Soren Ravensdale-seorang assassin yang tak pernah gagal menjalankan misinya kini harus menerima kenyataan pahit ketika sahabat yang ia percaya-Vera, justru mengkhianatinya. Bukan hanya itu, Vera juga terlibat dalam pembunuhan adik angkatnya, Ellian Sorrel dan ternyata semua telah direncanakan atas perintah langsung dari ketua mereka sendiri.
Janji bahwa keluarga para anggota akan aman ... ternyata hanyalah kebohongan.
Dengan luka tembak di perutnya, Soren memilih mengakhiri hidupnya dengan kepercayaannya yang hancur dan terjun ke dasar jurang. Namun bukannya mati, ia justru terbangun di tubuh seorang gadis rapuh dengan wajah yang sangat mirip dengannya.
Yang kini statusnya adalah menjadi istri seorang Letnan Kolonel yang dingin dan penuh rahasia.
Dari seorang assassin menjadi seorang istri, apakah Soren benar-benar bisa berhenti dari dunia yang sudah menelan hidupnya atau justru kehidupan barunya hanya akan menyeretnya kembali ke lingkaran kejahatan yang lebih gelap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luo Aige, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membalaskan Dendam
Plak!
Wajah gadis itu terlempar ke samping. Bunyi tamparan itu begitu nyaring seakan memecah dengung suara di dalam kepalanya. Pipi kirinya terasa panas, perihnya menjalar cepat sampai ke pelipis. Kedua matanya sempat terpejam rapat. Ia ingin membukanya, tetapi suara-suara yang bertumpuk di sekelilingnya ... gelas beradu, bisik-bisik menusuk, helaan napas penuh rasa ingin tahu, membuat kepalanya berdenyut tidak nyaman.
“Aveline, kau tuli? Atau memang sengaja ingin mempermalukan keluarga ini di depan semua orang?!”
Suara perempuan itu tajam, tinggi, dan dipenuhi nada muak yang tidak berusaha disembunyikan sedikit pun.
Perlahan, Soren membuka mata.
Pandangan yang semula kabur mulai membentuk rupa. Di hadapannya berdiri seorang wanita muda berambut cokelat half-up braided bun yaitu rambut yang disanggul setengah dengan kepang halus, hiasan kepala dan beberapa helaian dibuat jatuh sengaja di sisi wajahnya agar terlihat anggun. Bola matanya biru, namun bukan biru yang menenangkan. Tatapannya penuh congkak, seolah orang di depannya bahkan tidak pantas berdiri sejajar dengannya. Bibirnya melengkung tipis, bukan senyum yang ramah, melainkan senyum yang terbiasa memandang rendah.
Soren berusaha mengatur napas. Tubuhnya terasa aneh. Ringan, namun lemah. Dadanya masih terasa sesak, seakan sisa rasa dingin dari angin di tepi jurang belum benar-benar pergi. Ingatannya berkedip-kedip tidak utuh. Tentang jurang gelap tanpa dasar, malam yang kelam, darah di tubuhnya, pistol serta pengkhianatan Vera yang ia rasakan begitu menyakitkan.
Bukankah terakhir kali ia memilih menjatuhkan dirinya sendiri?
“Bangun!”
Perempuan itu membentak lagi. Jemarinya langsung mencengkeram lengan Soren dengan kasar, menarik tubuhnya yang tadi sempat jatuh tersungkur di lantai. Tarikan itu tidak memberi ruang untuk bernapas, seolah ia sedang mengangkat kain kotor, bukan manusia.
Soren akhirnya berhasil mengangkat pandangan lebih jelas ke sekeliling.
Ruangan itu luas, terang, dan mewah dengan cara yang asing. Langit-langitnya tinggi, dihiasi ukiran emas pucat yang berkilau tertimpa cahaya lampu gantung kristal. Dindingnya dipenuhi panel kayu gelap yang dipoles halus, sementara tirai-tirai panjang berwarna gading menjuntai dari jendela tinggi sampai hampir menyentuh lantai marmer. Meja-meja panjang berjajar rapi dengan kain meja putih susu, lilin-lilin ramping menyala di atas penyangga perak, dan vas bunga putih tersusun di tengah seperti lambang kemewahan yang disengaja.
Para tamu mengenakan pakaian yang membuat Soren sempat terpaku beberapa detik.
