Inilah adalah jilid kedua untuk novel SULTAN UDIN.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon L-viie Ann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENYEGELAN
Selasih menunggu Udin keluar dari bangunan besar bercat putih dengan duduk menyender di atas sepeda motor milik Udin.
Begitu pria itu terlihat kelibat nya, Selasih berangsur turun dari atas motor. Ia menebarkan senyuman yang sangat manis.
Medina si pelayan diam memperhatikan dari jarak yang cukup untuk memantau. Ia khawatir sang putri akan melakukan tindakan anarkis lagi.
" Hay " Sapa Selasih ramah, dari kejauhan ia melihat Naya dan Layla pergi sambil sesekali melihat ke arah nya.
" Cukup tahu diri mereka" Gumam Selasih bermonolog.
Udin mengambil helm, memakai jaket nya tanpa perduli dengan keberadaan Selasih . Tapi gadis itu sama sekali tidak menyerah, saat Udin naik ke atas sepeda motor, Selasih langsung bonceng di belakangnya.
Udin memutar kepalanya,
" Mau ngapain kamu? " Cetus Udin.
" Mau ikut kamu lah " Balas Selasih kegirangan, ia memeluk Udin erat sekali.
Udin menarik nafas dalam-dalam, emosinya terpancing dengan tindakan Selasih ini.
" Jangan sampai aku membuat mu terlempar jauh dari sini!" Udin mengeluarkan ancaman yang tidak main-main.
" Kamu kenapa sih? Emang apa salahnya aku ikut kamu? Toh kita ini adalah sepasang pengantin" Selasih tidak mau mengalah, ia bersikeras ingin ikut.
Udin tipe yang malas berdebat, ia langsung memutar kakinya ke belakang untuk turun. Otomatis terkena tubuh Selasih yang duduk di belakangnya.
" Eh Eh " Selasih hampir saja terjatuh kalau tidak sigap melompat ke tanah.
Begitu Selasih turun, Udin naik kembali dan langsung melajukan sepeda motor nya.
Putri siluman Serigala menjadi sangat geram, ia menghentakkan kakinya disertai kepalan tangan yang cukup kuat.
Punggung Udin yang semakin menjauh menambah rentetan umpatan yang tak jelas.
Medina menghampiri Selasih , ia mengikuti kepergian Udin dengan ekor matanya hingga bayangan pria itu tidak terlihat.
" Sabar Putri" Medina mencoba menenangkan junjungan nya.
" Mau sabar gimana? Dia mengacuhkan ku Medina " Balas Selasih , kedua pelupuk matanya sudah mulai mengembun. Dadanya naik turun, Medina mengusap dada sang Putri agar amarah nya mereda.
Memang sudah mendarah daging, Putri Selasih tidak bisa mengontrol emosi. Arogan dan tidak sabaran.
Medina yang menemani sang Putri sejak belia sudah memahami akan hal itu. Jadi tidak heran jika para tetua meminta Medina untuk menjaga sang Putri semenjak meninggal nya Ratu mereka.
" Aku harus mendapatkan Jamaluddin, apapun caranya? Dan membawanya ke kerajaan siluman Serigala" Selasih berucap penuh keyakinan dan ambisi.
*
Cahaya tengah memeriksa tanaman hias di emperan rumah saat tiba-tiba dua orang perempuan melayang rendah di halaman samping rumah.
Untung tidak ada yang melihat keanehan itu, Cahaya gegas meninggalkan pekerjaannya lalu menghampiri Medina dan Selasih .
" Kalian siapa? " Tegur Cahaya penuh selidik.
Medina dan Selasih saling berpandangan satu sama lain. Mereka mencoba mengingat wajah perempuan ini, sepertinya sangat tidak asing.
" Hey! Aku bertanya kepada kalian!! Kenapa nggak dijawab!!" Gertak Cahaya mulai kehilangan kesabarannya.
" Aku mencari Jamaluddin, bukankah ini rumahnya? " Selasih sedikit membusung kan dadanya dengan angkuh.
" Ya, ini memang rumah nya. Mau apa kamu mencari putraku? " Balas Cahaya.
Seketika itu juga Selasih dan Medina terhenyak kaget, mereka gelagapan karena langsung bertemu dengan Ibu mertua.
Medina meringis, ia sangat menyesalkan sikap Selasih yang begitu jumawa di depan Ibu Jamaluddin.
" Emm Maaf kan saya Ibu mertua, saya Selasih calon pengantin Jamaluddin " Selasih malu-malu memperkenalkan diri.
Cahaya mengernyit heran, apa benar Udin menjalin hubungan dengan perempuan ini? Ia sanksi sekali.
