Kehidupan rumah tangga Yuda dan Afifah mendapat gangguan dari mantan pacar Yuda, sehingga Yuda terpaksa harus keluar dari pekerjaannya.
Dulu sang mantan meninggalkan Yuda karena harta. Saat mengetahui Yuda sudah mapan, dia kembali dengan segala drama untuk menghancurkan rumah tangga Yuda.
Setelah mendapatkan pekerjaan baru, kesetiaan Yuda kembali di uji, Yuda dihadapkan pada dua pilihan sulit, harus menikah lagi atau menolak menikah dan beresiko kehilangan pekerjaan barunya.
Apakah Nindi berhasil menghancurkan rumah tangga Yuda dan Afifah? Siapa yang akhirnya harus dinikahi Yuda? Apakah Yuda akan menolak atau menerima pernikahan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myatra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 22
Dulu Doni memang sengaja mencari tahu tentang Afifah, karena Afifah termasuk dari sebagian siswi yang saat itu terkesan biasa saja dengan kehadirannya. Hal itu tentu membuat Doni penasaran.
Wajah cantik Afifah tentu saja menarik perhatian Doni. Namun sayang, tak banyak kesempatan untuk Doni mengenal Afifah, karena saat itu Afifah sudah kelas tiga, hanya sebentar kegiatan pembelajaran untuk kelas tiga.
"Nama kamu itu, Afifah kan?" Tanya Doni pura-pura.
Padahal dulu Doni memang sempat tertarik pada Afifah, sehingga mencari tahu tentang nama siswi cantik itu.
"Iya, pak."
Afifah yang tak terbiasa berinteraksi banyak dengan kaum laki-laki merasa canggung untuk mengobrol banyak. Afifah meremas tangan mamahnya. Mamah Ajeng mengerti ketidaknyamanan putrinya.
"Nak Doni, masih mengajar di Aliyah Negeri?"
Mamah Ajeng mencoba mengalihkan perhatian Doni dari Afifah.
" Masih bu, keberulan sekarang lagi libur semester, jadi saya isi waktu luang menjadi driver taksi online."
"Alhamdulillah, ya nak. Mengisi waktu luang dengan hal yang bermanfaat dan menghasilkan."
Sisa perjalanan di isi dengan obrolan mamah Ajeng dengan Doni. Sedang Afifah memilih memejamkan matanya, untuk mengurangi rasa mual yang dia rasa.
Mamah Ajeng menjelaskan keadaan Afifah yang sedang hamil muda, meminta maaf jika terkesan cuek, mungkin karena pusing perjalanan. Doni memaklumi, dan menjelaskan jika dulu saat istrinya hamil anak pertama juga seperti itu.
Kendaraan sudah memasuki daerah kota, Doni memberitahu jika sebentar lagi mereka sampai. Namun doni tak tahu harus mengambil jalan sebelah mana, untuk sampai ke tempat tujuan. Ada dua cabang jalan yang saling berdekatan.
Mamah Ajeng menggoyangkan pelan tangan Afifah. Afifah langsung terbangun dari tidur ayamnya. Mamah ajeng menanyakan jalan mana yang harus di ambil, Afifah melihat ke arah jendela melihat sekeliling, ternyata benar sudah hampir sampai. Afifah mengarahkan agar mobil masuk lewat jalan sebelah kanan, karena jika jalan sebelah kiri, jalannya kecil, susah jika bentrok dengan motor dari arah berlawanan.
Afifah menyiapkan dirinya, karena sebentar lagi harus menghadapi Nindi.
¤¤FH¤¤
Nindi sudah tak sabar menunggu hari ini. Hari dimana dia akan bertemu kembali dengan Yuda, sang pujaan hatinya. Bahkan tadi malam, Nindi tak bisa memejamkan matanya, sudah membayangkan sebentar lagi dia akan menjadi istri Yuda.
Pagi sekali, Nindi sudah berangkat ke kantornya, Nindi berencana menyicil pekerjaannya dari sekarang, agar nanti dia bisa ijin sebentar saat
jam istirahat.
