Menjadi istri pengganti istri pertama, begitulah yang Deandra alami. Ketika dirinya terpaksa harus menikah dengan Majikan di rumahnya ini, hanya karena dia membutuhkan sosok seorang istri pengganti di saat istri pertamanya masih dalam keadaan koma.
"Jadi istri pengganti untukku, selama istri pertamaku belum sadar"
Sebuah kalimat yang membuat Deandra sangat terkejut. Namun sebuah pilihan yang akhirnya dia ambil. Entah bagaimana pernikahan ini berlanjut, mungkin akan tetap bersama dengan saling mencintai? Atau bahkan saling melepaskan dengan rasa sakit?
Saksikan kisahnya di PENGGANTI ISTRI PERTAMA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salah Faham Lagi!
Setelah makan malam, Deandra ikut berkumpul di ruang keluarga bersama dengan Ayah dan Ibu. Tumben sekali suaminya juga ikut berkumpul hari ini. Deandra sudah membawa surat yang diberikan oleh Angga tadi sore. Bermaksud untuk memberikannya pada mertuanya dan juga suaminya.
"Ini tadi Kak Angga nitip undangan untuk kalian" ucap Deandra sambil menyerahkan dua undangan pernikahan.
Ayah dan Ibu mengambil udangan itu, sementara Afkha hanya diam saja. Hanya sedikit meliriknya. Deandra hanya duduk bersimpuh di atas karpet dekat suaminya yang duduk di atas sofa.
"Wah, Dokter Angga akan menikah ya. Cepat sekali dia mendapatkan jodoh" ucap Ibu dengan antusias.
Deandra mengangguk, masih ada sedikit rasa sedih dalam hatinya ketika dia mengingat tujuannya untuk mengejar Dokter Angga setelah dirinya berpisah dengan Afkha. Tapi sekarang cerita itu lain lagi, tujuannya benar-benar harus di rubah saat nanti dia sudah bercerai dengan suaminya ini.
"Baguslah kalau dia segera menikah, biar tidak ada lagi yang terus berharap padanya" ucap Afkha dengan nada suara yang rendah.
Deandra langsung melirik suaminya yang sedang menatapnya dengan lekat. Merasa sangat tersindir dengan ucapan Afkha barusan. Apasi? Memangnya kenapa kalau aku hanya merasa kagum saja, lagian sekarang perasaan itu juga mulai berubah.
"Memangnya siapa yang berharap pada Dokter Angga?" tanya Ibu dengan bingung.
"Adalah Bu, tidak tahu diri saja. Padahal suaminya sudah kaya, baik dan tampan juga. Tapi masih saja mengagumi pria lain!" tekan Afkha dalam setiap ucapannya itu.
Dia ini kenapa si? Mau membongkar tentang perasaanku. Tapi dengan cara terus menyindir seperti ini. Membuat kesal saja. Deandra hanya memalingkan wajahnya ketika dia melihat tatapan Afkha yang tertuju padanya saat dia mengatakan hal itu.
"Em, Ibu, Ayah, Dean permisi ke kamar dulu ya" ucap Deandra, memilih untuk segera pergi ke kamarnya saja daripada dia harus mendengar segala ocehan suaminya yang jelas sedang menyindirnya.
"Ah, iya Dean, kamu memang harus segera istirahat. Kasihan sejak tadi sibuk sendiri mengurus Resa dan Sandra juga" ucap Ibu, sementara Ayah hanya mengangguk.
Deandra tersenyum, dia langsung berdiri dan berlalu dari ruang tengah itu tanpa menghiraukan suaminya yang menatapnya dengan tajam. Lagian Deandra sedang kesal pada Afkha yang sejak tadi terus menyindirnya.
"Kalian sedang bertengkar Kha? Kenapa Deandra terlihat kesal begitu sama kamu" ucap Ibu.
Afkha menggeleng pelan, dia menoleh dan tersenyum pada Ibu. "Tidak papa Bu, hanya sedang sedikit ngambek saja. Mungkin ingin bermanja sama aku"
Ayah menepuk bahu anaknya yang sejak tadi duduk disampingnya. Dia tahu bagaimana sifat anaknya ini yang hampir sama dengannya. "Jangan menahan diri jika kamu memang mencintainya. Ayah tahu jika menahan perasaan itu tidak mudah. Masalah kedepannya, kita pikirkan bersama-sama"
Afkha terdiam, mungkin memang dirinya sudah tidak bisa membohongi dirinya dan hatinya sendiri. Bahkan Ayahnya saja bisa menyadari jika Afkha sedang jatuh cinta saat ini, padahal Afkha sudah berusaha sangat keras untuk tidak menunjukan perasaannya itu di depan orang lain selain istrinya. Tapi ternyata tetap ketahuan juga.
