tiga tahun sudah pernikahan kita...Dipaksa menikah di usia muda ketika kita masih duduk di bangku SMA..
Tak ada kontak fisik. Di rumah seperti orang asing. Aku tahu Aksa memiliki ke kasih tapi apa salah ku. Hingga batas kesabaran ku hilang juga.
"Kak Aksa aku ingin gomong".
"Kalau ngomong ya ngomong aja Bintang".
"Kak mari kita berpisah".
Apa Aksa mengabulkan permintaan Bintang. Atau mempertahankan pernikahannya ???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vita no, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Selalu Di Abaikan
Aksa menuju mall dimana Tiara menunggu. Aksa secara tidak langsung telah menyakiti perasaan Bintang. Apa Aksa sadar atau nggal, hanya dia yang tahu.
"Kak Aksa, sini kak." Ucap Tiara sambil ingin memeluk Aksa. Tapi dengan cepat Aksa menghindar.
"Aku nggak suka ya Tia jika kamu main peluk dan juga pegeng lengan aku. Aku nggak suka. Ingat Tia disini bukan di luar negri yang bisa seenaknya peluk apa lagi ciuman. Kita buka muhrim. Ingat itu dan jangan ulangi lagi."
"Iya kak Aksa. Maaf Tia kak. Tadi itu Tia reflek aja kak. Tia nggak akan ulangi lagi kak."ucap Tia dengan menunduk takut melihat tatapan Aksa jika Aksa sudah marah dia akan menyeramkan.
Akhirnya Tia naik ke mobil Aksa dan duduk di samping pengemudi." Kenapa sih susah kali menaklukkan kak Aks. Jika cowok lain mana mau mereka menolak pesona ku. Apa kak Aksa sudah punya kekasih ya?" Gumam Tiara dalam hati.
Sepanjang perjalanan mengantar Tia ke rumahnya. Hanya ada terdengar suara musik yang di putar. Tia dan Aksa tidak ada yang berbicara. Tia juga takut untuk memulai pembicaraan dengan Aksa setelah di tegur oleh Aksa.
Tak ada yang tahu hati Aksa. Kenapa sama Bintang dan juga Tia dia bersikap dingin. Tapi walaupun dia bersikap dingin pada mereka. Jika Tia memerlukan bantuan, maka dengan cepat Aksa membantunya. Tapi jika dengan Bintang sikap Aksa dingin dan seolah olah Aksa tidak peduli. Memang aneh ni Aksa.
"Turunlah, ni udah sampai."
"Kak Aksa nggak singgah dulu. Biat nanti si mbok buatkan minuman kak."
"Nggak usah, hari sudah malam. Lagian hujan deras dan petir kilatnya cukup kuat."
Aksa menuju ke cafe Hit nya sebelum ke apartemen. Bahkan dia nggak ingat jika istrinya di rumah ketakutan dengan kilat dan petir. Tapi untuk pulang ke apartemen dia malas karena lebih jauh. Kalau dari tempat tinggal Tiara ke cafenya hanya butuh lima belas menit."uh lebih baik malam ini aku tidur di cafe aja."gumam Aksa dihatinya.
Matahari pagi sudah mulai terbit. Cuaca pagi ini sangat sejuk. Tak ada yang mengira kalau semalam terjadi hujan petir dan kilat.
Aku bangun dan menunaikan kewajiban ku sebagai umat muslim. Setelah itu aku menuju ke dapur untuk membuat sarapan, kebetulan aku bangun kepagian. Setelah selesai membuat sarapan, aku menuju ke kamar ku untuk bersiap siap untuk ke sekolah. Tapi ketika menuju ke kamar ku, aku melihat kak Aksa baru masuk ke dalam apartemen. Ingin rasanya aku bertanya, tapi aku ingat kak Aksa ngomong kalau aku nggak boleh ikut campur masalah pribadinya. Sehingga aku berlalu saja di hadapan kak Aksa tanpa bertanya apa pun meski aku penasaran.
"Kenapa dia nggak bertanya dari mana aku. Kenapa dia seakan mengacuhkan aku. Benar wanita aneh. Eh apa itu, dia buat sarapan. Ternyata dia pintar masak juga, aku kira dia anak manja."gumam Aksa dalam hati.
Selesai siap siap, aku menuju keruang makan. Aku lihat kak Aksa sudah duduk di meja makan. Aku tawari kak Aksa untuk mengambil sarapannya. Tapi kak Aksa selalu mengabaikan apa kata ku. Hingga aku hanya mengambil makanan ku sendiri. Karena aku tahu diri, siapalah aku ini.
"Aku pergi dulu kak." Ku ambil tangannya, ku bersalam dan mengecup punggung tangan ku dengan takzim sebagai istri terhadap suaminya atau sebagai seorang adik terhadap kakaknya.
Tanpa mendengar balasan kak Aksa, aku berlari kedepan pintu. Dan berjalan keluar apartemen dan pergi ke sekolah. Hari ini aku pergi kesekolah dengan gojek online yang telah ku pesan. Mungkin aku akan membeli motor untuk aku pergi kesekolah. Soalnya disini nggak ada mobil mang Ujang.
