Cinta adalah anugerah... tapi bagaimana jika cinta harus kamu berikan pada orang lain?
Aletta syavira levania dan Dilan Wijaya Kusuma saling mencintai sejak SMA – cinta yang tumbuh perlahan seperti bunga di musim hujan. Namun ketika sahabatnya Tamara Amelia Siregar mengaku jatuh cinta pada Dilan untuk pertama kalinya, Aletta membuat keputusan berat, melepaskan orang yang dicintainya demi menyenangkan sahabatnya.
"Dia butuh kesempatan, aku mohon Dilan, aku jaminan kamu akan lebih bahagia sama dia." Ucapnya dengan nada yang memelas sampai Dilan pun tak tega untuk menolaknya
Untuk memenuhi janjinya, Aletta mencari cinta baru melalui media sosial dan bertemu Jonathan Adista sanjaya. Sementara itu, Dilan dengan berat hati menjalin hubungan dengan Tamara. Di depan orang lain, semuanya terlihat sempurna – dua pasangan yang harmonis dan bahagia. Namun di balik senyum dan candaan, setiap tatapan Aletta dan Dilan menyimpan rasa rindu yang tak bisa disembunyikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Setelah bekerja keras seharian di panti jompo, lalu harus menghadapi kejadian buruk dan membersihkan rumah yang tergenang air sampai larut malam, tenaga dan energi mereka benar-benar habis terkuras.
Badan mereka terasa sangat pegal, berat, dan mata mereka rasanya sudah tidak sanggup lagi dibuka.
"Ya ampun... Rasanya tulang-tulang gue kayak mau copot semua deh. Capek banget rasanya," keluh Luna sambil mengelus punggungnya yang terasa nyeri.
"Iya nih, gue juga rasanya udah nggak ada tenaga lagi. Kaki rasanya kayak gumpalan kapas, lemas banget," sambung Cika sambil duduk lesu di lantai ruang depan.
"Udah deh, teman-teman... Kita istirahat di sini aja ya malam ini. Rasanya nggak sanggup deh jalan ke kamar, jaraknya terasa jauh banget," usul Widi sambil merebahkan badannya di atas karpet ruang tamu.
"Iya, gue setuju. Di sini kan luas, adem, dan kita bareng-bareng semua. Lebih aman dan nyaman rasanya," kata Silvia langsung ikut berbaring di sebelah Widi.
"Eh, tunggu dong! Jangan tidur duluan, gue mau di tengah biar nggak takut," seru Oca cepat-cepat merebahkan dirinya di antara teman-temannya.
Aletta dan Marina pun ikut berbaring di sisi lain. Mereka berbaring berhimpitan, saling mendekatkan diri satu sama lain, ada yang beralaskan karpet, ada yang beralaskan tikar, bahkan ada yang hanya beralaskan kain seadanya.
"Enak ya rasanya kalau kita tidur bareng begini... Rasanya hangat dan aman banget," bisik Aletta sambil memejamkan matanya perlahan.
"Iya... Makasih ya teman-teman udah nemenin gue terus selama ini. Kalau sendirian, mungkin gue udah lari pulang dari kemarin," jawab Oca dengan suara yang sudah mulai berat karena kantuk.
"Hahaha, mana boleh lari! Kita harus hadapi bareng-bareng kan? Udah tidur aja, selamat malam semuanya," kata Widi dengan suara lembut.
Dalam sekejap mata, tanpa sempat mengobrol lebih lanjut, mereka semua sudah terlelap dalam tidur yang sangat lelap. Napas mereka terdengar teratur dan damai, bukti bahwa tubuh dan pikiran mereka benar-benar butuh istirahat panjang.
Mereka tertidur begitu pulasnya hingga tidak menyadari waktu berlalu. Saat mereka mulai terbangun perlahan karena merasa agak kedinginan dan perut yang lapar, mereka melihat ke luar jendela. Ternyata langit sudah benar-benar gelap gulita, bintang-bintang sudah bersinar di angkasa, dan waktu sudah menunjukkan menjelang waktu ibadah malam.
"Hhhhaaaammm...," Widi menguap panjang sambil mengucek matanya. Ia melihat ke luar dan langsung kaget. "Eh? Kok udah gelap banget sih?! Kita tidur dari jam berapa tadi?"
"Ya ampun, beneran lho! Langit udah hitam pekat gini," kata Cika ikut terbangun dan melihat ke arah jendela.
"Berarti udah masuk waktu Isya dong? Coba lihat jam berapa sekarang?" tanya Marina sambil duduk tegak mengumpulkan kesadarannya.
