Charol Voldemir adalah seorang permaisuri yang kejam di Kekaisaran Behati. Diakhir hidupnya, ia dihukum oleh suaminya sendiri, yaitu Kaisar Rudine Voldemir lantaran menyiksa selir kesayangan raja. Merasa tidak adil, Charol bertobat di depan tiang gantungan. Ia mendapat kesempatan mengulang hidup, tetapi ini bukan yang diimpikan. Kejadian masa lalu tidak seperti gambarannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon renita april, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misi Pertama
Malam ini tepatnya, Charol yakin jika Rudine tidak akan mencarinya setelah kejadian kemarin malam. Ia punya waktu selama tiga hari untuk memberantas monster demi mendapatkan penghasilan tambahan. Charol sudah bertekad bahwa ia akan pergi ke gunung Realm Trans.
“Yang Mulia, jika Kaisar kembali mencarimu bagaimana?” tanya Asha.
“Kau tinggal bilang saja kalau aku sedang sakit. Katakan saja penyakitnya bisa membuat Kaisar tertular.”
“Anda tidak boleh bicara seperti itu, Permaisuri.”
Charol menggenggam tangan Asha, ia tahu dayang setianya ini mengkhawatirkan dirinya. “Aku bosan bila terus berada di istana. Asha, kau tahu tentang diriku. Daripada mengharap cinta Kaisar, lebih baik aku melakukan hal-hal yang kusukai termasuk memburu monster. Suatu saat, aku akan meninggalkan istana. Aku perlu memperkuat posisiku.”
“Ke mana pun Yang Mulia pergi, hamba ini akan mengikuti. Asha akan terus berada di sisi Permaisuri.”
“Terima kasih, Asha. Aku tidak meragukan kesetiaanmu. Kau sudah siapkan perlengkapannya?”
Asha mengangguk. “Semua sudah beres. Perlu saya panggilkan Ariel Deroza?”
“Ya, waktunya untuk berangkat.”
Asha segera memanggil Ariel Deroza ke kamar Permaisuri. Pria itu pun sudah siap dengan perlengkapannya. Ariel Deroza kaget melihat penampilan Permaisuri yang cantik jelita dalam balutan ksatria. Selama ini Charol memakai gaun. Tidak ia sangka, jika Permaisuri begitu memukau.
“Wajahmu memerah, Ariel,” ucap Asha.
Ariel Deroza terkesiap. “Aku hanya kepanasan.”
“Menghabisi monster akan meningkatkan kemampuanmu, Ariel. Bisa saja kau naik menjadi level dua swordmaster,” ucap Charol.
“Saya akan mengikuti semua petunjuk, Yang Mulia.”
“Jangan kaget dengan penampilanku ini. Sebelum berkenalan dengan Kaisar, aku adalah seorang penyihir dan pemburu monster karena wilayah kekuasaan keluargaku adalah tempat yang paling banyak monster muncul. Itu sebabnya, kami memasang segel.”
“Tapi, Yang Mulia. Kenapa selama ini kami tidak pernah mendengarnya?” tanya Ariel.
Charol tersenyum mendengarnya. “Karena aku seorang perempuan. Ibuku ingin aku menikah.”
Keluarga Hailon memang tidak melarang Charol memburu monster, tetapi dia adalah anak perempuan yang seharusnya bersikap anggun. Ibunya tidak ingin diluar sana nama Charol mendapat reputasi buruk dan tidak bisa menikah.
Ketika Charol mendatangi pesta dan bertemu Rudine, ia jatuh cinta dan melupakan kemampuannya. Charol menginginkan Rudine, tetapi pria itu menolaknya sehingga pemaksaan pun dilakukan yang akibatnya membuat seluruh keluarga Hailon dimusnahkan. Charol menyadari perbuatan buruk itu di masa lalu, dan kali ini ia tidak akan mengulanginya lagi.
“Sudah waktunya kita berangkat. Asha, aku serahkan istana ini padamu. Aku yakin kau bisa melakukannya,” ucap Charol.
“Hamba tidak akan mengecewakan Permaisuri.” Asha menundukkan kepalanya.
