Tidak ada yang tahu, Ratu pergi bukan karena ingin meraih cita-cita, namun untuk lari dari perasaannya kepada sosok laki-laki yang ternyata telah memiliki tunangan.
Dia adalah Ardiansyah, putra kedua dari keluarga Suhadi, seorang CEO yang baru saja di Lantik setahun yang lalu setelah menyelesaikan pendidikannya,dan fokus memimpin perusahaan raksasa. namun fakta yang membuat Ratu pergi, Ardiansyah telah bertunangan dengan seorang gadis salehah, teman Adiknya saat berada di pesantren dan memutuskan untuk pergi ke kota dengan misi tersembunyi.
yuk ikuti kisah Ratu di sini....
kawal sampai akhir ya...
apakah sad ending, atau happy ending...
terimakasih atas dukungannya selama ini...
🥰🥰🥰🥰🙏🏻
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 9
Ardiansyah sudah menunggu di depan lobi dengan mobil SUV hitamnya. Ia sengaja tidak membawa supir. Saat Ratu muncul dengan gaya cueknya, Ardiansyah langsung membukakan pintu depan.
"Masuk. Jangan harap bisa duduk di belakang, saya bukan supir Anda," ketus Ardiansyah.
Ratu memutar bola matanya. "Galak sekali pagi-pagi. Habis uang ya karena kebanyakan kasih cek?"
Ardiansyah terdiam, tangannya yang sedang memegang setir mengeras. Wajahnya mendengus mendengar ucapan asisten Vanessa.
" orang kaya sepertimu tidak punya sopir?, kenapa dari kemarin saya lihat anda selalu mengemudikan mobilnya sendiri?" tanya Ratu serius,tapi ia tetap duduk di depan, di samping kursi kemudi.
"Itu bukan urusan mu..!" sahut Ardiansyah cuek , lalu mengemudikan mobilnya dengan perlahan, keluar dari pelataran perusahaannya...
Di dalam kabin SUV yang kedap suara itu, suasana justru terasa sangat berisik. Bukan karena suara radio, melainkan karena Ratu yang sejak masuk tol tidak berhenti mengkritik efisiensi waktu Ardiansyah.
Ratu duduk dengan gelisah, sesekali memperbaiki posisi duduknya, sementara mulutnya terus menghujani Ardiansyah dengan argumen teknis tentang produksi seragam Family Gathering.
"Tuan Ardi, saya sudah bilang berkali-kali, proses finishing untuk 5.000 karyawan itu butuh waktu. Anda minta kualitas premium tapi tenggang waktunya mepet seperti mau bikin hajatan semalam suntuk. Anda pikir penjahit saya itu jin?"
Ardiansyah mencengkeram setir dengan sabar, meski urat di pelipisnya mulai berdenyut "Saya sudah bayar mahal untuk profesionalisme, Family gathering itu sebulan lagi. Kalau seragamnya belum siap, ribuan karyawan saya mau pakai apa? Kaos dalam?" sahut Ardiansyah dengan kesal.
"Ya jangan salahkah saya! Salahkah sistem logistik perusahaan Anda yang birokrasinya sepanjang jalan tol. Saya kirim sampel bahan dari Paris seminggu yang lalu, baru sampai di meja Anda kemarin, kan? Itu kurirnya jalan kaki atau merangkak?" balas Ratu dengan ketus.
Ardiansyah tersenyum sinis, melirik Ratu sekilas "Anda sangat berisik untuk ukuran seorang asisten. Apa bos Anda tidak pernah mengajari cara bicara yang manis sedikit agar klien tidak sakit kepala?"
"Manis itu untuk Es buah, Tuan! Saya di sini untuk memastikan proyek ini sukses. Lagipula, baju itu nanti akan dipakai untuk acara keluarga, kan? Ada anak-anak kecil juga. Saya sudah siapkan bahan yang ,tipis tapi tidak transparan, bahan juga di jamin oke, tidak berat saat di pakai, anti keringat juga dan yang pasti anti alergi buat keponakan Anda yang kembar itu, siapa namanya? Si Kembar anak Najwa, kan?"
Ardiansyah menginjak rem sedikit mendadak karena terkejut. "Dari mana Anda tahu Najwa punya anak kembar? Saya tidak pernah menyebutkan itu di dokumen kontrak."
Ratu terdiam sesaat. Jantungnya berdegup kencang. Ia merutuki mulutnya yang terlalu cepat bicara. Dengan tenang, ia meraih Ponselnya berpura-pura menatap layar.
