Bagaimana rasanya jika kamu tiba-tiba terbangun dengan wajah dan tubuh yang asing, juga keadaan yang sudah sepenuhnya berubah? Eliora, seorang ketua gengster berbahaya di California, tiba-tiba terjebak di dalam tubuh seorang wanita lemah bernama Tiara yang sudah memiliki suami dan juga anak.
Dia merasa kasihan ketika mengetahui bahwa selama ini Tiara diperlakukan semena-mena oleh suami dan mertuanya, hingga membuat Elora bertekad untuk mendapatkan keadilan bagi Tiara dan anakknya.
Perjalanannya semakin berwarna saat dirinya dipertemukan kembali dengan Charly, agen rahasia yang beberapa kali menjadikannya target operasi.
Mampukah Eliora membantu Tiara dan anaknya untuk mendapatkan keadilan? Bagaimanakah dengan masa lalu yang dia tinggalkan, apakah dia masih hidup atau sudah mati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon warnyi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.22 Tidak sadarkan diri
Beberapa jam sebelum berangkat ke pesta.
Charly tampak duduk di ruang tengah dengan laptop yang masih menyala di depannya. Getar ponsel yang tergeletak di atas meja mengalihkan perhatian laki-laki itu.
"Iya?" ujarnya sambil menempelkan ponsel itu di telinga.
"Aku sudah mendapatkan informasi tentang mereka." Seseorang di seberang sambungan telepon terdengar berbicara.
"Kirimkan ke padaku sekarang," ujar Charly langsung.
"Oke!" seru seseorang itu.
Telepon pun terputus begitu saja, sesaat kemudian notifikasi email terlihat di layar laptop yang masih menyala. Charly langsung beralih tempat duduk ke karpet bulu di bawahnya, agar lebih mudah untuk mengoprasikan laptop miliknya.
Matanya menatap serius setiap baris kata yang terlihat di dalam email yang baru saja terbuka, terkadang sampai terlihat kerutan halus di keningnya, saat membaca laporan yang baru dikirimkan oleh salah satu rekan kerjanya sesama agen rahasia.
"Apa itu email dari Niko?" tanya Ramon yang baru saja datang dari arah dapur dengan membawa dua gelas air di tangannya, kemudian duduk di samping Charly dengan santai.
"Hem." Charly hanya bergumam tanpa mengalihkan perhatiannya.
Ramon pun ikut membaca setiap barisan kata yang terangkai di dalam layar di depannya.
.
Charly menatap kepergian Liora dan Dery, dia yang sedikit curiga dengan gelagat pasangan suami istri itu pun memilih untuk ikut berpamitan kemudian mengikuti mereka secara diam-diam.
Awalnya dia hanya penasaran, hingga ketika dia berada di depan ruangan itu, terdengar suara ribut dari dalam. Hingga membuatnya sedikit membuka pintu agar dirinya bisa melihat ke dalam dan mendengar lebih jelas apa yang mereka debatkan.
Karena pertengkaran yang semakin hebat, Dery sampai tidak sadar jika pintu ruangan itu semakin terbuka, hingga saat dia menampar Liora, Charly bahkan bisa melihat dengan sangat jelas apa yang terjadi di dalam.
Sementara itu, Liora yang mengetahui keberadaan Charly sempat tersenyum tipis ke arah laki-laki itu sebelum kemudian mulai menutup mata dan ambruk di lantai begitu saja.
Dery melebarkan matanya melihat Liora yang teegeletak tak sadarkan diri di depannya, sementara Charly langsung menerobos masuk ke dalam, dia sempat melirik wajah Dery yang sepertinya belum sadar benar dengan apa yang terjadi sebelum akhirnya membawa Liora ke dalam rengkuhannya.
Charly lebih dulu menyelimuti tubuh Liora dengan jas yang dirinya pakai, kemudian melangkah ke luar dari ruangan itu sambil menggendong Liora ala bridal style. Ramon yang melihat itu langsung berlari menghampiri Charly dengan wajah panik.
"Ada apa ini, Charly?" tanyanya sambil melihat Liora yang masih menutup mata.
"Kita pulang sekarang," jawab Charly tanpa mau menjelaskan lebih jauh.
Bisik-bisik para tamu yang hadir pun terdengar ketika melihat Charly menggendong seorang wanita dalam keadaan tak sadarkan diri.
Sementara itu, Liora yang sebenarnya hanya berpura-pura, tersenyum senang di gendongan Charly. Dia memang sengaja memanfaatkan situasi agar bisa membuat Dery merasa bersalah sekaligus lebih dekat pada Charly, dengan begitu Liora juga bisa memperlihatkan pada Charly jika selama ini dirinya memang sering mengalami kekerasan dalam rumah tangga.
Ramon langsung berjalan mengikuti Charly, sambil memberi instruksi pada petugas hotel untuk menyiapkan mobil mereka di depan lobi.
Tepat saat Charly sampai di lobi, mobil pun baru berhenti, Roman bergegas mengambil kunci, sedangkan petugas hotel membuka pintu belakang untuk Charly dan Liora.
Charly merebahkan tubuh Liora di kursi bagian belakang mobil, sementara diadakan duduk di sisinya. Mobil pun perlahan melaju dengan Ramon yang menyetir.
