Elara Safira Nirmala hanyalah gadis yatim piatu biasa di dunia modern, ia ditinggal oleh orang tuanya sejak kecil dan dia tinggal di kos-kos an sederhana di salah satu kota. Pagi itu Elara hanya ingin pergi ke sekolahnya tetapi ada suatu yang terjadi padanya, ada sebuah tragedi membuatnya terbangun sebagai Elara Mirabel Astoria, lady terbuang dan tak berguna di kerajaan kuno, dengan kemampuan modern yang canggung dan komentar sarkastiknya Elara harus bertahan di tengah drama keluarga bangsawan, intrik politik, dan mungkin sedikit cinta yang tak terduga. Langsung baca aja yuk ceritanya daripada penasaran!!!!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ꧁Diajeng rini꧂, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24
Lilian membeku di kursinya. Suara tawa yang sangat ia kenali itu terdengar begitu dekat. Dari balik tudung kusamnya, ia bisa melihat Lady Sarah, Lady Clara, dan Lady Jane sedang duduk anggun sambil menikmati kue-kue manis yang biasanya Lilian pesankan untuk mereka.
"Hei kalian dengar tidak? Katanya kediaman Astoria sekarang lebih mirip kuburan daripada rumah bangsawan" Lady Sarah memulai dan suaranya sengaja dibuat mendayu-dayu namun penuh racun.
Lady Clara menutup mulutnya dengan kipas sutra dan matanya berbinar licik "Benarkah? Padahal dulu Lilian selalu membanggakan betapa mewahnya kamar barunya. Sekarang malah jadi sel penjara pribadi ya? Hahaha"
"Bukan cuma itu" Lady Jane menimpali dengan semangat, ia mencondongkan tubuh ke tengah meja "Ayahku ada di istana saat Duke Alaric datang memohon. Dia bilang sang Duke yang angkuh itu berlutut sampai dahinya menyentuh lantai marmer! Dia memelas seperti rakyat jelata hanya agar putrinya yang sombong itu tidak dihukum penjara karena sudah berbohong dihadapan Raja"
Lilian mencengkeram sendok kayunya begitu keras hingga buku jarinya memutih. Berani-beraninya mereka batinnya menjerit. Dulu Jane bahkan tidak berani menatap mata Lilian tanpa gemetar dan sekarang dia berani menyebut ayahnya seperti itu?
"Kasihan sekali Duke Alaric" Lady Sarah melanjutkan sambil menyesap tehnya "Punya anak dua hebat tapi anak perempuannya malah jadi noda hitam di silsilah keluarga. Aku bertaruh Pangeran Kaelen pasti merasa jijik sekarang, secara kan Lilian bodoh itu tergila-gila pada Pangeran"
Gelak tawa ketiga Lady itu pecah, memenuhi sudut toko kue. Setiap tawa mereka terasa seperti tamparan fisik bagi Lilian. Panas menjalar dari dada hingga ke wajahnya, dia ingin berdiri membalikkan meja mereka dan menjambak rambut Sarah sampai dia memohon ampun.
Lilian setengah berdiri namun tangan Julian yang gemetar menahan lengannya dengan sangat kuat di bawah meja.
"Jangan Lilian... kumohon" bisik Julian dengan suara yang hampir tidak terdengar. Matanya yang biasanya penuh kasih sekarang terlihat sangat terluka dan penuh peringatan.
Lilian menatap Julian. Dia bisa melihat rasa malu yang luar biasa di mata kakaknya. Julian, Putra jenius kebanggaan Astoria, harus duduk diam mendengarkan keluarganya dihina oleh bangsawan kelas rendah hanya untuk melindunginya.
"Aku benci mereka Kak... aku benci mereka semua" bisik Lilian parau, air mata mulai menetes di balik tudungnya membasahi kain kasar yang ia benci.
"Ayo pergi" Julian menarik adiknya berdiri.
Mereka berjalan keluar dengan kepala tertunduk, melewati meja ketiga Lady tersebut. Lilian sempat menangkap aroma parfum yang ia kenal, itu parfum mahal yang pernah ia hadiahkan kepada Sarah. Sekarang parfum itu digunakan untuk menghinanya.
Di dalam perjalanan pulang suasana di dalam kereta sewaan yang bau apek itu terasa begitu menyesakkan. Lilian tidak lagi marah-marah. Dia meringkuk di pelukan Julian menangis tersedu-sedu tanpa suara. Hatinya yang sombong kini hancur berkeping-keping.
"Mereka semua penjilat Kak... dulu mereka mencium kakiku, sekarang mereka menginjak kepalaku, andai saja aku boleh menggunakan sihir ku untuk mereka, mereka sudah ku musnahkan saat itu juga" isak Lilian.
