Undian liburan impiannya berubah menjadi awal petaka bagi Rinjani, kesalahan satu malam yang dibuat bukan untuknya menjerat Rinjani masuk ke kehidupan seorang tuan mafia.
"Aku tidak akan menikahimu, namun lahirkan janin itu dan tinggalkan dia untuk jadi penerusku," ucapnya tajam penuh intimidasi seraya melemparkan surat perjanjian dan pulpen.
Namun bukannya takut, Rinjani malah melepaskan flatshoes kotornya, "talk to my flatshoes, sir!" ia melemparnya pada Loui, meski lemparannya seburuk lemparan balita.
Mohon dibaca dari awal sampai akhir ya guys 😉 salah satu cara untuk mendukung author dalam berkarya 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 ~ Jalan masing-masing
Jani mendudukan pan tatnya dengan kasar, mirip jatohin karung berisi batu kali di atas kursi mobil. Ia tak langsung pergi dari cafe, bahkan matanya masih menangkap pemandangan mobil Loui yang membawa serta si wanita tanah jaha nam itu pergi dari area parkiran cafe, entah mau pergi kemana mereka, sungguh Jani tak mau tau meskipun hatinya menjerit, pengen tauuu!
Pada pergi sana, sekalian ke neraka! Umpatnya dengki. Ia membuka paper bag waffle yang sejak tadi menguarkan aroma lezat dari dalamnya, semarah-marahnya orang emosi, tetap saja bawaannya laper mah ngga ada obat selain dari makan, justru emosi bikin Jani makin laper.
Setiap ingat Loui dan Cameron, suapannya besar dan kunyahannya cepat, nafasnya saja sudah mirip seperti banteng ngamuk, "liat aja entar!"
Untung saja rasa waffle dan hazelnut itu bisa menolong perasaan Jani saat itu, "emhhh, enak banget! Nanti kita beli satu cafe buat orang-orang di rumah, bilang aja selametan Jani, buat ruwat diri..." Jani menoleh pada Mathew yang sejak tadi menatapnya di bangku pengemudi, ia tersenyum senang melihat Jani puas akan rekomendasi cafenya namun menyisakan alis mengkerut.
Mengobrol bersama Jani itu bikin frustasi otak bo dohnya! Pasalnya Jani selalu mengucapkan kata-kata yang hanya ada di dalam kamus gaul Tatang Sutarma, dan tidak ia mengerti.
Cetrek!
Seatbelt sudah terpasang, "jadi berbelanja?" tanya Mathew, diangguki Jani cepat, "jadi dong! Ancaman Jani barusan bukan cuma gertakan semata, jika pria yang dipegang tuh omongannya, jika wanita yang dipegang itu kartu atm pria'nya!" angguk Jani mantap membuat Mathew tertawa, "ya, nona benar!"
Si borokokok sudah menawarinya, kenapa tak ia pakai saja! Kesempatan tak datang 2 kali, maka yang akan ia lakukan adalah menghabiskan uang Loui, pikir Jani. Kalo bisa sampe ngutang sama bank karena limit, biar tuh bule borokokok nyaho!
Mathew mengangguk dengan lengkungan di bibir, "oke."
Namun ucapan adalah ucapan, setelah di hadapkan di depan mall, Jani justru bingung...harus mulai darimana ia mengeruk harta si borokokok, apakah mall ini harus ia beli sekalian?! Begini nih, penyakit orang susah macam dirinya yang paling menyebalkan, giliran ngga punya duit serba bingung karena ngga bisa beli apa-apa.
Giliran dikasih duit banyak makin bingung mau beli apa, karena terbiasa pake barang ala kadarnya, mindset otaknya juga terbiasa berhemat, karena hemat itu pangkal sirik. Yeah sirik, giliran orang-orang asik foya-foya, Jani harus menghemat karena memikirkan perutnya di hari esok, jadinya sirik!