"Jam udah hampir delapan malam, teman-teman. Wah, lama juga kita tidurnya," jawab Silvia setelah melihat jam dinding.
"Ya sudah, ayo kita ambil air wudhu terus shalat berjamaah yuk. Biar hati dan rumah ini makin tenang dan damai," ajak Aletta sambil bangkit berdiri.
"Setuju! Itu hal pertama yang harus kita lakukan sekarang. Udah, ayo bangun semuanya, jangan malas-malasan lagi," kata Luna menyemangati teman-temannya yang masih tampak mengantuk.
Mereka pun bergegas bangkit, merapikan rambut dan pakaiannya seadanya, lalu berjalan beriringan ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Setelah selesai, mereka berkumpul kembali di ruang depan tempat mereka tidur tadi.
"Siapa yang jadi imam nih?" tanya Oca dengan wajah antusias.
"Gue aja ya, kalau kalian nggak keberatan," tawar Silvia.
"Boleh banget! Silvia kan suaranya bagus dan lancar bacanya," jawab Widi menyetujui.
Mereka pun melaksanakan shalat Isya secara berjamaah dengan sangat khusyuk. Di dalam doa mereka, ada rasa syukur yang mendalam karena sudah diberi kekuatan untuk melewati hari yang berat itu, dan ada harapan agar kedamaian selalu menyertai mereka.
Setelah shalat, mereka tidak langsung bubar. Seperti yang sudah menjadi kebiasaan dan cara mereka menenangkan hati, mereka duduk melingkar dan mulai membaca ayat-ayat suci bersama-sama.
"Yuk, kita baca Surat Al-Baqarah bersama-sama ya, ayatnya panjang tapi konon katanya bisa mengusir segala gangguan," ajak Silvia memulai.
"Ayo, gue ikut!" seru Aletta.
"Gue juga," sambung yang lain serentak.
Suara bacaan mereka terdengar merdu, tenang, dan menyejukkan hati, bersahutan satu sama lain, seolah menjadi tameng yang kuat untuk melindungi diri mereka dan rumah ini dari segala hal buruk.
Setelah selesai beribadah dan hati mereka terasa begitu tenang dan damai, mereka bersiap untuk kembali beristirahat.
Kali ini mereka memutuskan tetap tidur bersama di ruang depan, merasa tempat itu paling aman dan nyaman bagi mereka. Lampu ruangan tetap dinyalakan terang benderang, dan mereka berbaring dengan posisi yang nyaman, saling berdekatan dan berpegangan tangan.
"Semoga malam ini tenang ya, teman-teman. Gue harap nggak ada lagi suara-suara aneh atau keran nyala sendiri," kata Oca dengan nada berharap.
"Amin! Insya Allah aman kok, kan kita udah berdoa dan baca ayat suci tadi. Percaya aja sama Tuhan, Dia pasti melindungi kita," hibur Cika lembut.
"Iya bener. Rasanya beda banget suasananya malam ini, adem dan damai banget. Nggak ada rasa ngeri kayak malam-malam kemarin," tambah Marina.
"Semoga saja begini terus sampai kita pulang nanti. Gue udah nggak kuat kalau harus diganggu lagi," kata Aletta sambil memejamkan matanya.
"Udah tidur aja, jangan dipikirkan lagi. Nikmati kedamaiannya. Selamat malam semuanya, mimpi indah ya," ucap Widi menutup percakapan.
Malam itu berlalu dengan sangat berbeda dari malam-malam sebelumnya. Tidak ada suara aneh, tidak ada keran yang menyala sendiri, tidak ada suara tangisan, dan tidak ada ketakutan sedikit pun.
Suasana rumah terasa begitu hening, tenang, dan damai. Udara terasa sejuk dan menenangkan. Mereka semua tidur dengan sangat nyenyak dan lelap, tanpa sekalipun terbangun karena ketakutan atau gangguan apa pun.
Rasanya seperti beban berat yang selama ini menindih hati mereka akhirnya terangkat sepenuhnya, dan kedamaian sejati pun akhirnya datang menghampiri mereka.
Keesokan harinya, hari itu adalah hari yang sangat istimewa sekaligus menyedihkan bagi mereka semua. Karena sudah tiba waktunya masa tugas dan pengabdian mereka di panti jompo berakhir.
Hari ini adalah hari terakhir mereka berada di sana, dan sore nanti mereka harus kembali melanjutkan kehidupan mereka masing-masing.
