Dr. Rania "The Butcher" Wijaya adalah ahli bedah umum (General Surgeon) yang brilian tapi berantakan. Hidupnya adalah tentang UGD, darah, kopi instan, dan sandal Crocs karet. Baginya, estetika itu tidak penting, yang penting pasien selamat.
Dunia Rania jungkir balik ketika manajemen RS merekrut Dr. Adrian "The Prince" Bratadikara, spesialis bedah plastik dan estetika lulusan Korea Selatan, untuk meningkatkan pendapatan RS lewat klinik kecantikan VIP. Adrian adalah kebalikan Rania: obsesif dengan kebersihan, wangi parfum mahal, dan percaya bahwa "jahitan bedah adalah seni, bukan resleting celana."
Masalah utamanya? Mereka adalah musuh bebuyutan (dan mantan gebetan yang gagal jadian) saat kuliah kedokteran dulu. Kini mereka harus berbagi ruang operasi dan menyelamatkan RS dari kebangkrutan, sambil menahan keinginan untuk saling membunuh—atau mencium—satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: Pengakuan di Rooftop
Rooftop Rumah Sakit Citra Harapan bukanlah tempat yang romantis.
Lantainya terbuat dari beton kasar yang retak-retak. Di sudut kanan ada tandon air raksasa berwarna oranye yang berlumut. Di sudut kiri ada jemuran kain pel milik Cleaning Service yang melambai-lambai ditiup angin sore. Dan pemandangannya? Lautan kemacetan Jakarta Selatan dengan latar suara klakson yang tak henti-henti.
Tapi bagi Rania, sore ini tempat itu terasa seperti Menara Eiffel.
Rania duduk di tepi tembok pembatas, kakinya menggantung (aman, ada pagar besi). Dia sedang menikmati sunset jingga yang memudar menjadi ungu.
Pintu besi di belakangnya berdecit terbuka.
Rania tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang. Aroma parfum sandalwood yang bercampur dengan bau sabun antiseptik RS itu sudah dia hafal di luar kepala.
"Angin di sini kencang," suara Adrian terdengar. "Banyak debu PM 2.5. Tidak baik untuk paru-paru dan pori-pori wajah."
Rania terkekeh. "Merusak suasana aja lo, Pangeran. Sini duduk. Mataharinya lagi bagus, kayak telur asin matang."
Adrian berjalan mendekat. Dia sudah mandi dan berganti pakaian. Kemeja linen warna beige yang santai, celana chino, dan... sepatu kets yang sudah dicuci bersih (meski tidak semengkilap dulu).
Di tangannya, dia membawa sebuah kotak martabak.
"Martabak?" tanya Rania, matanya berbinar. "Tumben. Biasanya lo anti makanan berminyak."
Adrian duduk di sebelah Rania, membuka kotak itu. Aromanya langsung menyeruak. Wangi mentega premium dan cokelat mahal.
"Ini Martabak Boss, varian Red Velvet Oreo Cream Cheese," jelas Adrian bangga. "Saya antre 30 menit pakai ojek online—maksud saya, saya pesan online."
Rania mengambil satu potong besar, menggigitnya tanpa ragu. Krim kejunya meleleh di sudut bibirnya. "Enak. Tapi tetep, martabak Bangka di depan kosan Pak Mamat lebih nendang."
Adrian mengambil tisu, membersihkan sudut bibir Rania dengan gerakan natural yang sudah menjadi kebiasaan barunya.
"Selera kamu memang perlu di-upgrade pelan-pelan," komentar Adrian, tapi matanya tersenyum.
Mereka makan dalam diam sejenak, membiarkan hiruk-pikuk kota di bawah menjadi backsound mereka.
"Papa sudah pindah ke ruang rawat biasa," kata Adrian tiba-tiba.
"Gue tau. Suster Yanti bilang dia udah mulai neror bagian gizi minta bubur sumsum diganti Salmon En Croute," sahut Rania.
Adrian tertawa kecil. "Ya, itu Papa. Dia tidak akan berubah 100 persen. Tapi tadi siang... dia nanya, kapan kamu mau visit ke kamarnya. Katanya dia mau nanya soal... skincare."
Rania tersedak martabaknya. "Uhuk! Bokap lo nanya skincare ke gue? Salah alamat, woy! Muka gue aja kusem gini."
"Bukan buat dia," Adrian menatap Rania intens. "Dia bilang, 'Kasih tau dokter Rania, kalau dia mau jadi mantu saya, minimal dia harus rajin pake sunscreen'."
Jantung Rania berhenti berdetak sedetik. Martabak di tangannya nyaris jatuh ke bawah gedung.
"M... mantu?" ulang Rania gagap. Wajahnya terasa panas, lebih panas dari oven martabak.
Adrian menggeser duduknya, memutar tubuhnya menghadap Rania sepenuhnya. Dia mengambil sisa martabak dari tangan Rania, meletakkannya kembali ke kotak, lalu menggenggam kedua tangan Rania yang berminyak mentega.
