Jaka Sakti, seorang anak yang terlahir dari desa kecil, namun ia dilahirkan dengan takdir yang kuat.
Ia dipilih oleh Dewa Suci untuk meneruskan warisannya. Jaka berkelana ke seluruh dunia untuk menemukan 10 Siluman Dewa Suci yang akan menjadi gurunya dan memberikannya kekuatan yang tiada tara.
Aku, Jaka Sakti, Seseorang yang akan berada di puncak, bukan hanya tanah kelahiranku, melainkan mendominasi seluruh dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kemal costa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 21 - Mengunjungi Ayah dan Ibu.
"Nek, bisakah aku meminta bantuanmu?" tanya Jaka kepada Tabib.
"Tentu, apa yang kau butuhkan Nak?"
"Bisakah Nenek membantuku agar aku bisa mengkonsumsi pil yang ada di tanganku ini? Karena masih sulit bagiku untuk menggerakkan lenganku," tanya Jaka sambil melirik tangan kanannya.
"Pi-pil ini? Darimana kau mendapatkan pil ini?" tanya Sang Tabib dengan terbata.
"Aku mendapatkannya dari Peramal di desa tempatku tinggal Nek, memangnya kenapa?"
"Ini adalah Pil Teratai Emas, pil penyembuh khasiat utama. Pil ini sangat langka dan juga sangat mahal, karena khasiat pil ini dalam menyembuhkan dan juga memulihkan tubuh sangat luar biasa.
"Orang-orang di desa tempatmu tinggal memang sangat menyayangimu Nak, syukurlah," ucap Sang Tabib, Lalu Tabib itu pun membantu Jaka mengkonsumsi pil penyembuh, "Istirahatlah kembali, kau harus tidur agar bisa menyerap khasiat dari pil itu, walau hanya sebagian, tapi itu sudah bisa membuatmu bergerak lebih leluasa. Aku akan menyiapkan makanan saat kau bangun nanti, jadi istirahatlah dengan lelap."
"Makasih Nek, maaf aku terlalu merepotkanmu," ucap Jaka.
"Hey...! Sudah ku bilang, kau tidak pernah merepotkan kami, jadi jangan terlalu sungkan seperti itu, kau juga bagian dari desa ini."
Mendengar perkataan Tabib itu, Jaka merasa bahagia, karena ia sering bertemu dengan orang-orang baik di hidupnya. Jaka kemudian menutup matanya. Hanya butuh waktu beberapa menit sampai ia tertidur pulas, dikarenakan kondisi badannya yang masih sangat lemah.
Jaka terbangun setelah matahari terbenam, ia merasakan badannya telah lebih sehat, kini ia bisa menggerakkan badannya, berkat Pil yang ia konsumsi.
"Oh ... Nak Jaka kau sudah bangun?" tanya Tabib Desa.
"Sudah Nek..." Jaka tersenyum tipis.
"Bagaimana kondisi badanmu? "
Jaka meregangkan tubuhnya. "Sudah lebih baikan."
"Wajahmu kini terlihat lebih cerah, tunggu sebentar ya, aku ambilkan makan untukmu," ucap Sang Tabib lalu pergi menuju dapur.
Tak berapa lama, Tabib tersebut kembali dengan membawa nampan berisi sup ayam.
"Ini Nak, dimakan dulu, biar kondisimu cepat pulih."
"Terimakasih Nek," ucap Jaka lalu mulai menyantap makanannya.
"Apakah badanmu masih terasa sakit?"
"Hanya sedikit sakit, terutama di bagian dada dan bahuku." Jaka menggerakkan bahunya.
"Apa kau memiliki obat oles untuk luka luar? Jika tidak, aku akan mencarikannya besok."
"Aku memilikinya," ucap Jaka, kemudian memasukkan tangan ke dalam jubahnya dan mengambil salep dari gelang galaksi, "Ini Nek, aku akan memakainya nanti setelah makan."
"Salep ini cukup bagus untuk luka luar, biar aku saja yang mengoleskannya pada lukamu."
"Tidak, biar aku saja Nek, kini aku sudah lebih leluasa menggerakkan lenganku." Jaka menolak dengan halus.
"Iya, kau bisa mengoleskannya jika itu bagian dadamu, lalu bagaimana pada bagian punggungmu? Sekalian aku mengganti perbanmu."
"Baiklah Nek, tapi biar aku yang mengoleskan pada dadaku."
"Baiklah, terserahmu," ucap sang Tabib kesal.
"Hehehe ... Maaf Nek."
Setelah selesai makan, Jaka kemudian mengoleskan salep pada luka bagian dadanya, lalu pada bagian punggung dibantu oleh Nenek Tabib, sekaligus mengganti perban pada luka Jaka.
"Nek bisa kah aku keluar? Aku ingin menghirup udara segar, sekaligus bermeditasi untuk memulihkan tenaga dalamku dan menyerap khasiat dari Pil Teratai Emas yang tersisa."
"Pergilah, kau memang membutuhkan udara segar, tapi jangan melakukan hal yang membebani tubuhmu, aku akan meminta Kepala Desa untuk pergi mengawasimu sesekali dan jangan pergi terlalu jauh, " jawab Sang Tabib.