Suasana di panti jompo terasa sangat haru dan sedih. Para siswa berkumpul di ruang tengah, duduk bersama para pegawai panti dan para lansia yang sudah mereka anggap seperti keluarga sendiri.
Ibu Eka, selaku penanggung jawab panti, berdiri di depan dan menyampaikan pesan perpisahan dengan suara yang bergetar dan mata berkaca-kaca.
"Anak-anakku yang baik dan hebat... Hari ini kita harus berpisah. Rasanya baru kemarin kalian datang dengan wajah ceria dan penuh semangat, kok rasanya waktu berlalu begitu cepat ya?" kata Ibu Eka memulai pembicaraannya.
"Iya Bu, rasanya baru sebentar rasanya di sini. Padahal udah beberapa minggu berlalu," jawab Aletta dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Selama kalian ada di sini, kalian membawa banyak keceriaan, semangat, dan kasih sayang yang luar biasa bagi kami semua. Kalian sudah bekerja dengan sangat baik, tulus, dan penuh dedikasi. Terima kasih banyak atas semua pengabdian dan kebaikan kalian. Kami di sini tidak akan pernah melupakan kalian, dan pintu panti ini akan selalu terbuka lebar kapan pun kalian ingin berkunjung kembali," kata Ibu Eka dengan tulus.
"Terima kasih juga kembali, Ibu. Terima kasih sudah membimbing kami, menganggap kami seperti anak sendiri, dan memberikan kami banyak pelajaran berharga yang nggak akan pernah kami lupakan seumur hidup," ucap Silvia mewakili teman-temannya dengan suara bergetar.
Setelah itu, bergantian para pegawai yang lain menyampaikan ucapan terima kasih dan perpisahan. Namun, momen yang paling menyentuh hati adalah saat mereka berpamitan kepada para pasien lansia.
Aletta memeluk erat Ibu Nining yang sudah dia sayangi seperti neneknya sendiri. Ibu Nining menangis tersedu-sedu di pelukan Aletta, enggan melepaskannya.
"Nak Aletta... Nenek bakal kangen banget sama kamu. Siapa nanti yang bakal nemenin Nenek ngobrol, siapa yang bakal baca buku buat Nenek kalau kamu udah nggak ada di sini?" isak Ibu Nining.
"Aduh, Ibuuu... Jangan nangis dong, nanti Aletta ikut nangis lho," kata Aletta sambil menghapus air matanya sendiri dan air mata Ibu Nining. "Aletta juga bakal kangen banget sama Ibu, percayalah. Tapi kan Aletta janji, kapan-kapan Aletta pasti datang lagi ke sini menjenguk Ibu. Ibu harus sehat terus ya, bahagia terus, jangan lupa sama Aletta."
"Janji ya? Jangan bohong lho sama Nenek," kata Ibu Nining masih terisak.
"Janji, Bu! Aletta nggak bakal lupa sama Ibu," jawab Aletta tegas.
Cika pun tidak kalah sedihnya saat berpamitan dengan Nenek Sari. Mereka berdua saling berpelukan erat dan menangis bersama-sama.
"Nenek Sari... Maafkan Cika kalau selama ini ada salah kata atau perbuatan ya, Nek. Cika sayang banget sama Nenek," kata Cika di sela tangisnya.
"Nenek juga sayang sama kamu, Nak. Terima kasih udah mendengarkan cerita Nenek, udah menghibur Nenek. Kamu baik hati sekali, Nak. Semoga kamu jadi anak yang sukses dan bahagia ya," jawab Nenek Sari sambil mengelus pipi Cika.
Begitu pun dengan teman-teman yang lain, masing-masing berpamitan dengan pasien asuhan mereka, saling bertukar doa, janji untuk bertemu lagi, dan membagikan air mata kebahagiaan sekaligus kesedihan karena harus berpisah. Rasanya berat sekali meninggalkan tempat dan orang-orang yang sudah terasa begitu dekat di hati.
"Kalian hati-hati ya di jalan, belajar yang rajin, dan jangan lupa sama kami yang ada di sini," pesan Pak Bima kepada Gery dan teman-teman lainnya.
"Siap, Pak! Bapak juga sehat terus ya, semangat terus!" jawab Gery dengan mata berkaca-kaca.
Setelah momen perpisahan yang panjang dan menyentuh hati itu, mereka pun akhirnya pulang kembali ke kosan dengan perasaan yang bercampur aduk lega karena tugas selesai, tapi sedih karena harus berpisah. Sesampainya di kosan, mereka mulai sibuk membereskan barang-barang dan perlengkapan pribadi mereka yang sempat berantakan atau tersebar di mana-mana selama ini.
