NovelToon NovelToon
Jangan, Dia Datang!

Jangan, Dia Datang!

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Kutukan / Misteri
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Rain (angg_rainy)

Naja Belial muncul saat keadilan gagal. Dia tidak datang untuk menyelamatkan, tapi untuk memastikan dosamu dibayar lunas.

Saat hukum bisa dibeli.
Saat kebenaran dimanipulasi.
Saat manusia saling menghancurkan demi kepentingan sendiri…

Entitas urban legend itu akan datang.

Ada yang menganggapnya penyelamat.
Ada pula yang menyebutnya kutukan.

Lalu, apakah keadilan yang dipaksakan benar-benar lebih baik daripada kehancuran yang dibiarkan?

Story by Instagram & Tiktok @penulis_rain

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 5 : Satria dan Aib Nando

Satria duduk diam di rooftop sekolah. Genangan air yang ada di sana menggambarkan suasana hatinya saat ini. Dia memandang langit mendung dengan sedikit sesak. Tubuhnya masih terasa memar karena pukulan yang diberikan oleh Nando sejak tadi.

"Padahal aku tidak berbuat nakal sama sekali, entah bagaimana sekarang skor ku jadi rusak seperti ini," keluh Satria dengan suara serak. Tatapan matanya terlihat kosong.

Satria mulai teringat tentang bagaimana Nando berkata akan memanipulasi sistem untuk mendapatkan skor kebaikan tertinggi. Dia pasti diam-diam meminta ayahnya menyabotase sistem tersebut agar eror. Sementara murid lain seperti dia dibuat tidak berdaya karena kuasanya yang tidak manusiawi.

"Aku tidak mau sekolah lagi, aku tidak mau ditindas," gumam Satria sambil mengusap air matanya, menahan tangis yang akan keluar.

Perih di hati membuat jantung terasa sesak. Tubuhnya juga masih kaku terutama kaki. Lelaki itu tidak bisa berbuat apa-apa selain duduk diam dan meratapi nasibnya yang malang. Sesaat, dia memandang sekeliling. Tidak ada satupun orang selain dia di sini. Setidaknya itu terasa menenangkan.

"Hei bocah, kenapa kamu duduk sendiri kaya orang susah seperti itu?" tegur suara yang tiba-tiba saja muncul di belakang Satria. Suara itu terdengar seperti gadis yang tegas dan lantang.

Satria spontan menoleh ke belakang. Pupil matanya membesar melihat murid perempuan tiba-tiba ada di hadapannya dengan paras sangat cantik sambil meminum susu kotak kecil. Lelaki itu melongo tak percaya.

Bulu kuduknya merinding, takut jika sosok itu sebenarnya murid jadi-jadian yang akan mengadili dia karena skor kenakalannya yang tinggi.

"Siapa kau?" tanya Satria tidak percaya. Suaranya gugup. Dia berdiri dengan kaki yang tertatih karena masih sakit. Lelaki itu berjalan mundur, menghindari sosok Naja yang seperti terus berjalan mendekatinya.

Naja tersenyum miring melihat Satria yang gemetar ketakutan. Tangannya terangkat mencoba menyentuh pundak bocah lelaki itu tapi segera ditepis. Sosok itu mengerutkan kening dan menyipitkan mata, merasa jengkel dengan penolakan itu.

"Kenapa kamu menghindar sih?" tegur Naja, kali ini suaranya terdengar lebih lembut walau ekspresinya masih terlihat kesal karena susu kotaknya jadi jatuh.

"Aku ... Aku cuma mau diberi kesempatan saja. Aku tidak bersalah," ucap Satria gugup. Dia tidak berani menatap gadis yang terus-menerus mengintimidasinya.

Naja menaikkan salah satu alisnya. "Hm? Apa maksudmu?"

"Aku takut, aku takut akan dihukum oleh Naja, karena skor kenakalanku tinggi?" tebak Satria membuat Naja tertawa.

"Nakal? Bahkan kamu terlihat seperti murid polos daripada bandel," bantah Naja dengan tatapan tajam sambil menyeringai.

Mendengar ucapan Naja barusan, rasa takut Satria sedikit berkurang. Dia menatap Naja tidak percaya. Lelaki itu mendekat perlahan pada sosok itu dengan rasa canggung.

