NovelToon NovelToon
Semar Mesem

Semar Mesem

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Dhatu Lukita

Di dalam kamar kosnya yang sunyi, ia membuka kitab kuno peninggalan buyutnya, Ki Sarowang Prawangsa, seorang dukun legendaris yang konon menguasai ilmu-ilmu pengasihan paling berbahaya. Demi membuat Irawan kembali kepadanya sekaligus merasakan penderitaan yang sama, Lusi menjalani ritual Semar Mesem, dilanjutkan dengan puasa mutih dan Pati Geni—ritual yang dipercaya mampu mengikat hati seseorang, tetapi juga menjadikannya budak

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhatu Lukita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17

Koridor depan kantin.

Beberapa mahasiswa yang duduk di bangku taman mengangkat kepala begitu Lusi lewat. Ada yang langsung membisikkan sesuatu ke temannya. Ada yang buru-buru mengeluarkan ponsel entah untuk merekam atau sekadar pura-pura sibuk.

"Matanya serem deh," bisik seorang mahasiswi berambut pendek kepada temannya. "Kayak ngeliatin ke dalem jiwa gue."

"Lo lebay deh."

"Nggak. Serius. Gue tadi nggak sengaja tatap-tatapan sama dia. Cuma sedetik doang. Tapi rasanya kayak... kayak dia tahu semua rahasia gue."

"Kebanyakan nonton horor lo."

"Bukan horor. Ini beneran. Coba aja lo tatap dia."

Temannya tidak berani.

Lusi terus berjalan. Melewati kantin yang mulai ramai. Melewati meja sudut meja yang dulu selalu menjadi markas Irawan dan gengnya. Meja di mana ia dulu tertawa mendengar lelucon Rendy. Meja di mana Dimas pernah mencomot kerupuk dari piringnya. Meja di mana Bayu selalu duduk diam, menatapnya dengan mata yang sekarang ia tahu artinya.

Meja itu kosong hari ini. Tapi Lusi tahu, sebentar lagi tidak akan kosong.

Ia terus berjalan. Menuju perpustakaan. Tempat yang sama di mana Bayu pernah membisikkan kata-kata yang sekarang terngiang-ngiang di kepalanya.

"Lo sayang nggak sama Irawan?"

"Jangan pernah tinggalin dia ya. Irawan itu rapuh. Dia butuh lo."

Dulu, Lusi mengira itu nasihat. Sekarang ia tahu itu ancaman terselubung. Briefing. Bagian dari rencana yang sudah disusun rapi.

Lusi tersenyum lagi. Kali ini lebih lebar. Lebih dingin.

Irawan rapuh. Kalian semua rapuh. Dan sekarang... kalian akan tahu bagaimana rasanya dihancurkan.

Di setiap langkah, ia merasakannya.

Bukan hanya tatapan orang-orang. Bukan hanya bisikan-bisikan. Tapi sesuatu yang lebih dalam. Sesuatu yang mengalir di udara seperti benang-benang tak kasat mata.

Kehadiran Irawan.

Lusi bisa merasakannya. Persis seperti yang tertulis di kitab: "Setelah ritual selesai, pengirim dan target akan terhubung oleh benang gaib. Pengirim akan selalu mengetahui di mana targetnya berada. Dan target... akan selalu tertarik ke arah pengirimnya."

Irawan ada di sini. Di kampus ini. Di suatu tempat yang tidak jauh.

Dia di kantin, Lusi menutup matanya sejenak, membiarkan energi itu mengalir. Dia duduk di meja sudut. Sendirian. Menunggu.

Dan dia tahu aku di sini.

Dia bisa merasakanku, sama seperti aku bisa merasakannya.

Dia sedang berjalan ke arahku.

Lusi berhenti di tengah koridor. Tepat di bawah papan pengumuman yang penuh tempelan poster acara kampus. Di sebelahnya, ada tiang bendera yang talinya berderit-derit tertiup angin.

Ia menunggu.

Tidak bergerak. Tidak menoleh. Hanya berdiri. Menatap lurus ke depan. Ke arah ujung koridor yang berbelok ke kanan.

Dan ia tahu, dari balik belokan itu, seseorang sedang berjalan mendekat.

Seseorang yang napasnya memburu.

Seseorang yang jantungnya berdebar kencang bukan karena cinta, tapi karena ikatan yang mencengkeram jiwanya.

Seseorang yang, menghancurkan hidupnya. Dan sekarang... akan menjadi budaknya.

Lima langkah.

Empat langkah.

Tiga langkah.

Dua langkah.

Satu langkah.

"LUSI!"

Suara itu. Suara bariton yang dulu membuat jantungnya berdebar karena cinta. Lalu karena takut. Lalu karena benci. Sekarang... sekarang ia tidak merasakan apa-apa.