"Aduh, lihat deh barang-barang kita... Berantakan banget ya ternyata. Kayaknya butuh waktu lama nih buat beres-beresnya," keluh Luna melihat tumpukan barangnya.
"Iya nih, banyak banget ternyata yang kita bawa ke sini. Yuk semangat, kita bagi tugas biar cepat selesai," ajak Silvia.
Siang itu mereka bekerja sama membereskan ruangan masing-masing agar kosan kembali bersih dan rapi. Saat Widi sedang sibuk membereskan barang-barang di dekat kamar belakang, tempat di mana Widi, Cika, Oca, dan Luna biasa tidur, dia melihat sesuatu yang aneh. Ada bagian dinding di sudut ruangan itu yang terlihat sedikit berbeda dari bagian lainnya. Warnanya agak lebih tua, permukaannya tidak rata, dan saat disentuh, suaranya terdengar hampa, tidak padat seperti tembok biasa.
"Waduh... Ini kenapa ya? Tembok kok suaranya kayak kosong gini," gumam Widi sambil mengetuk-ngetukkan jarinya ke dinding itu berulang kali.
"Hei teman-teman! Coba kalian ke sini sebentar. Lihat deh dinding ini... Kok rasanya aneh ya? Sepertinya ada sesuatu di balik tembok ini," seru Widi memanggil teman-temannya dengan suara keras.
Cika, Oca, Luna, dan teman-teman lainnya segera berhenti bekerja dan mendekat ke arah Widi dengan wajah penasaran.
"Ada apa sih, Widi? Kok teriak-teriak sih?" tanya Cika penasaran.
"Coba kamu ketuk deh tembok ini, dengerin suaranya. Dan lihat warnanya, beda sama yang lain kan?" tunjuk Widi.
Cika pun mencoba mengetuknya, lalu mengangguk-anggukkan kepalanya. "Beneran lho! Suaranya hampa banget. Kayaknya ini bukan tembok asli deh."
"Memangnya bisa ya ada ruangan di sini? Padahal kita udah tinggal lama dan nggak pernah tahu ada ruangan lagi," kata Oca bingung.
"Coba didorong pelan-pelan siapa tahu bisa terbuka," usul Aletta.
Mereka mencoba mendorong bagian dinding itu perlahan dengan hati-hati. Betapa kaget dan terkejutnya mereka, ternyata bagian itu bukanlah tembok asli, melainkan pintu semu yang tersembunyi! Dengan sedikit tenaga, pintu itu bisa terbuka ke dalam dengan suara berderit panjang.
Kreeeeekkk...
Di balik pintu itu, terdapat sebuah ruangan kecil yang kosong, gelap, dan sudah lama tidak disentuh. Ruangan itu tidak ada di denah rumah, dan tidak pernah mereka ketahui keberadaannya selama ini.
Ruangan itu cukup lebar, berdebu tebal, dan terasa sangat lembap serta pengap. Bau apek yang menyengat langsung tercium keluar saat pintu itu terbuka.
"Waduh... Gelap banget di dalam sana! Nyalain lampunya dong," seru Luna menutup hidungnya karena bau apeknya.
"Gimana mau nyalain, nggak ada saklarnya lho di sini," jawab Widi.
"Pakai senter HP aja yuk, coba kita lihat isinya ada apa," ajak Silvia dengan rasa penasaran yang memuncak meski ada sedikit rasa takut.
Mereka pun menyorotkan cahaya dari lampu ponsel mereka ke dalam ruangan itu. Ruangan itu benar-benar kosong melompong, hanya ada debu tebal dan sarang laba-laba di sudut-sudutnya. Tidak ada barang-barang, tidak ada perabotan, hanya ruangan kosong yang sepi dan dingin.
Melihat ruangan itu, mereka saling berpandangan dengan wajah terkejut dan bingung. Perlahan, potongan demi potongan teka-teki mulai menyusun sendiri di kepala mereka.
"Jadi... Selama ini ruangan ini ada di sini, tapi kita nggak tahu sama sekali?" tanya Oca dengan suara berbisik.
"Berarti gangguan-gangguan dan kejadian aneh yang menimpa kita selama ini... Apakah ada hubungannya dengan ruangan tersembunyi yang misterius ini?" kata Aletta melanjutkan kalimat Oca dengan nada perlahan.
"Mungkin saja... Siapa yang tahu apa yang terjadi di ruangan ini dulu, atau siapa yang menempatinya," jawab Widi dengan suara lirih, matanya masih lekat menatap ke dalam kegelapan ruangan itu seolah berusaha mencari jawaban yang tersembunyi di sana.
