NovelToon NovelToon
Sang Isteri Inden

Sang Isteri Inden

Status: tamat
Genre:Teen / Romantis / Beda Usia / Tamat
Popularitas:349.1k
Nilai: 4.8
Nama Author: Elza Veronika

Catherine merasa sangat beruntung memiliki ayah tiri sebaik Agus. Jika banyak berita tentang ayah tiri yang melecehkan anak tirinya, itu tidak terjadi pada Catherine!

Agus benar-benar menyayangi nya seperti anak kandung sendiri, menjaganya seperti anak kandung sendiri. Hingga kemudian, di usianya yang ke dua puluh tahun, Catherine sadar dan paham kenapa ayah tirinya itu begitu menjaganya agar tetap utuh!

Ia dijodohkan paksa dengan laki-laki yang bahkan tidak pernah ia kenal, seorang pengusaha tekstil kaya raya yang usianya sudah hampir tiga puluh lima tahun!

Duda dengan anak satu itu akhirnya resmi jadi suami Catherine! Lalu bagaimana dengan nasib pacar Catherine, si calon dokter itu? Dan bagaimana Catherine menjalani hari-harinya?

Simak terus kisahnya ya ...

Jangan lupa mampir ke "Cinta Jas Putih" dan "COMPLICATED" ya ...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elza Veronika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bali (2)

"Gimana?" tanya Rama ketika ia baru saja dari luar, entah apa yang ia lakukan di luar, Catherine tidak peduli.

"Sudah hampir normal suhu badannya." guman Catherine sambil mengecek termometer yang ia pakai untuk mengecek suhu badan Ayesha.

"Syukurlah, tapi kita harus tetap menunggu hasil laboratoriumnya." Rama duduk di samping istrinya, lalu meraih tangan Catherine dan menggenggamnya erat. "Terimakasih."

Catherine mengerutkan keningnya, "Untuk?"

"Sudah mau menjaga Ayesha, peduli terhadapnya, khawatir pada kondisinya, aku sangat berterimakasih." Rama tersenyum simpul.

Catherine balas tersenyum dan mengangguk pelan. Ia balas menggenggam erat tangan Rama. Rama meraih Catherine dalam pelukannya. Catherine tidak menolak, tidak berontak, ia malah melingkarkan tangannya pada tubuh Rama. Entah, sejak kemarin saat Rama memeluknya itu Catherine sangat suka dengan pelukan laki-laki itu, rasanya begitu nyaman, tenang, dan ia merasa terlindungi.

Rama menengadahkan wajah istrinya, menatap manik hitam itu dalam-dalam. Catherine yang mendapat tatapan seperti itu sontak memejamkan matanya erat-erat. Dan itu membuat Rama merasa tertantang untuk makin mendekati wajah cantik itu. Rama bahkan bisa merasakan nafas Catherine, hingga kemudian ia menyapu lembut bibir merona yang selama ini belum pernah ia sentuh itu.

Catherine tidak menolak, ia diam membeku di tempatnya. Membuat Rama makin bernafsu mel*mat bibir istrinya itu. Catherine sama sekali tidak menolak, membalas, atau apapun, hingga kemudian gadis itu melenguh dan melepaskan diri dari tautan bibir suaminya itu. Nafasnya terengah-engah dengan wajah memerah. Ia menatap manik mata yang tampak bergairah itu. Rama mengelus pipi Catherine, lalu kembali meraih wajah itu dan mel*mat bibirnya. Tangannya mulai bergerak kemana ia semestinya bergerak, cukup lama bibir mereka saling bertaut hingga tanpa sadar mereka sudah sama sekali tidak berpakaian.

Nafas Rama tersengal-sengal, ia sudah benar-benar tidak sanggup mengendalikan dirinya sendiri, ia kembali meraih bibir itu, merebahkan tubuh Catherine di ranjang.

"Jangan ...." desis Catherine dengan suara tertahan ketika Rama hendak memasukkan miliknya. "Kumohon jangan ...."

"Kenapa?" tanya Rama dengan tatapan penuh kecewa.

"Kumohon jangan ...," desis Catherine lagi dengan mata berkaca-kaca.

