Tyo Fuller, seorang detektif pembasmi kejahatan, tengah mencari siapa pembunuh orang tuanya. Dalam perjalanannya, ia bertemu dengan Raise Lee, vampir wanita yang tengah menghisap darah seorang manusia.
Tak disangka, setelah tak sengaja menyentuh tatto di pundak Tyo, justru membuat Raise Lee kehilangan sebagian kemampuannya untuk menghisap darah manusia.
Mengetahui kelemahan sang Vampir, akhirnya Tyo Fuller mengajukan perjanjian kerja sama memanfaatkan kemampuan indra penciuman dan penglihatan sang vampir untuk membantunya menangkap para penjahat, sedangkan Tyo akan menyiapkan darah sebagai makanan bagi Raise Lee.
"Penciumanmu berguna juga! bantu aku menangkapnya!"
"Itu mudah bagiku! pastikan kudapanku tersedia setelah ini selesai, minimal satu liter darah!" tegas Raise Lee memperjelas syaratnya.
Mampukah kerjasama dua makhluk berbeda itu akan berjalan semestinya?
Bisakah Tyo Fuller menemukan pembunuh orang tuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#22
Penyelidikan dan interogasi terhadap kasus masih berlangsung, petugas Torre bersama petugas Claudy mengawal jalannya interogasi, sedangkan ketua Radh mengawasi dari ruang kontrol di ruangan sebelah melalui layar tangkapan CCTV.
“Tak ada yang lain, waktu itu mereka tampak seperti orang pada umumnya,” terang si kemeja kuning.
“Baiklah, untuk sementara cukup sekian, penyelidikan akan kami lanjutkan setiap saat, kami harap jaga sikap kalian … pulanglah untuk sekarang!” Karena tak menemukan bukti kejahatan, para petugas pun memulangkan kedua pria itu.
Para petugas kembali ke ruang utama, lalu kembali fokus dengan kasus ini di meja mereka masing-masing.
“Pelakunya benar-benar cerdik, mereka bahkan meminta bertemu untuk melakukan sewa di lokasi yang tidak ada cctv-nya. Kita hanya berbekal informasi kepemilikan jam tangan saja.” Petugas Torre menghela napas berat seraya melemparkan tubuh di kursi kerjanya.
“Jam tangan?” sahut petugas Tyo melangkahkan kaki memasuki ruangan tim-nya lalu bergegas mendekat petugas Claudy yang melambaikan tangan sebagai isyarat agar rekannya itu melihat benda yang dimaksud.
“Ini kah yang kalian maksud?” tunjuk petugas Tyo seraya mengangkat lengan kirinya. Jam tangan yang sama, petugas Tyo juga memilikinya.
Secara otomatis semua petugas yang ada di kantor saat itu terbelalak menatap petugas Tyo.
“Bagaimana … kamu pasti sangat kaya … kamu ….” ucap gagap petugas Dakka.
“Jangan menatapku seperti itu, aku tidak sekaya yang kalian bayangkan … jam tangan ini asli, dan hanya ada sepuluh … dan yang pasti ini gratis.”
“Tapi jam tangan itu hanya diberikan untuk pelanggan VVIP!” seru petugas Dakka seraya memukul punggung petugas Tyo dengan gulungan kertas yang dipegangnya.
“Jangan bercanda, cari informasi nama pemilik kesembilan jam tangan itu, Tyo adalah pelanggan disana, harusnya kamu memiliki akses lebih cepat untuk menggalinya!” perintah ketua Radh.
“Baiklah!” tukas petugas Tyo menyambar kunci mobil.
“Biarkan aku ikut!” seru opsir Yui segera mengikuti langkah petugas Tyo.
Dalam perjalanan menuju grocery enha, petugas Tyo bertanggungjawab pada kemudi, sedangkan petugas Yui duduk disebelahnya.
“Dimana petugas Atho? Setelah mengantarmu ke kantor semalam, aku lihat dia terburu-buru pulang,” petugas Yui membuka percakapan.
“Entahlah, akhir-akhir ini ponakannya sering mengeluh sakit,”
“Hm, begitu. Tapi … kenapa petugas Atho yang harus repot? Bukankah ….”
Belum selesai ucapan petugas Yui, Tyo memotongnya dengan cepat, “Mereka tinggal bersama, Atho satu-satunya kerabat yang dimiliki Anne setelah orang tuanya meninggal.”
“Ah ….” Tampak petugas Yui manggut-manggut sebagai ungkapan mengerti. “Tunggu! Kurangi kecepatan!” serunya tiba-tiba membuat reflek pria di sisinya pun bekerja. “EST club … Marest club, aku rasa itu satu-satunya club yang pernah aku dengar, dimana anggotanya adalah para pria berbadan atletis,” terang Yui seraya menunjuk tulisan yang tertera di body belakang sebuah minivan yang melaju pelan tepat di depan mereka.
Petugas Tyo terdiam berpikir sejenak, “Tapi hanya orang-orang dengan prestasi tertentu yang bisa lolos jadi anggota mereka, entah kenapa rasanya mereka itu orang-orang bersih.”
“Jangan bodoh … terkadang atau justru sering mata menipu kita dengan terang-terangan.”
“Hm … haruskah kita selidiki sekarang?”
Petugas Yui menggeleng, “Alamat tempat mereka berkumpul sudah aku kirimkan pada ketua Radh, kita fokus saja pada Enha. Entah kenapa sepertinya Enha lebih dekat dengan tujuan kita.”
Petugas Tyo tak membantah rekannya sedikit pun, ia kembali melajukan mobilnya menuju grocery store yang terkenal lengkap dan selalu ramai pengunjung di kota itu.