"Ya Tuhan... Merinding banget denger kamu ngomong gitu, Widi," seru Oca sambil memeluk kedua lengannya erat-erat, bulu kuduknya langsung berdiri mendengar kalimat itu. "Jangan bilang... Selama ini yang ganggu kita tinggalnya di sini ya?"
"Gue juga jadi takut mikirnya, Oca... Tapi kalau dipikir-pikir masuk akal juga sih," sambung Marina dengan nada gemetar. "Rumah ini luas, tapi ternyata ada ruangan rahasia yang nggak diketahui siapa-siapa. Pasti ada alasannya kenapa ruangan ini ditutup dan disembunyikan sedemikian rupa sampai terlihat kayak tembok biasa."
"Betul kata Marina. Nggak mungkin orang bikin ruangan terus ditutup rapat-rapat gini kalau nggak ada alasan penting atau alasan yang buruk," timpal Luna sambil menyorotkan cahaya lampu HP-nya ke setiap sudut ruangan itu dengan hati-hati.
"Coba lihat deh, debunya tebal banget. Berarti udah bertahun-tahun, mungkin puluhan tahun ruangan ini nggak pernah dibuka sama sekali."
"Terus... Apa yang harus kita lakukan sekarang, teman-teman?" tanya Cika cemas, wajahnya tampak bingung antara rasa penasaran dan ketakutan. "Apakah kita harus memberitahu Bapak Kosan lagi soal penemuan ini? Atau kita biarkan aja dan tutup kembali kayak semula?"
Aletta yang sejak tadi diam mendengarkan akhirnya angkat bicara, suaranya tenang namun tegas. "Menurutku, kita harus lapor ke Bapak Kosan, teman-teman. Kita nggak boleh diam aja setelah menemukan hal sebesar ini. Semua kejadian aneh yang kita alami kemungkinan besar ada hubungannya dengan ruangan ini. Kita harus tahu sejarah dan cerita di balik ruangan ini, supaya kita tahu apa yang sebenarnya terjadi dan kenapa kita sering diganggu."
"Aku setuju banget sama Aletta," kata Silvia mengangguk yakin. "Sebagai ketua di sini, aku juga merasa bertanggung jawab. Nanti sore atau besok pagi aku langsung hubungi Bapak Kosan dan minta beliau datang ke sini. Kita tanyakan semuanya dengan jujur dan jelas. Siapa tahu Bapak tahu apa yang terjadi dulu di ruangan ini."
"Tapi... Kalau ternyata ceritanya mengerikan gimana?" potong Oca dengan suara hampir menangis. "Aku nggak sanggup kalau dengar cerita seram lagi..."
"Apapun ceritanya, kita harus tahu, Oca," hibur Widi lembut sambil menepuk bahu temannya itu. "Biar kita tahu apa penyebabnya dan biar masalahnya selesai sampai di sini. Kita kan nggak mau kejadian seram itu terulang lagi ke penghuni kosan yang lain setelah kita pergi nanti kan?"
"Betul tuh. Kita harus berani menghadapinya bareng-bareng. Selama kita kompak dan saling jaga, nggak ada yang perlu Di takuti kok," tambah Aletta menyemangati.
Mereka semua saling berpandangan satu sama lain, lalu perlahan mengangguk setuju. Rasa penasaran dan rasa ingin menyelesaikan masalah akhirnya mengalahkan rasa takut yang ada di hati mereka.
"Ya udah kalau gitu, sekarang kita tutup dulu lagi pintunya ya. Nanti kalau Bapak Kosan udah datang, baru kita buka lagi bareng-bareng," usul Silvia.
Dengan hati-hati dan perlahan, mereka mendorong kembali pintu semu itu hingga tertutup rapat dan kembali terlihat seperti tembok biasa.
Suasana di ruangan itu kembali seperti sedia kala, seolah-olah tidak pernah ada ruangan di baliknya sama sekali. Tapi di dalam hati mereka, rasa penasaran dan pertanyaan besar masih terus tersisa, menunggu jawaban yang akan diungkapkan nanti.
"Semoga aja Bapak Kosan tahu jawabannya ya," bisik Cika pelan.
"Amin... Kita doain aja semuanya bakal jelas dan aman setelah ini," jawab Silvia menutup percakapan.
Mereka pun kembali melanjutkan membereskan barang-barang mereka, namun kali ini dengan pikiran yang terus tertuju pada ruangan misterius yang baru saja mereka temukan.
~be to continuous~