Cahaya melayang kan pandangan secara bergantian kepada dua gadis asing tersebut. Instingnya mengatakan jika mereka bukanlah manusia.
Tetiba suara deru sepeda motor terdengar mendekat. Cahaya berbalik meninggalkan Medina dan Selasih tanpa pamit. Ia ingin menyambut kedatangan Udin untuk mempertanyakan masalah ini.
" Din " Cahaya menyongsong sang anak , Udin agak heran. Karena tidak biasa nya si Ibu seperti ini.
" Iya Bu, ada apa? " Tanya Udin.
" Tuh, kamu kenal perempuan itu" Cahaya menunjuk ke arah Selasih dan Medina yang beriringan datang mendekat.
" Ngapain dia datang Bu?" Udin jengah, Selasih tidak pantang menyerah demi mencapai tujuan nya.
" Katanya mereka mencari mu, dia bilang kamu adalah calon pengantin nya. Emang itu benar?"
Udin menggeleng pelan, Selasih tersenyum manis saat sudah tiba di depan Udin dan Ibunya.
" Ternyata kamu kalah cepat sama aku , lagian ngapain sih kamu naik begituan? Padahal kamu bisa melesat lebih cepat dari pada kami " Tukas Selasih terlihat akrab, Cahaya diam menyimak. Ia ingin tahu lebih jelas apa maksud dan tujuan dua gadis itu?
" Kalian pergi lah " Cetus Udin tanpa sedikitpun menanggapi sikap Selasih yang sok akrab.
Selasih terperangah, ia diusir oleh Udin dengan kejam.
" Ta tapi"
" Tidak usah pakai tapi-tapian!! " Potong Udin cepat " Aku benar-benar muak sama kamu!! Sudah aku katakan beberapa kali bahwa aku tidak akan menikah dengan kamu " Udin menegaskan dengan nada penuh penekanan.
Selasih tak pernah mengira jika Udin akan bersikap sekasar itu kepada nya. Hatinya berdenyut sakit, Apakah dirinya sama sekali tidak ada artinya di mata Jamaluddin? Sehingga pria itu menolak cintanya dengan cara begitu kejam.
" Bawa majikan mu itu pergi" Udin memberikan perintah kepada Medina , sang pelayan hanya melongo tak bergeming.
Udin menggandeng tangan Cahaya lalu melangkah menaiki teras.
Amarah sudah menyatu dengan darah panas sang Serigala. Kedua bola mata Selasih berubah menjadi kemerahan.
Ia berbalik menatap punggung pria yang ia cintai. Kekuatan magic nya berkumpul dalam satu kepalan tangan.
Selasih menghantam kan pukulan itu ke arah Jamaluddin. Dalam pikirannya ia tidak akan mengampuni orang yang tidak menghargai dirinya.
Topeng legendaris yang sudah menyatu dalam diri Udin bertindak, saat sang Tuan diserang secara diam-diam, ia keluar berubah menjadi perisai.
Pukulan Selasih terpental dan berbalik menghantam tubuh nya sendiri.
" Putri!!! " Pekik Medina histeris, ia sigap menolong Selasih sebelum terhempas kuat. Namun kekuatan yang dimiliki Medina tak sebanding dengan pukulan tenaga dalam Selasih . Ia ikut terseret menghantam dinding.
Cahaya bingung, kenapa si topeng bisa bertindak sendiri melindungi putranya? Padahal saat ini Topeng tersebut masih berada di dalam tempat penyimpanan. Apa ada sesuatu yang tidak diketahui oleh Cahaya?
Udin maju beberapa langkah, menyaksikan bagaimana Selasih dan Medina meringis kesakitan. Tubuh mereka mengalami luka dalam yang sangat hebat.
" Sudah ku katakan, kalian pergi sekarang juga dari hadapanku!! Aku sama sekali tidak ingin melihat wajah kalian lagi " Tegas Udin lantang.
" Sombong kau Udin!! Akan ku pastikan kau akan menyesal suatu hari nanti!!! " Selasih berteriak dipenuhi oleh amarah.
Udin terdiam, ia berpikir Selasih pasti akan membuat masalah baginya dikemudian hari.
Diam-diam Udin mengumpulkan kekuatan nya di ujung jari, lalu ia menyentil nya ke arah Selasih .
Spontan gadis itu membeliak lebar, nafasnya tertahan. Udin telah berhasil menyegel kekuatan yang dimiliki oleh Selasih . Jadi setelah hari itu, Selasih akan menjadi makhluk biasa saja tanpa kekuatan apapun.