Gaun-gaun para wanita terlihat seperti campuran kemegahan bangsawan lama dan potongan semi-modern yang rapi. Rok mereka mengembang lembut, bertumpuk kain satin dan brokat, pinggang dicekat ketat, lengan panjang dihiasi renda halus, sementara leher dipenuhi mutiara dan batu permata. Para pria mengenakan seragam resmi berpotongan militer atau jas ekor panjang dengan kancing logam, epaulet di pundak, sarung tangan putih, sepatu mengilap, dan medali-medali yang berkilau di dada. Semuanya terlihat seperti dunia yang tidak seharusnya masih ada, tapi tetap hidup dan megah di depan matanya.
Soren menatap mereka tanpa berkedip.
Ini jelas bukan Vienna ataupun tempat dirinya terjatuh ke dasar jurang.
Lalu suara bisik-bisik mulai semakin jelas, menusuk telinga satu per satu.
“Bukankah itu adalah gadis yang dinikahi Letnan Kolonel William tiga bulan lalu?”
“Gadis yang berasal dari desa dan masuk ke dalam keluarga Grimwald itu? Astaga, benarkah dia? Kondisinya menyedihkan sekali.”
“Kurasa benar. Lihat wajahnya. Pucat, kurus, dan memalukan. Tidak seperti perempuan yang baru saja menjadi istri seorang perwira tinggi.”
“Tapi bukankah itu memang sudah diduga sejak awal?”
Seorang wanita bangsawan menutup sebagian bibirnya dengan kipas, tetapi suaranya sengaja dibuat cukup keras untuk didengar orang lain.
“Semua orang tahu Letnan Kolonel William tidak menginginkan pernikahan itu. Pada malam pertama saja dia meninggalkannya di rumah besar itu dan tidak pernah benar-benar kembali. Sungguh, penghinaan seperti itu bahkan belum pernah kudengar menimpa seorang istri sah.”
“Tidak hanya itu,” sahut wanita lain, matanya berbinar penuh rasa haus pada gosip. “Aku mendengar dari pelayan bibiku yang bekerja di kediaman utara—katanya nyonya baru itu bahkan tidak pernah disentuh. Kamar pengantin dibiarkan dingin seperti mausoleum. Pengantin perempuannya sendirian, sementara suaminya pergi sebelum fajar.”
“Benarkah?” tanya yang lain, pura-pura terkejut. “Maka itu lebih buruk dari sekadar tidak dicintai. Itu berarti dia bahkan tidak diakui.”
“Diakui? Jangan bercanda. Dia itu hanya anak selir,” ucap seorang wanita yang tampaknya lebih tua, dengan nada datar namun kejam. “Apa yang bisa diharapkan dari gadis seperti dia? Menjadi pengganti saja sudah seharusnya ia bersyukur.”
“Pengganti?”
“Kau belum dengar? Yang seharusnya menikah dengan Letnan Kolonel William itu bukan dia, melainkan putri sah keluarga Grimwald yaitu Lady Lilian de Grimwald. Tapi nona bangsawan itu menolak. Katanya pria itu terlalu dingin, terlalu menakutkan, dan banyak rumor mengatakan dia sama sekali tidak tertarik dengan wanita. Jadi pada akhirnya keluarga mereka mendorong anak selir itu ke altar. Bukankah itu jelas?”
“Jadi dia benar-benar hanya korban buangan.”
“Korban?” Wanita lain mendengus pelan. “Jangan membuatnya terdengar menyedihkan. Gadis seperti itu justru beruntung bisa terangkat derajatnya. Kalau aku jadi dia, aku akan diam, menunduk, dan mencium lantai tempat keluarga Grimwald berpijak.”
Beberapa orang tertawa lirih.
“Bagaimanapun juga,” kata seorang pria muda sembari memutar gelas anggurnya. “Nasibnya sudah terlihat sejak awal. Seorang istri yang tidak diinginkan suami, tidak dihormati keluarga sendiri, dan tidak punya siapapun di belakangnya. Cepat atau lambat, hidupnya akan habis begitu saja.”
