Aku tak menyangka setelah membawa istriku ke rumah ibu, aku tak tahu jika banyak tekanan yang Sari hadapi saat itu. Dimana sifat ibu yang tadinya baik berubah derastis, ia memperlihatkan sifat aslinya.
Setiap malam Sari sering menangis, membelakangi tubuhku, mengabaikan aku. Setiap kali aku bertanya, ia tak pernah menjawab selalu terlelap tidur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Arip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22 Terkejut Pov Raka.
"Anda belum bayar. "
Perkataan wanita tua itu, membuat aku malu.
"Saya lupa, " Merogoh saku celana, mengambil uang lembaran berwarna biru pada sang pemilik warung nasi.
"Gitu dong. "
Wanita tua itu pergi dari hadapanku, dimana aku berteriak, " Kembaliannya buat emak saja."
Tersenyum dan berkata, " Terima kasih, anda baik sekali. "
Sari hanya menggelengkan kepala, lalu berkata,"sudah marahnya. "
"Mm. Siapa yang marah. "
"Itu apa?"
Malu dengan perkataan Sari, membuat aku pergi dari hadapannya.
"Mas."
Melangkahkan kaki begitu cepat, entah kenapa api cemburu ini semakin meluap luap pada hati. Membuat otak tak bisa terkontrol lagi, serasa ingin meledak saat itu juga.
Seorang suster datang menghampiriku, ia memperlihatkan raut wajah gelisahnya. " Pak Riki, maaf sebelumnya, saya ingin memberitahu jika ibu anda sedang mengamuk, ia terus menangis dan tak mau minum obat."
Mendengar hal itu membuat aku berlari, melihat keadaan ibu.
"Ibu, kenapa?"
"I-b-u. M a-u ber-t-e-m-u d-eng-an P-u-j-a!"
"Sabar ya bu, besok Riki temui Puja, agar menemui ibu. "
Wanita tua itu diam, setelah aku berjanji padanya akan membawa Puja besok.
"Mas."
Panggilan Sari membuat aku menatap ke arahnya, " Kenapa?"
"Bagaimana kalau besok kita pulang saja ke rumah, supaya ibu biar aku urus, kasihan kalau di rumah sakit, ibu kaya tertekan gitu!"
"Benar juga, tapi ibu terus meminta bertemu dengan Puja. "
"Ya sudah besok saja, di rumah. Nanti pulang kerja kamu bawa Puja ke rumah. "
"Kamu tidak keberatan."
"Ini demi kesembuhan ibu. "
"Sari, kalau begini. Hati kamu akan terluka. "
"Sudah jangan pikirkan perasaanku, sekarang kita pikirkan kesembuhan ibu. "
"Ya sudah kalau begitu. "
Karena semua keinginan Sari, pada akhirnya aku menurut.
"Semoga ibu, bisa sembuh setelah bertemu dengan Puja. "
Setelah diskusi demi kebaikan ibu, aku meminta pada pihak rumah sakit untuk membawa ibu pulang, dan untungnya pihak rumah sakit memperbolehkan.
"Ki-t-a m-a-u ke-m-a-na?"
"Kita mau pulang bu, katanya ibu ingin bertemu dengan Puja!"
Ibu berusaha melebarkan senyuman, walau sebelah bibir, melihatnya begitu bahagia.
Dalam perjalanan pulang.
Terlihat ibu lebih tenang, dan tak mengamuk seperti di rumah sakit, aku bernapas lega dan pikiranku sekarang lebih tenang.
Sampai di rumah.
Ibu melirik kesana kemari, ia kini bertanya padaku, " Ke-ma-na Pu-j-a?"
"Puja, ee. Besok saja ya kita ketemu Pujanya. "
Memberi penjelasan pada ibu, akhirnya wanita tua yang menjadi ibuku kini menganggukkan kepala.
"Biar Sari saja yang mengurus ibu dulu ya. " Ucap Sari, dimana tatapan ibu terlihat tak senang pada istriku.
"Mas, aku bawa ibu ke kamarnya ya, " Izin Sari kepadaku. " Ya. " Aku melemparkan sebuah senyuman di depan istriku, kedua tangannya mulai mendorong kursi roda ibu.
Berharap sekali, jika Sari dapat mengambil hati ibu, dan mereka kembali akur.
Aku yang merasa lelah, kini berniat untuk beristirahat di dalam kamar. Sampai dimana.
Prakkk ….
Baru saja kaki melangkah ke arah pintu kamar suara teriakan dan juga piring pecah terdengar begitu jelas. Aku segera berlari takut terjadi sesuatu pada ibu dan juga Sari.
Sampai di depan pintu kamar ibu, kedua mataku membulat, saat tangan ibu yang masih kuat untuk bergerak, menjambak rambut istriku.
"Ibu."
𝚜𝚘𝚊𝚕𝚗𝚢𝚊 𝚍𝚒 𝚏𝚋 𝚐𝚊𝚔 𝚙𝚞𝚊𝚜 𝚗𝚞𝚗𝚐𝚐𝚞 𝚐𝚛𝚎𝚐𝚎𝚝𝚗𝚢𝚊