"Baiklah Nek, aku berjanji." Jaka mengangguk pelan.
Jaka kemudian pergi keluar rumah, lalu berjalan menuju sungai. Ia pun duduk bermeditasi di pinggir Sungai, kemudian melakukan Teknik Pernafasan untuk memulihkan tenaga dalamnya.
Kepala Desa pergi melihat Jaka sesekali setelah diberi tahu oleh Nenek Tabib. Namun ia tak ingin mengganggu Jaka yang sedang konsentrasi. Ia hanya mengawasi jikalau Jaka melakukan kegiatan yang dapat membebani tubuhnya.
**
Ke esokan harinya.
Kini kondisi tubuh Jaka sudah jauh lebih baik dan luka nya sudah menutup hampir sempurna. Jaka pergi ke makam Ayah dan Ibunya pada pagi buta untuk mengunjungi Ayah dan Ibunya.
"Ayah, Ibu, apakah kalian bahagia di sana? Maaf jika aku baru bisa mengunjungi kalian, aku berlatih bela diri untuk bisa melindungi orang-orang yang aku cintai.
"Ayah, Ibu, aku di sini baik-baik saja, sekarang aku sudah tumbuh besar dengan baik, aku dikelilingi orang-orang baik yang sangat menyayangi aku.
"Ayah,Ibu, yang tenang di sana ya, aku akan mengunjungi kalian lagi nanti dan aku berjanji akan melindungi orang-orang yang kucintai," ucap Jaka sambil melihat makam Ayah dan Ibunya.
Setelah meninggalkan Makam Ayah dan ibunya, Jaka kemudian berkeliling desa, ia pergi melihat tempat-tempat yang dulu pernah ia singgahi waktu kecil.
Jaka berhenti dan duduk di Pinggir Sungai tempat di mana ia dulu sering bermain air dan memancing bersama ayahnya.
Saat Jaka sedang melamun memikirkan masa kecilnya, Kepala Desa datang dan duduk di sampingnya. "Mengingat masa lalu?"
"Eh ... Pak Yoga, maaf aku tidak melihatmu datang, aku sedang melamun," ucap Jaka lalu mencium punggung tangan Yoga.
"Kau anak yang baik, kebaikanmu menurun dari ayah dan ibumu, mereka adalah salah satu orang baik yang pernah ku kenal semasa hidupku, mereka pasti bangga memiliki anak sepertimu," ujar Yoga.
Kemudian Yoga menceritakan cerita semasa dia dan ayah Jaka masih kecil. Jaka mendengarkan dengan penuh antusias.
Setelah bercerita, Yoga mengeluarkan sesuatu dari kantongnya. "Ini, ambillah Nak, kau pantas mendapatkannya."
Jaka membuka lebar kedua matanya. "Ini? Crystal Siluman yang pernah aku lawan?"
"Ia benar, aku dan warga desa yang mengeluarkannya dari perut Siluman itu."
Jaka menggelengkan kepalanya. "Aku tidak bisa menerimanya Pak."
Yoga menaikkan sebelah alisnya. "Kenapa? Kau yang mengalahkan Siluman itu, tentu kamu yang berhak memiliknya Nak."
"Tidak Pak, aku ingin Pak Yoga menjualnya dan dipakai untuk membangun kembali desa ini, satu hal yang kuharapkan adalah desa ini menjadi lebih baik seperti sebelumnya," ucap Jaka.
"Tapi...," ucapan Yoga terputus.
"Pak, itu adalah keinginanku dan aku akan bahagia jika Pak Yoga bisa mewujudkannya, tolong terima Pak."
"Baiklah kalau kau tetap menolak, aku akan melakukan seperti yang kau inginkan.
Jaka tersenyum simpul. "Terimakasih banyak Pak."
"Baiklah, hari sudah siang, kita kembali untuk makan siang, para penduduk sudah menyiapkan banyak hidangan di lapangan, sebagai ucapan terima kasih untukmu."
Penduduk Desa menyiapkan banyak hidangan dan menyusun meja, lalu meletakkannya di lapangan.
Penduduk menyiapkan jamuan makan dan sedikit perayaan kecil sebagai tanda terimakasih untuk Jaka yang telah menyelamatkan Desa.
Jaka dan pak Yoga bergabung untuk makan di lapangan desa. Para penduduk menyambut Jaka dengan senyuman, kemudian mempersilahkan Jaka untuk duduk dan mulai menghidangkan makanan. Makanan yang dihidangkan lumayan banyak, mulai dari ayam, ikan, daging, dan berbagai jenis sayuran.
Mereka menikmati perayaan kecil itu dengan kecerian dan tawa, terlihat raut wajah bahagia dari semua penduduk. Hati Jaka terasa hangat ketika melihat itu semua.
Setelah perayaan kecil itu selesai, Jaka membantu penduduk membereskan sisa perayaan, walau mereka menolak, tetapi Jaka tetap memaksa untuk ikut membantu.
zhia kan umi kepala suku bintang