"Anda sudah bisa bangun," ujar Charly dingin, bahkan tanpa mengalihkan pandangannya yang lurus ke depan, ternyata dia tahu kalau Liora hanya berpura-pura pingsan.
Roman terkejut, dia refleks menoleh ke belakang, dia yang mengira jika semua ini adalah hal yang benar-benar terjadi kini menghembuskan napas kasar sambil mencebik kesal.
Sementara itu, Liora mulai membuka mata dan menegakkan lagi tubuhnya, dia berusaha tersenyum walau itu terhalang rasa perih ketika bibirnya tertarik.
"Jadi semua ini hanya pura-pura?" tanya Ramon sambil melihat bergantian kedua orang yang ada di bangku belakang dari kaca spion dalam.
Tidak ada jawaban dari Charly, laki-laki itu hanya duduk tegap dengan pandangan lurus, sedangkan kedua tangannya dia lipat di depan dada.
Sementara itu, Liora hanya mendengkus melihat Charly yang kembali bersikap dingin, dua kemudian menyandarkan kembali kepalanya yang terasa sedikit pening akibat tamparan kecang itu.
"Itu hanya sedikit," jawab Liora sambil menutup mata.
Sepertinya cedera kepala yang dialami oleh Tiara lumayan parah, hingga sampai sekarang Liora masih saja sering merasa pusing, apa lagi setelah menerima benturan atau gerakan yang tiba-tiba seperti tadi.
"Apa maksud Anda melakukan ini semua?" tanya Charly setelah mereka lama terdiam.
Liora tampak membuka mata kemudian melirik Charly yang masih saja dalam posisi sama. Mendengkus kesal kemudian duduk miring agar bisa menghadap Charly. Wajahnya terlihat sumringah dengan mata berbinar penuh harap.
"Aku ingin kalian membantuku mendapatkan harta milik kedua orang tuaku dari Dery dan membuatku berpisah dengannya," jawab Liora kemudian dengan senyum yang merekah, walau dia harus menahan rasa sakit di ujung bibirnya.
Charly kalau saja terkejut dengan keinginan Liora, begitu juga dengan Ramon. Keduanya serempak menoleh pada wanita itu dengan kening mengkerut.
"Kamu mau berpisah dengan Dery?" tanya Ramon yang masih tidak percaya dengan ucapan Liora.
"Heem!" Liora mengangguk penuh semangat.
"Tidak bisa!" Charly langsung menolak permintaan Liora.
"Oh ayolah, tolong bantu aku ... hanya kalian yang bisa menolong aku." Liora menangkupkan tangannya di depan dada dengan tatapan melihat Charly dan Ramon bergantian.
"Tidak bisa! Itu semua bukan urusan kami!" jawab Charly lagi.
Liora mulai kesal, dia sudah mencoba cara baik dari mendekati mereka perlahan sampai terang-terangan. Dia bahkan sudah mengorbankan banyak waktu dan rasa malunya demi untuk meminta bantuan pada Charly.
Namun, ketika dia mengungkapkan keinginannya Charly malah menolaknya mentah-mentah, bahkan ketika dia sudah tahu kalau dirinya sudah menerima kekerasan dalam rumah tangga oleh Dery.
Entah harus menggunakan cara apa lagi, untuk meyakinkan Charly agar mau membantunya terlepas dari Dery dan mengambil hak Davi. Sungguh, Liora tidak menyangka jika Charly adalah laki-laki yang begitu dingin dan arogan. Dia bahkan tidak perduli pada seorang wanita teraniaya sepertinya.
Mobil yang membawa mereka berdua kini mulai memasuki komplek perumahan mereka, Liora tersenyum tipis ketika dia menemukan sebuah cara yang mungkin tidak bisa Charly tolak.
Walaupun cara ini mungkin akan terlihat kasar dan tidak tahu malu, dan lebih menjurus pada sebuah ancaman dibanding permintaan tolong.
Namun, Liora sudah tidak mempunyai cara lain dirinya sudah tidak bisa lagi menunda, sungguh persediaan rasa sabar yang dia miliki sudah hampir habis setelah setiap hari harus terus berhadapan dengan Dery dan Niken yang begitu menyebalkan.
Liora takut, jika nanti Dery terlanjur mengetahui perubahannya dan akan bertindak lebih waspada bahkan mungkin memisahkan Davi dengannya, untuk membuatnya takluk dan diam.
Mobil sudah berhenti di depan gerbang tinggi rumah Tiara. Liora mendengkus kesal ketika melihat tatapan tajam milik Charly yang langsung membuatnya merinding.
"Oke, baiklah aku tidak akan memaksa kalian untuk membantuku. Aku tahu sebagai agen rahasia, kalian pasti direpotkan oleh masalah rumah tanggaku yang hanya sepele menurut kalian," ujar Liora sambil melirik reaksi kedua laki-laki itu.
Tangannya bersiap untuk membuka pintu sebelum dia kembali melanjutkan perkataannya lagi.
"Tapi, jangan salahkan aku jika besok pagi semua orang di komplek ini akan tahu siapa identitas asli kalian," ujar Liora lagi kemudian bergegas membuka pintu sebelum mendapatkan reaksi dari Charly maupun Ramon.
Nah, gimana nih reaksi Charly dan Ramon? Komen ya😍
dan setelah itu menghancurkan Roxy dan antek-anteknya..