Aisyah harus kembali ke desa tempat ia di lahirkan...karena kematian Kakak dan Kakak iparnya.
Dia juga harus menjadi ibu bagi kedua keponakannya, Aira dan Airen .
Demi menjaga kedua keponakannya, akhirnya Aisyah bekerja di balai desa sebagai sekdes.
Hingga , kepala desa meninggal dan di gantikan oleh orang dari kota kiriman dari pemerintah. Kepala Desa baru cukup arogan dan terkesan galak.
Salah sedikit saja , pasti akan jadi masalah besar. Namun begitu ..banyak gadis desa maupun ibu - ibu mengidolakannya , karena ketampanan sang lurah dan statusnya sebagai Hot Duda.
Entah karena hal apa , Pak lurah itu selalu saja berseteru dengan Aisyah....Akankah permusuhan antara Aisyah dan Pak lurah berubah jadi cinta....
Ikuti kisahnya.....Pak Lurah Galak Mencari Cinta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wahyoeni"23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22
Aisyah menggeliat...matanya terasa berat untuk di buka karena ia menangis semalaman.
Deg....pantas terasa berat, ada tangan yang melingkar di perutnya. Dengansegera Aisyah membalikkan tubuhnya.
Tangisnya langsung pecah....ia peluk suaminya dengan erat. " Hiks...hiks....hiks...".
Mahesa yang belum lama tertidur dengan pelan membuka matanya. "Sayanggg....hey sayang , kenapa menangis, ini Mas sayang ".
Aisyah masih menangis , ia malah makin mengeratkan pelukannya.
" Sayang, Mas tidak bisa nafas nih.. lepas dulu pelukannya ".
Aisyah menggelengkan kepalanya, " Enggak maub, nanti bayangan Mas ngilang ".
" Hah...". sejenak kemudian " Ha..ha...ha..ini Mas beneran , makanya buka mata kamu sayang ".
Aisyah pun perlahan melonggarkan pelukannya dan membuka matanya. " Mas Bian ".
" Iya sayang ".
" Mas sudah pulang , Mas enggak kenapa- napa kan ....aku khawatir sekali ".
" Alhamdulillah, Mas baik - baik saja , ceritanya nanti ya , Mas masih ngantuk ,mau tidur lagi , temani Mas sayang !".
" Baiklah ".
Mahesa kembali memejamkan matanya , sedangkan Aisyah terjaga , ia terus memandangi wajah sang suami yang langsung tertidur dengan lelap.
Kejadian sebenarnya....................
Mahesa mulai keluar dari Balai Desa , ia memang ada perlu sebentar , makanya ia melajukan mobilnya keluar dari Desa.
Mahesa yang sangat peka, tau dirinya sedang di buntuti .
" Bos, apa kita habisi sekarang saja ?" . salah satu pengawal Mahesa menelpon.
" Jangan dulu , biarkan saja mereka melakukan apa yang di perintah kan sama Bos mereka ".
" Tapi ini beresiko Bos , saya takut mereka melukai Bos ".
" Tenang saja , ini bukan apa - apa bagiku , karena ini salah satu cara membongkar semua kejahatan mereka...agar kita punya bukti yang kuat untuk menjebloskan mereka semua ke penjara ".
" Kamu awasi dan ikuti terus mereka , dan telepon polisi ".
" Baik Bos ".
Akhirnya mereka menghentikan mobil Mahesa , orang - orang bayaran itu membawa paksa Mahesa ke mobil mereka.
Mereka membawa Mahesa ke sebuah Gudang. " Kalian di bayar berapa untuk menculik aku ?".
" Kenapa Hah...kamu mau membayar lebih supaya kami melepaskan kamu...jangan mimpi , aku tau rencana mu , setelah kami lepaskan, pasti kamu akan lapor pada Polisi untuk menangkap kami...".
" Ya terserah , tapi perlu kalian tau , sebentar lagi juga kalian akan di tangkap sama Polisi ".
" Ha..ha..ha...mana mungkin Polisi tau , kami sudah membawa kamu ke tempat yang jauh sekali , bahkan ini jauh dari pemukiman warga ". gertak Orang itu.
Melihat Mahesa yang begitu tenang , membuat ke enam orang tersebut sedikit meragu , biasanya orang yang mereka culik akan ketakutan ini malah kebalik, mereka yang mulai was - was dengan ucapan Mahesa .
" Apa Bos kalian Sapto ?".
Mereka makin terkejut....
" Benarkan tebakan aku , percuma saja kalian menuruti Sapto .....aku yakin Bos kalian itu akan terlebih dahulu menyelamatkan dirinya sendiri ".