"Apa yang akan nona beli?" tanya Mathew telah melepas kancing jasnya dan menyampirkan itu di lengan, ia rasa pekerjaan memomong Jani ngga usah terlalu gagah mirip orang kantoran.
Jani menggaruk kepalanya tak gatal, "aduhh, beli apa ya?" ia tak cukup tau dengan brand ternama yang mahalnya bikin orang pengen jual ginjal cuma buat beli satu buah tas atau satu pasang sepatu.
Mathew mengerutkan dahinya, "biasanya wanita akan kesana," tunjuk Mathew ke arah toko tas ternama.
Alisnya justru berkerut, dari luar saja tas-tas yang dipajang cuma segede kepalan bayi, mau buat bawa apa coba! Dibawa ke kondangan buat nyempilin pisang atau jeruk aja ngga bisa, apalagi bawa sate plus pembakarannya!
Tas yang ideal versi Jani itu seukuran kantong keresekatau karung, lantas Jani mengangguk saja dengan saran Mathew dan memasuki gerai tas ternama, meminta sang pelayan memilihkan tas untuknya.
Tiba-tiba Jani mengingat ama, saat melihat tas-tas mahal itu, ia memilih satu untuk nantinya dikirim ke Indonesia, "ini bener ngga sih harganya? Mahal amat!" Jani mengambil satu tas dengan harga selangit. Jika ia perhatikan mirip tas yang dijual di pasar daerah kebonjati, hanya satu yang membedakan kalo yang disini merknya Christian Dior, kalo yang di pasar kebonjati itu Christian Diro, ia juga mengedarkan ke arah lain dimana LV sama dengan yang ada di kebon jati, cuma yang disini itu harganya naudzubillah bikin dadha sesek.
Padahal di kebonjati dia bisa dapet 100 ribu, meskipun di bawah huruf LV tulisannya tuh Lord Voldemort, bukan Louis Voutten.
"Mat, nanti tolong kirimkan tas ini ke rumahku di Indonesia." pinta Jani, Mathew mengangguk, ada seulas senyuman melihat Jani, nona-nya itu tidak memikirkan dirinya sendiri.
Netranya melihat dengan seksama saat Mathew membayar dua buah tas mahal pilihan pelayan dengan uang milik Loui, tak lupa Jani juga melihat price tag kedua tas yang kalo dijumlahkan dalam bentuk rupiah itu hampir menyentuh harga 100 juta.
Mulutnya bahkan masih menganga dibuatnya, ia semakin penasaran dengan pekerjaan si borokok sampai-sampai uangnya bejibun membentuk gunung Rinjani, "Mat, apa kartunya limit?" tanya Jani cukup dibikin jantungan dengan harga tas.
Mathew menggeleng, "ini black card, nona. Nominal limitnya bisa membuat anda jantungan."
"Ck...ck....sebenarnya berapa uang yang dimiliki Loui? Apa dia semacam pabrik tuyul?" tanya Jani, sontak saja alis Mathew mengerut, "tuyul?" baliknya bertanya.
"Ah, lupakan! Apa dia akan marah jika tau aku membelanjakan uangnya sebanyak ini?!" tanya Jani mulai khawatir jika si borokokok menjadikan ini hutang piutang dengan bunga mencekik.
Mathew menggeleng seraya tertawa renyah, "aku tak tau. Tapi aku yakin, nona bisa handle itu semua, nona pintar menjinakan bom waktu, bukan?" tanya Mathew membuat Jani berdecih. Si borokok tuh bukan bom waktu, lebih tepatnya petasan korek.
Setelah itu Jani meminta untuk melanjutkan tujuan awal mereka berbelanja bahan makanan, mobil yang dikendarai hampir penuh oleh bahan makanan hasil buruan Jani.
"Apa ada tempat yang ingin kau kunjungi lagi, nona?"
