Kakek Abraham mempunyai cara licik untuk menjodohkan cucu ketiganya sekaligus cucu perempuan satu-satunya, Zemira Pieters.
Ia pura-pura mengajak Zemira taruhan. Taruhannya adalah jika Zemi bisa hidup tanpa fasilitas dari Kakek Abraham selama setahun, maka Kakek Abraham tidak akan lagi memaksa Zemi untuk menikah. Tapi jika Zemi tidak bisa, maka Zemi harus menikah dengan laki-laki pilihan Kakek Abraham.
Padahal tujuan sebenarnya Kakek Abraham membuat taruhan adalah untuk mendekatkan Zemi dengan laki-laki pilihan Kakek Abraham.
Tapi ternyata laki-laki yang ingin Kakek Abraham adalah laki-laki yang pernah menolak Zemi waktu SMA.
Akankah rencana Kakek Abraham berhasil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na_Les, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Drama Pulang Kerja
Ganesh Production
Pukul 17.00
Jam kerja berakhir.
Disaat teman-teman seruangannya sedang bersiap-siap pulang, Zemi masih diam ditempat duduknya.
"Gak pulang Zem?" tanya Amara.
"Kalian duluan saja, masih ada yang harus aku selesaikan." jawab Zemi pura-pura sibuk dengan komputernya.
Teman-teman seruangannya pun satu persatu keluar dari ruang kreator.
Sambil melihat teman-temannya yang berkeluaran, sesekali Zemi melihat ruang kerja Ravin. Begitu juga dengan Ravin, yang ternyata juga sesekali melirik Zemi.
Setelah semua karyawan keluar dari ruang kreator, Ravin pun mengirim pesan ke Zemi.
[Ravin] : Apa kita sudah bisa pulang?
TRING...
Notifikasi pesan masuk di ponsel Zemi.
Cepat-cepat Zemi mengambil ponselnya dan membalas pesan dari Ravin.
[Zemi] : Lima belas menit lagi. Kalau kita keluar sekarang sama saja akan ketahuan.
Ravin tak membalas pesan Zemi, dia malah berdiri dari duduknya dan keluar dari ruang kerjanya dan menghampiri Zemi langsung.
"Memangnya kenapa kalau mereka tahu kita berpacaran? Apa kamu malu berpacaran dengan ku?" protes Ravin.
"Hish kamu ini! Seisi kantor ini kan taunya kamu berpacaran dengan Vivian kalau semuanya tahu kita berpacaran, pasti mereka berpikir kalau aku yang sudah menggoda mu dan merusak hubungan kalian." jawab Zemi.
"Memang kamu sudah menggoda ku kan?" balas Ravin.
"Aku tidak pernah menggoda mu yah! Enak saja kamu!" balas Zemi ketus.
"Kamu marah-marah begini, itu sama saja menggoda ku." jawab Ravin kemudian Ravin mensejajarkan wajahnya ke wajah Zemi.
"Apa kamu sengaja melakukan itu karena ingin aku cium lagi?" goda Ravin.
"Hish apa sih! Sana!" Zemi langsung mendorong Ravin.
Ravin hanya terkekeh kecil.
"Sudah lah ayo kita pulang sekarang. Lagian tidak akan ada yang mengira kita pacaran. Kalaupun mereka melihat kita jalan berdua, paling-paling mereka hanya mengira kita sedang ada urusan pekerjaan." ucap Ravin.
"Iya juga yah." gumam Zemi.
"Ya sudah, ambil sana tas mu, kita pulang." jawab Zemi.
Ravin pun meninggalkan meja kerja Zemi dan masuk ke ruang kerjanya. Zemi pun beranjak dari kursi kerjanya lalu menunggu Ravin di depan ruang kerja Ravin.
Ravin pun keluar dari ruang kerjanya.
"Ayo." ucap Zemi sambil jalan lebih dulu menuju pintu keluar.
Baru satu langkah tiba-tiba Ravin menarik tangan dan pinggang Zemi.
"Hish, mau apa! Lepas!" kaget Zemi.
Cup. Satu kecupan basah mendarat mulus dibibir Zemi.
Spontan Zemi langsung mendorong tubuh Ravin.
"Kamu ih!! Suka sekali dadakan seperti ini!" protes Zemi sambil memukul dada Ravin.
"Jadi aku harus bilang dulu mau mencium mu?" tanya Ravin.
"Hish... Apaan sih! Sudah ayo pulang!" omel Zemi lalu membalikkan badannya lagi.
Tapi lagi-lagi Ravin menarik tangan dan pinggang Zemi.
"Bagaimana kalau kita disini lima belas menit lagi." ucap Ravin lalu menarik Zemi masuk kedalam ruang kerjanya.