Salah satu dari mereka menghubungi Sapto....ternyata Sapto malah memaki mereka untuk tidak menghuhunginya sebelum selesai melaksanakan tugas , Dia akan mentransfer sisa pembayarannya tanpa harus bertatap muka.
Mereka saling memberikan kode, kemudian .." Apa tawaran tadi masih berlaku ?".
Kena Kalian... batin Mahesa bersorak , taktiknya berhasil mempengaruhi orang - orang tersebut.
Mahesa sebenarnya juga ingin tertawa ...begitu mudahnya mereka berkhianat hanya karena di iming - imingi sejumlah uang .
" Tentu saja , aku akan bayar lebih , tapi ada syaratnya ".
" Apa syaratnya?".
" Kalian harus menjadi saksi , agar si Sapto makin berat hukumannya...bagaimana ?".
" Baik , kami siap....lalu apa kami akan di penjara juga ?" tanya mereka.
" Tentu saja , kalian kan sudah berbuat jahat, ya harus di hukum, setidaknya hukuman kalian akan lebih ringan dari Sapto karena kalian hanyalah pesuruh ...di tambah kalian akan mendapatkan uang untuk anak istri kalian , dan aku pastikan uang dari ku halal karena itu inisiatif dari aku sendiri yang akan memberi kalian uang , dan tentunya aku tidak menyuruh kalian berbuat jahat ".
" Bagaimana , apa kalian setuju?".
Mereka kembali saling berpandangan....." Baiklah kami setuju "..
" Deal ya...sekarang lepaskan aku , polisi sudah mengepung tempat ini , kalian sebaiknya menyerahkan diri , tidak usah melawan dari pada bonyok atau lebih parahnya kalain akan tertembak ".
Pemandangan yang sungguh lucu...para preman berbadan besar dan bertato itu mengangguk serentak menuruti perintah Mahesa , seperti anak kecil. Padahal Mahesa orang yang telah mereka culik...mereka malah bertekuk lutut pada Mahesa yang tidak mengeluarkan tenaga sedikit pun untuk melawan mereka ....aneh kan..
Benar kata Mahesa , tak lama masuklah para Polisi yang berjumlah 20 orang bersamaan dengan anak buah dari Mahesa sendiri.
Mereka semua di giring ke kantor Polisi... Mahesa juga ikut serta untuk memberikan keterangan.
Berhubung tempat penyekapan yang cukup jauh, mereka semua sampai di kantor Polisi sudah tengah malam.
Gema sendiri sudah sampai terlebih dahulu di sana. Ia memberitahu Mahesa , Aisyah lah yang menelponnya, karena telpon Mahesa tidak dapat di hubungi.
Karena itu dini hari tadi ia baru sampai di rumahnya. Ia membuka pintu pelan, hatinya ngilu melihat sang istri meringkuk di sofa dengan sisa - sisa lelehan air mata di pipinya.
Mahesa mengusap puncak kepala Aisyah dan menciumnya sekilas , " Maafin Mas sayang ".
" Udah pindahin sana , jangan main ciam cium di depan ku , sakit nih mata ". ucap Gema.
" Mata kamu enggak sakit , tapi kamu kepingin kayak aku kan...". Mahesa malah dengan sengaja mencium bibir Aisyah .
" Bos sialan ". Gema memilih masuk ke kamar tamu dari pada melihat Mahesa yang sepertinya akan memanas - manasinya terus.
Mahesa menggedong sang istri ke kamarnya, " Kamu anteng sekali sayang , sampai tidak sadar Mas gendong gini ".
Efek lelah , Aisyah makin terlelap ketika di pindahkan ke atas kasur.
Mahesa sendiri langsung membersihkan diri lalu ikut berbaring memeluk Aisyah.
*
Semalam , Ayu terus melangkah...entah mengapa kakinya malah menuju ke rumah Aisyah.
Karena bingung harus kemana lagi , Ayu memilih duduk di bale di depan rumah Aisyah.....karena sangat mengantuk , Ayu pun tertidur di sana .
Hingga dini hari ketika Pak Umar akan berangkat ke Masjid, ia menemukan Ayu yang terlelap sambil menekuk kakinya , mungkin karena kedinginan.
" Loh , siapa yang tertidur di situ ". Pak Umar mendekat.
" Ayu ".
" Ayu...Yu...bangun Yu..".
" Mmpphh ....Pak Ustadz...maaf saya tertidur di sini , saya mohon jangan usir saya Pak Ustadz, saya tidak tau lagi harus kemana ". Ayu terus saja menjelaskan tanpa Pak Umar pinta.
" Yu ".
" Saya sudah di cerai oleh Mas Sapto , saya juga di usir dari rumahnya, tolong saya Pak Ustadz ". mohon Ayu , air matanya sudah mengalir.
Pak Ustadz menghembuskan nafasnya, " Kamu istirahat saja di dalam