“Kamu bikin susu kotakku jatuh loh,” Naja mencoba tersenyum ramah.

"Maaf ya nanti aku ganti, sekarang aku agak parno. Kadang aku takut kalau murid yang mendatangiku adalah Naja. Sosok yang katanya akan memberi hukuman atau hadiah, soalnya skor kenakalanku tinggi. Mungkin dia akan datang ke sini untuk menghukumku?" jelas Satria. Lelaki itu menundukkan kepala dan merogoh saku untuk menunjukkan skor kenakalan yang ada di aplikasi ponselnya pada Naja.

"Kok bisa? Siapa yang melakukan ini?" Naja bertanya marah, matanya mendelik menatap ke depan.

Satria gugup menjawab. "Nando, dia anak dari salah satu pejabat. Entah kenapa aku merasa dia dalang kenapa sistemnya bisa rusak seperti ini," jelasnya dengan gamblang tapi polos.

Naja mengepalkan tangannya. "Kurang ajar, berani sekali dia bermain-main denganku!" sinis sosok itu sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

Beberapa saat kemudian, Naja melihat Satria yang masih ketakutan. Dia menepuk pundak lelaki itu sambil tersenyum.

"Jangan takut. Aku akan menolong mu," ucap Naja lembut, tatapannya terasa sangat ramah. Wajahnya cantik jelita, dengan kulit seputih susu dan rambut hitam panjang berkilau.

Sangat berbeda ketika ia menampakkan wujud ke hadapan orang jahat, dengan tampilan yang separuh cantik separuh rusak. Dia saat ini malah terlihat menenangkan seperti malaikat pelindung.

“Sebenarnya kamu siapa?”

Naja tersenyum lagi, “panggil aku kakak saja.” Tiba-tiba dia memeluk Satria dengan erat.

Tanpa sadar Satria merasa tenang dalam pelukan sosok itu. Rasa sakitnya perlahan mulai menghilang.

***

Hari itu, Nando berangkat seperti biasanya tidak ada yang aneh sama sekali. Semua orang tampak sibuk dengan dunia masing-masing, kecuali si culun, Satria. Lelaki itu berdiri di depan kelas dan menundukkan kepala saat Nando melewati dia.

"Heh culun, apa kakimu sudah tidak pincang lagi?" sindir Nando sambil tersenyum sinis.

Satria hanya diam menggelengkan kepala. Melihat itu, Nando merasa senang. Dia tiba-tiba saja melemparkan tasnya kepada Ray. Ray menangkap tas itu, lalu mengopernya lagi kepada Wira. Mereka bertiga tertawa kencang, meremehkan Satria.

Lalu sekuat tenaga Wira melempar kencang tas itu ke arah wajah Satria sehingga ia hampir membuat lelaki itu tersungkur.

"Sana, bawa tas itu ke meja aku!" pinta Nando dengan kasar.

Satria diam, menurut. Dia membawa tas lelaki tersebut ke bangkunya. Tidak seperti kemarin, hari ini, Satria diam saja saat disuruh oleh Nando. Mungkin, dia tidak ingin skor kenakalannya bertambah lagi. Sementara di sisi lain, anak-anak nakal pada bergerombol dan tertawa riang, menyepelekan aplikasi verdict yang selama ini mengawasi.

"Benar katamu, Nando. Sistem itu bisa diakali," ucap Kenan, memuji Nando, membuat lelaki itu tersenyum sombong.

Mereka memainkan ponsel, tidak menghiraukan notifikasi dari aplikasi verdict yang terus bergetar. Saking fokusnya pada game, Nando tidak menyadari posisi kursinya yang tepat. Lelaki itu malah tersandung dan terjatuh di lantai.

"Siapa yang mindahin kursiku?" tegur Nando sambil melihat sekeliling tapi tidak ada yang menjawab. Diam-diam, beberapa murid ada yang menahan tawa melihat lelaki itu kesakitan.

"Salahmu sendiri, jalan tidak lihat-lihat," tegur salah satu murid perempuan, dibalas oleh tawa yang lain.