“Jangan bilang begitu. Kasihan sekali,” ucap seorang wanita dengan nada yang sama sekali tidak terdengar kasihan. “Lihat saja bagaimana dia datang ke perjamuan seperti pengemis yang tersesat. Apa dia berharap Letnan Kolonel William tiba-tiba tersentuh dan datang menyelamatkannya?”
“Mustahil. Pria itu bahkan tidak memandang perempuan seperti dia.”
“Tepat. Kalau memang Letnan Kolonel William sudah memiliki wanita yang dicintainya, maka Aveline de Grimwald hanya akan jadi nama yang tertulis di dokumen pernikahan. Tidak lebih.”
“Dan setelah itu?” Seorang wanita tersenyum tipis. “Setelah itu, ia akan menua sendirian di rumah besar, menjadi bahan belas kasihan para pelayan, sampai akhirnya mati tanpa seorang pun peduli.”
Suara tawa kecil kembali menyebar.
Soren masih diam.
Ia tidak menunduk ataupun langsung bereaksi. Tatapannya hanya bergerak perlahan dari satu wajah ke wajah lain, seolah sedang memotret seluruh ruangan itu ke dalam kepalanya. Setiap senyum sinis, setiap mata yang berkilat puas melihat seseorang dipermalukan, setiap kalimat yang dibungkus sopan santun namun berisi racun, semuanya masuk dengan jelas.
Lalu perempuan di depannya ... yang sejak tadi menarik lengannya, kini akhirnya berjongkok.
Harum parfum mahal dan rasa manis berlebihan dari bunga-bunga rambutnya menusuk hidung. Perempuan itu mengangkat dagu Soren dengan dua jari, memaksa wajah mereka sejajar. Gerakannya halus, tetapi merendahkan. Seperti seseorang yang sedang memeriksa barang cacat.
“Aveline,” katanya lirih, namun cukup keras agar orang-orang di sekitar mendengar. “Bukankah aku sudah memperingatkanmu untuk tidak menampakkan wajahmu di sini selama acara berlangsung?”
Senyumnya melebar setipis bilah pisau.
“Kenapa kau selalu gagal memahami posisi dirimu sendiri?”
Tatapan mereka bertemu.
Dan pada detik itu juga, sesuatu seakan menghantam kepala Soren.
Bukan suara ataupun cahaya. Melainkan sekelabat ingatan yang datang terlalu cepat dan terlalu tajam.
Ia melihat lorong panjang di rumah besar yang dingin. Seorang gadis muda dengan tubuh lebih rapuh yang memiliki wajah sepertinya, memegang sisi rok kusamnya dengan gemetar. Suara yang sama dengan wanita di depannya memanggil dengan nada menghina. Tangan yang sama pula menjambak rambutnya tanpa alasan. Wajah yang sama kemudian menamparnya karena hal-hal kecil yang bahkan tidak layak disebut sebagai kesalahan.
Ia melihat Aveline.
Aveline yang menahan napas saat disiram teh yang sengaja dibuat terlalu panas. Aveline yang dipaksa berlutut di lantai marmer sampai lututnya lebam. Aveline yang dituduh mencuri pita, padahal pita itu dilemparkan sendiri ke dalam kamarnya. Aveline yang pipinya memerah karena tamparan hingga bibirnya pecah karena disudutkan tanpa bisa membela diri. Aveline yang hidup di rumah besar itu bukan sebagai anak keluarga, melainkan lebih rendah daripada pelayan.
Ingatan lain menyusul.
Sebuah ruang makan keluarga. Seorang pria paruh baya berwajah keras—Marquis Edmund de Grimwald, duduk di ujung meja dan berbicara seolah sedang membahas transaksi barang, bukan nasib anaknya sendiri. Di sebelahnya, seorang wanita bangsawan dengan tatapan dingin mengerutkan bibir penuh jijik. Lalu gadis di depannya sekarang—Lilian de Grimwald menangis menolak pernikahan.
“Aku tidak mau menikah dengannya! Semua orang bilang pria itu kejam. Dia menyeramkan. Dia bahkan tidak pernah tersenyum.”
“Keluarga kita tidak bisa menolak hubungan ini,” kata sang Marquis dingin.
“Kalau begitu suruh dia!” Lilian menunjuk ke arah sudut ruangan, tempat Aveline berdiri dengan kepala menunduk. “Bukankah dia sama-sama putri Grimwald? Pakai dia saja. Toh sejak awal dia memang hanya berguna untuk hal seperti ini.”
