Mengulik kisah seorang pria bernama Rafael yang menerima kesepakatan menjadi bapak rumah tangga dan membiarkan istrinya berkarier di luar rumah.
Seiring bertambah usia pernikahan, kesepakatan mereka perlahan mulai mengusik ego dan jadi dilema bagi Rafael sebagai laki-laki.
》Apakah Rafael bisa bertahan menjalani aktivitasnya sebagai bapak rumah tangga dan melihat kesuksesan karier istrinya?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "Lara Di Tapal Batas"
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31.
...~•Happy Reading•~...
Apa yang dikatakan Bu Ester memanggil kembali kenangan Pak Yafeth saat pertama kali diberitahu akan menjadi Papa. Hatinya jadi menghangat ingat peristiwa bahagia bagi keluarga besarnya.
Wajah ceria Bu Ester disertai dengan mata berbinar bahagia sambil menyembunyikan sesuatu darinya di belakang. Wajahnya makin merona bahagia saat menunjukan tespek bergaris dua padanya.
Mereka berpelukan dalam waktu lama untuk berbagi kebahagiaan yang tak terhingga. Setelah berdoa syukur, mereka langsung ke rumah sakit untuk memastikan kebenaran hasil tespek.
Mengingat itu semua, Pak Yafeth membandingkan dengan wajah Laras di telpon saat mengatakan sedang hamil. Wajahnya terkesan biasa, datar, bahkan cendrung tidak berekspresi. Sehingga tidak ada eforia kebahagiaan mau menjadi Opa dan Oma. Dahi mereka berkerut memikirkan kondisi Laras yang tidak menularkan rasa bahagia.
Hal itu mulai mengusik rasa penasaran dan ingin tahu Pak Yafeth atas informasi kehamilan Laras. "Ma, apa Laras gak membuat kesepakatan tertentu dengan Rafa?" Pak Yafeth bertanya demikian, sebab mencurigai sikap Laras.
"Entah, Pa. Tapi melihat wajah Rafa, mungkin gak ada kesepakatan. Kalau iya, wajahnya tidak sebahagia itu saat berbicara dengan kita."
"Kalau wajah Laras, ya, sangat bertolak belakang dengan Rafa." Bu Ester jadi ingat wajah Laras. "Kenapa Papa pikir begitu?"
"Gak, Ma. Cuma kepikiran saja. Memikirkan pernikahan kilat mereka."
"Kalau soal hamil, tidak mungkin'lah..." Bu Ester tidak melanjutkan, sebab tahu suaminya menyayangi Rafael seperti anaknya sendiri. Pasti tidak terima Rafael dirugikan.
"Ma, apa dia tidak mengharapkan punya anak dalam waktu dekat ini?" Pak Yafeth bertanya lagi, setelah berpikir.
Kondisi Laras sebagai calon Mama yang seharusnya bahagia, terasa hambar. Sehingga keadaan Rafael dan kehamilan Laras tidak bisa beranjak dari pikirannya.
"Kalau itu, mungkin, Pa. Laras belum siap hamil, jadi syok. Kita berpikir begitu saja dan berharap pada kesabaran Rafa." Bu Ester coba berpikir positif dan berharap.
~••
Di rumah sakit ; Selesai telpon dengan orang tua Laras, Rafael mengambil kursi untuk duduk di samping ranjang Laras. "Aku bilang, kalau sudah lebih baik baru telpon Mama Papa. Mereka pasti kepikiran melihat wajahmu seperti itu."
"Aku cuma pingin lihat dan bicara dengan Mama." Laras berdalih, sebab dia menghindari pembicaraan dengan Rafael.
"Ya, sudah. Nanti kita telpon Mama Papa setelah bicara dengan dokter." Rafael mengalah, sebab mengerti kondisi Laras yang sedang hamil muda.
"Mengapa aku tidak tahu sedang hamil?" Laras bertanya dengan wajah datar tanpa emosi dan terkesan ambigu.
"Bukan cuma kau yang alami. Ada banyak wanita seperti itu." Rafael coba menenangkan. "Nanti di ruang perawatan baru kita bicara lagi." Rafael memberi isyarat bahwa di sekitar mereka ada banyak pasien yang sedang dilayani para perawat dan dokter.
"Sekarang kita urus tempat untuk ruangan perawatanmu." Rafael menyerahkan pilihan kepada Laras, sebab dia yang tahu fasilitas kesehatan dari perusahaan.
"Maksudmu, aku akan dirawat di sini?" Laras bertanya dengan mata membulat.
"Iya. Kondisimu butuh istirahat..." Rafael tidak meneruskan, sebab khawatir didengar orang lain.
"Aku mau pulang. Istirahat di rumah saja..." Ucap Laras tanpa meneruskan yang ada di pikirannya, bahwa ada pekerjaan belum selesai.
"Laras, tadi kau abis pingsan dan kandunganmu belum diperiksa..."
