Jin Fei fan harus menerima pemegang takdir sang penjaga berikutnya. Dia harus berjuang lebih keras untuk pantas menjadi sang penjaga dan agar dapat berjumpa dengan kedua orang tuanya yang dia ketahui berada di dimensi berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neneng selfia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meninggalkan kerajaan Yun
Wei Yan masih belum bisa menenangkan pikiran karena kesal melihat Yang ruo yang dia anggap saudara terluka juga karena orang tuanya disebut oleh orang tua itu.
"Wei coba lihat apa yang telah kau rusak juga siapa yang ikut merasakan dampak emosimu." ucap Fei fan lagi sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
Di sana beberapa bangunan hancur, beberapa warga yang bersembunyi dibalik bangunan juga ada yang terluka. Mereka semua tampak ketakutan karena aura Wei Yan.
Melihat wajah ketakutan beberapa warga yang tempat bersembunyi nya hancur, Wei Yan berusaha meredakan emosi.
"Maaf." ucapnya merasa bersalah karena tidak bisa menahan emosi.
"Tenangkan dirimu tuan muda, biar kami yang mengurus para warga yang terluka juga mengurus kerugian mereka." ucap Yuan li.
"Berikan pada warga yang bangunannya hancur juga pada mereka yang terluka." ucap Wei Yan sambil menyerahkan dua buah kantung berisi uang dan pil.
"Serahkan saja padaku, tuan muda kembali saja ke kapal untuk menenangkan diri." ucap Yuan li.
Wei Yan menaiki kapal setelah Fei fan membuka segel jimat yang dia buat. Fei fan membantu yang lainnya mengurus warga yang terluka. Para warga yang terluka tidak hanya tidak marah mereka justru sangat berterima kasih kepada kelompok Fei fan.
Mereka menolak uang pemberian dari Fei fan dan yang lainnya. Mereka sangat bersyukur karena momok yang selalu meresahkan hidup mereka sudah musnah tanpa sisa sedikitpun.
Sementara itu, Wei Yan langsung masuk ke dalam ruangannya di kapal. Dia terkejut karena kedatangan seorang yang sangat dia nantikan kedatangannya.
"Ayah...." serunya lalu berlari memeluk tubuh sang ayah.
Ya, Jin hu datang mengunjungi putranya karena desakan sang istri. Walaupun dia sangat merindukan sang anak, dia juga sebenarnya tidak leluasa karena tidak bisa meninggalkan sang istri yang bisa dalam bahaya kalau tidak ada disisinya. Sehingga, Ze harus mendesaknya untuk menemui putranya saat itu.
"Kau itu seorang pemimpin nak. Jangan biarkan emosi sesaat membuat penilaian, tindakan juga keputusanmu jadi keliru." ucap Jin hu.
Dia dengan lembut mengelus punggung putranya. Dia mendudukkan putranya di atas pahanya.
"Maaf ayah." ucap Wei Yan.
"Kau masih kecil untuk mengemban tanggung jawab ini. Tapi, ayah yakin kau adalah anak yang tangguh kebanggaan ibu dan ayah. Kau harus tahu, apapun yang terjadi kau juga Fei adalah kesayangan dan kebanggaan kami." ucap Jin hu tidak ingin mengungkit kesalahan sang putra.
Dia hanya berusaha untuk memberikan dukungan agar sang putra tidak terlalu merasa bersalah juga tahu apa yang harus dia lakukan.
"Kau harus lebih menguasai emosi karena emosi adalah kelemahan yang dapat menghancurkan siapapun. Kau jangan biarkan siapapun memancing emosimu dengan mudah. Kau tahu, ayah juga ibu selalu mengawasi kalian dari dunia sana." ucap Jin hu.
"Baik ayah, Wei akan mengingat pesan ayah." ucap Wei Yan.
"Wei kau..... Ayah...." Fei fan yang datang untuk menenangkan saudara kembarnya terkejut melihat ayahnya.
Jin hu menurunkan Wei Yan dari pangkuan lalu memeluk tubuh mungil sang putri lalu menarik sang putra agar dia dapat memeluk kedua anak kesayangannya itu bersamaan.
"Fei, memiliki hati yang lembut dan bersih memang sangat penting. Tapi, sebelum memutuskan untuk memaafkan musuh kau harus memikirkan apakah kedepannya dia tidak akan menjadi momok bagi kehidupan mu juga keluarga dan orang terkasihmu." ucap Jin hu.