Aksa bengong sendiri, seolah nyawanya ditarik dari raganya. Mendapatkan perlakuan tak terduga dari Bintang. Hatinya mulai dag dig dug."ah kenapa hati ku ini. Ah dimana tu anak. Cepat kali dia perginya."aneh gumam Aksa dalam hati.
Sesampai di sekolah, aku jalan beriringan dengan Mila dan Silvi. Kebetulan kami bertemu di gerbang sekolah. Tak berapa lama kak Aksa sampai dan menuju parkiran motor. Kami berpapasan jalan. Dan seperti biasa, kak Aksa selalu saja mengabikan aku. Dia sama sekali tak menoleh kepada ku. Ya aku juga ogah menyapa nya. Dan akhirnya aku mendengar Tia ngomong ke kak Aks.
"Kak Aksa baru sampai. Sama dong kita kekelasnya. Kak makasih ya semalam."
"Hmmm."
Aku mendengar ucapan Tia merasa sedih juga kecewa. Hanya karena Tia, kak Aksa mengabaikan aku yang ada di rumah, bahkan dia nggak pulang semalam. "Apa kak Aksa temani Tia dirumahnya juga. Dan tidur disana?"kalau iya, buat apa coba, kak Aksa bawa aku tinggal di apartemennya jika aku ditinggal juga. Mending aku tinggal aja dengan mommy dan deddy. Jadi aku nggak kesepian dan merasa takut."
"Hei Bin. Kenapa kamu melamun aja sambil jalan, nanti jatuh. Apa sih yang kamu fikirkan. Coba cerita sama kami."
"Benar yang diomongin Mila, Bin. Jika ada masalah kamu bisa bicara sama kami. Biar hati kamu bisa lega jika sudah cerita sama kami."
"Iya guys. Nanti ya, jika aku sudah siap. Aku bakal cerita sama kalian. Sekarang yuk kita masuk. Jam belajar juga mau dimulai."
Kami berjalan menuju ke kelas. Sambil berjalan, Mila selalu bercanda dan kadang dia bergosip. Aku dan Silvi hanya mendengar ocehan Mila. Karena memang diantara kami bertiga hanya Mila yang cerewet.
"Oh ya Bin, nggak terasa ujian kenaikan kelas sudah hampir dekat. Bentar lagi kita sudah naik ke kelas XII. Aku nggak sabar ingin cepat cepat tamat dan menjadi mahasiswi. Wah pasti banyak cogan cogannya ya Bin, Sil."
"Sudah Mil. Jangan menghayal yang nggak nggak deh. Fokus belajar tu. Nanti ditanya sama guru, kamunya nggak bisa jawab."
"Iya deh Bin." Ucap Mila sambil cemberut.
Bel istirahat pun sudah bunyi. Anak anak pada menuju ke kantin. Sementara aku hanya duduk di kelas. Aku malas keluar, lagian aku tadi pagi sempat membawa bekal nasi goreng yang aku buat.
"Wah kamu bawa bekal ya Bin. Kelihatannya enak ni."
"Yuk kita makan sama sama. Kebetulan aku bawanya lebih. Tapi kalian bawa minuman kan ?"
"Soal minum mah gampang. Nanti aku beli di kantin. Bentar ya aku beli dulu. Awas lo jangan makan dulu. Kita sama sama makannya."
"Iya iya, kita bakalan tunggu kamu kok Mil. Tapi aku titip minum juga ya!"
"Ok siap Sil. Kamu titip juga nggak Bin?"
"Kalian mau titip apa?"
"Aku titip es teh aja."
"Aku sama in aja dengan Bintang."
"Ok ok, aku beli dulu. Ingat tunggu aku baru kita makan bareng bareng."
"Iya bawel, cepat beli Mil. Takut aja kalau makanannya habis.ha...ha...ha..."
Akhirnya Mila datang membawa munuman, pesanan kami. Dan kami makan makanan yang aku buat sama sama.
"Wah enak sekali Bin nasi gorengnya. Siapa yang buat ini Bin?"
"Aku yang buat Mil."
"Serius kamu yang buat Bin?"dan aku hanya menjawab dengan anggukkan pertanyaan yang ditanya Silvi.
"Ku kira kamu hanya bisa belajar Bin. Eh ternyata kamu juga bisa masak. Wah keren sekali. Kamu tuh tahu nggak, kalau kamu tu udah cantik, otak pintar dan bisa masak lagi. Memang tipikal istri idaman aja kamu Bin. Jika aku jadi laki laki, aku sudah pasti menargetkan kamu buat jadi pasangan hidup ku."
"Kamu apaan sih Mil. Pakai acara targer segala. Emang Bintang apaan Mil."
"Ya elah Sil, kok sewot aja sih. Itu kan perumpamaan dodol." Kata Mila sambil memukul bahu Silvi, walau pun nggak keras sih hanya sekedar candaan aja. Tapi tanggapan Silvi juga agak lebay."Apaan sih Mil, main pukul aja. Bisa miring ni bahu ku."
Ha...ha...ha... akhirnya pecah juga tawa kami sama sama, karena ada ada aja sikap random kami.