Vonis dokter menjadi titik balik dalam hidup Zulfa dimana dirinya hanya bisa memiliki anak melalui program bayi tabung. Di tengah harapan yang rapuh, sang ibu mertua yang selama ini tampak penuh dukungan, diam-diam menyusun rencana yang mengguncang, ia menyuruh Arslan, putra semata wayangnya, untuk berselingkuh.
Arslan menolak keras tunduk pada keinginan ibunya. Ia tetap berdiri di sisi sang istri, menguatkan setiap langkah Zulfa meski harapan berkali-kali runtuh. Namun, konflik tak berhenti di sana. Sang ibu sengaja menghadirkan masa lalu Arslan ke permukaan, mengancam keutuhan rumah tangga yang mereka bangun dengan susah payah.
Di tengah tekanan, air mata, dan kegagalan program bayi tabung yang terus menerpa, Zulfa dihadapkan pada pilihan paling sulit dalam hidupnya, antara terus berjuang atau berhenti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vitamaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesehatanmu lebih penting
"Pindah dokter?" Arslan mengulang pertanyaan itu, menatap istrinya lekat.
"Iya, pindah dokter. Aku rasa ini keputusan terbaik untuk kita." Zulfa mengangguk, berusaha terdengar yakin.
"Bukannya selama ini kamu selalu merasa cocok dengan dokter Syarif. Lagi pula, mau cari ke mana lagi? beliau dokter fertilitas terbaik di kota ini. Rumah sakit yang sering kita datangi juga yang terbaik."
"Yang terbaik menurut orang lain belum tentu yang terbaik untuk kita." Nada suara Zulfa melembut, tapi tegas.
"Aku butuh second opinion. Siapa tahu ada dokter lain yang lebih berani mengambil tindakan lain, supaya aku bisa segera memulai program hamil."
Zulfa menahan napas sejenak, menumpahkan isi hatinya yang selama ini tertahan. Sebenarnya, ia hanya ingin ditangani oleh seorang dokter yang lebih tepat dalam memahami kondisinya. Tidak semua pasien berhasil di tangan dokter yang sama, bukan? Bisa saja takdirnya menjadi ibu justru datang lewat perantara dokter lain.
Arslan meraih jemari Zulfa yang dingin, menggenggamnya erat. Senyum tipis terukir di bibirnya.
"Aku nggak ngoyo punya anaknya kok," ucapnya lembut. "Lebih baik kita turuti saja saran dokter Syarif yang menyuruhmu untuk fokus menjalani pengobatan. Ini semua juga demi kebaikan dan kesehatan kamu."
"Tapi aku tetap butuh second opinion. Aku nggak mau kita terpaku pada satu dokter saja." Zulfa menatapnya lurus, tak memberi celah untuk dibantah. Arslan menghela napas pelan.
"Ya sudah, terserah kamu. Yang penting kamu nyaman ngejalaninya. Aku nggak mau memaksakan apa pun. Buatku, yang paling penting kesehataanmu."
Senyum Zulfa mengembang, hangat.
"Oh iya, aku bawa sesuatu buat kamu." Arslan menyodorkan sebuah goodie bag berisi kotak makanan.
Mata Zulfa langsung berbinar ketika Arslan membawa makanan favoritnya.
"Wah... roll cake cokelat!"
"Kamu tahu aja kalau aku lagi butuh yang manis-manis," katanya sambil menyuap roll cake yang sudah di potong-potong oleh Arslan.
"Ya jelas tahulah, Kamu pasti lagi sedih hari ini. Jadi ku bawakan aja roll cake coklat ini. Karna katanya coklat itu bisa menaikkan mood seseorang, loh." goda Arslan.
Zulfa tertawa kecil, lalu balas menyuapi suaminya. Mereka larut dalam momen sederhana yang hangat. Namun senyum itu perlahan memudar.
"Kadang aku mikir rumah sebesar ini kerasa capek kalau cuma dihuni berdua."
Arslan mengernyitkan dahinya. "Aku kan nggak pernah nyuruh kamu beres-beres rumah. Kenapa capek?"
"Harusnya sekarang kamu lebih tenang karena udah nggak capek kerja lagi. Nggak perlu pulang kemalaman terus sampai lupa kalau di rumah masih ada suami yang butuh perhatian..." Arslan berhenti sejenak, lalu menyunggingkan senyum nakal, "... yang kadang juga butuh dijatah."
Seketika Zulfa menyikut perutnya.
"Aduh!" Arslan mendesis dramatis.
"Kamu ini nggak bisa diajak serius, ya. Pake bahas begituan!" Zulfa mendengus lalu melanjutkan ucapannya, "lagian kapan aku pernah nolak permintaanmu yang suka ngajak perang di ranjang?" Zulfa menyentak sambil mengedikan dagu.
