Di usianya yang sudah genap dua puluh tujuh tahun Sandi Atmojo belum sedikitpun memikirkan tentang pernikahan sehingga kedua orang tuanya jadi khawatir putranya tersebut akan memilih hidup Single seumur hidup. Untuk mencegah hal itu sampai terjadi, sang mamah terus memaksanya untuk mencari calon istri, namun jawaban Sandi tetap sama, yaitu belum berniat menikah sebab belum memiliki calon. "Jika kamu tidak sanggup mencari calon istri, biar mama yang akan mencarikan calon istri untuk kamu." Pada akhirnya sandi tak dapat menolak lagi, dan membiarkan mamah mencarikan calon istri untuknya. Akan tetapi, Sandi tak menyangka jika pilihan mamahnya adalah seorang wanita yang berstatus single Mommy.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21.
"Panas... tubuhku rasanya panas sekali." Vania gelisah. Gerakan sen-sual yang ditunjukkan oleh tubuh Vania menguatkan dugaan Sandi. Istrinya pasti sedang berada dibawah reaksi obat perang-sang.
"Pasti pria tua bangka itu yang telah melakukannya." Gumam Sandi dengan perasaan geram terhadap manager hotel.
"Jangan lakukan itu!." Sandi mencegah pergerakan tangan Vania yang ingin membuka kancing kemejanya. Bukan apa-apa, Sandi tidak ingin sampai ada yang melihat istrinya dalam keadaan tidak sepantasnya, walaupun kenyataannya kaca mobilnya gelap hingga dipastikan tak akan ada seorangpun yang dapat melihat aktivitas di dalam mobil.
Apartemen. Ya, menurut Sandi apartemen adalah tempat yang paling aman untuk membawa Vania, mengingat kondisinya sekarang ini sangat tidak memungkinkan untuk diajak pulang ke rumah, apalagi ke hotel. Bisa-bisa Vania akan menjadi topik gosip bagi para pegawai hotel Admodjo Group.
Vania terus berusaha melepaskan genggaman tangan Sandi yang mencegah pergerakannya, hingga Sandi pun tidak punya pilihan lain.
Sandi melepas gesper nya lalu menggunakan benda itu untuk mengikat tangan Vania. "Maaf. Saya terpaksa harus melakukan ini." Sandi tak peduli Vania terus berontak ingin dilepaskan ikatan pada tangannya.
Setelahnya, Sandi pun segera menghidupkan mesin mobilnya dan melajukan kereta besi tersebut menuju apartemennya. Apartemen yang hanya sesekali dikunjungi olehnya ketika sedang ingin sendiri.
Setibanya di gedung apartemen, Sandi menjadi pusat perhatian orang sekitar. Bagaimana tidak, Vania tak bisa diam di dalam gendongannya. Tubuh wanita itu terus menggeliat, seolah tengah mencari kenyamanan.
"Istri saya sedang kurang enak badan." Tutur Sandi yang kini tengah berada di dalam lift yang akan mengantarkan mereka ke lantai sepuluh, di mana unit apartmentnya berada. Meskipun tidak ada yang bertanya, namun Sandi merasa perlu menjelaskan agar tidak sampai mengundang kesalahpahaman. Terlebih tidak sedikit penghuni apartemen tersebut mengenali dirinya sebagai putra tunggal dari keluarga Admodjo. Ia tidak ingin sampai merusak nama baik ayahnya dengan sebuah kesalahpahaman.
"Kalau lagi nggak enak badan, kenapa nggak dibawa ke dokter saja, mas." Panggilan pria itu terhadapnya menyadarkan Sandi bahwa pria itu tidak mengenalnya. Bisa jadi beliau adalah penghuni baru di apartemen tersebut.
Sandi hanya menanggapinya dengan seulas senyum. Untungnya sesaat kemudian pintu lift terbuka. Sandi pun langsung melangkah keluar dari kotak besi tersebut kemudian berjalan menuju unit apartmentnya.
Setelah berada di dalam apartemen, tepatnya setelah membaringkan tubuh Vania ke ranjang, Sandi pun melepaskan ikatan pada tangan Vania kemudian beranjak ke kamar mandi untuk mengisi bathtub. Sekembalinya dari kamar mandi, hendak meminta Vania untuk merendam tubuhnya, Sandi justru dikejutkan dengan penampilan wanita itu.
"Ya Tuhan...." Sandi sontak memalingkan wajahnya dari pemandangan yang mampu menggoyahkan iman. Ya, kini Vania telah menanggalkan pakaiannya hingga bagian atas tubuhnya hanya tinggal ditutupi oleh tanktop berbahan transparan.
Deg
Jantung Sandi berdegup kencang saat Vania tiba-tiba mendekat dan mengalungkan kedua tangannya ke lehernya.
"Jangan bersikap seperti ini, jika tidak ingin menyesal nanti!." Sandi berusaha melepaskan tangan Vania yang melingkari lehernya, namun pergerakan tangan Sandi berhenti seketika saat merasakan kecu-pan manis dari bibir mungil Vania.
