#Kisah ini mengingatkan pada kaum wanita jika kamu tidak mencintai pria yang menyatakan perasaannya padamu, jangan pernah sekali-kali kamu menghinanya. Ingat! Pria sanggup melewati tajamnya duri, untuk membuatmu tak berdaya!!!
Tamara Morely terpaksa mau di nikahi oleh Bagas Arta Kusuma setelah di jebak melakukan cinta satu malam di sebuah villa dalam keadaan mabuk.
Sejak lama Bagas mencintai Tamara, namun di tolak mentah-mentah hanya karena wajah Bagas jelek akibat di tumbuhi plek hitam dan jerawat.
Selain itu, kantong tipis Bagas, membuat Tamara merasa hanya akan menderita nantinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sobri Wijaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 Di Khianati
Disebuah gedung terbesar di Indonesia yang memiliki simbol kebesaran yang di ukir di badan gedung sebesar mata memandang bertuliskan AJ singkatan dari Perusahaan Angkasa Jaya sebuah perusahaan marmer, batu bara, produksi barang dagangan dalam maupun luar negeri, dan perindustrian serta masih banyak lagi jenis pengelolaannya.
Dimana induk gedung itu memiliki lantai sebanyak 50 tingkat, di sekitaran dindingnya di lapisi kaca kokok tembus pandang sehingga seseorang bisa melihat keadaan kota dari dalam.
Sedang di salah satu ruangan didalam gedung itu terjadilah keributan yang amat besar. Dimana Pak Tara hanya tertunduk pasrah saat Pak Arya Sanjaya dan Putranya Alex Wijaya menghakimi dirinya bak tersangka kasus pembunuhan karena Tamara tidak jadi datang memenuhi undangan mereka.
"Jangan main-main Tara, atau aku akan memecatmu dan menarik semua kompensasi yang aku berikan kepadamu, baik rumah, gaji yang melebihi standar, maupun beberapa mobil yang kau pakai. Kurang baik apa aku selama ini? Pokoknya kamu harus memberikan Tamara secepatnya karena Anakku harus segera menikah dan memiliki anak!" Amuk Pak Arya sembari menunjuk-nunjuk wajah Pak Tara.
"Maafkan saya Pak Arya, sungguh saya tidak tahu mengapa Tamara membangkang, biasanya dia akan selalu menurut pada saya," jawab Pak Tara lirih.
Gubrak!
Semua orang terkejut saat Alex memukul meja hingga suaranya memekakkan telinga.
"Halah, munafik. Pasti Tamara mau berkelit kan? Karena dia tidak mau di nikahi?" Ucap Alek tak terima.
Sial, ini pasti ulah Bagas yang tidak memberi tahu Tamara soal ucapanku pagi tadi...
Pak Tara terdiam, Ia sendiri bingung harus berkata apa, sebab Pak Arya bilang anak yang mau dinikahkan dengan Tamara itu belum menikah, tapi ternyata Tamara malah akan di jadikan istri kedua dari Alex Wijaya saat Tamara bertemu keluarga itu tempo hari.
"Aku kasih kamu waktu dua hari, Tara, kalau dalam waktu dua hari anakmu tidak kau antar ke rumahku maka siap-siap saja kalau hidupmu akan berakhir!"
Kalimat berupa ancaman itu membuat Pak Tara goyah, Ia segera mendatangi Villa untuk memaksa Bagas melepaskan Tamara secepatnya.
Tentu saja Pak Tara tidak sendiri, Ia di temani para algojonya untuk mengalahkan Bagas.
Datang tanpa mengetuk pintu dan rasa tidak berperikemanusiaan, Pak Tara melemparkan satu koper uang ke atas meja dimana Bagas yang masih duduk santai sambil menyeruput kopi di temani Tamara sangat terkejut.
"Bagas, saya mau kamu ceraikan Tamara sekarang juga. Karena saya tahu yang kamu mau sebenarnya bukanlah Tamara melainkan uang di dalam koper itu, bukan?"
Telunjuk Pak Tara menunjuk kearah koper yang hampir terjatuh di tepian meja tepat di samping Bagas dengan tatapannya yang bengis.
Lama tercengang, Bagas akhirnya menertawakan aksi mertua kesayangannya itu karena menganggap semua hanya lelucon saja.
"Heh, ada apa denganmu Papa mertua? Bisakah datang dengan baik-baik saat merindukan kami?"
"Diam Bagas, aku tidak sedang bermain-main denganmu! Berikan Tamara baik-baik atau aku akan merebutnya secara paksa!" Sentak Pak Tara lagi.
Bagas yang mulai tidak suka dengan cara itupun segera beranjak dari sofa dan meraih koper tersebut lalu menyerahkannya lagi kepelukkan Pak Tara.