"Uh... itu... riset, Pak! Tim Vanessa selalu melakukan riset mendalam tentang keluarga pemilik perusahaan agar desainnya punya sentuhan personal. Jangan ge-er dulu, Kami tidak sembarangan bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan lain, sebelum bekerja sama kami mencari tahu dulu seluk beluk perusahaan, termasuk siapa pemimpin nya dan keluarganya"
"Riset sampai tahu detail internal keluarga? Hebat sekali. Atau jangan-jangan, Anda memang sudah lama menguntit hidup saya?" balas Ardiansyah berusaha menyembunyikan kedutan di bibirnya yang ingin tertawa melihat Ratu yang gelisah.
Ratu mendengus, mencoba mengalihkan perhatian "Tolong ya, Pak CEO yang Terhormat. Fokus saja ke jalan. Lihat itu, ada truk di depan. Dan satu lagi, saya tidak suka AC-nya terlalu dingin, kulit saya bisa kering."
Ardiansyah mendengus, namun anehnya, ia malah mengulurkan tangan ke dasbor dan menurunkan suhu AC. Ia juga meraih serum kulit yang tersimpan di laci mobil dan meletakkannya di dekat Ratu tanpa menoleh.
"Pakai itu kalau takut kulitmu rusak. Berisik sekali." Ardiansyah tetap fokus mengemudi tanpa melihat wajah Ratu yang terkejut.
Ratu tertegun melihat botol itu "Loh, Anda sedia ini di mobil? Buat tunangan Anda ya? Ternyata Anda perhatian juga, meski kaku seperti kanebo kering."
"Kau juga tahu, kalau saya sudah bertunangan?" tanya Ardiansyah merasa heran, padahal acara tunangan itu sangat privasi, tidak ada yang tahu selain keluarga inti.
"Tentu saja, nona Vanessa itu serba bisa, bukan hanya cantik, tapi multitalenta, mulai sekarang, anda harus lebih hati-hati lagi, karena setiap pergerakan Anda, akan selalu di awasi"...
Sepanjang sisa perjalanan, perdebatan tidak berhenti. Ardiansyah yang biasanya dingin dan hanya bicara seperlunya, entah mengapa merasa tertantang untuk membalas setiap kalimat tajam Ratu.,
"Saya jadi penasaran dengan Bosmu itu, apa dia sudah keriput atau seorang janda " balas Ardiansyah tersenyum remeh.
Ratu sangat kesal, ia ingin memaki Ardiansyah karena sudah mengatakan dirinya janda bahkan sudah keriput.ia menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkan nya perlahan...ia segera mengalihkan pembicaraan kembali.
"oke lupakan bos saya, kita kembali ke topik " ucap Ratu yang mulai tenang.
"untuk bagian kerah, kita membuat lebih tinggi, agar lebih keren"Ucapnya semangat.
"Kalau desain kerahnya terlalu tinggi, nanti karyawan bagian lapangan protes kepanasan."
"Itu namanya modest chic, Tuan! Tetap santun tapi sirkulasi udara lancar. Anda saja yang selera fashion-nya masih di zaman batu."Ejek Ratu.
"Zaman batu tapi perusahaan saya yang menghidupi bisnis fashion Anda sekarang." sahut Ardiansyah tidak mau kalah.
"Iihh! Sombongnya! Saya doakan setelah makan malam perut anda akan mulas!"
Ardiansyah terkekeh pelan, suara yang sangat jarang terdengar di kantor pusat Suhadi Group. Baginya, berdebat dengan wanita di sampingnya ini jauh lebih melelahkan daripada rapat direksi, tapi entah kenapa, ia tidak ingin perjalanan ini cepat sampai di Tangerang.
Ratu melihat cermin yang ada di depannya, lalu membetulkan jilbabnya yang miring karena terlalu banyak bergerak, "Kenapa tertawa? Ada yang lucu?"
"Tidak. Saya cuma berpikir, bagaimana bisa Vanessa mempekerjakan asisten sepertimu. Kamu lebih cocok jadi pelatih debat daripada desainer."
Saat mereka sampai di gerbang pabrik di Tangerang, Ardiansyah memarkir mobilnya. Sebelum turun, ia menahan lengan Ratu sebentar.
"Satu hal lagi," ucap Ardiansyah serius. "Nanti di dalam, jangan bertengkar dengan kepala produksi saya. Biar saya saja yang kamu marahi, dia orangnya sensitifan."
Ratu terdiam melihat tatapan Ardiansyah yang tiba-tiba melunak. "Tergantung. Kalau dia kaku seperti bosnya, saya tidak janji."
" lagian kenapa Anda tidak terima beres saja , dan terima baju langsung dari bos kami?" tanya Ratu sambil berjalan.
"sahamku disini sudah besar, jadi memanfaatkan yang ada itu lebih baik, Saya belum memiliki desainer khusus yang mau di pekerjakan di pabrik tekstil ini, di sini masih orang-orang lama, saat bos mu meminta kerjasama, saya mempertimbangkan terlebih dahulu, dan apa salahnya mencoba" .