"Sebenarnya aku sudah yakin dengan perasaanku ini. Tapi aku belum melihat jika Deandra juga mencintaiku. Dia terlihat terpaksa melakukan apa yang aku minta" ucap Afkha dengan helaan nafas pelan.
Ayah terkekeh mendengar keluh kesah anaknya yang sedang jatuh cinta kedua kalinya itu, setelah hidupnya hampir gelap gulita sejak Sandra koma. Ibu hanya diam mendengarkan saja.
"Jika sekarang dia masih melakukan apa yang kamu minta dan yang kamu suruh. Maka lama-lama dia juga akan terbiasa. Jadi jangan menyerah untuk membuat wanita melakukan dengan sendirinya apa yang kamu inginkan" ucap Ayah.
Terdengar Ibu yang mendengus, mendengar ucapan suaminya itu yang memang paling bisa memanfaatkan waktu yang ada untuk bisa melakukan apa yang dia inginkan.
"Ayah kok malah ngajarin yang tidak benar sama anak kita ini" ucap Ibu yang merasa harga dirinya sebagai perempuan telah ditindas oleh suaminya ini.
"Loh Bu, memangnya kenapa? Ibu saja sekarang begitu terbiasa dan menikmatinya. Jadi kesalahan apa yang telah Ayah ajarkan pada Afkha, semuanya benar adanya" ucap Ayah sambil tersenyum penuh arti.
Afkha hanya tersenyum melihat kedua orang tuanya yang terlihat begitu harmonis dan romantis sampai saat ini. Padahal usia keduanya juga tidak bisa dibilang muda lagi.
Afkha memilih untuk segera berpamitan ke kamarnya. Dia malas juga melihat keromantisan kedua orang tuanya. Karena Afkha juga ingin bersama dengan istrinya dan bermanja. Meski dengan sedikit menjahilinya.
Ah, kenapa sekarang aku jadi gampang sekali merindukannya. Syukur deh kalau Dokter itu sudah mau menikah. Jadi Deandraku aman.
Afkha masuk ke dalam kamarnya, dia melihat istrinya yang sedang duduk di atas sofa dengan ponsel yang menempel di telinganya. Mungkin Deandra memang sedang menelepon. Afkha langsung curiga siapa yang sedang ditelepon oleh istrinya itu, hingga dia segera duduk di samping Deandra dan memeluknya.
Aaa.. Dia ini mau apasi? Kenapa suka sekali mengagetkan orang lain. Deandra mencoba untuk tetap tenang, karena dia sedang menelepon teman perawat yang dulu bekerja di rumah sakit yang sama. Deandra sedang mengajaknya untuk berangkat bersama ke acara pernikahan Angga, karena tidak mungkin juga jika dia harus berangkat bersama suaminya. Tahu sendiri jika pernikahan ini masih di rahasiakan sampai saat ini.
"Iya Beb, nanti kamu jemput ya kesini. Biar kita langsung berangkat bareng, makasih banget ya, Beb"
Aww.. Deandra berteriak tanpa suara saat suaminya mengigit bahunya. Membuat dia bingung sendiri kenapa dia melakukan itu. Padahal Deandra tidak merasa sedang melakukan kesalahan sekarang ini. Deandra melirik sekilas pada suaminya, namun dia kembali mencoba fokus pada teleponnya. Jangan sampai temannya itu mengetahui apa yang sedang terjadi saat ini.
"Oke Beb, makasih ya"
Lagi-lagi Deandra menjerit tanpa suara ketika gigitan itu berpindah pada lehernya. Meningalkan bekas kemerahan disana. "Sayang, apaan si dari tadi gigit aku terus"
Uppss.. Deandra langsung menutup mulutnya sendiri karena dia tidak sadar telah mengucapkan kalimat barusan, sudah pasti temannya itu akan mendengarnya dengan jelas. Deandra menjauhkan ponsel dari telinganya, menatap sambungan telepon yang memang masih tersambung.
Deandra menatap suaminya, ingin menunjukan rasa kesalnya. Namun ketika dia melihat tatapan tajam Afkha, malah membuat Deandra menciut dan tidak berani untuk menunjukan kekesalannya. Dia malah tersenyum masam. Sial, aku tetap takut dengan tatapannya itu.
Deandra kembali menempelkan ponselnya di telinga, namun segera mengucapkan kata perpisahan dan menutup sambungan dengan segera. Merasa yakin jika temannya itu pasti sedang bingung dan terkejut sekarang.
"Sayang, kamu kenapa si paket gigit aku segala. Sakit tahu" ucap Deandra sambil mengelus bahunya yang tadi di gigit oleh suaminya itu. Sudah seperti drakula saja, main gigit-gigit orang.
"Kau selingkuh dariku ya? Siapa yang barusan kau panggil Beb? Jawab!" ucap Afkha dengan suara dingin.
Aduh, salah lagi deh. Kenapa si selalu langsung marah dan mengira aku selingkuh. Padahal mana berani aku selingkuh.
Bersambung