"Ya habis kamu ngomongnya aneh. Kita ini nggak tinggal berdua aja. Ada banyak pelayan disini. Kamu pikir mereka semua Ghoib?"
"Ih, kamu ko' nggak paham maksudku!" Zulfa menatapnya kesal.
"Maksudku... rumah besar tanpa suara anak kecil itu terasa kosong. Sepi."
Arslan terdiam sejenak, lalu tersenyum. "Kalau mau ramai, kita undang aja anak-anak yatim kita ke sini. Biar mereka berenang dan main di taman, pasti langsung rame rumahnya."
Zulfa hanya menghela napas panjang frustasi, merasa percuma menjelaskan panjang lebar.
"Iya, aku paham kok maksud kamu." Arslan akhirnya merengkuh pundaknya. "Aku cuma nggak mau kamu larut dalam kesedihan."
"Kamu jangan terlalu banyak overthinking. Akan ada waktunya kita mendapatkan apa yang kita inginkan. Kita jalani saja dengan sabar dan ikhlas... sampai Tuhan mengabulkan doa kita." Arslan mendekap tubuh istrinya lebih erat.
"Aku nggak bisa bayangin kalau suatu hari kamu diambil orang. Siapa yang nenangin aku kalo aku lagi galau gini?" suara Zulfa melemah.
Arslan langsung melepaskan pelukannya, menangkup dagu sang istri. "Kamu ini ngomong apa, sih? Siapa emang yang berani merebut aku dari seorang Zulfa Azra?"
Arslan terkekeh kecil, teringat satu kejadian.
"Istriku ini kan paling pinter ngejaga suaminya."
Lalu Zulfa ikut tertawa. "Ya jelaslah, suami kayak kamu itu limited edition, harus dijaga!" Zulfa menjepit hidung bangir Arslan dengan dua jarinya.
"Iya, tapi jangan galak-galak juga seperti waktu itu."
Mereka saling pandang, lalu tawa mereka pecah saat kenangan itu kembali muncul.
Seketika Arslan tertawa kecil mengingat-ingat kejadian dulu yang begitu galak-nya Zulfa menghina salah satu klien wanitanya yang secara terang-terangan berani menggoda dirinya di depan banyak orang.
Saat itu, Zulfa datang ke kantor Arslan untuk mengantarkan makan siang. Namun langkahnya terhenti ketika melihat seorang wanita berpakaian terlalu seksi untuk di lingkungan kerja. Rasa curiga langsung menyelinap. Setelah bertanya ke resepsionis, ia tahu wanita itu adalah klien suaminya. Entah kenapa firasatnya langsung tak enak. Zulfa mencium aura-aura pelakor dan pergundikan pada wanita itu. Zulfa pun tak bisa tinggal diam.
Zulfa langsung mengikuti wanita itu hingga ke ruang kerja Arslan. Dari celah pintu, Zulfa melihat ada beberapa rekan kerja Arslan disana yang tak berkedip menatap wanita berdada besar itu lewat. Zulfa tau wanita seperti itu bukanlah tipe suaminya, namun Zulfa merasa gemas saat dirinya mengetahui kalau wanita itu mulai menggoda suaminya. Zulfa melihat dengan jelas bagaimana wanita itu berusaha mendekat bahkan terlalu dekat dengan suaminya hingga membuat Zulfa merasa geram.
Tanpa pikir panjang, Zulfa masuk ke ruangan yang sedang melakukan rapat dadakan. Mereka yang berada di dalam sana sama sekali tidak terkejut dengan kehadiran Zulfa, sebab mereka sudah paham kalau istri bos-nya itu selalu datang di jam-jam makan siang. Hanya satu orang saja yang terlihat tidak nyaman dengan kehadiran Zulfa, yaitu wanita seksi tadi.
Zulfa yang berpakaian tertutup dengan paras cantiknya melirik sinis ke arah wanita yang sedang duduk berdampingan dengan suaminya. Arslan mungkin tak menyadari kalau dirinya sedang di goda akan tetapi mata elang Zulfa mampu menangkap moment laknat itu ketika wanita berambut pirang itu sibuk menggeser-geser kursi berodanya agar bisa lebih dekat dengan suaminya.
"Maaf mengganggu. Saya cuma mau mengantarkan makan siang untuk suami saya tercinta." begitu kata Zulfa.
Zulfa berjalan mendekati Arslan, dengan beraninya Zulfa menggeret kursi Arslan agar menjauh dari si wanita seksi itu. Melihat tingkah Zulfa yang lucu membuat beberapa orang di ruangan itu menahan senyum. Sudah bukan rahasia umum kalau istri bosnya ini memang sedikit cemburuan.
"Tolong jangan duduk terlalu dekat dengan suami saya," ujar Zulfa tanpa basa-basi membuat wanita yang diketahui bernama Laura itu nampak kikuk.