"Baik ayah." saut Fei fan.
"Kalian berdua mendapatkan titipan sayang dari ibu. Dia sangat ingin memeluk kalian tapi belum bisa meninggalkan semesta tertinggi." ucap Jin hu.
"Ayah harus segera kembali ke tempat ibu kalian." ucap Jin hu.
Dia mengecup kening dan kedua pipi anaknya bergantian lalu tubuhnya menghilang dari tempat itu.
"Kau curang Wei, aku hampir tidak bertemu dengan ayah hari ini." ucap Fei fan sambil menghapus air mata haru dari pipinya.
"Itu bukan salahku Fei. Itu keberuntungan milikku." ucap Wei sambil tersenyum.
"Kau.....
"Aku baik-baik saja sekarang Fei. Terima kasih." ucap Wei Yan tulus.
"Para warga ingin mengucapkan terima kasih pada pahlawan yang telah menyingkirkan orang-orang yang telah banyak membuat mereka menderita." ucap Fei fan.
"Mereka tidak.....
"Mereka semua tidak menyalahkan dirimu sama sekali. Mereka sangat bersyukur kepada mu." ucap Fei fan.
"Segera jumpai mereka lalu kita lanjutkan perjalanan." ucap Fei fan lagi.
Mereka berdua menjumpai warga. Para warga ingin mengadakan acara untuk ucapan terima kasih namun ditolak dengan halus oleh Wei Yan dan Fei fan.
Mereka segera meninggalkan dermaga selain agar segera melanjutkan perjalanan, mereka takutnya orang istana kerajaan Yun mendengar apa yang mereka lakukan dan mengundang mereka untuk ucapan terima kasih atau sejenisnya.
"Mengapa kita tidak menerima perjamuan yang diadakan warga saja nona muda?" tanya seorang pemuda.
"Aku tidak ingin nantinya bertemu dengan orang istana dan membuat waktu kita di kerajaan Yun semakin lama saja." jawab Fei fan.
"Mengapa bisa demikian?" tanya Huang hu.
"Jasa menyingkirkan bandit yang meresahkan masyarakat sudah pasti jika raja mengetahuinya akan mengundang kita. Bersyukur jika raja tidak pendek akal dan melakukan fitnah yang dapat menyusahkan kita untuk menarik perhatian rakyatnya." ucap Yang ruo.
"Aku tidak terpikir sampai di sana. Aku hanya tidak ingin terlalu lama tinggal di kerajaan itu saja." ucap Wei Yan.
"Tapi, kemungkinan itu bisa terjadi karena warga saat ini sangat menyanjung kita sebagai pahlawan dan memandang remeh orang istana karena telah menutup mata akan penderitaan yang mereka alami." ucap Fei fan.
"Setidaknya kita sudah meninggalkan kerajaan Yun dan sudah kembali melanjutkan perjalanan. Aku sangat lapar bisakah makanan segera dihidangkan." ucap Wei Yan.
"Tunggu sebentar tuan muda. Orang dapur sudah menyiapkan hidangan untuk kita semua." ucap Yuan li.
"Makan buah ini untuk mengganjal perut besar mu itu." ucap Fei fan sambil menyerahkan buah yang dia maksud.
"Perut siapa yang kau sebut besar Wei? Kau tidak lihat perutku rata seperti ini heh." protes Wei Yan sambil berdiri menunjukkan perut ratanya.
"Ha ha ha ha ha." semua orang tertawa melihat tingkah Wei Yan.
"Makan saja buah itu sebelum perutmu meminta seekor naga utuh untuk diisi." ucap Fei fan.
Wei Yan tidak lagi bersuara mengabaikan ucapan Fei fan. Dia hanya memakan buah pemberian Fei fan dengan tenang.
"Bukankah kita sebelumnya membeli beberapa makanan di kedai sebelum para bandit itu menghadang kita?" tanya Huang hu.
"Iya." jawab Huang si.
"Mengapa kalian tidak keluarkan dari tadi?" tanya Wei Yan, Fei fan, Yuan li dan Yang ruo bersamaan sedang si kembar Ouyang hanya memamerkan giginya sambil menggaruk tengkuknya.
terhura aq thor.....