Akibat terlalu baik sama seseorang yang tak cukup dekat, membuat ia harus terjebak dengan kisah satu malam yang rumit.
hingga suatu ketika benih itu tumbuh dirahim nya, ia meminta pertanggung jawaban tapi apa yang ia dapatkan.
" gugurkan saja kandunganmu! aku tak akan menikahi mu!" ucap seseorang dengan tegas, rahang otot ny terlihat, mata nya yang lebar tampak melotot.
*****
beberapa tahun kemudian ia bertemu kembali dengan laki-laki itu, tapi ia tampak berbeda, dia berubah, berusaha mendekati anak nya dan diri nya?
lalu gimana kelanjutan nya cusss baca!!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pinkky_11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
teh asin?
Naura sedang asyik bermain sama teman-teman nya, kebetulan ini weekend, terkadang ada teman nya yang dari tetangga bermain kerumah nya.
" naura ayah kamu kemana?" anak umur sebelas tahun itu bertanya dengan mata yang menelusuri setiap ruangan nya, tak terlihat ada sosok yang disebutkan, selama ia bermain kesini tak pernah melihat keberadaan yang ia maksut.
naura berdecak." sudah enggak ada kata ibu.." jawab nya singkat tapi ada hati yang terasa sesak, rasa kerinduan yang tak pernah ia perlihatkan kepada siapapun.
Aira itu, mengelus pundak teman nya dengan lembut." emmm... Maaf ya naura, aku enggak tahu." tatapan nya tampak sedih, wajah nya murung, ia dari kecil belum pernah melihat ayah nya, bentuk wajah nya, ia pun juga tidak tahu.
ibu nya selalu sedih setiap kali ia bertanya tentang ayah nya, jadi sejak saat itu ia tak bertaya kembali, bukan ia tak merindu melainkan tangisan sang ibu membuat hati nya tak tega.
Lia yang tak jauh dari keberadaan mereka, cukup jelas mendengarkan nya, sempat ingin memanggil sang anak untuk memeluk nya sebentar.
" nau–" ucapan nya terhenti saat pintu depan tiba-tiba diketuk. Lia berdiri, lalu melangkah kedapan untuk membukakan pintu.
Clek!
lia tanpa sengaja, memegang erat gagang pintu nya, hingga suara yang lembut itu keluar memasuki rongga-rongga telinga nya. " li.."
ia terdiam sejenak, pegangan tangan nya yang berada digagang pintu menguat, suara nya tercekat, padahal ini bukan pertama kali nya ia bertemu dengan nya, tapi kenapa rasa benci dan ketakutan itu kembali menguap?
Tatapan kosong itu membuat kedua tangan andito melambaikan didepan nya." lia.."
" heii..."
setelah bayangan-bayang negatif itu menghilang. " ehh, iya." ujar nya dengan keringat dingin yang tiba-tiba memenui tubuh nya.
" dimana dia li?"
"Apa aku bisa bertemu dengan nya?"
"kenapa chat aku kemarin tidak kamu balas?" pertanyaa beruntun yang semakin menguat pegangan nya.
Andito salah fokus sama keringat lia yang sejagung-jagung itu. " kamu kenapa li? Sakit?" andito berubah menjadi khawatir, ia ingin menyentuh nya tapi dengan cepat lia sedikit mundur.
ia berdehem sebentar, untuk menetralkan detak jantung nya, mengusap keringat-keringat itu dengan lengan nya" tunggu, kamu tahu alamat rumahku darimana?"
" kamu tega membiarkan aku berdiri berjam-jam disini?" bukan menjawab pertanyaan lia, ia mengahlikan pertanyaan nya.
lia mengagguk kepala nya tanpa sadar." jahat benget kamu li."
"kamu bisa duduk di situ." tangan lia menunjukkan kursi yang berada diteras nya. Dua kursi santai dengan meja yang ada ditengah nya, didepan nya ada taman kecil yang berisi aneka bunga, ada satu pohon ketapang kecana yang lumayan besar hingga teras itu tampak teduh.
Andito menoleh sekilas, berjalan kesana, lalu duduk dikursi kayu yang sudah disediakan. " dia kemana?" tanya nya yang lia juga membuntuti andito tanpa sadar.
" ada, lagi main sama teman nya, kenapa sih kamu dadakan banget kesini nya?" ujar nya jutek.
andito yang tak terima itu, ia menoleh lia dengan tatapan yang menelisik, sebelah alis nya terangkat." kamu yakin bilang gitu li? Aku dari kemarin lo kirim pesan dan kamu pun membuka nya tanpa membalas."
" kamu tahu enggak, aku seperti orang gila tahu menunggu balasan kamu!"
" sebegitu enggak suka nya kamu, kalau aku ingin menemui nya."
" hah." emang gue enggak suka.batin nya.
" hah, hah aja, panas banget gue disini li, sampai-sampai tenggorokan ku kering." sindir nya, yang kemudian ia mengelus leher nya, lalu berdehem.
Lia memutar bola mata nya." sebentar gue ambilin minum dulu." ujar nya, ia lalu berdiri dan melangkah masuk kearah rumah nya.
Karena asisten rumah tangga nya, ia jadi yang membuatkan minum untuk nya, dengan mulut yang menggerutu, tangan yang lihai membuat teh manis, dan saat menggambil gula, ia tampak sengaja mengambil garam.
Lia membawa teh beserta cemilan itu kedepan." ini." ia menaruh secangkir teh, dengan biskuit disamping nya.
" terima kasih li."
" sebentar, akan aku panggilkan anakku dulu."
sambil menunggu kedatangan anak nya, andito menggambil cangkir disebelah nya, bau nya tampak menggoda dan andito menyesap nya pelan..
"Brurr!" ia menyemburkan nya.
"Gila asin banget!"
Segitu benci nya kamu sama aku li, bikinin teh aja sampai asin banget.
Bibir nya merasa kelu, karena rasa asin yang menancap tajam di lidah nya. " apa dia enggak bisa bedain yah, gula sama garam." ia bergumam, kemudaian mengambil biskuit, untuk menimalisir rasa asin nya.
dan mulai saat itu aku gk sembarangan deket laki,. kl anakku dah oke baru aku serius tp kl anakku gk suka ya udah gk maksa. krn anak lbih penting Dr apapun.