Seolah kalimat itu adalah hal paling wajar di dunia.
Aveline tidak memberi tanggapan apapun, seakan ia mengerti jika dirinya ikut menolak hanya akan menambahkan masalah yang lebih besar darinya.
Lalu pemandangan berganti lagi. Aveline mengenakan gaun pengantin putih pucat dengan mata kosong, berdiri sendirian di altar. Di sampingnya, seorang pria tinggi dengan seragam militer gelap tampak dingin seperti patung. Wajahnya tatapannya tajam dengan rahang tegas, dan sama sekali tidak menunjukkan emosi. Nama yang bergema di kepala Aveline saat itu muncul jelas dalam benak Soren sekarang.
William Caldoré.
Letnan Kolonel William Caldoré.
Di malam pernikahan ... rumah besar. Kamar pengantin yang terlalu luas dan terlalu sunyi. Aveline duduk sendiri di tepi ranjang, masih mengenakan gaun putihnya, menunggu sampai lilin-lilin mengecil dan malam menjadi dingin. Tak ada yang datang, langkah kaki ataupun suara pintu terbuka.
Ia benar-benar ditinggalkan.
Ingatan itu pecah.
Soren kembali ke ruangan perjamuan dengan napas yang terasa sedikit lebih berat. Mata biru di depannya masih menatapnya dari jarak sangat dekat, penuh penghinaan lama yang sudah terlalu sering dilakukan. Suara di sekitar belum berhenti. Beberapa tamu kini bahkan semakin tertarik karena melihat Aveline tetap diam seperti orang linglung.
“Lihat, dia menatap Lilian seperti orang bodoh.”
“Mungkin akhirnya dia sadar dirinya tidak diinginkan di sini.”
“Atau mungkin dia berharap kakak tirinya akan berbaik hati untuk sekali saja.”
“Berbaik hati?” Seorang wanita tertawa kecil. “Pada anak selir? Tidak mungkin.”
“Kasihan sekali. Bahkan setelah dijadikan tumbal keluarga, dia masih cukup tidak tahu malu untuk datang ke sini.”
“Mungkin dia ingin memohon agar dibawa pulang.”
“Ke mana? Ke rumah keluarga Grimwald? Astaga, itu lebih tidak tahu diri lagi.”
“Bukankah seharusnya dia tetap bersembunyi di rumah suaminya? Menjadi istri yang patuh, menunggu suami yang tidak pulang, dan mati perlahan dengan anggun?”
“Kalau aku jadi dia, aku akan tenggelamkan wajahku sendiri di wastafel daripada berdiri di sini dipandang semua orang.”
Lilian masih memegangi dagunya. Jemarinya sedikit menekan, puas melihat Aveline tidak segera meronta seperti biasanya.
“Aku sedang bicara padamu,” katanya pelan, suaranya kini terdengar seperti ancaman yang dibungkus kelembutan palsu. “Apa kau begitu putus asa sampai harus menyeret nama keluarga ini ke bawah di depan para tamu? Lihat sekelilingmu, Aveline. Tempat ini bukan untuk orang sepertimu.”
Soren menatap lurus ke matanya.
Tatapan itu berubah.
Bukan lagi tatapan bingung, lemah ataupun kosong seperti yang mungkin selalu dilihat Lilian dari Aveline selama ini. Ada sesuatu yang dingin muncul perlahan dari dasar sorot matanya, seperti lapisan es tipis yang menutup permukaan danau sebelum musim dingin benar-benar datang.
Lilian masih belum menyadarinya.
Sebaliknya, ia malah tersenyum semakin sinis, mengira keheningan itu sebagai ketakutan.
“Kau dengar aku, bukan?” bisiknya. “Atau perlu kuingatkan lagi siapa dirimu sebenarnya?”
Soren tidak menjawab.
Namun di dalam kepalanya, kata-kata itu terdengar sangat jelas dalam benaknya.
‘Gadis yang malang.’ Kalimat itu bukan ditujukan untuk dirinya sendiri.
Melainkan pada pemilik tubuh ini.
Untuk Aveline de Grimwald gadis desa yang diperlakukan semena-meba, dipukul, diinjak, dijadikan pengganti, lalu dibuang ke pernikahan yang tidak diinginkan siapapun dan gadis yang tidak pernah diberi kesempatan membela diri sejak lahir.