Rama menghela nafas panjang, ia menganggukkan kepalanya lalu bangkit dan mengambil baju-bajunya yang berserakan di lantai.

Catherine bangkit, ia jatuh terduduk di sisi ranjang dengan lelehan air mata. Berdosakah dia? Dia menolak suaminya sendiri! Suami sahnya! Padahal itu kan hak suaminya? Kewajibannya? Catherine terisak sambil memeluk lututnya. Rasanya hatinya pedih, benar-benar pedih. Ia merasa tidak berguna, ia merasa gagal menjadi istri. Tapi sekali lagi itu bukan maunya! Ia juga tidak mau seperti ini, tidak!

Catherine membenturkan kepalanya ke ranjang, mendadak ia benci dengan hidupnya, dengan dirinya sendiri, dengan semuanya! Ia benci!

***

Rama membenamkan tubuhnya di air hangat ia memenuhi bathtub itu, kepalanya benar-benar pusing. Ia sudah berada di puncak hasratnya tadi. Sudah cukup lama bukan ia tidak menyentuh tubuh wanita? Sudah sangat lama! Dan hari ini, barusan ia hampir kembali mendapatkan pelampiasan, dari gadis yang sebenarnya sudah sah menjadi istrinya. Namun gadis itu menolaknya!

Mata Rama memerah, bayangan betapa manis dan nikmat bibir tadi terus menganggunya. Tubuh Catherine yang putih bersih tadi benar-benar mengusiknya. Darahnya berdesir hebat melihat betapa cantik dan indah tubuh istrinya itu. Namun apa mau dikata, gadis itu belum mau disentuh lebih jauh!

Rama membenamkan kepalanya, lalu kembali mengangkat kepalanya dan mengusap rambutnya yang basah itu. Dia bisa saja memaksa gadis itu menyerahkan dirinya, melayani hasrat seksualnya, namun kenapa ia tidak mau melakukan itu? Kenapa ia malah lebih memilih mengalah?

Rama memejamkan matanya, berharap hasrat seksualnya ini dapat segera ia tekan. Ia laki-laki normal, dan itu membuatnya tersiksa.

***

Rama keluar dari kamar mandi setelah yakin ia sudah bisa mengendalikan dirinya dan menekan segala hasrat yang menggebu-gebu itu. Ia tertegun melihat Catherine yang duduk memeluk lutut sambik menangis itu. Bahkan gadis itu belum memakai bajunya kembali.

Rama memijit keningnya, ia takut hasrat itu kembali muncul karena melihat godaan itu di depan matanya. Namun ia tidak bisa mengabaikan istrinya yang sedang menangis sesenggukan itu.

"Sayang ...," bisik Rama akhirnya mendekati Catherine.

Gadis itu sontak menghambur dalam pelukan Rama, membuat Rama mengumpat dalam hati. Berkali-kali ia menelan salivanya, berharap imannya tahan dengan godaan seperti ini.

"Maafkan aku," desis Catherine di tengah Isak tangisnya. "Aku ... aku ...."

"Sudahlah, aku mengerti Sayang!" bisik Rama sambil mengelus lembut punggung telanjang istrinya.

"Aku minta maaf!" desis Catherine sambil memeluk erat-erat tubuh Rama.

"Sudah, sudah! Tenangkan dirimu. Sekarang ke kamar mandi, lekas bersihkan diri dan pakai kembali pakaianmu. Oke?" Rama melepaskan pelukan itu, menatap mata itu dalam-dalam lalu tersenyum manis.

Catherine mengangguk pelan, lalu bangkit dan memunguti pakaiannya, melangkah ke kamar mandi, meninggalkan Rama yang jongkok di lantai dengan perasaan berkecamuk itu.

Rama menghela nafas panjang, ia bangkit dan duduk di tepi ranjang. Menatap wajah polos Ayesha yang masih tertidur karena efek dari obat yang tadi ia minum itu. Mata Rama memerah, ia mengelus lembut kepala putri semata wayangnya itu.

"Kamu lah alasan papa tetap bersabar, papa mungkin jahat karena memaksa mama sambungmu menikah dengan papa, memisahkan dia dari pacarnya itu. Namun papa tidak akan sekejam itu memaksanya melakukan itu. Biar semua atas kemauannya sendiri." Rama tersenyum, ia mengecup kening Ayesha penuh kasih.