“Kita berangkat.” Charol membuka pintu teleportasi. Ia masuk lebih dulu, barulah Ariel. Dalam sekejap saja, keduanya telah menghilang bersama dengan cahaya biru.
Keduanya tiba di pinggir hutan sesuai arahan dari ketua guild Obsidian Sigil. Ternyata bukan hanya Charol dan Ariel saja, tetapi ada beberapa pemburu lain. Termasuk seorang pria yang membuat Permaisuri kaget. Lelaki itu bersandar ke pohon sambil melambaikan tangannya.
“Kenapa Rowen ada di sini juga?” gumam Charol.
“Baik, di gunung sana telah muncul monster tingkat tiga. Tugas kalian tentu saja harus memusnahkannya. Satu batu kehidupan dihargai tiga keping emas,” ucap Rohan.
“Kami siap!”
“Bersiaplah, pintu teleportasinya akan segera dibuka.” Pintu teleportasi dibuka, satu per satu pemburu masuk ke pintu tersebut dan menghilang. Mereka secara tiba-tiba telah muncul di gunung Realm Trans.
“Menyebar!” seru yang lain.
“Kita juga, Ariel.”
“Baik, Yang Mulia.”
“Hei, jangan panggil aku Yang Mulia. Panggil Soria.”
Ariel mengangguk. Lidah ini canggung bila harus memanggil dengan nama samaran. Namun, ia harus melakukannya agar mereka tidak ketahuan.
“Tunggu, Permaisuri.”
Tubuh Charol terlonjak kaget karena panggilan itu. Ia menoleh pada Rowen. Entah kenapa ia bisa menebaknya karena topeng yang pria itu pakai. Warna mata Rowen semakin merah dan rambutnya … entah Charol yang tidak memerhatikan atau memang warnanya memang seperti itu. Mata merah dan warna rambut perak. Semisterius apa wajah di balik topeng itu? Tapi, Charol juga merasakan perasaan familiar, dan ia tertuju pada Kaisar.
“Panggil aku, Soria.”
“Kenapa kau di sini?” tanya Rowen.
“Memangnya aku harus bilang kepadamu tentang pekerjaanku?”
“Aku sedikit terkejut. Memangnya kau bisa apa dengan tubuh lemah seperti itu?”
“Kau bilang apa?!” Charol menyerang Rowen dengan sihirnya dan berhasil ditepis oleh pria itu.
“Hati-hati, Soria. Kau bisa ditahan bila menggunakan sihir.”
“Ini semua karena Kaisar Rudine yang bodoh. Dia terlalu meremehkan wanita.”
“Yang Mulia.” Ariel menegur, bagaimanapun Rudine adalah suami dari Charol.
“Kita boleh memaki dia selama berada di gunung. Sebaiknya jangan buang waktu. Kita buru monsternya.” Charol punya alat pendeteksi monster. Jadi, ia bisa mencari dan langsung menghabisinya. “Kenapa kau mengikuti kami?” tanya Charol.
“Tidak baik pria dan wanita bepergian berduaan saja. Jadi, aku akan menemani kalian.”
“Aku pengawal Soria,” ucap Ariel.
“Justru karena kau pengawalnya, aku akan menemani kalian.”
“Asal kau memberikan inti kristal yang kau dapatkan nanti pada kami, maka aku mengizinkanmu.” Charol tidak mau sembarangan menerima orang.
“Aku setuju.”
Ketiganya melanjutkan perjalanan dalam kegelapan malam. Monster sangat pandai bersembunyi dan mereka harus tetap waspada. Charol menggunakan tumbuhan lampu sebagai penerang jalan.
“Oh, apa ini? Kakiku tidak bisa digerakkan,” ucap Ariel Deroza.
“Ada apa, Ariel?” tanya Charol.
“Apa ini?” Ariel menginjak-nginjak lendir yang melekat di kakinya.
“Monster Slime hijau! Angkat kakimu, Ariel!” Charol menggunakan sihir yang dibuat menjadi pedang, lalu menebas monster itu.
“Sepertinya kita di kepung,” ucap Rowen.
lagi sibuk mungking🤭🦾 kk ren
koq baru dengar ya