Waktu terasa lambat berputar, sudah berkali-kali Nindi melihat ke arah jam. Ketika waktu jam istirahat hampir dekat, Nindi segera menemui kepala bagiannya, untuk meminta ijin mengambil jam istirahat lebih lama, dengan alasan ada urusan keluarga dan menyerahkan draf kerjanya yang sudah selesai dia kerjakan. Beruntung atasan Nindi memberi ijin, sehingga Nindi bisa segera melesat menuju ke rumah pak Arif.
¤¤FH¤¤
Afifah mengarahkan mobil langsung menuju ke rumah pak Arif, sengaja tidak ke rumahnya dahulu, agar masalah cepat selesai.
"Ke rumah saudara, Afifah?" Doni bertanya sebelum Afifah dan mamah Ajeng turun.,
"Iya, pak." Tak mungkin Afifah menceritakan siapa pak Arif.
"Mau di tunggu, biar sekalian pulangnya? Kebetulan saya juga belum dapat penumpang lagi ke arah desa."
Afifah melihat ke arah mamah Ajeng, meminta pendapat. Mamah Ajeng menganggukan kepalanya pertanda menyetujui tawaran Doni.
"Boleh, pak. Tapi jika nanti pak Doni dapat orderan, nggak apa-apa, kami ditinggal saja."
"Baik. Terima kasih bu, Afifah."
Setelah membayar ongkos taksi online sesuai tagihan, Afifah dan mamah Ajeng turun dari mobil. Afifah mengetuk pintu rumah pak Arif disertai salam,
"Assalamualaikum.."
"Waalaikum salam.." Terdengar suara perempuan menjawab salam dari dalam.
Istri pak Arif membukakan pintu, tersenyum menyambut Afifah dan mamahnya.
"Mbak Afifah, bagaimana kabarnya? Baru ditinggal sebentar saja, serasa sudah lama nggak ketemu."
"Alhamdulillah, saya baik-baik saja, bu."
Mereka bersalaman, istri pak Arif bahkan merangkul Afifah, berusaha memberi dukungan, atas masalah yang akan di hadapinya.
"Mari masuk mbak, ibu! Silahkan duduk! Sebentar saya panggilkan dulu bapa, tadi lagi di belakang, benerin kandang ayam."
Tak lama datang pak Arif, dia duduk di hadapan dua tamunya.
"Gimana kabar mbak Afifah dan pak Yuda?" Pak Arif mengawali obrolan.
"Alhamdulillah, kami baik-baik saja pak."
"Pak Yuda nggak ikut, mbak?"
Obrolan terhenti sejenak, karena istri pak Arif datang membawa air minum untuk Afifah dan mamah Ajeng. Istri pak Arif duduk di samping suaminya.
"Kebetulan, mas Yuda baru bekerja kembali. Sedang masa percobaan, jadi nggak bisa meninggalkan pekerjaannya." Afifah menjawab pertanyaan yang belum sempat dijawabnya.
"Lalu, masalah ...." Pak Arif menggantungkan ucapannya.
"Insya Alloh, biar saya yang menyelesaikannya. Saya yakin suami saya tak mungkin berbuat seperti yang dituduhkan, Nindi. Saya sudah mengenal Nindi. Sebelum ini pun, beliau sudah mengganggu rumah tangga kami. Hal ini pula lah yang menjadi alasan mas Yuda keluar dari pekerjaannya dan akhirnya kami pun harus pindah dari sini, karena Nindi tetap mengganggu."
Pak Arif dan istrinya sedikit terkejut mendengar pengakuan Afifah tentang alasan kepindahan yang sebenarnya. Waktu pamit, Yuda hanya bilang ingin tinggal dekat dengan orang tua mereka.
"Kami juga, saya dan istri, sebenarnya tidak percaya dengan pengakuan mbak Nindi. Hanya saja kami tetap harus memberitahukan pada mbak Afifah, agar masalah ini menjadi jelas. Saya takutnya, mbak Nindi ribut diluaran sana, sehingga nama baik pak Yuda menjadi tercemar."
"Apa Nindi mengatakan, dia sudah hamil berapa bulan?"
"Seingat saya Nindi tidak mengatakan usia kandungannya, bu."
"Tapi jika dilihat dari perutnya yang masih terlihat kecil, sepertinya masih bulan-bulan pertama mba Afifah." Istri pak Arif, ikut menambahkan jawaban suaminya.
