Ini adalah novel religi pertamaku. Banyak banget yang butuh perbaikan sana sini. jika ada yang tidak sesuai, othor terima banget masukannya.
Tiba-tiba dilamar oleh seorang Ustad, membuat Arin berpikir dan melakukan berbagai cara untuk membatalkan pernikahan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danie A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 22
Arin menatap Huda dari seberang, tanpa mengucapkan apa pun. Tak lama kemudian, Huda membuka mata dan menyadari kehadiran calon istrinya itu.
"Arin?" sapa Huda pada Arin dengan senyum ramah, sama seperti biasanya.
"Assalamualaikum, Mas Huda!" ucap Arin singkat.
Huda segera membenahi posisi duduknya dan berusaha menyambut tamunya dengan baik. "Sini, Rin! Maaf, saya lagi mangku Riski," sahut Huda.
"Nggak apa-apa, Mas. Maaf, aku datang ke sini tanpa ngasih tahu dulu."
Arin duduk di seberang Huda tanpa kata. Gadis itu nampak bingung bagaimana harus memulai menginterogasi Huda mengenai foto yang sempat ia lihat di jembatan.
"Ada hal penting yang mau kamu bahas?" tanya Huda.
"Ini ada sedikit oleh-oleh buat Nyai," ucap Arin menyodorkan bingkisan yang ia bawa.
"Terima kasih banyak, Arin!"
Arin masih diam. Gadis itu masih belum juga membahas tentang foto yang ingin ia tanyakan.
"Kamu ke sini cuma buat nganterin ini? Atau kamu ada kepentingan lain?" tanya Huda.
Arin pun mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto Huda di pinggir sungai yang sengaja ia simpan. "Aku ke sini cuma mau nanya soal ini," seru Arin. "Coba lihat baik-baik foto ini!"
Huda menatap layar ponsel Arin dengan seksama. "Kamu mau nanya soal apa?"
"Ini foto siapa?" tanya Arin. "Ini Mas Huda, kan? Terus cewek yang nggak kelihatan mukanya ini siapa? Cewek yang Mas peluk ini siapa?"
Huda terdiam sejenak. Pria itu harus bisa memberikan jawaban dengan bijak, sebelum Arin menaruh kecurigaan yang tidak-tidak padanya.
"Kamu dapat dari mana foto ini?"
"Mas jawab aja! Ini beneran Mas, kan?" sungut Arin.
Huda mengangguk. Pria itu tidak mengelak.
"Terus cewek ini siapa?" tanya Arin.
"Kebetulan waktu itu saya nolongin orang," ucap Huda.
"Siapa orangnya? Kenapa pakai pelukan segala? Kenapa bajunya basah?" Arin terus menginterogasi Huda sampai ke akar. Namun, Arin tetap berusaha berbicara dengan suara lembut agar ia tidak mengganggu Riski yang tengah tertidur di pangkuan Huda.
"Saya nolongin orang yang hampir tenggelam di sungai," ungkap Huda. Huda sama sekali tidak menyebutkan nama Wirda.
Arin sudah mulai curiga, tapi sayangnya Huda tak juga menyebut nama yang ingin ia dengar.
"Siapa orangnya? Siapa perempuan ini?"
"Dia perempuan yang saya tolong. Kamu udah lihat sendiri fotonya, kan? Saya cuma bantu dia keluar dari air," jelas Huda.
Perhatian Arin mulai teralihkan pada Riski. Wajah Riski yang agak pucat membuat Arin penasaran. "Riski kenapa, Mas?"
Belum sempat Huda menjawab, Riski sudah terlebih dulu bangun dan merengek pada Huda. "Eh, Riski bangun?"
Huda segera bangkit dan menggendong Riski untuk menenangkan bocah itu. Nyai Rosyidah pun langsung keluar begitu ia mendengar perkataan sang cucu.
"Riski kenapa lagi? Udah dong nangisnya," cetus Nyai Rosyidah pada sang cucu yang digendong Huda di sekitar teras.