"Maaf, saya tidak tahu kalau Pak Arslan sudah menikah." Zulfa tersenyum tipis, lalu menunjuk foto di sudut ruangan.
"Foto sebesar itu nggak kelihatan?"
Zulfa berdiri di samping foto yang di tunjuk tadi. "Di foto itu Arslan nggak cuma sendiri loh!! Ada saya juga. Masa nggak mirip?" Lagi-lagi tingkah Zulfa membuat orang-orang yang ada disana ingin meledakan tawanya namun terpaksa di tahan, pun Arslan yang juga berusaha keras untuk tidak tertawa.
Dan wanita itu membalas ucapan Zulfa dengan nada sengit, "saya ke sini untuk urusan bisnis, bukan untuk melihat-lihat design interior ruang kerja Pak Arslan, apalagi harus memperhatikan foto itu, karna menurut saya itu sangat tidak penting."
Zulfa menatap tajam. "Jadi kamu anggap mendekati pria beristri itu sesuatu yang nggak penting!!" Dan tiba-tiba pertanyaan tak terduga keluar dari bibir Zulfa, " Udah berapa kali jadi Gundik?"
Seketika ucapan sarkas Zulfa membuat bola mata Arslan melebar sempurna, Arslan terkejut. Kobaran api yang menyala-nyala seolah terlihat ditubuh sang istri. Arslan tau kalau istrinya sedang cemburu. Arslan mencoba mencairkan suasana yang sudah menegang, tetapi emosi Zulfa sudah terlanjur tersulut membuat Arslan tak bisa lagi menghadang istrinya.
"Sayang, lebih baik kamu pulang dulu, ya. Aku sedang rapat nanti aku usahain pulang cepat." Ucap Arslan kepada sang istri, namun Laura yang sedang meradang menyela percakapan mereka.
"Apa anda tidak punya etika dalam berbicara?" Laura marah sambil menjulurkan jarinya di wajah Zulfa.
"Apa anda juga tidak punya etika dalam berpakaian di lingkungan kerja?" Zulfa balik bertanya dengan wajah tak kalah sengit.
"Apa yang saya pakai bukan urusan anda!!"
"Tentu saja ini menjadi urusan saya kalau tujuan Anda untuk menggoda suami saya. Memang saya nggak tau kalau dari tadi Anda mencoba mendekati suami saya terus." Kata Zulfa santai. Arslan yang mendengar percekcokan itu merasa tidak enak dengan orang-orang yang ada di ruangannya. Ia sampai menggaruk-garuk tengkuknya yang tak terasa gatal.
"Pak Arslan tolong didik istri Anda untuk bersikap sopan!! saya jadi nggak mood mau bahas masalah kerjaan sekarang. Mungkin saya akan cancel rencana saya untuk kerjasama dengan perusahaan Anda. Karna saya sangat tidak nyaman dengan orang ini." Jemari Laura mengarah pada Zulfa dengan tatapan mendelik tajam hingga bola matanya nyaris keluar.
"Kalau mau pergi, pergi aja!! nggak usah pake ngancem-ngancem segala. Kehilangan satu klien nggak akan buat suami saya miskin!!" Ucap Zulfa seraya bersidekap acuh.
"Sombong sekali anda, mentang-mentang punya suami Millionaire!!"
"Oiya dong!! saya harus sombong di depan perempuan seperti kamu!! Supaya lebih tau diri!!"
Laura semakin tak tahan dengan sikap kasar Zulfa yang sudah menginjak-injak harga dirinya di depan banyak orang. Bahkan tangan wanita itu begitu gatal ingin sekali menampar pipi mulus Zulfa dan menjambak rambut Zulfa yang tertutup jilbab. Tapi perbuatan itu tentu tak bisa Laura lakukan, sebab ia takut kalau sampai Ayahnya yang mempercayakan urusannya kepadanya akan marah jika mengetahui perbuatannya. Lagipula ia juga tidak punya hak untuk menggagalkan bisnis ini, sebab Ayahnya sangat membutuhkan Arslan. Itu sebabnya Arslan nampak biasa-biasa saja saat Laura mengancamnya.
Kembali ke masa kini. Arslan menggeleng sambil tersenyum.
"Kejadian itu... nggak akan pernah aku lupa."
Zulfa ikut tersenyum kecil. Di balik sikap galaknya, ada satu hal yang Arslan pahami—istrinya mencintainya sepenuh hati. Dan inilah alasan terbesar Arslan tak pernah ingin kehilangan Zulfa.
Sebisa mungkin Zulfa akan berusaha agar tidak ada wanita manapun yang berani merebut suaminya. Apalagi sampai menyuruh suaminya berselingkuh atau menikah lagi. Sekalipun ibu mertuanya sendiri yang harus ia hadapi.