Mengagumi, mencintai tapi tidak bisa untuk dimiliki. Karena semua hanya dalam batas rasa yang kerap kali hadir disetiap ada kesempatan menyapa. Bersama melewati hari dan saling mensupport tanpa saling mengungkapkan perasaan yang sebenarnya.
Cinta? Inikah yang dinamakan tingkatan mencintai yang penuh dengan ketulusan? yang harus menerima dan melihat keberadaan orang yang disayangi, selalu bersama dan menjalani komunikasi tanpa saling mengungkapkan rasa yang telah bersemai bertahun lamanya. Diam dan hanya bisa terasa ketika mata saling beradu pandang, dengan desiran degupan halus terus mengimbangi perasaan. Tak bisa berkata-kata ketika rasa itu memuncak dan hanya bisa diabaikan dengan terus mengalihkan rasa dengan terus melakukan aktifitas tanpa henti.
Berharap tidak harus terbaca, namun gelisah hati nampak tatkala dia mulai berkomunikasi dengan pasangan sahnya. Cemburu? Pasti Iya..! Namun apalah daya jika semua hanya sebatas mengagumi bukan untuk memiliki :)
Namun ketika kesempatan memiliki itu ada, akankah masih bisa bertahan dengan komitmen yang hanya mengagumi bukan untuk memiliki? MEMBIJAKSANAI Rasa itu adalah yang lebih baik. Karena tingkatan mencintai yang paling hakiki adalah ketika melihat orang yang kau cintai berbahagia, meski tidak denganmu tapi selalu berdoa yang terbaik untuk kebahagiaannya.
Melelahkan..? Tentu saja iya..Karena hati yang terus berharap itu lebih melelahkan daripada kaki yang terus melangkah.
Jodoh Pasti Bertemu. Meski waktunya tidak cepat tapi pasti akan datang di waktu yang tepat.
Bagaimanakah kisahnya, ikutin terus setiap episodenya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rusni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berdamai Dengan Waktu
Sampai tibanya di kantor, Varid belum bisa melupakan wajah Diva. Seakan wajah itu memenuhi ruang pikirannya. Sekejap kehadiran raut wajah itu membawa Varid kembali ke masa-masa SMA beberapa Tahun silam. Berdua menyanyikan lagu saat acara disekolah, selalu aktif dalam kegiatan ekstra sekolah. Seperti saat itu kegiatan Pramuka.
"Diva, aku nanti akan menjadi panitia untuk kegiatan sore nanti, buku saku yang aku berikan harus kau pelajari baik-baik, tentang simpul tali, kode semaphore dan lain-lain. Jangan sampai adik kelas lebih tahu dari kau", jelas Varid
"Iya..iya.. hehehe", balas Diva
Setelah kegiatan pagi dan siang selesai. Beralihlah ke kegiatan sore. Nampak Tugu yang dibuat dari susunan kayu setinggi 20 meter itu berdiri Kokoh untuk persiapan acara malam api unggun. Dengan percaya dirinya Varid berdiri diatas tugu itu meniupkan peluit berharap Diva bisa mendengar sumber suara peluit itu. Karena dari ketinggian 20 meter itu Varid melihat Diva dan salah seorang temannya lagi mengatur tempurung di lapangan.
Mendengar suara peluit itu Diva memandang keatas dan melihat Varid dengan sigapnya memainkan bendera semaphore untuk dibaca Diva.
"Maksudnya apaaaa? aku tidak mengerti, teriak Diva.
Lalu Varid mengambil handphone nya dan mengirim pesan singkat kepada Diva.
"Baca apa yang akan ku kirimkan lewat semaphore".
Lalu Varid mulai mengibarkan bendera semaphore dengan mengeja huruf demi huruf yang dibaca perlahan oleh Diva.
A..K..U. C..I..N..T..A. K..A..M..U
dan mengulanginya sekali lagi untuk membuat Diva lebih mengerti dengan ejaan kalimat itu.
Diva pun menyambutnya dengan tersenyum. Lalu Varid turun dari Tugu buatan itu menemui Diva, memastikan jawabannya apa yang akan diterimanya. Diva semakin berdebar kencang dan menerima Varid sebagai pacarnya.
Dan disitulah awal mereka mulai membuat komitmen untuk selalu bersama.
Rindu itu semakin kuat, mengantarkan Varid kepada kenangan ketika bersama Diva. Tersenyum dalam kenyamanan dan sesekali menghela napas mengingat perpisahan harus terjadi diantara mereka.
Kriiiiiingg....kriiiiiingg......
Deringan telepon membuyarkan lamunan Varid.
"Paa, belum pulang?, suara merdu dari sang istri dari balik telepon membuat Varid harus terlihat baik-baik saja dengan keadaan ini.
"Yaa, iya sebentar lagi aku pulang, masih ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan", jawab Varid
"Ow ya udah, semangat kerjanya yaa sayang, jangan lupa makan".
"Iya..aku dah makan tadi dengan teman-teman", jawab Varid
"Ow iya... assalamualaikum".
"Wa Alaikum salam", balas Varid lalu menutup teleponnya.
Demikian halnya dengan Diva. Setibanya di kantor menyelesaikan beberapa pekerjaan yang sempat tertunda. Namun kembali lagi perasaan berdebar itu mengganggu aktifitasnya yang membuat Diva harus menghentikan pekerjaannya.
Pandangannya tertuju diluar. Dibalik dinding kaca yang transparan itu Diva duduk didepan komputer. Tatapannya kosong, sontak bayangan Varid hadir membuat Diva harus bertanya kabar tentang keberadaan Varid saat ini.
"Apa kabarmu Varid? Kok tiba-tiba aku jadi ingat dirimu", gumam Diva.
Perasaan berdebar itu semakin bergetar ketika sosok Varid jelas terbayang dipikirkan nya.
Sudah bertahun-tahun kita tidak pernah bertemu, "Huuuft...kenapa aku harus mengingat orang yang telah beristri..! maafkan aku Yaa Allah.
Tatapan itu hampa, kepala Diva tersandar. Namun Diva tidak ingin terlalu larut dalam kenangan. Beberapa menit kemudian, Diva tersadar dan memilih untuk kembali ke rumah dan menyelesaikan pekerjaannya besok hari. Dia tidak ingin memaksakan diri untuk menyelesaikan pekerjaan yang membuat dirinya tidak bisa fokus. Semua hanyalah masalah waktu aku pasti bisa untuk melewatinya, meski butuh proses yang aku tidak tahu pasti kapan akan berakhir.
Karena aku tahu waktu akan terasa lambat bagi mereka yang menunggu, akan terasa lama bagi mereka yang gelisah, dan akan terasa cepat bagi mereka yang bahagia.
Tapi waktu adalah keabadian bagi mereka yang bersyukur.
BERSAMBUNG.... ❤️
jadi ikut terhanyut...
kata katanya sangat inspiratif👍👍