Nyai Rosyidah menatap ke arah bangku teras dan terkejut bukan main saat melihat Arin. "Arin? sejak kapan kamu di sini?" tanya Nyai Rosyidah benar-benar kaget melihat kedatangan Arin.
"Assalamualaikum, Nyai!" Arin segera bangun dari bangkunya dan menyapa Nyai Rosyidah sembari mengecup punggung tangan beliau.
"Ibu beneran nggak tahu kamu ada di sini. Ibu ambilin minum dulu, ya?"
"Gak perlu repot-repot, Nyai. Arin udah minum tadi," sahut Arin.
Nyonya Rosyidah pun menemani calon menantunya itu berbincang di teras rumah, sementara Huda masih sibuk menenangkan Riski yang tengah merengek. "Kapan kamu sampainya? Maaf ya, Ibu nggak tahu kalau ada tamu," ucap Nyai Rosyidah.
"Arin belum lama datangnya kok. Maaf, Arin datang ke sini nggak bilang-bilang," seru Arin. "Arin bawain sesuatu buat, Nyai!"
Nyai Rosyidah menatap banyaknya bingkisan yang dibawa oleh gadis itu. "Kamu pakai repot-repot segala! Terima kasih banyak, ya?"
Nyai Rosyidah dan Arin pun mulai memperbincangkan banyak hal, Salah satunya mengenai Riski. "Riski kenapa, Nyai? Lagi sakit, ya?" tanya Arin.
"Riski tadi sempat kecebur di kolam ikan," terang Nyai Rosyidah. "Untungnya dia nggak kenapa-napa. Tapi Riski ada trauma sama air. Jadinya dari tadi rewel begitu," sambung beliau.
"Trauma gimana, Nyai?"
"Riski ada trauma sama air karena orang tuanya. Trauma Riski udah ada sejak orang tuanya meninggal dua tahun yang lalu," jelas Nyai Rosyidah. "Dari tadi Riski nangis terus habis jatuh ke kolam. Cuma Huda yang bisa menenangkan Riski. Huda sampai meninggalkan banyak pekerjaan hari ini demi nemenin Riski."
Arin manggut-manggut mendengarkan penjelasan dari Nyai Rosyidah. Gadis itu memandangi Huda yang sangat ini masih menggendong Riski sembari bersholawat hingga bocah kecil itu kembali terlelap.
Huda berjalan ke sana kemari di area teras dan sesekali menjawaab sapaan para warga dengan anggukan dan senyuman. Huda terlihat telaten sekali mengurus Riski dan mampu menenangkan bocah itu dengan baik. Begitu Riski sudah kembali tertidur pulas, Huda pun kembali ke teras dan duduk di tempatnya semula, masih dengan posisi memangku Riski.
"Riski masih pulasnya tidurnya?" seru Nyai Rosidah.
Huda hanya mengangguk sembari mengusap rambut Riski. Sayangnya, sedikit saja gerakan dari Huda membuat tidur bocah kecil itu terusik. Rizki mulai terbangun sembari mengucek kedua matanya.
"Kok bangun lagi?" tanya Huda. Untungnya kali ini Riski tidak lagi menangis dan merengek seperti sebelumnya.
Arin pun berinisiatif mendekati Riski dan mengajak bocah kecil itu untuk berbincang. "Halo, Riski! Akhirnya kamu bangun tidur juga!" seru Arin.
Riski memandangi Arin dengan mata bulatnya. Bocah itu menyambut sapaan Arin dengan senyum malu.
"Riski masih ingat Kakak, nggak?" tanya Arin pada bocah yang masih memeluk Huda itu.
"Masih," sahut Riski dengan suara yang menggemaskan.
"Siapa coba?" tanya Arin.
"Siapa?" Huda juga ikut bertanya pada Riski.
Bocah itu hanya diam. Sepertinya Riski kebingungan menjawab pertanyaan Huda.
