NovelToon NovelToon
TEMAN TAPI MENIKAH

TEMAN TAPI MENIKAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:234.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dhessy

Menikah dengan teman sendiri? Tak pernah aku bayangkan sebelumnya.

Dulu kami saling bermusuhan. Em, no! Bukan bermusuhan. Lebih tepatnya berteman, bersahabat, tapi jarang sekali kita bisa akur.

Dan sekarang kami harus terlibat dalam suatu pernikahan.

Tidakk!!

Rumah tangga yang bagaimana yang akan kami jalani nanti?
Apa rasa sayang sebagai teman bisa berganti menjadi rasa sayang sebagai suami?

Tolong! Tolong katakan padaku kalau ini hanya mimpi!

Katakan padaku ini tidak nyata!

- Carissa Amalina -


Harus tinggal satu atap dengan perempuan yang bawel dan cerewet tak pernah terbayangkan olehku.

Kami berteman sejak kecil. Walaupun tidak bermusuhan tapi juga jarang akur.

Kami lebih banyak berdebat, tak ada yang mau mengalah. Apa jadinya kalau dikumpulkan didalam satu rumah?

- Raka Putra Wibawa -

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhessy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TTM 22

"Jadi begini kelakuan kamu di belakang aku?" Raka menatap tajam Rissa yang terkejut melihat kehadiran Raka.

"Kamu bersikukuh meminta cerai agar kamu bisa bebas dengan dia?" Raka menunjuk laki-laki yang berdiri di samping Rissa. Matanya menatap tajam Rissa dan laki-laki tersebut secara bergantian. Napasnya memburu karena menahan emosi.

"Jaga ucapan kamu, Raka! Ini tidak seperti yang kamu pikirkan."

"Lalu apa?"

Raka mulai kehabisan kesabarannya. Melihat sang istri yang dua hari tak dilihatnya sedang memesan kamar hotel bersama seorang laki-laki.

Raka sakit hati. Harga dirinya sebagai suami sudah terinjak-injak.

"Kenapa diam, Rissa?" Bentak Raka membuat Rissa terkejut. "Jawab!"

Bukan Rissa tak bisa menjawabnya. Dia sudah kepalang malu menjadi pusat perhatian banyak orang. Memperlihatkan seolah-olah dia adalah peselingkuh dan sedang membooking kamar hotel untuk berduaan.

"Dia itu_" Rissa gelagapan.

"Apa!?" Bentak Raka tak sabaran. "Mau mengelak bagaimana lagi kamu, Sa? Jelas-jelas kamu disini, dengan laki-laki lain, lebih parahnya lagi kalian sedang membooking hotel."

"Bro, ini nggak seperti yang kamu pikirkan." Teman Rissa mencoba membantu menjelaskan.

"Diam kamu!" Ucap Raka penuh emosi.

"Raka kamu bisa diam sebentar? Ini nggak seperti yang kamu kira. Dia itu teman aku_"

"Cukup!" Raka mengangkat satu tangannya memberi tanda bahwa dia tak ingin mendengar apapun lagi.

Raka tersenyum sinis. Kepalanya manggut-manggut seolah dia telah menemukan jawaban dari pertanyaannya yang tak kunjung mendapatkan jawaban dari Rissa.

"Bahkan aku nggak yakin kalau anak yang kamu kandung itu anak aku, Sa."

Plak!

Satu tamparan keras mendarat di pipi Raka. Rissa tak menyangka Raka mengucapkan kata-kata itu. Orang yang Rissa cintai, ayah dari anak yang dia kandung, tega mengucapakan kata-kata semenyakitkan itu.

"Jaga mulut kamu, Raka! Hanya karena aku melihat kamu tidur dengan wanita lain, bukan berarti aku melakukan hal yang sama. Aku nggak serendah itu." Bibir Rissa bergetar menahan tangis.

Sekuat hati dia menahan air matanya agar tak terjatuh di hadapan laki-laki yang tak pantas lagi untuk di tangisi. Hatinya yang sudah hancur, semakin hancur karena mendengar ucapan Raka yang begitu menyakitkan.

"Belum cukupkah kamu menyakiti aku, Raka? Jangan memutarbalikkan fakta seolah aku yang bersalah. Ingat kesalahan kamu! Kamu tidur dengan wanita lain bahkan dia sampai hamil, sekarang kamu menuduh aku hamil dengan laki-laki lain?"