Laras menggerakan tangan, agar Rafael tidak meneruskan. "Nanti saja kita kembali. Aku mau pulang tidur di rumah." Permintaan Laras membuat Rafael terdiam. Tanpa mengatakan apa pun, Rafael menemui dokter jaga untuk berkonsultasi.
~••
Tidak lama kemudian, mereka tiba di rumah. Laras turun dari mobil tanpa menunggu Rafael dan langsung masuk ke dalam rumah.
'Mengapa dia seperti itu? Apa wanita akan seperti itu di awal kehamilan?' Rafael bertanya dalam hati sambil masuk ke dalam rumah.
Alisnya bertaut melihat Laras duduk bersandar di ruang tamu sambil memegang perutnya. "Apa ada masalah? Kau merasa sesuatu?" Rafael tidak terus bertanya melihat gelengan Laras.
"Mengapa aku hamil sekarang?" Laras bertanya dengan tatapan kosong. Sehingga Rafael yang mau ke dapur untuk menyediakan makanan jadi duduk di depan Laras.
Jantungnya berdegup tidak teratur. "Laras, kau sedang bertanya pada siapa?" Rafael bertanya sambil menggerakan tangannya, agar Laras bisa melihatnya.
"Siapa lagi? Apa aku hamil dengan pria lain?" Laras menjawab ketus, penuh emosi.
"Aku tidak bertanya kau hamil dengan siapa. Tapi aku bertanya karna pertanyaanmu, mengapa hamil sekarang." Rafael berkata penuh tekanan. Laras memelototi, kesal.
"Kau tidak tahu kalau bisa punya anak itu anugrah Tuhan?" Rafael coba bersabar.
"Tapi aku belum mau punya anak sekarang. 'Pekerjaanku lagi banyak dan karierku lagi menanjak'..." Laras meneruskan dalam hati, agar tidak berdebat dengan Rafael.
"Mengapa kau tidak bicarakan itu sebelum kita menikah?" Rafael bertanya dengan rahang mengeras. Dia mulai paham situasi dan suasana hati Laras.
Laras menatap lurus wajah Rafael. 'Kalau aku bilang begitu, kau akan setuju kita menikah?' Laras bertanya dalam hati.
"Mengapa melihatku seperti itu? Mengapa kau buat kesepakatan tentang pekerjaanku tanpa menyinggung hal ini?"
"Apa kau akan sepakat kalau aku meminta ini?" Laras tidak bisa berdiam diri melihat wajah Rafael.
"Sepakat atau tidak, itu urusan lain. Sedikit banyak kita perlu bicarakan untuk menunda atau antisipasi." Nada suara Rafael naik level.
"Sekarang mau bagaimana? Bayi itu sudah ada dan tumbuh di perutmu."
"Aku sedang pusing. Jangan bertanya lagi." Laras balik memarahi.
"Jangan coba-coba kau ambil tindakan tanpa persetujuanku." Rafael mengancam, sebab khawatir Laras bermaksud untuk menggugurkan kandungannya.
"Rafa, aku baru telat beberapa hari. Mungkin ini belum tentu hamil." Laras mengalihkan setelah menghitung waktu haid.
'Karna ini, makanya dia tidak mau dirawat untuk lakukan pemeriksaan lebih lanjut.' Rafael jadi mengerti maksud Laras. "Mau sehari usia pun, dia telah hidup dalam tubuhmu. Dia bukan debu yang bisa kau singkirkan."
"Tapi aku yang mengandung bukan kau."
"Jadi kau kira dengan kesepatan itu, aku yang akan hamil?"
"Bagaimana dengan pekerjaanku? Aku tidak bisa merawatnya." Laras berkata dengan bibir gemetar membayangkan dia akan bekerja dengan perut besar. "Pikirkan penyelesaiannya. Jangan cuma menuntut aku harus hamil." Laras makin emosi melihat Rafael hanya diam melihatnya.
"Tidak ada cara penyelesaian lain, selain kau terus hamil dan melahirkan. Aku yang akan merawatnya." Rafael membuat keputusan dan tidak mau dibantah.
"Kau tidak mengerti aku?"
"Sangat mengerti, makanya itu keputusanku. Dia bukan pekerjaan yang bisa kau cari jalan keluar dengan berbagai cara dan ilmu yang kau miliki."
"Kalau kau lakukan tindakan jahat padanya, kau sendiri tanggung dosanya." Rafael langsung berdiri. "Aku akan menyiapkan makanan untuk makan kalian." Rafael mengirimkan pesan lewat ucapannya, bahwa Laras bukan sendiri lagi. Sudah ada calon bayi dalam tubuhnya.
Laras terpaksa berdiri menuju ruang makan, sebab dia merasa sangat lapar dan kepalanya mulai pening.
Rafael menyediakan makanan dengan perasaan sedih melebihi kehilangan ransel di kereta. Kebahagiaan akan menjadi orang tua menguap seketika berganti dengan rasa khawatir akan kehilangan anak yang belum dilihatnya.
...~•••~...
...~•○♡○•~...
tapi aku dukung Rafa cerai sama laras, kasian laras sakit hati terus hidup sama laras