Sesaat kemudian, Sandi tersadar akan apa yang baru saja dilakukan oleh Vania padanya.
"Buka mata dan lihat baik-baik siapa yang kini berdiri di hadapanmu, Vania!." Tegas Sandi sembari menggenggam erat kedua tangan Vania. Sandi hanya ingin memastikan apakah alasan Vania menciu-mnya karena tahu dirinya adalah seorang Sandi Admodjo, suaminya, atau justru karena melihat dirinya sebagai orang lain.
"Tuan Sandi Admodjo, suami aku." Dengan mata sayu akibat menahan has-rat dalam diri Vania menyebut nama suaminya.
"Kamu itu adalah suamiku. Lantas, apa salahnya kalau aku meminta hakku sebagai seorang istri." Berada di bawah reaksi obat perang-sang berhasil membuat Vania kehilangan akal sehatnya.
Sandi tak menjawab, namun sesaat kemudian pria itu nampak mendorong tubuh Vania ke ranjang.
"Aku harap kamu tidak akan menyesalinya, Vania." Gumam Sandi sebelum mengung-kung tubuh indah istrinya. Suasana di kamar itu semakin panas dengan suara lenguhan Vania akibat sentuhan memabukkan dari suaminya. Nampaknya reaksi obat laknat yang dimasukkan oleh pak manager ke dalam jus jeruk miliknya di restoran tadi, mampu melenyapkan seluruh akal sehat Vania.
Deg.
Tiba-tiba Sandi merasa seperti Dejavu, seperti pernah berada dalam situasi seperti ini sebelumnya. Akan tetapi, perasaan tersebut lenyap begitu saja saat Vania membalikkan posisinya. Kini Wanita itu telah berada di atas tub-uh suaminya. Suasana semakin bertambah panas hingga pada akhirnya Sandi dan Vania pun melakukan sesuatu yang sudah semestinya terjadi pada pasangan suami-isteri.
Entah berapa jam percintaan mereka berlangsung, yang jelas kini Vania sudah nampak tertidur lelap, berbeda dengan Sandi yang masih terjaga sambil memandangi wajah istrinya.
"Apa yang telah kami lakukan tidak salah. Dia istriku dan dia halal bagiku." Batin Sandi menepis perasaan bersalah di hati karena telah meng-gagahi istrinya dalam kondisi dibawah pengaruh obat perang-sang.
"Sepertinya aku sudah menjilat ludahku sendiri. Sebelum menikah aku begitu yakin tidak akan memberikan haknya sebagai seorang istri, tapi setelah menikah justru aku sendiri yang tidak sanggup menahan diri." Memang benar, Vania yang awalnya menggoda, tapi jika benar-benar teguh pada prinsipnya di awal seharusnya Sandi bisa menahan diri bukannya justru tergoda dan pada akhirnya malah ketagihan.
Vania tertidur lebih dari enam jam. Wanita itu baru terjaga pada pukul delapan malam. Entah karena masih berada dalam pengaruh obat lak-nat pemberian pak manager atau justru karena kelelahan akibat percintaan nya bersama sang suami.
"Kamu sudah bangun." Suara bariton tersebut berhasil mengalihkan perhatian Vania ke arah sofa single yang berada di kamar apartemen milik Sandi. Melihat pria itu hanya mengenakan selembar handuk yang dililitkan pada pinggangnya, akhirnya menyadarkan Vania akan penampilannya saat ini. Rupanya dibalik selimut putih yang menutupi tubuhnya, ia tidak mengenakkan sehelai benangpun. Vania berusaha mengingat-ingat apa yang telah terjadi antara dirinya dan Sandi.
Vania lantas memejamkan mata saat berhasil mengingat kejadian beberapa jam yang lalu.
"Tindakanmu benar-benar memalukan, Vania." Batin Vania. Ia seperti tak sanggup membalas tatapan Sandi. Untuk kedua kalinya ia dan ayah dari putrinya tersebut melakukannya.
"Sekarang sebaiknya kamu mandi, setelah itu kita pulang!."
"Tidak perlu malu begitu! Seperti katamu tadi saat meminta hakmu, aku ini adalah suami kamu. bukan begitu, istriku?." Vania seperti ingin menenggelamkan diri ke dasar bumi saking malunya.
Vania beranjak dari ranjang hendak menuju kamar mandi tanpa menoleh sedikitpun pada Sandi. Bukan karena tak sudi, tapi karena merasa malu setengah mati.
Tanpa disadari oleh Vania, Sandi mengulum senyum melihat tingkahnya.
Setibanya di kamar mandi, Vania menyandarkan tubuhnya pada daun pintu sambil memejamkan kedua matanya untuk beberapa saat.
"Apa setelah ini mas Sandi akan beranggapan aku ini wanita gampangan?."
Jangan lupa bintang Limanya ya sayang-sayangku! 😘🙏🥰
bisa gak dia aja yang di pecat 😏
Sandi pasti akan dukung Vania.
lagian apa urusannya sama Atika kalau pun ada kejadian jebak menjebak antara Vania dan Harto.
Atika melabrak seolah dia istri sah Harto 😆😆😆😆