Irawan muncul dari balik belokan. Wajahnya pucat. Matanya sembab. Lingkaran hitam di bawah matanya semakin pekat jelas ia belum tidur selama berhari-hari. Rambutnya yang biasanya rapi sekarang berantakan, tidak tersisir, tidak terawat. Bajunya kusut. Sepatunya beda warna satu hitam, satu cokelat tua kesalahan yang tidak akan pernah dilakukan oleh Irawan yang dulu.

Ia terlihat seperti mayat hidup.

Tapi begitu matanya menemukan Lusi, wajahnya langsung berubah. Seperti seseorang yang baru saja menemukan air di tengah gurun. Seperti seseorang yang baru saja disuntik morfin setelah berhari-hari sakau.

"Lus... Lusi..."

Ia berlari kecil. Bukan lari yang gagah seperti biasanya. Tapi lari yang gontai. Lari yang putus asa.

Dan ia berhenti tepat di depan Lusi. Napasnya memburu. Tangannya terangkat, ingin menyentuh wajah Lusi, tapi berhenti di udara seperti ada dinding tak kasat mata yang menahannya.

"Gue... gue nyariin lo..."

Lusi menatapnya. Tatapan yang tenang. Tatapan yang dingin. Tatapan seekor kucing yang sedang menatap tikus di bawah cakarnya.

"Oh ya?" Suaranya datar. Tidak ada emosi. "Kenapa?"

"Gue... gue nggak bisa tidur. Nggak bisa makan. Nggak bisa mikir apa-apa selain lo." Suara Irawan bergetar. Ada nada putus asa di dalamnya. "Kenapa, Lus? Kenapa gue jadi kayak gini? Lo... lo ngapain sama gue?"

Beberapa mahasiswa yang lewat mulai memperhatikan. Seorang mahasiswi mengeluarkan ponselnya, mulai merekam diam-diam.

"Aku?" Lusi memiringkan kepalanya, seperti anak kecil yang tidak mengerti pertanyaan. "Aku nggak ngapain-ngapain, Wan."

"BOHONG! Lo pasti ngelakuin sesuatu! Lo... lo pake ilmu atau apa gitu kan?!"

Lusi menatapnya lama. Ia bisa melihat penderitaan di mata lelaki itu. Penderitaan yang nyata. Penderitaan yang dalam. Penderitaan yang andai ini dua bulan lalu akan membuatnya menangis penuh empati.

Tapi sekarang... ia tidak merasakan apa-apa.

"Aku nggak pake ilmu apa-apa, Wan," katanya pelan, hampir seperti berbisik. "Mungkin... kamu cuma lagi sakit."

"Sakit apaan?! Gue nggak sakit! Ini... ini kayak ada yang narik-narik gue ke lo! Kayak lo jadi pusat gravitasi gue! Ke mana pun gue pergi, yang ada di kepala gue cuma lo! Lo! Lo! LO!"

Air matanya jatuh. Di depan umum. Di depan semua orang yang menonton.

Irawan, laki-laki yang dulu paling populer, paling percaya diri, paling ditakuti sekarang menangis di koridor kampus. Menangis di depan Lusi. Menangis seperti anak kecil yang tersesat dan tidak bisa menemukan jalan pulang.

"Please, Lus... gue nggak kuat... lepasin gue... lepasin apa pun yang lo pasang ke gue..."

Lusi menghela napas. Pelan. Panjang. Lalu ia melangkah maju satu langkah, cukup dekat untuk membuat Irawan menahan napas.

"Lepasin?" bisiknya. Suaranya hanya terdengar oleh Irawan. "Aku nggak masang apa-apa, Wan. Kamu yang masang sendiri. Kamu yang dari dulu... selalu nyariin aku. Kamu yang dari dulu... selalu ada di sekitarku."

"Apa?! Nggak! Gue nggak pernah…"

"Kamu yang pertama kali nyapa aku di tangga. Kamu yang ngajak aku nonton wayang. Kamu yang jemput aku di kost. Kamu yang..." Lusi berhenti sejenak. "...ngajak aku ke hotel."

Wajah Irawan memucat. Sepucat kertas. "Itu... itu..."

"Itu apa, Wan?" Suara Lusi masih pelan. Masih tenang. Tapi ada sesuatu di dalamnya sesuatu yang tajam, seperti pisau yang dibungkus sutra. "Itu cuma mainan? Itu cuma taruhan? Itu cuma... proyek?"

Kata-kata itu menghantam Irawan seperti palu godam. Ia mundur selangkah. Dua langkah. Tiga langkah. Punggungnya menabrak tiang bendera.