Raka hanya terdiam mendengar ucapan Rissa. Menyadari bahwa ucapannya begitu keterlaluan.

Nyatanya, pertahanan Rissa runtuh saat itu juga. Air matanya mengalir deras seolah ingin menunjukkan bahwa hatinya teramat sakit. Dadanya terasa kian sesak.

Rissa menghapus air matanya dengan kasar. Kepalanya mendongak menunjukkan ketegaran. Tersenyum tipis, lalu berucap, "nggak masalah, Raka. Anak aku juga nggak butuh ayah yang tidak mau mengakui kehadirannya."

Rissa menoleh menatap temannya. "Maaf, ya, Sat. Kamu harus melihat ini semua," ucap Rissa tak enak hati.

"Nggak apa-apa, Rissa. Kamu baik-baik saja,kan?" Pertanyaan basa-basi. Nyatanya, Rissa tak baik-baik saja saat ini.

"Aku baik, Sat. Aku pergi dulu, ya. Salam untuk Ajeng. Besok kita bisa ketemu lagi."

Tanpa melihat Raka, Rissa pergi meninggalkan Satria dan juga Raka yang masih belum mengerti keadaan yang baru saja terjadi.

"Loh, Mas, Rissa mana?" Kehadiran Ajeng mengalihkan perhatian Satria dan Raka.

"Kamu baik-baik saja, sayang?" Bukannya menjawab, Satria justru menanyakan keadaan Ajeng.

Ajeng tersenyum manis. "Aku baik, sayang. Biasa, anak kamu kalau bau parfum lain selain parfum papanya ya begini, kan?"

Raka meraup wajahnya dengan kasar mendengar percakapan dua orang dihadapannya. Sayang? Anak kamu?

Artinya Raka sudah salah paham dan menuduh Rissa yang tidak-tidak. Bahkan dia tidak yakin Rissa akan memaafkan dirinya.

"Sekarang sudah sadar, Mas?" Sindir Satria sarkasme.

Tanpa menanggapi sindiran dari Satria, Raka berlalu meninggalkan lobi hotel. Berniat mengejar Rissa barangkali dia belum jauh.

"Dia siapa, sih, Mas?" Ajeng masih saja penasaran.

"Dia suami Rissa. Ada sedikit salah paham...." Dan mengalirlah cerita dari Satria mengenai kejadian yang baru saja terjadi.

Hal itu membuat Ajeng mengerang kesal.

***

"Bahkan aku nggak yakin kalau anak yang kamu kandung itu anak aku, Sa."

Ucapan Raka terus terngiang di pikiran Rissa. Bagaimana mungkin Raka berpikir bahwa anak yang Rissa kandung bukan anak Raka?

Rissa tak serendah itu.

Rissa wanita baik-baik.

"Baik-baik, sayang. Sehat di perut Mama." Rissa berbicara pada janin yang dikandungnya. Tangannya mengelus pelan perut yang masih rata itu.

Bukan tanpa sebab, sejak pertengkarannya dengan Raka di hotel, Rissa sudah merasa tak nyaman dengan perutnya.

Rissa membelokkan mobilnya memasuki halaman rumah sakit terdekat karena merasa perutnya semakin lama semakin sakit.

Dia takut terjadi apa-apa dengan bayinya.

Meskipun Raka tak mau mengakuinya, Rissa akan menyayangi bayinya dengan sepenuh hati. Tak peduli dengan apa yang telah diperbuat oleh ayahnya.

Bagi Rissa, anaknya adalah belahan jiwanya. Hartanya yang paling berharga.

"Suster, tolong. Perut saya kram, saya sedang hamil sebelas minggu," ucap Rissa lemah pada suster yang sedang melintas di depannya.

"Ya Allah, iya ibu. Saya ambilkan kursi roda dulu."

Suster tersebut dengan sigap membantu Rissa dan membawa Rissa ke ruangan spesialis kandungan. Beruntung dokter masih ada di tempat. Jadi Rissa bisa langsung mendapatkan pemeriksaan.

"Bu Rissa harus bed rest. Saya sarankan untuk rawat inap, Bu, agar bisa saya pantau setiap saat," ucap dokter wanita yang berusia sekitar empat puluh tahun tersebut setelah memeriksa keadaan Rissa.

"Apa nggak bisa rawat jalan saja, Dok?"