"Calon uminya Riski," timpal Huda kemudian.
Arin menoleh ke arah Huda dengan dahi berkerut. Memang tidak ada yang salah dengan perkataan Huda. Tapi Arin sendiri tidak siap dan juga tidak berencana ingin menjadi ibu dari Riski. Namun, gadis itu tidak mengambil pusing. Arin akan mengiyakan apa pun yang diucapkan Huda pada anak kecil yang ada di hadapannya saat ini.
"Uminya Riski? Umi kok nggak pakai jilbab?" tanya bocah itu dengan polosnya.
Arin gelagapan. Gadis itu tak menyangka akan mendapatkan pertanyaan semacam ini. Tentu saja Arin harus memberikan jawaban yang bagus untuk diucapkan pada anak-anak. gadis itu pun sibuk mencari-cari alasan untuk menjawab pertanyaan Riski dengan bijak.
"Terbang tadi di jalan pas bawa motor," jawab Arin kemudian.
"Bawa motor kan pakai helm, gimana bisa terbang?" tanya Riski lagi.
Arin menelan ludah kasar. Untuk pertama kalinya ia diintrogasi seperti ini oleh anak kecil, dan pertanyaan sederhana dari Riski sukses membuat dirinya gugup.
"Oh, itu. Tadi Kakak berhenti beli jajanan buat Riski. Eh, jilbabnya kabur ketiup angin. Terus Kakak kejar, eh, malah jajanan Riski ikut kabur," terang Arin sembari menampakan wajah ramah penuh senyuman pada Rizki.
"Yaahh!" sahut Riski tampak kecewa.
Untungnya Riski tidak lagi mengejar Arin dengan banyak pertanyaan. Bocah polos itu percaya begitu saja dengan kata-kata Arin.
"Jajan, yuk!" ajak Arin agar tidak terlalu mengecewakan Riski. "Ke sana, yuk! Kakak lihat ada warung jual banyak jajanan."
Riski mengangguk dan menerima ajakan Arin dengan mudahnya. Arin tersenyum senang, kemudian segera menggandeng Riski untuk pergi.
Huda tersenyum melihat Arin yang sudah dekat dengan Riski yang tertutup. Baru saja dua langkah menjauh dari teras, Arin mendadak berbalik dan menengadahkan tangan pada Huda.
"Minta duwit!" pinta Arin tiba-tiba pada Huda.
Huda masih diam. Pria itu menatap telapak tangan Arin dengan dahi berkerut.
"Duwit aku habis, aku kan nggak kerja. Tadi beli oleh-oleh sama bensin aja minta duwit Ibu," ujar Arin.
Huda pun mengeluarkan dompetnya, dan memberi Arin satu lembar uang lima ribuan. Arin cemberut menatap satu lembar uang yang disodorkan padanya itu.
"kok cuma lima ribu?" protes Arin.
"Katanya buat jajan, udah cukup itu," sahut Huda.
"Lima ribu cuma buat Riski doang," gerutu Arin.
"Kamu juga mau jajan?"
Arin masih menengadahkan tangan dengan muka yang masih ditekuk. Tentu saja gadis itu juga ingin dijatah jajan.
"Nih!" Huda berbaik hati memberikan tambahan uang.
"Kok dua ribu? Buat jajan Riski aja kurang."
"Itu kan udah tujuh ribu buat jajan berdua. Cukup, dong?"
Arin cemberut dan masih tak mau beranjak. Gadis itu bertingkah manja pada Huda hanya karena uang jajan.
"Nih!" Huda menyodorkan lagi satu lembar uang lima ribuan.
Arin tersenyum puas. "Gitu dong, tujuh ribu dapat apa?" gerutu Arin sambil berlalu.
"Riski! Ayo jajan!"
Nyai Rosyidah pun ikut tersenyum geli melihat interaksi antara Huda dan Arin itu.
****
semangat up nya thor 💪💪💪