Jani mengangguk, ia teringat dengan ucapannya di awal, teringat akan Marriot dan pekerja lain, "jika ada sisa uang, aku ingin membeli waffle dan gellato untuk semua pekerja yang ada di rumah."
Mathew menaikan alisnya, "untuk pekerja di rumah?"
Wanita ini mengangguk seraya meneguk air mineral, "iya."
"Apa anda tidak ingin memakai kesempatan ini untuk membeli sepatu, perhiasan?"
Jani kembali menggeleng, "sepatu mah di kebonjati juga banyak, kalo disini mahal-mahal...mubadzir uangnya. Mendingan dipake makan sama-sama...untuk perhiasan, Jani ngga mau, takut disebut toko emas berjalan kalo kebanyakan, kasian pengacara di Indonesia nanti punya saingan..." jawabnya.
Awalnya Mathew tak paham, namun ia mengangguk saja dan lebih memilih segera melaksanakan apa yang diminta Rinjani, membeli waffle untuk orang-orang rumah, bahkan Marco dan para pemuda yang nantinya akan mereka temui di distrik 9.
"Jani ngga mau makan sendirian, pengennya rame-rame. Cukup mati saja yang sendirian, mumpung masih hidup, Jani ingin banyak teman..." lirih Jani membuka pandangan baru Mathew atas sosok seorang Rinjani, jika wanita ini sespesial waffle hazelnut.
.
.
Loui dan Oscar beserta Cameron telah sampai di kediaman mewah dengan penjagaan ketat, mobil-mobil mewah serta pebisnis gelap kelas kakap banyak yang hadir disini.
"Os, aku tak mau berlama-lama disini. Setelah ini aku mau pulang..." pesan Loui.
"Apa kau tak mau bersenang-senang dulu denganku, Lou...kenapa?!" Cameron merengut bergelayut manja, Loui hanya memandangnya malas, "sudahlah Came, aku lelah."
Oscar mengangguk, dan mengekori Loui masuk.
"Tuan Mackenzie..." sapa tuan Thompson dan istri. Mereka berjabat tangan dan mulai mengobrol, lama-lama beberapa partner bisnis mulai bergabung, sementara Oscar memundurkan langkah dan posisinya hingga dapat menjaga Loui di area yang tak terdistrack oleh obrolan mereka.
Laporan keuangan masuk ke dalam notifikasi Oscar, ia cukup menaikan alisnya saat laporan awal menunjukan sejumlah uang dari rekening Loui harus terkuras di toko tas, dengan jumlah item yang dibeli Jani 2 buah.
Lalu Oscar masih mengangguk paham, ketika laporan berikutnya menunjukan sejumlah struk belanja di supermarket, namun laporan selanjutnya bikin Oscar mengernyitkan dahi, "apa ini? Untuk siapa ia membeli waffle dan gellato sebanyak ini?"
Oscar menatap getir ke arah Loui, diantara suasana pesta. Dimana Loui sedang berbincang dengan partner bisnis dan para wanitanya.
"Apakah ia ingin meledakan perutnya sendiri? Atau justru, Rinjani sedang membuat pestanya sendiri?" Oscar mengehkeh bergumam sedang menerka-nerka apa yang dilakukan Jani. Jika benar, maka Oscar justru ingin berada disana sekarang.
Loui melakukan cheers bersama partner bisnisnya, "sebentar, aku ambil lagi wine untukmu..." ucap Cameron berbisik, lalu wanita itu memutar badannya anggun penuh sen sualitas, meraih dua gelas wine dan mengeluarkan sesuatu dari balik sarung tangan menerawangnya.
Ia celingukan terutama ke arah Oscar yang sibuk cekikikan melihat layar ponsel lalu beralih pada Loui yang tengah fokus mengobrol, setelah dirasa aman, Cameron menuangkan itu ke dalam gelas milik Loui bersama seringaian menyertai, "maka hari ini, semuanya akan berakhir."
.
.
.
.
.
nih qu bantu sadarkan👊👊👊