"Dari mana lo tahu…"

"Tahu apa?" Lusi memiringkan kepalanya lagi. "Tahu bahwa kamu sama temen-temenmu udah ngerencanain semuanya dari awal? Tahu bahwa kamu cuma ngejadiin aku sebagai bahan tertawaan? Tahu bahwa kamu... ngerekam semuanya?"

Irawan membeku. Wajahnya sekarang sepucat mayat. "Gue... gue..."

Lusi melangkah maju lagi. Sekarang jarak mereka sangat dekat. Ia bisa mencium bau keringat dan ketakutan dari tubuh Irawan.

"Tenang, Wan," bisiknya. "Aku nggak dendam. Aku nggak marah. Aku udah... memaafkan kamu."

Itu bohong. Bohong besar. Tapi Irawan tidak tahu itu.

"Ka... kamu maafin gue?"

"Iya." Lusi tersenyum. Senyum yang manis. Senyum yang dulu selalu membuat Irawan merasa nyaman. Tapi sekarang, senyum itu terasa seperti belati yang menusuk jantungnya. "Aku maafin kamu. Asal..."

"Asal apa?"

"Asal kamu jangan tinggalin aku lagi. Kamu harus selalu di sampingku. Selalu ngikutin aku. Selalu... nurut sama aku."

Kalimat itu seperti tombol yang ditekan di dalam otak Irawan. Seketika, ekspresinya berubah. Dari ketakutan menjadi... kelegaan. Dari kebingungan menjadi... kepatuhan. Matanya yang tadinya liar sekarang tenang. Napasnya yang tadinya memburu sekarang teratur.

"Aku... aku nggak bakal ninggalin kamu, Lus," katanya. Suaranya sekarang berbeda. Lebih lembut. Lebih patuh. Lebih... kosong. "Aku janji. Aku bakal selalu di samping kamu. Selalu. Selalu."

Lusi mengangguk puas.

Ia berbalik dan mulai berjalan lagi. Tidak menoleh. Tidak menunggu.

Dan di belakangnya, Irawan mengikuti. Bukan di samping seperti pacar. Bukan di depan seperti pemimpin. Tapi di belakang. Sedikit di kiri. Seperti pengawal yang mengikuti tuannya.

Seperti budak.

[BERSAMBUNG…]

1
Wawan
Kembang buat Lusi 😄
Wawan
Manfaatkan Lus .... 🤣🤣🤣
Wawan
iklan buat mu Thor ✍️
Wawan
2 mawar buatmu Thor ✍️
Wawan
Zombie 🤣
Wawan
Iklan dan mawar buat Semar mendem 🤣🤣🤣
Wawan
Cepat pulih Thor 👍✍️
Dhatu Lukita: terimakasih ❤️
total 1 replies
Dhatu Lukita
Halo, semuanya! 🥰

Maaf ya, akhir-akhir ini author sedang kurang fit dan lagi drop, jadi belum bisa mengunggah bab selanjutnya. Mohon maaf sebesar-besarnya karena sudah membuat kalian menunggu. 🙏

Terima kasih banyak untuk teman-teman yang masih setia membaca, memberikan dukungan, dan sabar menunggu kelanjutannya. Semoga author bisa segera pulih dan kembali update secepatnya.

Terima kasih atas pengertian dan doa kalian. Semoga selalu sehat dan bahagia. ❤️
Wawan
Wah ngeri 🤭
Dhatu Lukita
semangat aku dewe🤭🫰
Wawan
Lah kok pakai jilbab 😄🤭
Wawan
iklan dan mawar buat Lusi 😍😄
Wawan
Ngeri juga nih si Lusi 😄💪
Alis Yudha
Thor,Semar mesem sama jaran goyang apa sama ya🤔?🤭
Dhatu Lukita: halo kak, sama2 'ilmu pengasihan' tapi berbeda cara pengamalannya kak kurang lebih 🙏
total 1 replies
Wawan
/Rose/
Firmahadi
izin mampir kak
Wawan
Setangkai mawar buatmu Thor 💪
Dhatu Lukita: terimakasih banyak 😍❤️💪💪
total 1 replies
Wawan
Iklan. buat Lusi 🤭
Wawan
Jam dinding 👍
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
💃🏻 Apa salah lan dosaku, sayang? 🥺
📖 Hubungan semula adem, saiki malah kecut bagaikan asem. 🍋🗿
🐎 Semar Mesem? Jaran Goyang? Wah judule wis nggawe aku kelingan lagu. 🤣
🧙🏻‍♂️ Mbah... iki kudu jurus sing endi ben ending-e bahagia? 🚬😂
💘 Mugo-mugo tokoh utama ora nganti sambat "kok tresnaku dibuwang-buwang" maneh. 🥹
🍿 Gas lanjut moco... aku siap nyekseni gejrot plot twist-e. 🗿🔥
_r: kak baca novel ku juga dong judulnya, tower of souls
total 7 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!