"Nah itu pak, bu yang jadi pegangan saya, jika mas Yuda tak mungkin berbuat hal seperti yang dituduhkan Nindi, karena hampir dua bulan lebih sejak mas Yuda keluar dari pekerjaannya, mas Yuda lebih sering di rumah saja, jika keluar pun pasti selalu bersama saya."
Semua terdiam mendengar penjelasan Afifah. Terdengar suara adzan dari mesjid terdekat, pak Arif pamit shalat berjamaah di mesjid, sedang Afifah, mamah Ajeng dan istri pak Arif berjamaah mengerjakan shalat di rumah saja.
Ketika masih berdzikir, terdengar suara ketukan pintu, istri pak Arif segera menyelesaikan dzikirnya, untuk membukakan pintu. Ternyata Nindi yang datang, istri pak Arif mengajak Nindi masuk, dan memintanya menunggu, karena pak Arif masih di mesjid.
Nindi duduk dengan tak sabar, beberapa kali kepalanya menengok ke arah luar, karena mengira Yuda bersama pak Arif pergi ke mesjid. Ketika Nindi sedang memandang keluar, Afifah dan mamah Ajeng kembali ke ruang tamu, Nindi tak sadar jika Afifah datang menghampirinya.
"Assalamualaikum,," Ucapan salam Afifah membuat Nindi terlonjak kaget.
"Wa..wa.. alaikum salam," Sedikit terbata, Nindi menjawab salam Afifah. Melihat sikap Afifah yang tetap tenang, justru sedikit membuat perasaan Nindi tak enak. Namun Nindi segera menepisnya, dengan bukti yang dia bawa, Afifah tak akan bisa mencegah lagi keinginannya.
"Apa kabar, mbak Nindi?" Afifah menyapa Nindi dengan ramah.
"Bbaik." Nindi menjawab pertanyaan Afifah dengan singkat.
"Sambil menunggu yang lain, apa mba Nindi mau shalat dulu?"
"Saya sedang berhalangan.."
Nindi spontan menjawab, tak sadar jika jawabannya membuat yang ada di sana kaget. Setelah sadar, Nindi segera meralat jawabannya
"Eh, maaf. Maksud saya, saya sudah shalat tadi sebelum ke sini."
Jawaban Nindi justru membuat yang mendengarnya tertawa dalam hati. Apalagi Afifah, yang tahu jarak dari kantor tempat Nindi kerja ke rumah pak Arif harus ditempuh hampir empat puluh menit perjalanan, jika menggunakan sepeda motor. Sedang waktu dzuhur baru sekitar lima belas menit yang lalu.
Afifah tak bertanya lagi, memilih diam, menunggu pak Arif datang.
Pak Arif datang sekitar sepuluh menit kemudian. Nindi yang melihat hanya pak Arif yang datang, terus melihat keluar, menunggu kedatangan Yuda.
"Baik, karena sekarang mba Nindi sudah datang, mari kita mulai pembicaraan ini."
Nindi kaget, mendengar ucapan pa Arif.
"Tapi, mas Yudanya belum datang pak, kita tak bisa memulai pembicaraan ini."
Semua yang diruangan itu sontak melihat ke arah Nindi.
BERSAMBUNG
asaran, eeeh kok jd tertarik bc trus💪💪💪 mantul abizzz
apa kamu fikir Luna itu barang yg bs kamu atur kepemilikannya?? stelah kamu sakiti begitu dalam dtg minta rujuk, nunjuk org yg hrus di nikahi walau harus menyakiti hati istri dan anaknya skrg stelah ada laki2 yg jelas2 berstatus bukan suami siapa2 kamu menolak hanya krn kamu tdk suka Mario akrab dgn keluarga Luna.. bener2 sinting kamu sakti, kalau aku Luna walau u/ anak ga bakalan ikhlas aku di gilir jadi istri macam piala.
bagaimanapun kalau sakti mau rujuk tetap dengan syarat yuda menjalankan kewajibannya lahir dan bathin walau akan diceraikan kembali bukan hanya sekedar akad gimana skitnya Afifah kalau tau suaminya mendua. ga ikhlas thor kalau bnr2 yuda nikah ma Luna mending mario setidaknya mario blm berstatus suami wanita lain.