"Karena papa tidak mau kelak kamu akan mendapatkan perlakuan yang sama. Dipaksa untuk melakukan hal yang tidak kamu mau, direnggut paksa tubuhmu, tidak Yesha, papa tidak mau itu terjadi padamu kelak."

***

Catherine keluar dari kamar mandi dengan perasaan gugup. Ia merasa sangat canggung. Rasanya ia tidak ingin keluar dari kamar mandi, ia ingin tetap berdiam di sana. Namun ia khawatir dengan keadaan Ayesha, ia ingin selalu ada di samping gadis kecil itu.

"Masih panas?" tanyanya hati-hati, ia pikir Rama akan marah, memukul dirinya, dan memaksanya melayani suaminya itu. Namun rupanya itu tidak terjadi, sungguh Catherine heran, terbuat dari apa sih hati laki-laki itu? Atau jangan-jangan ia punya banyak gundik? Ada ada affair dengan sekretaris pribadinya? Atau suka one night stand? Duit dia kan banyak, jadi dia bisa membeli wanita manapun bukan?

"Sudah turun, mungkin benar hanya demam biasa. Kamu mau makan apa? Aku pesankan service room ya?"

Sekali lagi hati Catherine seperti tertusuk sembilu. Setelah ia tolak tadi, Rama bahkan masih bisa bersikap begitu manis kepadanya. Membuat Catherine begitu tersiksa dengan segala macam rasa bersalah dan kebimbangan yang terus menyeruak dalam hatinya. Ia menatap mata yang tengah menatapnya itu, seperti biasa mata itu begitu lembut dan penuh kasih kepadanya.

"Aku belum ingin makan." jawab Catherine lalu melangkah dan duduk di samping laki-laki itu.

"Belum lapar? Jangan sampai kamu sakit. Kita mau bersenang-senang di sini, bukan sakit bersamaan." desis Rama dengan senyum kecut.

"Belum, jangan khawatir, aku baik-baik saja." Catherine mengelus lembut pipi Ayesha, "Untuk tadi aku ...."

"Sudah Sayang, please jangan dibahas lagi, oke?" Rama tersenyum, ia menggenggam erat tangan Catherine. "Aku sudah berjanji tidak akan memaksamu bukan? Aku akan menunggumu, sampai kapanpun itu. Aku menikahi mu karena aku mencintaimu, bukan hanya karena ingin tubuhmu."

1
Widya
end sampai sini kah ceritanya kak?
anis surga
Luar biasa
zaleka
kayaknya,teman Rama.
Luzi
bagus ceritanya thor..sukaaaaa
Selvi Tyas
maaf thor🙏🙏skedar saran..tolong ceritanya jgan dibuat muter2 mulu.cat dari awal sdah mnyadari ksalahannya,tapi koq seolah olah tdak ada intropeksi untk memperbaiki diri.🙏🙏smangat brkarya Thor💪💪💪🥰🥰🌹🌹🌹🌹🌹
Mimi Coco: hai kak, mampir yuk ke karya Mimi judulnya Istri Kejam Milik Devan, tinggal klik profilku saja ya kak
total 1 replies
Selvi Tyas
hadir menyimak👍💪🌹🌹
DenMaz Bowie
awal konfliknya br dimulai
DenMaz Bowie
bagus ceritanya
Partiah Yake
bagus kak tetap berkarya ok
Ninuk Wahyu Widayati
Berobat dong biar sembuh penyakit mental nys
Ndhe Nii
kebanyakan nonton akhirnya parno sendiri..
Siti Nabila
Kapan update lgi
Aaaa
kasihan wilsom dpt bekas.
Lolita
disini kapan update story nya ya Thor
eno23
Rio😑
eno23
Jadi gemes sama Catherine.. dosa lho
Ama Lorina Raju
benar2 sakut rio
Ama Lorina Raju
ternyata org sakit jiwa itu rio..gak nyangka
Ica Dehaas
poor wilson
Wiwi Alawiyah
lnjuut thoor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!