"Rania Wijaya," panggil Adrian. Suaranya berubah serius, rendah, dan dalam.
Rania menelan ludah. "Ya, Dok?"
"Analisis kasus," Adrian memulai dengan gaya presentasi medis. "Subjek: Seorang pria, 31 tahun, dokter spesialis bedah plastik. Riwayat penyakit: Narsistik, obsesif-kompulsif kebersihan, dan punya trauma masa lalu yang bikin dia jadi robot."
Rania diam, mendengarkan.
"Gejala klinis saat ini," lanjut Adrian, ibu jarinya mengusap punggung tangan Rania. "Takikardia (jantung berdebar) setiap kali melihat subjek wanita tertentu. Insomnia karena mikirin wanita itu udah makan atau belum. Dan... penurunan standar higienitas yang drastis demi bisa dekat sama wanita itu."
Adrian menatap manik mata Rania.
"Diagnosis kerja: Love, Stage 4 (Cinta Stadium 4). Prognosis: Incurable (Tidak bisa disembuhkan)."
Rania merasakan matanya berkaca-kaca. Dia ingin tertawa karena betapa "medis"-nya gombalan itu, tapi hatinya meleleh.
"Terus terapinya apa, Dok?" bisik Rania serak.
"Terapinya cuma satu," Adrian mengangkat tangan Rania, menciumnya lembut. "Pasien butuh pendamping seumur hidup. Seseorang yang berani marahin dia, yang mau makan mie instan sama dia pas badai, dan yang bisa megangin tangan dia pas dia takut."
Adrian menarik napas panjang, melepaskan sisa gengsinya ke angin sore Jakarta.
"Rania, saya nggak bisa janji hidup kita bakal mulus kayak jalan tol. Saya masih punya Papa yang rewel, saya masih punya sifat nyebelin yang suka ngatur baju kamu. Tapi saya janji... saya nggak akan pernah ninggalin kamu sendirian di UGD, di kosan, atau di mana pun."
"Jadi..." Adrian menatap Rania penuh harap. "...mau nggak kamu jadi co-ass tetap di hati saya? Tanpa sistem shift, tanpa cuti?"
Air mata Rania menetes. Ini adalah lamaran paling aneh, paling tidak romantis (di sebelah jemuran kain pel), tapi paling indah yang pernah dia dengar.
Rania menghapus air matanya dengan punggung tangan.
"Bego," isak Rania sambil tersenyum lebar. "Mana ada co-ass seumur hidup? Itu perbudakan."
Wajah Adrian sedikit panik. "Maksud saya—"
"Gue nggak mau jadi co-ass," potong Rania. Dia menarik kerah kemeja Adrian, mendekatkan wajah mereka. "Gue maunya jadi Konsultan Utama. Partner sejajar. Yang punya hak veto buat nentuin menu makan malam dan channel TV."
Senyum Adrian merekah, lega luar biasa. "Deal. Konsultan Utama."
"Dan satu lagi," tambah Rania.
"Apa?"
"Lo harus janji, mobil sport lo yang udah balik itu, jok kulitnya boleh gue dudukin pake celana kotor abis jaga malam."
Adrian tertawa lepas. Dia melingkarkan lengannya di pinggang Rania, menarik wanita itu ke dalam pelukannya.
"Jok mobil itu bisa diganti, Rania. Kamu enggak."
Di bawah langit Jakarta yang mulai gelap, di antara debu polusi dan bintang yang samar-samar, Adrian menunduk dan mencium Rania. Kali ini tidak ada pager yang berbunyi. Tidak ada bencana massal. Hanya ada mereka berdua.
Ciuman itu rasanya seperti martabak Red Velvet: Manis, mewah, dan bikin ketagihan.
Setelah beberapa saat, mereka melepaskan diri karena butuh oksigen. Rania menyandarkan kepalanya di dada Adrian.
"Jadi kita resmi nih?" tanya Rania, memainkan kancing kemeja Adrian.
"Resmi," jawab Adrian tegas. "Besok saya umumkan di apel pagi."
"JANGAN!" Rania mencubit pinggang Adrian. "Malu-maluin! Biar mereka tau sendiri aja."
"Oke, oke. Tapi Kevin pasti bakal heboh."
"Biarin aja si Kevin. Eh, Ad..."
"Hm?"
"Martabaknya dingin. Sayang mahal-mahal."
Adrian mengambil sepotong martabak dingin itu. "Nggak masalah. Makan martabak dingin di rooftop sama pacar... ternyata lebih enak daripada steak di hotel sendirian."
Rania tersenyum. "Selamat datang di kehidupan rakyat jelata yang bahagia, Pangeran."
"Terima kasih sudah mengundang saya, Tukang Jagal."
Mereka tertawa bersama, menghabiskan martabak itu sampai remah terakhir, siap menghadapi hari esok yang mungkin penuh darah dan drama, tapi setidaknya mereka hadapi berdua.
...****************...
Bersambung....
Terima kasih telah membaca💞
Jangan lupa bantu like komen dan share❣️
ceritanya bagus banget