Nando terdiam, dia menatap tidak terima ejekan itu. Tangannya mengepal dan wajahnya memerah. Dengan berat hati, dia mencoba berdiri dan berusaha menahan kekesalan. Namun, layar proyektor di kelas tiba-tiba saja menyala menunjukkan rekaman.

"Apa itu?" Semua murid berkerumun di depan terkejut melihat isi galeri yang ada di ponsel Nando. Awalnya hanya foto biasa tapi tiba-tiba saja ada video aib lelaki itu saat sedang melakukan onani.

"Jadi gini kelakuan murid yang katanya pintar dan berpengaruh?"

"Kalau aku jadi si Nando, aku pasti nangis karena malu," ucap salah satu siswi, berbisik.

“Atau pindah sekolah? Kan Papanya kaya tuh, yang punya satu bumi ini.” Naja menyamar di tengah percakapan, untuk memanasi suasana tentunya.

“Ya Allah mana kecil banget lagi.”

“HAHAHA”

Mereka semua tidak berhenti menertawakan Nando. Lelaki itu mencoba mencari ponselnya, dia tidak tahan dengan ejekan ini dan berusaha mematikan layar ponsel yang terhubung pada proyektor. Akan tetapi, sangat susah.

Aplikasi verdict di layar ponselnya kembali memunculkan notifikasi.

[VERDICT UPDATE]

[PERILAKU TIDAK TERDETEKSI]

"Ponsel sialan!" gerutu Nando penuh emosi. Dia membanting hpnya begitu saja, tidak peduli jika itu akan membuat rusak.

Di sekelilingnya, para murid berhamburan tak karuan. Bukan karena ada badai tapi karena tiba-tiba saja aplikasi verdict itu menampilkan aib mereka di layar ponsel mereka sendiri. Mereka panik, tidak berpikir jika mereka akan menjadi korban juga selain Nando.

"Kenapa sistemnya tiba-tiba begini?" tanya salah satu murid tapi tidak ada jawaban sama sekali.

⚠️

[VERDICT UPDATE]

[KEBOHONGAN TERDETEKSI]

Sementara, diam-diam sosok Naja yang menyamar diantara murid dalam kelas itu, menatap penuh aura kegelapan dan senyum sinis. Sosok itu menatap tajam beberapa murid nakal yang telah ia tandai.

[HUKUMAN DIMULAI]

1
SuryaNingsih
tuh kann ini tu tanah mereka tapi mau di rampas gitu
SuryaNingsih
Mau digusur demi bangun mall? ga ad hati klian ni
SuryaNingsih
Manaa🤣🤣
SuryaNingsih
naja itu santai tapi ngeselin tapi lucu🤣
SuryaNingsih
ooh si Naja nya mah udah tau ya🤣 cuma bru gentayangin aja
SuryaNingsih
sempet ketawa sama tepuk tangan🤣 lucu bgt ya🤣🤣
SuryaNingsih
jalur kakaen di desa penari kali ni andre🤭
SuryaNingsih
ramah pas ada maunya
SuryaNingsih
Lah yo si Andre dlu nganu 😡
Rosalina Ayyaee
Enak bgt jd Naja? dia smacem utusan tuhan ya?
Rosalina Ayyaee
Hadehh pak kepala dinasnya malah ky gt
Rosalina Ayyaee
Berhati lembut🤣 dia abis bunbun org🤣🤣
Rosalina Ayyaee
dia ngga mau kasus evan keulang lg salah tangkep
Rosalina Ayyaee
Hmm kek nya pembangunannya di tanah ilegal ya😡
Rosalina Ayyaee
seperti biasa mba Naja ini ngeselin tingkahnya🤣 tp bner sih kan yg di bully ya cewe itu
Rosalina Ayyaee
ooh semacem urban legend gt ya thor jd dy bales smua org gk cuma yg dsklh ini sj
Rosalina Ayyaee
Masih bgitu ya cuma dpn org dy pura2 pncitraan doang
Rosalina Ayyaee
Ya ampun andre kaya gitu dulunya😡
Rosalina Ayyaee
ya pasti wong korupsi kok
Wulandarry
Lhaa mala lari dy🤣 sukur dh d ksi sangsi sosial😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!