"Rawat inap ya, Bu. Yang nurut biar bayinya sehat, ibunya juga tenang. Jangan stress dan makan makanan yang sehat. Saya juga sudah meresepkan vitamin penguat janin. Beruntung pendarahan cepat teratasi. Oh, iya. Bisa telpon suami atau keluarganya untuk menemani ya, Bu. Sebentar lagi suster Dina akan memindahkan ibu ke ruang rawat."

Setelah dokter keluar ruangan, Rissa tersenyum miris.

Suami?

Untuk apa?

Bahkan dia menganggap bahwa anak yang Rissa kandung bukanlah anaknya.

Apa lagi yang akan Rissa harapkan?

Bukankah sudah pasti Raka akan memilih Windi yang sudah jelas sedang mengandung anaknya?

🌹🌹🌹

Dengan langkah tergesa, Rahardi dan Kurnia berjalan menyusuri lorong rumah sakit menuju kamar dimana Rissa dirawat.

Setengah jam yang lalu, Rissa menelpon Kurnia dan mengabarkan bahwa dia tengah di rawat dirumah sakit.

Pintu kamar Rissa terbuka. Menampakan Rissa yang sedang memejamkan matanya. Entah tidur atau hanya memejamkan mata saja.

"Nduk, Rissa... Ya Allah... Kenapa bisa begini?" Kurnia menangis sambil menciumi kedua pipi Rissa. Tentu saja Rissa terkejut melihat kehadiran papa dan mamanya dan mamanya langsung heboh begini.

"Rissa nggak apa-apa, Ma. Cuma harus bed rest saja karena tadi sempat pendarahan."

Penjelasan Rissa membuat sepasang suami istri itu saling bertatapan. "Pendarahan?" Tanya Rahardi.

"Kenapa bisa pendarahan? Kamu kecelakaan atau bagaimana?" Kurnia masih tak mengerti.

Rissa tertawa geli melihat orangtuanya yang kebingungan. Dia meraih satu tangan Kurnia dan satu tangan Rahardi lalu dia letakkan diatas perutnya.

"Mama sama papa mau punya cucu."

Ucapan Rissa sontak membuat Kurnia memekik kegirangan. Rahardi tak kalah bahagianya mendengar hal itu.

"Papa... Kita mau punya cucu. Akhirnya, Pa..."

Kurnia masih asyik menciumi pipi Rissa sampai akhirnya pertanyaan dari Rahardi membuat semuanya terdiam.

"Raka dimana?"

🌹🌹🌹

Gimana, gimana?

Udah kesel belum sama Raka?

1
Raudatul zahra
Yaa Allah nangis pas part ini🥺😢
Raudatul zahra
fyuuuuhhh... untung cuma mimpi nya Rissa.. 2 bab ikutan nangis.. bab ini baca nya sambil tersenyum manis donggg☺️☺️
Raudatul zahra
author kok🥺🥺 jahaaaattt 😭😭😭😭
Raudatul zahra
kesel pake banget thooorrrr
Raudatul zahra
Rissa yg terluka, aku yg nangis 😭😭
Raudatul zahra
aku kecewa sama kamu Raka !!!!!!!😭😭
Raudatul zahra
Raka, aku padamu😍😍😍
Raudatul zahra
🥺🥺🤗🤗
Raudatul zahra
😍😍😍
Raudatul zahra
kanebo kering 😭😭🤣🤣
Sri Wahyuni
p0lmopnmmmmlkklkj
Sri Wahyuni
bagus bgt novel ini, kok aq baru nemu ya
KHORI PRASTYA
halo salam kenal
Hykmah Hykmah
kak bagus ceritanya, part nya tambahin sampai 200 kk, ditunggu
aisya_
lakiknya gak tegas bgt sama mantannya, gak tampar ke apa ke, susah kali ya kalo masih cinta
Mel Melda
Aku yg melelehh🤗🤗🤗🤗
Mariana Frutty
✅✔️
Effi Hartati
ini adalah definisi sat set sat set yg gue suka 😭😭
Yatimela Afirah
bagus
TongTji Tea
wait apa aku yang galfok ya thor?
usia 27 udah jadi spesialis kandungan .
wah Rissa termasuk jenius nii.
TongTji Tea: semangat Thor ..its Ok .sekarang kan pasti lebih jago💪
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!