Julian hanya bisa memeluk adiknya erat dan rahangnya mengeras. "Dunia bangsawan memang kejam Lilian. Saat kita di atas mereka adalah pelayan. Saat kita jatuh mereka adalah algojo"
Lilian menyandarkan kepalanya di bahu Julian dan matanya yang sembab menatap keluar jendela kereta "Aku tidak akan lupa hari ini. Sarah, Clara, Jane... dan terutama Elara. Aku bersumpah aku akan merangkak kembali ke atas, dan saat itu terjadi aku akan memastikan mereka semua memohon kematian padaku"
___
Udara di dalam gua pagi itu terasa sangat padat, seolah-olah partikel oksigen di sana telah bercampur dengan tekanan mana yang berat. Elara berdiri di tengah ruang utama menatap sebuah kolam alami kecil di sudut gua yang airnya berwarna perak kebiruan, itu adalah tetesan murni dari kristal langit-langit yang membeku selama ratusan tahun.
Kakek Zoff berdiri di tepi kolam, wajahnya tidak lagi menampakkan ekspresi santai "Masuklah" perintahnya singkat "Sampai batas bahumu. Jangan keluar sebelum aku memerintahkannya"
Elara melangkah masuk dan seketika itu juga napasnya tertahan. Air itu tidak hanya dingin, rasanya seolah ribuan jarum es menusuk pori-pori kulitnya secara bersamaan. Tubuhnya menggigil hebat namun tatapan tajam Kakek Zoff memaksanya untuk tetap bertahan di posisinya.
"Tubuhmu adalah wadah" suara Kakek Zoff menggema berat dan penuh wibawa "Selama ini wadah itu kosong dan rapuh. Sekarang mana yang besar mulai memenuhi dirimu, ternyata mana milikmu yang terkurung cukup besar, mungkin ada seseorang yang sengaja menguncinya, dan jika sirkuit di dalam tubuhmu tidak dibersihkan dari kotoran duniawi, mana itu akan menghancurkan organ dalammu sendiri. Air kristal ini akan memurnikan jalur manamu dari luar"
Belum sempat Elara terbiasa dengan rasa dingin yang membekukan, Kakek Zoff menyodorkan sebuah cangkir kayu berisi cairan kental berwarna hijau tua yang mengeluarkan aroma tajam dan pahit.
"Minum ini, habiskan dalam satu tegukan" titahnya.
Elara menerima cangkir itu dengan tangan bergetar. Begitu cairan itu melewati kerongkongannya sensasi yang kontras menyerang tubuhnya. Jika air kolam terasa membekukan dari luar, ramuan itu terasa seperti lava panas yang membakar jalur pencernaannya. Rasa panas itu merambat dengan cepat menuju tulang dan ototnya membuat Elara merasa seolah tubuhnya sedang dipanggang di atas tungku api yang sangat panas.
"Jangan kehilangan fokus Elara!" seru Kakek Zoff saat melihat mata Elara mulai memutih karena menahan rasa sakit yang luar biasa "Gunakan rasa dingin di luar untuk meredam api di dalam. Kendalikan mereka"
Kakek Zoff kemudian mengangkat tangannya beberapa inci di atas kepala Elara. Tanpa menyentuh, sebuah lingkaran cahaya keemasan muncul dan Kakek Zoff mulai merapalkan mantra kuno dalam bahasa yang tidak dimengerti Elara. Seketika pandangan Elara kabur. Di dalam kegelapan pikirannya ia mulai melihat aliran cahaya yang berantakan seperti sungai yang meluap ke mana-mana, dan itu adalah mananya.
Dibawah bimbingan energi Kakek Zoff Elara dipaksa untuk menarik semua aliran liar itu dan menyatukannya ke dalam satu jalur yang teratur. Keringat dingin bercampur air kolam membasahi wajahnya. Ia harus menjinakkan kekuatannya sendiri sebelum kekuatan itu membunuhnya.
Di sudut ruangan, Rhea dan Mina berdiri mematung. Mereka tidak berani mengeluarkan suara bahkan napas mereka tertahan melihat tubuh Lady mereka yang bergetar hebat di antara uap dingin dan aura panas. Rhea mencengkeram erat hulu pedangnya bersiap jika terjadi lonjakan energi yang membahayakan, sementara Mina terus merapalkan mantra dalam hati berharap Elara sanggup melewati ritual persiapan wadah yang sangat menyiksa ini.....
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
⊂_ヽ
\\
\( ͡° ͜ʖ ͡°)
> ⌒ヽ
/ へ\
/ / \\
レ ノ ヽ_つ
/ /
/ /|
( (ヽ
| |、\
| 丿 \ ⌒)
| | ) /
ノ ) Lノ
(_/
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°* 🗿
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°* moga-moga nggak ada genre haramnya
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°* hancurkan dan bumi hanguskan wanita murahan itu
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°* 👍
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°* up
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°* /Smile/
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°* 🙂
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°* /Shy/
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
\\
\( ͡° ͜ʖ ͡°)
> ⌒ヽ
/ へ\
/ / \\
レ ノ ヽ_つ
/ /
/ /|
( (ヽ
| |、\
| 丿 \ ⌒)
| | ) /
ノ ) Lノ
(_/