Kedua petugas berjalan di basement menuju lantai dasar setelah memarkirkan mobil. Dengan langkah santai kedua petugas tampak membaur dengan pengunjung biasa.
Petugas Yui menuju ke customer service, menunjukkan identitas penyidiknya dan berkata, “Biarkan kami bertemu dengan manager kalian.”
“Maaf petugas, tapi manager kami sedang tidak berada di tempat.”
Petugas Tyo yang berdiri jauh dari rekannya itu, menyambar keranjang belanja, lalu berpura-pura mengambil beberapa barang dari etalase secara asal.
“Aduh! Aku rasa telur-telur ini kualitasnya tidak baik, dan buah ini, kenapa terlihat layu begini ya?” ucap petugas Tyo sengaja dengan suara nyaring membuat para pengunjung dan pegawai sontak menoleh kearahnya.
Petugas Yui dibuat bingung dengan situasi yang dibuat oleh rekannya itu, ia berusaha berpikir cepat dan cerdas tanpa persiapan. “Apa yang kamu lakukan?” bisiknya panik mendekati Tyo.
Namun petugas Tyo justru tak memperdulikan dengan kebingungan rekannya, ia semakin keras berujar hal-hal yang memancing pegawai store itu mendekatinya.
“Sayang, sudah kubilang jangan berbelanja ke tempat ini, mereka mencurangi harga dan kualitas barang!” semakin kencang petugas Tyo berujar sembarangan.
Dua petugas keamanan akhirnya mendekati Tyo serta dua pegawai lainnya.
“Maaf, ada yang bisa kami bantu?” tanya sang petugas keamanan toko itu masih dengan sopan.
Seakan niatnya bersambut, petugas Tyo semakin melancarkan rencananya. “Bagaimana kalian bisa menjual dengan harga tinggi padahal produk-produk kalian kualitasnya rendah seperti ini?”
“Jangan sembarangan bicara! Kualitas kami terbukti, mari ikut kami ke kantor!” ucap petugas keamanan satunya lalu merangkul Tyo dan mengarahkannya ke kantor keamanan.
“Pertemukan aku dengan pemiliknya, aku yakin jam ini dia ada di salah satu bagian dari gedung ini!” ucap tegas petugas Tyo.
“Kami tidak bisa sembarangan membawa orang nggak jelas!” tukas tegas petugas keamanan.
Petugas Tyo menarik lengan petugas Yui, “Lihatlah! Lihat wajah kekasihku ini, kalian melakukan pembohongan besar, slogan kalian yang tertulis ‘kami menyediakan bahan-bahan kualitas segar untuk membuat hidup anda lebih segar’, itu sama sekali tidak benar, lihatlah, aku sampai mendaftar member VVIP belanja tak sedikit setiap bulan, tapi istriku wajahnya masih selalu pucat setiap hari!” bual petugas Tyo.
Seseorang yang sedari tadi mengawasi keributan yang sengaja dibuat oleh Tyo dari sebuah layar, sambil duduk di balik mejanya, akhirnya bangkit dan berjalan bergegas menuju ruang keamanan diikuti asistennya.
“Sepertinya dia sengaja, Nyonya. Orang itu adalah salah satu anggota VVIP,” terang sang assisten seraya berdiri mengekor saat keduanya berada di dalam lift.
Seorang wanita cantik berada di rentang usia lima puluhan, dengan setelan rapih berwarna peach, rambut pendek sebahu, kesan elegan misterius begitu kental pada penampilannya. Berjalan tegas dengan sepatu hak setinggi 3cm, membuat langkahnya semakin terdengar tegas dari ruang kendali keamanan.
Wanita itu membuka pintu ruang keamanan, lalu duduk di salah satu kursi, sementara petugas Tyo terdiam dan menghentikan aksi protesnya.
“Kalian semua keluarlah, biarkan aku bicara dengan pelanggan VVIP kita!” perintah tegas wanita pemilik grocery.
Para pegawai tampak begitu patuh tanpa banyak bertanya.
“Langsung saja, apa yang kamu inginkan kali ini?”
“Berikan sembilan nama pemilik jam tangan yang sama seperti yang aku punya!” balas tegas petugas Tyo seraya menjejalkan sebuah lolipop ke mulutnya, serta menggoyangkan lengannya dengan sengaja menunjukkan jam tangannya.
“Kenapa harus membuat keributan hanya untuk hal sekecil itu?”
“Hanya itu satu-satunya cara yang terpikirkan olehku agar kamu mau turun dari tahta tertinggi mu!”
“Cih!” Nema, wanita pemilik grocery itu tersenyum tipis di ujung bibirnya, lalu menyerahkan selembar kertas setelah ia selesai mencacat beberapa nama. “Simpan juga nomor ponselku, dan jangan mengganggu caraku menghasilkan uang, aku sudah hidup bersih sekarang,” terangnya lalu pergi meninggalkan ruangan itu bersama asistennya.
“Hm … terimakasih!” seru petugas Tyo seraya memberi hormat.
“Kamu mengenalnya?” selidik petugas Yui tak bisa mengendalikan rasa herannya.
“Hanya kenalan lama.”
Petugas Tyo pun berjalan meninggalkan ruangan itu, berjalan kembali menuju ke meja customer service diikuti petugas Yui.
“Apalagi yang akan dilakukannya?” gumam petugas Yui memperhatikan seniornya.
...****************...
To be continued ....
akhirnya tamat juga.
selamat ya Thor.
maaf baru bisa ngikutin.
beberapa hari pull terus.
tetap semangat, sukses juga di karya-karya berikutnya