"Kamu mau apa Ravin?" tanya Zemi.
Ravin tidak menjawab dan malah memencet tombol memburamkan dinding kaca.
Mata Zemi membulat.
"Kamu mau apa Ravin?" tanya Zemi sekali lagi.
"Aku ingin mencium mu." jawab Ravin.
Tanpa mendengar jawaban Zemi, Ravin langsung menarik tengkuk Zemi dan mencium bibir Zemi dan melu.matnya lembut. Zemi yang awalnya kaget, tapi lama kelamaan terbiasa dan malah membalas ciuman Ravin. Suara decapan bibir pun memenuhi ruang kerja Ravin.
Beberapa menit kemudian ciuman pun semakin panas, perlahan Ravin menggiring Zemi kursi kerja Ravin tanpa melepas ciuman mereka.
Ravin pun duduk di kursi kerjanya dan Zemi duduk di pangkuannya. Merasa sudah kahabisan nafas, Zemi pun mendorong Ravin hingga ciuman mereka terlepas.
Mata mereka saling menatap dengan nafas yang memburu.
"Ayo pulang." ajak Zemi.
"Sebentar lagi." jawab Ravin lalu mendaratkan bibirnya lagi ke bibir Zemi.
Mereka pun kembali berciuman panas. Untungnya Ravin bisa menahan hasratnya, jadi mereka hanya berciuman panas tidak lebih dari itu.
💋💋💋
Lima belas menit kemudian.
Kini Ravin dan Zemi sudah berada di mobil Ravin dan sedang dalam perjalanan menuju apartemen Ravin. Sebelum pergi mansion Pieters, Ravin ingin membersihkan tubuhnya dulu, tidak mungkin kan dia bertemu dengan kedua kakak laki-laki Zemi dengan wajah yang berminyak.
Setelah ciuman panas di ruang kerja Ravin, Zemi terlihat canggung, dia tidak mengeluarkan sepatah kata apapun sepanjang perjalanan. Karena Zemi diam, Ravin pun juga diam, dia tahu saat ini Zemi sedang canggung. Ravin cukup sadar diri, karena ulahnya juga lah Zemi menjadi canggung.
Apartemen Ravin.
Sampailah mereka di apartemen Ravin.
"Ayo turun." ucap Ravin.
"Aku tunggu disini saja." tolak Zemi.
"Ya sudah kalau begitu, tapi aku beritahu saja kalau di sini biasa ada bayangan putih mondar-mandir. Jadi saat bayangan putih itu muncul kamu harus bersembunyi di jok belakang dan tidak boleh mengeluarkan suara apapun, suara nafas pun juga jangan." ucap Ravin.
Mata Zemi membulat lebar.
"Ya sudah aku keluar yah, mungkin satu jam lagi aku baru kembali kesini." kata Ravin lagi lalu keluar dari mobil.
Zemi yang ketakutan pun cepat-cepat melepas sabuk pengamannya dan keluar dari mobil.
"Ravin tunggu!!!" teriak Zemi.
Ravin yang sudah beberapa meter dari mobil pun menoleh kebelakang.
"Kenapa keluar? Katanya mau menunggu di mobil?" tanya Ravin.
"Aku ingin buang air kecil, jadi aku ikut saja denganmu. Ayo." jawab Zemi sambil menarik tangan Ravin.
Ravin menggelembungkan pipinya menahan tawa.
Menggemaskan. Gumam Ravin dalam hati.
Mereka pun berjalan bersama memasuki gedung apartemen.
Saat berada dalam lift, jantung Zemi kembali berdetak kencang.
Jangan dicium lagi, please jangan dicium lagi. Doa Zemi dalam hati karena saat ini mereka hanya berdua di dalam lift.
"Jangan berpikir yang macam-macam. Aku tidak semesum yang ada di pikiran mu." ucap Ravin yang bisa menebak isi pikiran Zemi dari raut wajah Zemi.
"Memangnya aku berpikir apa?" tanya Zemi.
"Aku tidak akan mencium mu di sini. Karena kalau aku mencium mu disini, kalau tiba-tiba pintu lift terbuka, jadi tanggung." jawab Ravin.
"Cih!" decih Zemi.
"Tapi aku akan mencium mu dalam apartemen ku." bisik Ravin.
Sontak Zemi membulatkan matanya.
Mati aku! Tapi tidak pa-pa lah, daripada aku harus menunggu di mobil dan mati menahan nafas karena si bayangan putih yang Ravin katakan. gumam Zemi dalam hati.
Ravin tersenyum tipis melihat ekspresi Zemi padahal dia hanya menggodanya.
💋💋💋
Bersambung...
😂😅
lucu bangat thoor
menarik sekali karya mu ini
aku sangat suka