"Masa kontrak pernikahan kami masih belum berakhir Papa, jadi sabarlah sampai satu bulan lagi!" Timpalnya dengan tenang.
"Apa ini kurang Bagas?Seharusnya kau beruntung bisa memiliki uang sebanyak ini dengan memaksakan diri menikahi anak gadis orang yang sudah kau perkosa lebih dulu!"
"Tidak Pa, sayang nya aku sama sekali tidak tertarik dengan uangmu karena aku lebih menginginkan Tamara!" Jawabnya lagi masih dengan tersenyum santai seolah tidak takut pada beberapa pria bertubuh besar dan kekar di belakang Pak Tara.
"Brengsek! Kalau begitu kamu tidak akan mendapatkan apa pun dariku Bagas, termasuk uang satu milyar di dalamnya."
Pak Tara sengaja menepuk-nepuk koper itu untuk memanasi hati Bagas yang sebenarnya telah mendidih sejak Pak Tara datang tadi. Bukan karena menginginkan uang itu tapi karena perlakuan Papa mertuanya yang sudah berlaku sombong dan merendahkannya.
"Sungguh pria malang, sudah jelek, miskin dan tidak berguna! Bahkan kau menafkahi Tamara dengan uang yang ku berikan setiap bulan, Bukankah itu sangat memalukan," umpat Pak Tara lagi tanpa mau berbicara dengan baik.
Pria paruh baya itu segera menyuruh semua orang untuk menghajar Bagas hingga terjadilah perkelahian itu. Sedang Tamara sendiri bingung harus apa, Ia hanya mematung menyimak kejadian di depannya.
Gara-gara perkelahian itu, banyak perabot yang rusak dan pecah, bahkan rumah itu sudah seperti tak berarti lagi.
Ternyata melawan orang-orang itu membuat Bagas kewalahan, hingga dia kecolongon karena dua orang berhasil mencekal kedua tangannya dari belakang sedang yang depan memukul perutnya bertubi-tubi hingga Bagas lemas dan memuntahkan darah.
Melihat itu Tamara sangat ketakutan, Ia khawatir Ayahnya akan terkena tindak pidana kasus penganiayaan berencana.
"Sudah Pak, cukup jangan pukul lagi Pa, nanti dia bisa mati Pa!" Ucapnya sembari menarik-narik tangan Papa Tara yang tersenyum penuh kemenangan.
Kemudian pria itu memerintahkan anak buahnya berhenti memukul untuk melihat betapa kasihannya wajah Bagas yang penuh dengan lebam, dan sudut bibir juga pecah terkena hantaman.
Pak Tara melangkah mendekati Bagas sambil mengangkat dagu pemuda yang telah lunglai itu.
"Sungguh menyedihkan, wajahmu itu tidak tampan dan sekarang kerusakannya bertambah banyak. Belum lagi uang tidak punya, dasar sampah!" Maki Pak Tara dengan menepuk-nepuk pipi Bagas yang menatap Pak Tara dengan penuh ambisi ingin menghabisi. Tidak adil rasanya jika kontrak pernikahan Tamara dengannya di putus secara sepihak oleh pria tua itu.
"Dasar lelaki jahanam!" Hardik Bagas disisa tenaganya. "Aku tidak akan mengampuni atas ini Papa mertua, kau akan menanggung akibatnya!"
"Hahaha... dengan cara apa Bagas? Sedang kau menolak uang pemberianku? Dirimu itu terlalu lemah untuk menghadapiku!" Yakin Papa Tara.
Senyumnya yang picik membangkitkan jiwa penuh dendam di hari Bagas.
"Lepaskan dia dan bawa Tamara dengan segera!" Perintahnya sebelum pergi.
Orang-orang itu sengaja menjatuhkan Bagas ke lantai dengan kasar lalu mencekal Tamara untuk ikut bersama mereka.
"Pa, tunggu Pa, aku mau di bawa kemana Pa?" Teriak Tamara butuh penjelasan sambil sesekali menoleh ke arah Bagas yang menatap mereka layaknya singa kelaparan.
Namun sayang, tubuh Bagas yang ingin menahan Tamara seakan remuk sampai tak kuasa untuk bangkit dari tempatnya, akan tetapi tangan itu terus mengepal karena kemarahannya atas pengkhianatan Pak Tara yang memutus kontrak sebelum waktunya tiba tidak akan Ia biarkan begitu saja.
"Aku akan membuatmu menangi darah Tara! Sampai kau berlutut memohon ampun di kakiku!" Pekik Bagas seorang diri sambil mengusap darah yang masih keluar dari sudut bibrnya.