2an, yg kepleset minyak, kesiram air, kena tepung, kejepit pintu 🥳🥳🥳
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ: panjangin listnya /Determined//Determined//Scream//Scream//Scream/
total 2 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
eeh kirain namanya Pembunuh Bayaran Cakar Ayam 🤣🤣
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
cinta lama sulit terganti kan ya Diah
sampai segala cara di pake buat merebut arga
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
mantan jenderal kembali
seperti apa kisah cinta mu jenderal
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!