Baiklah, Soren membatin.
Aku akan membalaskannya untukmu, Aveline de Grimwald.
Lilian baru menyadari perubahan itu ketika jemari Soren bergerak cepat menepis tangannya dari dagu. Senyum sinis di wajah gadis bangsawan itu sempat goyah, hanya sepersekian detik, karena ekspresi di hadapannya tidak lagi sama. Di matanya tidak ada lagi rasa takut yang membuatnya terus menunduk, melainkan hanya ada tatapan datar yang jauh lebih mengerikan daripada amarah.
Dan sebelum siapa pun sempat memahami apa yang akan terjadi—
Plak!
Tubuh Lilian terhuyung ke samping. Langkahnya goyah, tumitnya tergelincir di lantai marmer sebelum akhirnya ia jatuh setengah terduduk. Sanggulnya sedikit berantakan, napasnya terputus-putus antara kaget dan tidak percaya.
Ruangan yang tadinya riuh langsung berubah gaduh. Beberapa bangsawan menutup mulut, sebagian lainnya mundur tanpa sadar, seolah satu langkah lebih jauh bisa menjauhkan mereka dari keributan itu.
Di hadapannya, Aveline tampak bangkit berdiri dengan tenang. Tidak terburu-buru dan sedikit terukur. Justru terlalu stabil untuk seseorang yang selama ini hanya dikenal diam dan tunduk.
Ia melangkah mendekat. Sementara Lilian mengangkat wajahnya. Matanya bergetar, lalu mengeras. “Kau berani sekali menamparku!”
Suaranya meninggi, campuran antara marah dan rasa terhina yang belum pernah ia rasakan sebelumnya dari Aveline.
Soren hanya tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke mata. “Tidak hanya ingin menamparmu,” ucapnya pelan, nada suaranya datar namun dingin. “Aku bahkan sedang menahan diri untuk tidak membunuhmu.”
Belum sempat Lilian membalas, tangan Soren sudah lebih dulu bergerak. Ia menjambak rambut Lilian tanpa ragu, menariknya kuat hingga kepala gadis itu terangkat paksa. Kulit kepalanya terasa seperti ditarik lepas, membuat napas Lilian tercekat.
“Lepaskan! Dasar gadis jalang!”
Soren tidak menjawab.
Kakinya bergerak cepat. Satu tendangan menghantam dada Lilian, membuat tubuhnya terdorong ke belakang. Lilian terbatuk, tangannya refleks menahan dadanya yang nyeri. Matanya mulai menunjukkan sesuatu yang berbeda—bukan hanya marah, tapi juga kebingungan.
Aveline … tidak pernah seperti ini. Sama sekali.
Bisik-bisik di sekitar semakin liar, beberapa tamu bahkan mulai benar-benar menjauh, menjaga jarak dari dua bersaudara itu. Namun Soren belum selesai. Tatapannya beralih ke lantai, menangkap sesuatu di dekat kakinya. Sepatu hak tinggi milik Lilian yang terlepas saat ia jatuh, tergeletak miring.
Soren membungkuk, mengambilnya. Ia menimbang sepatu itu di tangannya, memutar sedikit, memperhatikan ujungnya yang lancip. Senyum aneh muncul di bibirnya, tipis. Tapi cukup untuk membuat siapapun yang melihatnya merasa tidak nyaman. Lalu ia berjalan kembali.
Langkahnya pelan, tapi pasti. Mata Lilian melebar. Tenggorokannya terasa kering, instingnya berteriak bahaya.
“Kau … apa yang akan kau lakukan?!”
Nada suaranya kini jelas panik.
Tak ada jawaban.
Hanya jarak yang semakin dekat. Beberapa bangsawan langsung menutup mata, yang lain memalingkan wajah, tidak berani menyaksikan lebih jauh.
Soren berhenti tepat di depan Lilian.
Tangannya kembali terangkat.
Dan dalam satu gerakan cepat ....
Prakk!
Ujung heels itu menghantam wajah Lilian dengan benturan yang tajam—terlalu kejam untuk sekadar memberi luka.
.
.
.
Bersambung
Aveline de Grimwald 👇
Lilian de Grimwald👇